2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senator di Zaman Media Sosial: Ketika Politik Bali Kehilangan Kedalaman

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 11, 2025
in Esai
Senator di Zaman Media Sosial: Ketika Politik Bali Kehilangan Kedalaman

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

POLITIK hari ini seperti pesta tanpa jeda. Lampunya berkilat di layar ponsel, suaranya bersahut di media sosial. Setiap orang ingin bersuara, setiap politisi ingin tampil. Dari Bali, para senator pun ikut dalam riuh itu—ada yang berpidato di Senayan, ada yang membagikan semangat di Instagram, ada pula yang seru beradu komentar dengan warganet di Facebook.

Mereka semua tampak aktif, seolah dekat dengan rakyat. Tapi entah mengapa, di balik semua itu ada perasaan kosong. Media sosial memang menjanjikan kedekatan, tapi sering mencuri kedalaman.

Saya pernah melihat bagaimana seorang senator menanggapi kritik dengan berapi-api di kolom komentar. Ia tampak begitu sigap membela diri. Tapi pada saat yang sama, suaranya nyaris tak terdengar ketika rakyat kecil bicara tentang sawah yang hilang atau laut yang tak lagi bisa diakses. Mungkin tanpa sadar, kerja politik sudah bergeser dari memperjuangkan ide menjadi mengelola citra. Dari membangun gagasan menjadi memburu perhatian.

Di situ saya mulai merasa, mungkin kita sedang menyaksikan zaman ketika politik tak lagi lahir dari ruang rakyat, melainkan dari algoritma.

Media sosial memberi ruang untuk berinteraksi, tapi juga menciptakan cermin raksasa yang memantulkan wajah sendiri. Politisi sibuk melihat pantulan itu, menghitung jumlah suka, komentar, dan tayangan. Lama-lama, mereka lupa melihat keluar, lupa mendengar suara di luar layar.

Lebih gawat lagi, sebagian politisi mulai memainkan isu-isu primordial. Mereka bicara tentang identitas seolah itu satu-satunya cara menunjukkan keberpihakan. Padahal sejarah Bali justru tumbuh dari percampuran.

Pulau ini tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari pertemuan. Di Jembrana ada kampung Loloan, tempat orang Bugis-Melayu hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu sejak berabad lalu. Di Gianyar dan Klungkung, ada jejak komunitas Tionghoa yang ikut membentuk denyut perdagangan dan kebudayaan. Di Karangasem, kisah para saudagar Sasak dan Jawa masih hidup dalam cerita turun-temurun.

Pluralitas itu bukan sekadar latar sejarah, tapi napas yang membuat Bali bertahan sampai hari ini. Maka ketika seorang senator memelihara narasi eksklusif tentang “Bali yang murni”, sesungguhnya ia sedang menafikan akar sejarah yang membuat pulau ini kokoh di tengah gempuran zaman.

Saya sering bertanya, di mana suara senator Bali ketika sawah di Tabanan berubah jadi vila, ketika rumah-rumah warga di sekitar GWK dipagari tembok beton, ketika air bersih semakin sulit didapat karena hotel-hotel besar menancapkan sumur bor? Suara mereka hampir tak terdengar. Padahal, tugas DPD sangat jelas, memperjuangkan kepentingan daerah dan memberi pertimbangan pada kebijakan pusat.

Andai mereka sungguh-sungguh mau mendengar, banyak hal bisa diperjuangkan. Tapi yang sering muncul justru foto rapat, potongan video pendek, atau ucapan selamat hari raya dengan bingkai digital yang rapi.

Saya membayangkan hal sederhana. Seorang senator datang ke bale banjar, duduk di tikar pandan, mendengarkan keluh kesah petani tentang harga gabah, atau nelayan yang kehilangan pantai. Tak ada kamera, tak ada pencitraan, hanya percakapan yang jujur dan manusiawi. Dari percakapan seperti itulah politik yang sehat lahir.

Politik yang sejati tidak lahir dari mikrofon atau podium, melainkan dari obrolan di bawah pohon, di warung, di ladang. Dari keheningan yang memberi ruang bagi orang lain bicara.

Tentu, tidak semua senator terjebak dalam pusaran citra. Ada yang sungguh-sungguh berjuang. Ada yang menolak reklamasi Teluk Benoa, memperjuangkan akses pendidikan tinggi di Bali, atau mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan. Ada pula yang menggunakan media sosial dengan cerdas untuk edukasi publik, menjelaskan proses legislasi, membagikan agenda rapat, membuka ruang diskusi.

Mereka inilah wajah baru politik yang masih memberi harapan. Bahwa digital tak selalu dangkal, bahwa teknologi bisa jadi jembatan bila digunakan dengan hati.

Tapi tetap saja, politik yang sejati harus berpijak pada nilai. Di Bali, kita mengenal konsep menyama braya—merasa sekeluarga dengan siapa pun. Nilai itu seharusnya menjadi napas bagi seorang senator ketika merumuskan kebijakan. Bahwa kekuasaan tidak dimiliki untuk menonjolkan diri, melainkan untuk merawat kebersamaan.

Saya sering berpikir, kalau saja para senator Bali memandang politik seperti menanam padi, mungkin mereka akan lebih sabar. Mereka akan tahu kapan harus menanam, kapan harus menunggu hujan, dan kapan harus memanen. Politik tidak bisa dipanen cepat seperti konten viral. Ia butuh waktu, kerja keras, dan kesetiaan pada akar.

Bali sendiri hidup dari keseimbangan. Dari harmoni antara pura dan laut, antara pariwisata dan kesunyian desa, antara ritual dan realitas. Senator Bali seharusnya menjadi penjaga harmoni itu. Bukan penjaga citra.

Saya percaya, bila seorang senator mau menundukkan kepala, mendengar, dan melihat ke sekitar, ia akan menemukan banyak hal yang lebih penting dari sekadar menjadi populer. Ia akan melihat wajah-wajah petani yang menua tanpa sawah, anak-anak yang sekolah jauh dari rumah karena tak ada kampus di daerahnya, nelayan yang kehilangan pantai untuk hotel mewah.

Politik seharusnya hadir di sana, bukan di dunia maya yang terus berputar tanpa arah.

Kita hidup di masa ketika semua orang ingin bicara, tapi sedikit yang mau mendengarkan. Di tengah keadaan seperti itu, seorang senator yang mampu mendengar akan menjadi langka, bahkan berharga. Karena pada akhirnya, seorang pemimpin akan dikenang bukan dari berapa banyak pengikutnya, tapi dari seberapa dalam ia mengerti rakyat yang diwakilinya.

Bali membutuhkan senator yang tahu bahwa menjaga sawah sama pentingnya dengan menjaga pura. Yang paham bahwa pluralitas bukan ancaman, melainkan kekuatan. Yang sadar bahwa politik tidak boleh kehilangan kelembutannya sebagai laku kemanusiaan.

Mungkin itu yang hilang dari politik kita hari ini. Kedalaman. Keheningan. Dan kemampuan untuk mendengarkan tanpa tergesa membalas.

Bila senator Bali mampu memulihkan itu—menjadikan pluralitas sebagai napas, riset sebagai pijakan, dan rakyat sebagai poros perjuangan—maka DPD RI tak akan menjadi panggung pencitraan semata. Ia akan menjadi ruang dialog yang hidup antara Bali dan Indonesia, antara masa lalu dan masa depan, antara yang lokal dan yang universal.

Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi berbicara tentang politisi media sosial, melainkan tentang manusia yang sungguh-sungguh bekerja untuk tanah kelahirannya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Tiba-Tiba Vila | Sebuah Catatan Budaya
Tags: DPD RIPolitikpolitik balisenator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

Next Post

Dickde dan “Ketut Jegeg Bulan”: Alunan Surf Rock dari Pantai Pering

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dickde dan “Ketut Jegeg Bulan”: Alunan Surf Rock dari Pantai Pering

Dickde dan “Ketut Jegeg Bulan”: Alunan Surf Rock dari Pantai Pering

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co