6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
in Ulas Film
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Film "The Long Walk (2025)" | Photo by Murray Close/Lionsgate/Murray Close/Lionsgate - © 2025 Lionsgategate

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang terus-menerus mundur. Francis Lawrence mengambil ketakutan itu—ketakutan akan ruang yang tak memberi arah—dan mengubahnya menjadi sebuah neraka bernama The Long Walk (2025).

Namun neraka yang ia bangun bukan berasal dari api atau jerit kesakitan, melainkan dari hal-hal yang seharusnya biasa saja. Aspal abu-abu yang tak berujung, rumput kering yang menyerah pada debu, langit yang menatap dari jauh tanpa ekspresi. Dunia yang diciptakan Lawrence terasa datar. Tapi, dalam keheningan dan keseragaman itu kekuasaan menemukan ruang untuk bekerja tanpa malu-malu.

Karenanya, barangkali The Long Walk adalah cetak biru dari sebuah ritus kekejaman. Panggung yang tujuan utamanya bukan sekadar mencari pemenang. Tetapi mengubah ketaatan, kelelahan, dan penderitaan menjadi tontonan ritual—apa yang disebut oleh Guy Debord sebagai the spectacle.

Lawrence yang sebelumnya piawai mengontraskan kemuraman Distrik 12 dengan kemegahan opresif Capitol dalam The Hunger Games, kini seperti melucuti dunia itu hingga ke tulang. Ia mengambil estetika Distrik 12—kesuraman yang masih menyisakan harapan—dan menghapus sisa harapan itu sama sekali.

Tidak ada lagi Capitol yang dijadikan musuh, tidak ada pusat kekuasaan yang jelas. Menyisakan lanskap Amerika Serikat yang berkarat, terperangkap dalam kelelahan dan paranoia.

Dunia yang muram ini diperparah oleh cara sinematografer Jo Willems memandangnya. Kita jarang sekali mendapat close up yang intim untuk merasakan apa yang dirasakan para pejalan (walker). Alih-alih, kita lebih sering dikunci dalam medium shot atau tracking shot yang berjarak. Kamera terasa seperti seorang penjaga yang dingin, objektif, dan sama lelahnya dengan para peserta.

Jalan raya yang lurus dengan cakrawala yang terus mundur itu membelah layar secara horizontal, menciptakan penjara tanpa jeruji. Lawrence tidak memberi kita adegan aksi yang megah untuk dinikmati. Ia memaksa kita untuk tinggal di dalam kebosanan dan peluruhan ritus itu.

Peluruhan yang lambat itu didukung oleh logika yang kaku. Aturan mainnya adalah tiga mil per jam, tiga peringatan, dan satu tiket. Tiga aturan itu adalah alat psikologis yang dirancang agar para pejalan menjadi polisi bagi diri mereka sendiri. Ketiganya adalah fondasi yang menopang The Long Walk.

The Long Walk tidak menuntut siapa yang tercepat—sesuatu yang manusiawi. Ia menuntut para pejalan untuk jangan berhenti, sesuatu yang lebih brutal—konsistensi yang tak manusiawi.

Tuntutan “jangan berhenti” itu yang kemudian membuat musuh para pejalan bukanlah pejalan lain, melainkan diri mereka sendiri. Kelelahan, sesuatu yang manusiawi, adalah suatu pelanggaran berat. Dan konsekuensinya tiket, yang berarti kematian, adalah contoh sempurna dari apa yang disebut oleh Hannah Arendt sebagai banality of evil (banalitas kejahatan).

The Long Walk diadaptasi dari novel yang berjudul sama milik Stephen King yang ia tulis di bawah nama samaran Richard Bachman. Tapi Lawrence tidak lagi menuturkannya sebagai kisah teror distopia, ia menata ulang cerita itu menjadi semacam renungan sunyi tentang manusia yang terus melangkah meski makna hidup pelan-pelan memudar.

Kita diperkenalkan pada Ray Garraty (Cooper Hoffman), remaja dengan wajah polos dan keyakinan samar bahwa hidup masih punya alasan untuk dipertahankan. Ia berjalan dengan langkah penuh keraguan, seolah setiap langkah adalah negosiasi antara harapan dan keputusasaan.

Di sisinya, Peter McVries (David Jonsson), yatim piatu yang berjalan bukan karena ingin menang, tapi karena tak tahu mau ke mana lagi. Hidup baginya adalah sisa, bukan tujuan. Sementara dari kejauhan, The Major (Mark Hamill)—imam besar the walk—menatap mereka seperti bapak yang bangga sekaligus algojo yang sabar.

Di antara tiga sosok itu, Lawrence menemukan bentang moral dari zaman ini, yang satu masih percaya, yang satu sudah menyerah, dan yang satu menikmati kepatuhan sebagai bentuk keabadian. Mereka tidak bertarung satu sama lain, tapi bersama-sama berjalan di dalam sistem yang telah menggantikan makna dengan keteraturan.

Dan di sanalah The Long Walk berubah menjadi alegori tentang masyarakat yang tidak lagi tahu apa itu kebebasan. Ia menjadi cermin dari peradaban yang telah mengganti iman dengan produktivitas.

Kita Adalah Para Pejalan

Dalam dunia The Long Walk, kekuasaan tidak hadir melalui kekerasan yang meledak-ledak. Ia tidak menindas lewat pentungan atau senapan, melainkan lewat keteraturan. Di dunia ini, kekuasaan bekerja bukan dengan menakut-nakuti, tetapi dengan menyediakan arah yang tidak bisa dihindari.

Para pejalan tidak dipaksa untuk ikut the walk. Mereka mendaftar dengan sukarela. Membawa tubuhnya sebagai persembahan.

Namun kesukarelaan yang tampak bebas itu justru menjadi bentuk kepatuhan paling sempurna. Ketaatan mereka bukan hasil penindasan, melainkan buah dari pengharapan yang dimanipulasi. Di dunia The Long Walk, harapan telah menjadi alat kekuasaan. Kebebasan telah dibentuk sedemikian rupa sehingga ketaatan terasa seperti pilihan. Itulah cara paling halus dari kekuasaan, ketika manusia meyakini bahwa rantai yang melilitnya adalah gelang keberanian.

Lantas jika memang kematian adalah harga yang harus dibayar oleh para peserta, lalu mengapa masih ada yang mau mendaftar?

Hadiah (the prize) jawabannya. Tawaran hadiah menjadi ilusi, umpan yang bekerja lebih ampuh daripada paksaan—todongan bedil, misalnya. Ilusi hadiah itu merayu, membujuk dengan janji kemenangan, kejayaan dan kekayaan. Rayuan itu membuat para peserta—yang kebanyakan adalah kaum tertindas—secara sukarela memilih untuk ikut melangkah, berjalan, menyerahkan jiwa mereka pada ritus kekejaman itu.

Karenanya, para pejalan bukanlah budak yang dicambuk dari belakang. Mereka secara aktif berlomba mengeksploitasi diri, saling mengalahkan, demi ilusi hadiah yang entah wujudnya di ujung aspal sana.

Dan tentu saja, panggung itu tidak akan lengkap tanpa penonton.

Ritus kekejaman ini, pada akhirnya, adalah sebuah tontonan yang sengaja dirancang untuk publik. Penderitaan para pejalan yang terekam kamera bukan lagi sebuah tragedi. Ia adalah hiburan.

Mereka, para penonton, tidak lagi melihat pejalan sebagai manusia yang sekarat. Penderitaan telah diubah menjadi komoditas yang disajikan untuk meninabobokan massa agar mereka lupa bahwa mereka sendiri, dengan cara yang berbeda, mungkin juga sedang terjebak dalam jalan—ritus—yang sama.

Lawrence tidak pernah memperlihatkan penonton itu secara vulgar. Mereka hadir seperti bayangan di ujung jalan, samar, tetapi cukup untuk menandakan sesuatu yang lebih luas. Bahwa the walk bukan sekadar ajang hiburan, melainkan cermin dari cara masyarakat modern menikmati penderitaan orang lain sebagai distraksi dari penderitaannya sendiri.

Setiap langkah dalam The Long Walk terdengar seperti mantra yang diulang tanpa keyakinan. Langkah-langkah itu bukan lagi usaha untuk mencapai sesuatu, melainkan cara untuk menunda kehancuran. Dalam kelelahan panjang, manusia berjalan seperti mengulang hidup yang tak lagi ia yakini, tapi tak juga ia tinggalkan.

Kematian hadir di film ini bukan sebagai peristiwa, tetapi sebagai kebiasaan. Setiap tubuh yang jatuh tidak lagi menimbulkan duka, karena kemampuan untuk berduka telah direnggut—kamera pun tak berhenti, langkah para pejalan terus berlanjut.

Mayat-mayat itu, yang terserak di tengah jalan, sekadar menjadi urutan angka. Pada titik ini The Long Walk terasa getir. Bukan karena kematian begitu dekat, tetapi karena hidup—rasa-rasanya—begitu jauh.

Tidak ada akhir dalam The Long Walk. Tidak ada pemenang, tidak ada kekalahan. Hanya langkah yang terus menjauh dan jalan yang tetap di tempatnya.

Lawrence menutup filmnya tanpa resolusi. Kamera mengikuti tubuh McVries yang berjalan, perlahan, lalu hilang. Ia membiarkan langkah terakhir itu larut ke kejauhan, seolah mengatakan bahwa dunia tidak berhenti ketika cerita berakhir. Yang tertinggal kemudian bukan tokoh atau adegan, melainkan rasa lelah yang samar. Semacam keletihan yang kita kenali, tapi tak pernah tahu dari mana sumbernya.

Barangkali The Long Walk adalah doa yang ditulis manusia modern kepada dirinya sendiri. Tentang keinginan untuk hidup, sekaligus ketakutan untuk berhenti hidup. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap: Bali dari Kacamata Pendatang

Next Post

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
0
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu....

Read moreDetails
Next Post
Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co