JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh. Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu. Bukan film laga bandit, bukan thriller psikologis, tapi film dengan tema zombie. Film ini mengambil latar belakang Indonesia tepatnya di daerah Bantul, Yogyakarta. Film ini memulai wabah zombienya bukan dari gigitan langsung sesorang yang kena virus zombie, tapi dari jamu eksperimen baru yang dibuat untuk memburu keuntungan besar.
Ironi? Tentu saja. Seolah ada simbolisme yang tebal di situ, ketika tradisi “jamu asli” yang merepresentasikan akar kemanusiaan Nusantara kita, diganti oleh “jamu eksperimen” hasil insting kerakusan modernitas. Hasilnya, manusia bukan menjadi lebih hebat. Justru sebaliknya, sesaat saja tampak hebat namun dalam waktu singkat manusianya menjadi hancur, kehilangan roh, menjadi hidup tanpa kehidupan, yang secara visual diterjemahkan oleh film ini sebagai zombie. Dan itulah permen filosofis paling pedas yang disodorkan film ini. Bahwa kehancuran manusia bukan dimulai dari sesuatu yang supernatural, apalagi ekstraterestrial, tapi dimulai dari keserakahan biasa. Dari pilihan ekonomi, juga dari manipulasi budaya.
Zombie dalam dunia pop global memang sudah lama menjadi arketipe yang sangat dalam. Carl Jung (1959) menjelaskan bahwa masyarakat selalu menekan sisi gelap kolektifnya seperti egoisme, brutalitas, kecenderungan membenci diri sendiri, dan sisi gelap itu akan muncul melalui simbol-simbol budaya. Zombie adalah simbol masyarakat yang bergerak tapi kosong, berjalan tapi tanpa roh, dan hidup tapi kehilangan makna dan identitas diri. Mungkin itu sebabnya zombie selalu populer karena zombie bukan sekadar hantu, tapi memang karena zombie adalah kita yang kehilangan akarnya.
Dalam konteks modern, ketakutan terbesar ini bukan lagi ketakutan terhadap kematian, melainkan ketakutan terhadap kehilangan kemanusiaan. Sartre (1943) sudah memperingatkan bahwa manusia modern menjadi pelaku peran belaka, sekumpulan orang yang menjalani hidup otomatis tanpa otonomi. Kita bangun, kerja, produksi konten, memberi makan algoritma, pulang, tidur dan besok mengulang hal itu lagi.
Pola repetitif yang tidak henti-henti itu membunuh makna hidup secara pelan-pelan. Sartre menyebut ini sebagai “keberadaan yang terjatuh“, di mana manusia tidak lagi menciptakan dirinya sendiri, tetapi membiarkan dirinya dibentuk oleh struktur sosial. Itu zombie urban dan “Abadi Nan Jaya” sepertinya menangkap kecemasan itu. Ketakutan lain adalah ketakutan akan ambruknya moral kolektif. Nietzsche (1887) pernah mengingatkan adanya bahaya nihilisme nilai, ketika kita tidak lagi tahu apa yang baik, maka kita akan ikut terjatuh ke arus kosong mayoritas.
Zombie dalam film ini bukan sebagai monster lebay dan heboh untuk sekedar bikin takut. Zombie ini adalah bentuk ancaman bagi manusia modern, yang kehilangan moral karena menyerahkan nilai-nilai asli kepada kepentingan korporasi. “Abadi nan Jaya” ini menunjukkan dengan gamblang bahwa manusia modern bukan dimakan oleh roh jahat, tetapi dimakan oleh sistem yang menyalahi “keseimbangan tradisi” demi keuntungan ekonomi.
Masyarakat yang Terinfeksi
Namun ada metafora paling kuat yang hadir bukan dari jamunya, melainkan dari cara penularannya.
Memang awalnya dari jamu eksperimen. Tetapi setelah itu, ya, penularan kembali ke formula klasik yaitu gigitan. Dalam artian metaforis, manusia menjadi zombie bukan hanya karena menelan nilai palsu, tetapi karena disakiti oleh mereka yang sudah sakit. Ini lapisan simbolis dalam film ini yang menurut saya sangat menyedihkan.
Dalam realitas sosial kita, orang-orang yang hancur mental, misal nih, karena ditindas atasan, karena ditipu investasi bodong, karena utang, karena depresi, karena tertindas algoritma dan bandwagon media sosial, mereka ini sering tidak sadar melakukan hal yang sama, mereka mulai berkeliaran dan menggigit orang lain. Dalam teori psikoanalitik modern, ini dikenal sebagai “hurt people hurt people.” Lukanya tidak diolah, maka luka itu tidak tertahan dan sembuh di dalam. Luka itu bergerak, menular, mewabah dan menjadi kekerasan sosial.
Kierkegaard (1844) menyebut kecemasan manusia itu sifatnya menular, jadi karakternya bisa jadi seperti virus. Dan film zombie saya kira adalah visualisasi paling ekstrem dari konsep itu. Zombie bukan metafor tentang kematian. Zombie adalah metafor tentang trauma sosial yang tidak diselesaikan. Dan di bagian ini, “Abadi Nan Jaya” memukul sangat tepat. Karena jamu eksperimen di film ini bukan sekadar cairan. Itu merupakan metafor. Bolehlah kita bertanya dalam dunia nyata kita, apa jamu ekperimen yang kita telan hari ini? Jamu ekperimen itu bisa berbentuk filosofi “sukses sama dengan uang”, atau “viral dulu, nilai belakangan” bahkan sampai juga ke prinsip “aku harus kuat terus, aku tidak boleh rapuh”.
Dalam dunia kita yang sekarang ini serba cepat dan modern, semua itu membuat manusia hidup bukan sebagai manusia, tapi sebagai performa, sebagai data, sebagai konten, pun sebagai target. Kita pelan-pelan tanpa sadar menjadi “zombie mental” yang bisa menggigit orang lain sewaktu-waktu. Memakan orang lain, memanfaatkan orang lain, memanipulasi orang lain, menyakiti orang lain , dan semua itu dilakukan tanpa nurani. Nah, apa bedanya dengan zombie?
Jamu Asli Nusantara
Kita sangat mengenal jamu sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara. Kita tahu bahwa jamu asli adalah metafora keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan kosmos. Jamu asli tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita abadi atau kebal. Jamu asli diciptakan untuk membuat kita harmonis, selaras dan seimbang , dengan demikian badan dan jiwa menjadi sehat. Dan masyarakat yang merawat harmoni tidak perlu menjadi kuat secara agresif. Ia cukup menjadi manusia. Inilah yang dilupakan oleh masyarakat modern.
Kita mengejar kekuatan. Kita lupa bahwa pengejaran kekuatan adalah sumber ketidakamanan dan terlepasnya kedamaian. Konsekuensinya, kita menjadi “makhluk berjalan” yang kehilangan akar, menjadi massa yang rapuh, mudah dikendalikan, dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat mirip zombie dalam film itu.
Dan saya kira inilah punchline-nya. Bagi saya pribadi, film ini secara simbolis mengatakan, kita harus minum “jamu asli” lagi. Kembali ke nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan lokal kita, apa pun itu yang bisa kita definisikan sebagai “Jamu Asli Indonesia”. Sebutlah dari Aceh Bek peugah that, hana meugah nyan. Dari Tanah Sunda ada ulah ngagul-ngagul, bisi kagug, Timor punya natu na’an, natu meto dan besi le’u, besi le’u, ai le’u, dan secara umum bangsa kita punya gotong royong, welas asih, tepa slira, dan banyak contoh lain jamu asli ini.
Indonesia Tanah Air Beta
Saya yakin, bangsa yang sakit, tidak akan sembuh dengan “ramuan luar.” Bangsa yang sakit harus pulang ke akar, agar bisa tumbuh menjadi batang baru. Dan saya merasa itu pesan yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini.
Film zombie ini sejatinya tidak sekadar pamer riasan atau efek yang memukau. Ia sedang memperingatkan kita sebagai orang dewasa, jangan sampai kita memasukkan sesuatu ke tubuh pikiran kita, moral kita, nilai hidup kita, yang bukan berasal dari akar kearifan kita sendiri. Hal itu yang akan menjaga kita tetap waras.
Karena sekali kita tertular, kita sakit dan akan cenderung menggigit orang lain. Pada titik itulah, kita bukan lagi manusia, tapi kita sudah menjadi zombie. Jadi, mari kita sama-sama tenggak jamunya agar tetap jadi orang waras Indonesia. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI



























