23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senator di Zaman Media Sosial: Ketika Politik Bali Kehilangan Kedalaman

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 11, 2025
in Esai
Senator di Zaman Media Sosial: Ketika Politik Bali Kehilangan Kedalaman

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

POLITIK hari ini seperti pesta tanpa jeda. Lampunya berkilat di layar ponsel, suaranya bersahut di media sosial. Setiap orang ingin bersuara, setiap politisi ingin tampil. Dari Bali, para senator pun ikut dalam riuh itu—ada yang berpidato di Senayan, ada yang membagikan semangat di Instagram, ada pula yang seru beradu komentar dengan warganet di Facebook.

Mereka semua tampak aktif, seolah dekat dengan rakyat. Tapi entah mengapa, di balik semua itu ada perasaan kosong. Media sosial memang menjanjikan kedekatan, tapi sering mencuri kedalaman.

Saya pernah melihat bagaimana seorang senator menanggapi kritik dengan berapi-api di kolom komentar. Ia tampak begitu sigap membela diri. Tapi pada saat yang sama, suaranya nyaris tak terdengar ketika rakyat kecil bicara tentang sawah yang hilang atau laut yang tak lagi bisa diakses. Mungkin tanpa sadar, kerja politik sudah bergeser dari memperjuangkan ide menjadi mengelola citra. Dari membangun gagasan menjadi memburu perhatian.

Di situ saya mulai merasa, mungkin kita sedang menyaksikan zaman ketika politik tak lagi lahir dari ruang rakyat, melainkan dari algoritma.

Media sosial memberi ruang untuk berinteraksi, tapi juga menciptakan cermin raksasa yang memantulkan wajah sendiri. Politisi sibuk melihat pantulan itu, menghitung jumlah suka, komentar, dan tayangan. Lama-lama, mereka lupa melihat keluar, lupa mendengar suara di luar layar.

Lebih gawat lagi, sebagian politisi mulai memainkan isu-isu primordial. Mereka bicara tentang identitas seolah itu satu-satunya cara menunjukkan keberpihakan. Padahal sejarah Bali justru tumbuh dari percampuran.

Pulau ini tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari pertemuan. Di Jembrana ada kampung Loloan, tempat orang Bugis-Melayu hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu sejak berabad lalu. Di Gianyar dan Klungkung, ada jejak komunitas Tionghoa yang ikut membentuk denyut perdagangan dan kebudayaan. Di Karangasem, kisah para saudagar Sasak dan Jawa masih hidup dalam cerita turun-temurun.

Pluralitas itu bukan sekadar latar sejarah, tapi napas yang membuat Bali bertahan sampai hari ini. Maka ketika seorang senator memelihara narasi eksklusif tentang “Bali yang murni”, sesungguhnya ia sedang menafikan akar sejarah yang membuat pulau ini kokoh di tengah gempuran zaman.

Saya sering bertanya, di mana suara senator Bali ketika sawah di Tabanan berubah jadi vila, ketika rumah-rumah warga di sekitar GWK dipagari tembok beton, ketika air bersih semakin sulit didapat karena hotel-hotel besar menancapkan sumur bor? Suara mereka hampir tak terdengar. Padahal, tugas DPD sangat jelas, memperjuangkan kepentingan daerah dan memberi pertimbangan pada kebijakan pusat.

Andai mereka sungguh-sungguh mau mendengar, banyak hal bisa diperjuangkan. Tapi yang sering muncul justru foto rapat, potongan video pendek, atau ucapan selamat hari raya dengan bingkai digital yang rapi.

Saya membayangkan hal sederhana. Seorang senator datang ke bale banjar, duduk di tikar pandan, mendengarkan keluh kesah petani tentang harga gabah, atau nelayan yang kehilangan pantai. Tak ada kamera, tak ada pencitraan, hanya percakapan yang jujur dan manusiawi. Dari percakapan seperti itulah politik yang sehat lahir.

Politik yang sejati tidak lahir dari mikrofon atau podium, melainkan dari obrolan di bawah pohon, di warung, di ladang. Dari keheningan yang memberi ruang bagi orang lain bicara.

Tentu, tidak semua senator terjebak dalam pusaran citra. Ada yang sungguh-sungguh berjuang. Ada yang menolak reklamasi Teluk Benoa, memperjuangkan akses pendidikan tinggi di Bali, atau mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan. Ada pula yang menggunakan media sosial dengan cerdas untuk edukasi publik, menjelaskan proses legislasi, membagikan agenda rapat, membuka ruang diskusi.

Mereka inilah wajah baru politik yang masih memberi harapan. Bahwa digital tak selalu dangkal, bahwa teknologi bisa jadi jembatan bila digunakan dengan hati.

Tapi tetap saja, politik yang sejati harus berpijak pada nilai. Di Bali, kita mengenal konsep menyama braya—merasa sekeluarga dengan siapa pun. Nilai itu seharusnya menjadi napas bagi seorang senator ketika merumuskan kebijakan. Bahwa kekuasaan tidak dimiliki untuk menonjolkan diri, melainkan untuk merawat kebersamaan.

Saya sering berpikir, kalau saja para senator Bali memandang politik seperti menanam padi, mungkin mereka akan lebih sabar. Mereka akan tahu kapan harus menanam, kapan harus menunggu hujan, dan kapan harus memanen. Politik tidak bisa dipanen cepat seperti konten viral. Ia butuh waktu, kerja keras, dan kesetiaan pada akar.

Bali sendiri hidup dari keseimbangan. Dari harmoni antara pura dan laut, antara pariwisata dan kesunyian desa, antara ritual dan realitas. Senator Bali seharusnya menjadi penjaga harmoni itu. Bukan penjaga citra.

Saya percaya, bila seorang senator mau menundukkan kepala, mendengar, dan melihat ke sekitar, ia akan menemukan banyak hal yang lebih penting dari sekadar menjadi populer. Ia akan melihat wajah-wajah petani yang menua tanpa sawah, anak-anak yang sekolah jauh dari rumah karena tak ada kampus di daerahnya, nelayan yang kehilangan pantai untuk hotel mewah.

Politik seharusnya hadir di sana, bukan di dunia maya yang terus berputar tanpa arah.

Kita hidup di masa ketika semua orang ingin bicara, tapi sedikit yang mau mendengarkan. Di tengah keadaan seperti itu, seorang senator yang mampu mendengar akan menjadi langka, bahkan berharga. Karena pada akhirnya, seorang pemimpin akan dikenang bukan dari berapa banyak pengikutnya, tapi dari seberapa dalam ia mengerti rakyat yang diwakilinya.

Bali membutuhkan senator yang tahu bahwa menjaga sawah sama pentingnya dengan menjaga pura. Yang paham bahwa pluralitas bukan ancaman, melainkan kekuatan. Yang sadar bahwa politik tidak boleh kehilangan kelembutannya sebagai laku kemanusiaan.

Mungkin itu yang hilang dari politik kita hari ini. Kedalaman. Keheningan. Dan kemampuan untuk mendengarkan tanpa tergesa membalas.

Bila senator Bali mampu memulihkan itu—menjadikan pluralitas sebagai napas, riset sebagai pijakan, dan rakyat sebagai poros perjuangan—maka DPD RI tak akan menjadi panggung pencitraan semata. Ia akan menjadi ruang dialog yang hidup antara Bali dan Indonesia, antara masa lalu dan masa depan, antara yang lokal dan yang universal.

Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi berbicara tentang politisi media sosial, melainkan tentang manusia yang sungguh-sungguh bekerja untuk tanah kelahirannya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tiba-Tiba Vila | Sebuah Catatan Budaya
Tags: DPD RIPolitikpolitik balisenator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

Next Post

Dickde dan “Ketut Jegeg Bulan”: Alunan Surf Rock dari Pantai Pering

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dickde dan “Ketut Jegeg Bulan”: Alunan Surf Rock dari Pantai Pering

Dickde dan “Ketut Jegeg Bulan”: Alunan Surf Rock dari Pantai Pering

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co