DI Masa Masa R. Amir, Ketewel, Gianyar, di bawah rindang pohon, orang-orang duduk melingkar. Mereka tidak sedang berbincang omong kosong, melainkan fokus mengikuti sesi “Silang Bincang” dengan tajuk “Bali yang Dilihat: Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap”, salah satu mata acara Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025.
Ni Luh Dian Suryantini, sebagai moderator, memulai acara sesaat setelah kursi terakhir diduduki seorang turis berkulit pucat. Dalam sesi ini, B-PART mendatangkan Diane Butler, Ph.D., dan Syafiudin Vifick sebagai narasumber.
Diane Butler, Ph.D., adalah seniman tari-gerak, pendidik, dan direktur program budaya asal Amerika Serikat yang telah berkolaborasi dengan seniman tradisional dan kontemporer dari beragam budaya dan agama di Amerika Utara dan Selatan, Eropa dan Asia selama empat dekade dan sejak tahun 2001 menetap di Desa Bedulu dan Desa Tejakula, Bali, Indonesia.
Sedangkan Syafiudin Vifick adalah seorang visual storyteller profesional dari Malang, Jawa Timur, yang menggunakan fotografi sebagai medium. Ia memfokuskan karyanya pada isu-isu kemanusiaan, sosial budaya, lingkungan, antropologi, dan isu kontemporer. Karyanya telah dimuat di banyak media, termasuk National Geographic Indonesia, Majalah Sriwijaya, Epicure, dan berbagai media lainnya. Selain aktif berpameran, beberapa tahun terakhir Vifick juga menekuni fotografi komersial, dokumentasi NGO, dan dokumentasi event.
Melalui kisah seorang fotografer yang merekam keseharian Bali dari jarak yang terus dinegosiasikan, serta seorang seniman tari-gerak yang mengembangkan pendekatan eksperiensial dan kinestetik terhadap ruang dan lingkungan, diskusi ini menelusuri bagaimana pengalaman menjadi “tamu” dapat membuka cara lain untuk memahami Bali—bukan sebagai destinasi, melainkan sebagai ruang hidup bersama yang terus berubah dan dinegosiasikan dari waktu ke waktu.
Diskusi ini merupakan bagian dari proyek jangka panjang Mulawali Institute (2025–2031) bertajuk Dekolonial Expo & Bali, yang berupaya membaca kenyataan dan perubahan sosial kewargaan melalui dua kata kunci utama: intrakolonialitas dan spektakularitas, dengan pendekatan mikroskopik.
Dalam konteks B-PART, riset ini mengundang percakapan publik dalam tiga spektrum: Bali sebagai ruang pertemuan (arrival), Bali sebagai ruang keberangkatan (departure), dan Bali sebagai ruang yang terus dibentuk melalui mobilitas, ingatan, dan keterikatan yang saling berkelindan (return).
Kisah Vifick yang Memilih Tinggal
“Awalnya saya hanya ingin singgah sebentar di Bali, barang dua atau tiga tahun. Eh, nggak tahunya betah sampai sekarang,” ujar Vifick memulai sesi, Rabu (25/11/2025) sore.
Sesi ini memang berangkat dari—sebagaimana telah disinggung dalam sinopsis program—sebuah renungan tentang bagaimana Bali bukan sekadar objek untuk dilihat, melainkan ruang yang juga menatap kembali.

Melalui pengalaman mereka yang datang dan memilih menetap, sesi ini menelusuri batas-batas yang terus bergeser antara melihat dan dilihat, antara menjadi bagian dan sedang menjadi. Di sini, “kedatangan” bukan momen penemuan, melainkan sebuah pembuka—tempat di mana gerak sehari-hari dan ruang bersama secara perlahan membentuk cara baru untuk memahami tempat, identitas, dan hidup berdampingan.
Vifick melanjutkan cerita. Saat mendaki Gunung Batur di Kintamani dan melihat sebuah upacara agama di sana, ia mulai berpikir bahwa Bali rupanya bukan sekadar tentang keindahan semata, ada hal lain di balik itu. Apalagi saat ia berkunjung ke Karangasem, tepatnya di Desa Selat, dan mengikuti sebuah upacara adat yang hanya diselenggarakan 10 tahun sekali.
“Itu bener-bener besar dan menakjubkan. Upacaranya H-1 Nyepi. Aku nginap di rumah temanku. Yang menarik, keluarganya tidak memasak babi selama beberapa hari aku di sana. Padahal lagi upacara besar. Itu sikap toleransi yang berkesan sekali bagiku. Dan ajaibnya, di malam Nyepi, aku sempat dengar adzan. Padahal (kata bapaknya temanku), masjid cukup jauh dari sana,” Vifick berkisah.
Dan sejak saat itulah, tepatnya 2008, ia mulai memandang Bali sebagai tempat yang layak untuk ditinggali. “Kata orang, bukan kita yang memilih tinggal di Bali, melainkan Bali yang memilih kita,” Vifick menyampaikan teori yang sering disebut orang-orang. Ia menganggap Bali sebagai rumah.
Meski begitu, Vifick tak menutupi alasan klasik kenapa memilih tinggal di Bali. “Selain itu, di Bali aku banyak teman; juga banyak tempat bagus yang bisa dikunjungi; banyak objek/subjek yang potensial untuk dijadikan photo story. Peluang kerja juga bagus, bisa menjadi ‘pintu ke mana saja’”, sambung pendiri Indonesianpinhole.org itu.

Sejak tinggal di Bali, Vifick bercerita, ia mulai aktif berkomunitas, berjejaring, dan menginisiasi program-program. Vifick membentuk Indonesianpinhole.org, sebuah proyek kolektif yang berfokus pada pengarsipan aktivitas seni fotografi lubang jarum (pinhole) di Indonesia.
Pada tahun 2023, ia menggagas program #RekamMatahari untuk merekam lintasan matahari secara serentak di 500 lokasi di 34 provinsi di Indonesia menggunakan kamera pinhole dengan teknik suryagrafi, dan program ini masih berjalan hingga kini. Ia juga menggagas program fotografi #SayaBercerita, sebuah gerakan bercerita melalui medium fotografi.
Tahun 2025, bersama I Komang Adiartha, Vifick membuat program HERBALOVA, yang mengajak anak-anak Desa Guwang, Gianyar, Bali, untuk mendokumentasikan tanaman herbal di lingkungan sekitar menggunakan medium seni scanografi. Hasil karya tersebut dipresentasikan dalam sebuah pameran dan buku. “Karena aku sudah menganggap Bali sebagai rumah, maka aku harus memperjuangkan semuanya di sini,” ujar Vifick.
Soal apakah saat ini Bali masih nyaman sebagai tempat tinggal atau justru sebaliknya, menurut Vifick, kenyaman itu bersifat relatif, sesuatu yang harus diperjuangkan atau diupayakan, bukan bergantung pada keadaan suatu tempat. “Ada banyak persoalan lingkungan di Bali, seperti banjir, air bersih, sampah dan lain-lain. Sebagai warga, apa pun keadaan lingkungan sekitarnya ya harus diterima, tapi juga harus diupayakan bersama apa solusinya. Agar kenyamanan itu terwujud,” lanjutnya.
Di media sosial banyak netizen yang berkomentar :“Enak kamu nak Jawa (orang Jawa), kalau di Bali ada apa-apa, tinggal balik aja ke asalmu”. Menanggapi komentar seperti itu, Vifick berpikir tidak sesederhana itu. Menurutnya, ketika seseorang sudah memutuskan untuk tinggal di suatu daerah, “ya akhirnya di situlah rumahnya”. Apalagi yang sudah bertahun-tahun.
“Tempat asal bukan lagi menjadi rumah untuk pulang, tapi ‘hanya’ sebagai tempat asal. Ini bukan soal suku atau identitas, tapi soal ‘rumah’. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung—dan di situ air dan udara dirawat bersama,” pungkasnya.
Kisah Diane Butler yang Memilih Tinggal
Tak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Vifick, Diane Butler juga merasa Bali memilhnya untuk tinggal. Sejak tahun 2001, Diane menetap di Desa Bedulu, Gianyar, dan Desa Tejakula, Buleleng, Bali. Kedua desa ini, kata Diane, terkenal akan kearifan lokalnya, kesenian dan adat istiadatnya, sehingga keanekaragaman ekspresi budaya bersifat dinamis dan dialogis.
“Pada tahun 2001, bersama Suprapto Suryodarmo, saya mendirikan Dharma Nature Time, yayasan internasional yang bersifat kooperatif dengan anggota di delapan negara yang melakukan aktivitas ‘sharing’ dalam kesenian, ketuhanan, dan alam untuk mendukung antarbudaya yang pada tahun 2009 diberi roster konsultatif status oleh Economic and Social Council PBB,” terang Diane.
Jauh sebelum memutuskan tinggal di Bali, pada 1980-an, Diane tinggal di kota New York dan bekerja sebagai asisten dan penari dalam karya situs-spesifik dengan koreografer Ruby Shang bersama seniman dari Amerika, Asia, dan Eropa di situs-situs sejarah dan berbagai festival seni di Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Inggris.

Dekade 1990-an, ia ikut serta mengembangkan pendidikan kontemplatif saat menjadi Lektor Kepala, Ketua Pendiri InterArts Studies, dan Direktur Dance/Movement Studies di Naropa University, Colorado. Sampai tahun 2000, saat menjadi Asisten Direktur dan 2001 menjadi Direktur Naropa Study Abroad di Bali, Diane masih pendidikan kontemplatif.
“Saya meraih BFA bidang tari dari The Juilliard School, MALS bidang Tari & Budaya dari Wesleyan University (USA), dan merupakan karyasiswa asing pertama yang meraih Ph.D., di Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana, Bali,” Diane mengisahkan dirinya. Tahun 2014, Rektor Unud mengangkat Diane sebagai Lektor Kepala sukarela pada program studi tersebut. “Sejak tahun 1997, saya membina lokakarya Awakening InterArts dan menjadi pengajar tamu di berbagai negara lain,” sambungnya.
Di Bali, Diane dekat dengan sosok almarhum Suprapto Suryodarmo (1945–2019) pendiri Padepokan Lemah Putih, Solo. Baginya, salah satu tokoh penyiram benih supaya ia masuk Prodi Doktor Kajian Budaya Unud itu adalah Suprapto Suryodarmo.
“Pada akhir Januari 2002, kami—Diane dan Suprapto—ke Jakarta untuk memperkenalkan visi dan aktivitas Dharma Nature Time serta ide pembentukkan suatu internasional intercultural school kepada beberapa pejabat Depdikbud RI dan UNESCO Office Jakarta,” kenang Diane.
Lambat laun sejak tahun 2001, Bali dan bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—walaupun ia belajar otodidak dan masih beraksen Amerika. “Setelah wisuda, untuk lebih percaya diri, saya pergi ke Balai Bahasa di Denpasar pada Desember 2016 untuk Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Syukurlah, UKBI memberi saya sertifikat hasil skor tingkat Madya Atas,” Diane berkisah saat ia belajar bahasa Indonesia untuk menunjang pilihannya tinggal di Bali.
Sejak Agustus 2003, Diane sudah berharap menjadi bagian dari Bali. Dan sebagaimana Vifick, bagi Diane, Bali sudah menjadi rumahnya sekarang. Bali bukan hanya sekadar objek untuk dilihat, melainkan ruang yang juga menatap kembali. Hinggal 2011 saat ia diwisuda sebagai Doktor Kajian Budaya Unud, dalam hati Diane berkata, “ Astungkara, harapanku terkabul, telah menjadi bagian.”
Pada akhirnya, bagi Vifick dan Diane, Bali tidak hanya tentang pariwisata, tetapi juga sebagai tempat di mana banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia—bahkan dari luar negeri—memilih untuk menetap. Pulau ini menawarkan lebih dari sekadar keindahan alam. Ada suasana yang tenang, kehidupan sosial yang hangat, serta budaya yang kaya akan nilai spiritual dan keseimbangan hidup.
Barangkali, bagi banyak pendatang, tinggal di Bali seperti menemukan rumah kedua—bahkan orang seperti Vifick dan Diane sudah menganggapnya sebagai satu-satunya rumah. Mereka merasakan kenyamanan dalam keseharian yang sederhana, di antara masyarakat yang terbuka dan saling menghormati.
Di beberapa daerah seperti Ubud, Canggu, atau Buleleng, banyak orang dari luar daerah yang kini hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Ada yang membuka usaha kecil, bekerja di bidang seni dan pariwisata, atau sekadar mencari ketenangan dari hiruk-pikuk kota besar. Di sanalah, banyak orang akhirnya menemukan arti “pulang” yang sesungguhnya. [T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























