DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api dari tungku kayu tampak menyala terang. Asap tipis perlahan mengepul ke udara, menyatu dengan aroma wangi adonan jaje lak-lak yang sedang dipanggang di atas cetakan tanah liat.
Di balik tungku itu, seorang perempuan berbaju merah terlihat sibuk menuangkan adonan berwarna hijau ke dalam cetakan, yang saat matang disebut jaja laklak. Dialah sosok yang akrab disapa Bu Jero, pemilik warung jaja laklak yang sudah bertahun-tahun menemani pagi masyarakat sekitar.
Nama aslinya adalah Kadek Suliartini (32). Ia mulai berjualan jaja lak-lak sejak masa pandemi Covid-19, dan hingga kini masih setia menjalankan usahanya dengan sabar dan tekun. Dengan tangan cekatan, ia menuangkan adonan dari teko kecil ke dalam cetakan tanah liat. Suara desis pelan saat adonan bertemu panasnya cetakan terdengar begitu merdu di telinga, seolah menjadi musik pagi yang menandai dimulainya aktivitas warga desa.
“Sebenarnya saya sudah lama berjualan. Sebelum jualan jaja laklak, saya sempat jual nasi campur, tipat santok, dan juga baju obral,” cerita Bu Jero.
Ia tak henti-henti tersenyum ramah. Menjual nasi campur, tipat cantok dan baju obral, kata dia, untungnya tak banyak.
“Setelah mencoba jual jaja laklak, ternyata lebih baik dan bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Bu Jero.

Jaja laklak sendiri merupakan jajanan tradisional khas Bali yang terbuat dari campuran tepung beras, daun kayu sugih, dan sedikit garam. Setelah dipanggang di cetakan tanah liat, laklak biasanya disajikan dengan parutan kelapa muda dan siraman gula merah cair. Rasa manis, gurih, dan wangi daun kayu sugih berpadu menciptakan cita rasa yang khas dan menggugah selera.
Di Desa Banjar yang terkenal sejuk dan tenang, aroma laklak hangat yang berpadu dengan asap kayu bakar menjadi daya tarik tersendiri. Setiap pagi, warga sekitar berdatangan ke warung sederhana milik Bu Jero. Ada yang membeli untuk sarapan, ada pula yang sekadar menikmati sambil duduk berbincang ringan ditemani secangkir kopi panas.
Harga satu porsi jaja laklak di warung Buk Jero masih sangat terjangkau, hanya Rp5.000 per porsi. Meski murah, Bu Jero memastikan rasa tetap terjaga.
“Walaupun harganya murah, tapi saya jamin rasanya tidak murahan,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Yang menarik, semua proses pembuatan jaje lak-lak di warung ini masih dilakukan secara tradisional. Tidak ada kompor gas, tidak ada alat modern. Semua masih mengandalkan tungku tanah liat, kayu bakar, dan cetakan tradisional.
“Kalau pakai kayu bakar, lak-laknya lebih wangi. Asap kayu itu bikin pinggirnya renyah dan rasanya lebih enak. Kalau pakai gas memang cepat, tapi rasanya beda,” jelasnya.

Setiap pagi, warung kecil itu selalu ramai. Para pembeli datang silih berganti, sebagian membawa pulang, sebagian lagi menikmati langsung di tempat. Suasana hangat dan aroma khas jaja laklak menjadi penyemangat pagi di Desa Banjar.
Meski sederhana, semangat Bu Jero mencerminkan keteguhan seorang perempuan desa yang mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi. Dengan tungku kayu dan cetakan tanah liat, ia tidak hanya menjaga warisan kuliner Bali tetap hidup, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa keuletan dan kesabaran dapat mengubah usaha kecil menjadi sumber penghidupan yang berarti. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Reporter/Penulis: Putu Ayu Ariani
Editor: Adnyana Ole



























