PERAYAAN cetakan ke-100 novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menjadi salah satu acara penting di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025. Acara yang berlangsung di Alang-Alang Stage pada Jumat malam, 31 Oktober 2025 tersebut menghadirkan Leila S. Chudori, Christina M. Udiani ─ editor senior KPG, serta dimoderatori oleh Debra Yatim ─ jurnalis dan aktivis sosial.
Udara malam Ubud yang lembab tidak mengurangi antusiasme penonton yang memenuhi area acara. Kursi-kursi terisi penuh oleh pembaca setia, mahasiswa, hingga pecinta sastra yang ingin mendengarkan langsung kisah di balik perjalanan panjang novel fenomenal ini. Laut Bercerita, pertama kali diterbitkan pada 2017, menceritakan tentang penculikan aktivis pada 1998 dan perjuangan keluarga mencari orang-orang tercinta yang hilang. Karya ini bukan hanya menggugah emosi pembaca, tetapi juga membuka kembali percakapan tentang ingatan kolektif bangsa terhadap masa kelam sejarah Indonesia.
Dalam diskusi, Leila Chudori mengungkapkan bahwa keberhasilan Laut Bercerita hingga mencapai cetakan ke-100 tidak lepas dari cara pembaca memandang isi novelnya. “Salah satu faktor yang memengaruhi penjualan buku ini mungkin karena pembaca menganggap Laut Bercerita itu seperti membaca sejarah. Meskipun saya berkali-kali mengatakan buku ini adalah fiksi dengan latar belakang sejarah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan sebuah karya sastra sering kali terletak pada bagaimana penulis membangun karakter-karakternya. “Kalau seorang penulis mengolah karakternya dengan baik, mereka akan seperti temannya pembaca. Setelah buku diselesaikan, kita jadi seperti kehilangan dan berpisah dengan para karakter di dalamnya,” tutur Leila.

Christina M. Udiani, editor senior KPG yang mendampingi proses penerbitan novel tersebut, menyoroti peran Laut Bercerita dalam memperkenalkan sejarah kepada generasi muda. “Dari media sosial kami memperhatikan ternyata banyak pembaca yang tidak terlalu paham tentang Orde Baru. Ada sejarah penyiksaan dan penculikan aktivis, ada buku-buku yang sempat dilarang beredar, orang-orang yang dihilangkan. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin memicu rasa ingin tahu para pembaca Laut Bercerita,” ungkapnya.
Moderator Debra Yatim memberikan pandangan lain tentang alasan novel ini tetap relevan hingga kini. Menurutnya, Laut Bercerita bertahan karena menghadirkan karakter-karakter muda yang kuat dan inspiratif. “Laut Bercerita bisa sampai cetakan ke-100 karena tokoh-tokohnya adalah anak muda, dan kita semua ingin menjadi Laut, Alex, atau Bram. Kalau saya perempuan, saya ingin sekali menjadi Anjani atau Asmara,” katanya, disambut tawa hangat audiens.
Debra menambahkan, penokohan yang kuat seperti dalam Laut Bercerita kini semakin jarang ditemukan dalam sastra Indonesia. “Para pembaca muda mungkin ingin melihat dirinya menjadi contoh yang baik dan benar. Mungkin dalam 25 tahun terakhir kita kurang punya penokohan semacam itu dari karya-karya sastra kita,” ujarnya.

Selain novel, Laut Bercerita juga hadir dalam bentuk film pendek yang disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Leila menceritakan bahwa ide pembuatan film itu sudah muncul ketika naskah novelnya masih dalam tahap awal.
“Film pendek ini dibuat untuk mendampingi peluncuran novelnya. Jadi, ketika novelnya masih draf satu, saya sudah membagikan ke beberapa orang, termasuk teman-teman saya yang orang film, salah satunya Wisnu Darmawan, yang sekarang mengelola Yayasan Dian Sastrowardoyo. Suatu ketika Wisnu mengajak untuk membuat film pendek,” jelasnya.
Film tersebut menampilkan aktor-aktor ternama seperti Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, dan Dian Sastrowardoyo. Sementara versi terjemahan bahasa Inggrisnya, The Sea Speaks His Name, yang terbit pada 2020, memperluas jangkauan pembaca hingga ke luar negeri. Pencapaian hingga cetakan ke-100 menjadi bukti bahwa karya ini memiliki daya hidup panjang di tengah dunia penerbitan yang terus berubah.

Saat sesi diskusi berlangsung, beberapa penonton menyampaikan pertanyaan dan komentar seputar novel tersebut. Mereka menyinggung proses riset, pengalaman emosional Leila saat menulis, hingga dampak novel terhadap pembaca muda. Setelah sesi diskusi, acara pun dilanjutkan dengan pemutaran film pendek Laut Bercerita.
Selama film diputar, suasana menjadi hening. Para penonton menyaksikan dengan khidmat, seolah dibawa kembali ke masa ketika suara-suara keberanian dibungkam. Ketika film berakhir, tepuk tangan panjang bergema ─ sebuah penghormatan bagi karya yang terus menggaungkan ingatan dan empati.

Acara malam itu ditutup dengan sesi penandatanganan buku. Antrean pengunjung mengular panjang; sebagian membawa edisi pertama yang sudah lusuh, sebagian lagi memegang edisi terbaru. Tak satu pun ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan tanda tangan Leila, menyapa sang penulis, atau sekadar mengucapkan terima kasih.
Bagi banyak orang, Laut Bercerita bukan sekadar novel. Ia adalah pengingat tentang kehilangan, keberanian, dan pentingnya mengingat masa lalu. Malam di Ubud itu menjadi saksi bahwa cerita yang lahir dari empati dan kejujuran akan selalu menemukan pembacanya, bahkan hingga cetakan ke-100. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























