3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiba-Tiba Vila | Sebuah Catatan Budaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 7, 2025
in Esai
Tiba-Tiba Vila | Sebuah Catatan Budaya

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KAKAK sepupu saya, semasa hidupnya, senang sekali saat seorang kenalannya memberikan rumah sederhana dengan pemandangan sungai di kejauhan. Rumah itu terletak di area perbukitan di utara kota kecil kami. Ketika itu, belum banyak orang yang menggunakan istilah ‘vila’ di Bali.

Namun kakak dengan bangga menyebut rumahnya sebagai vila. Sederhananya, “tempat peristirahatan”, “retreat”, apalagi beliau dikenal suka hal-hal spiritual; meditasi, sembahyang, juga kolektor benda-benda bertuah. Beliau juga pemangku di pura keluarga besar kami di Negara, Jembrana, Bali.

Pernah satu kali kakak mengajak saya ke vila miliknya. Sore yang teduh, ia menjemput saya dengan sepeda motor barunya. Keluar rumah menjadi hiburan berarti bagi saya yang saat itu sedang menjalani pemulihan dari sakit. Jalanan kota dan desa kami lewati dengan pelan. Setibanya di vila, beliau mempersilakan saya masuk.

Vila itu terbuka (open space), banyak jendela dan pintu yang membuat sirkulasi udara lancar. Jika merasa suntuk di kota, pergi ke vila, kata kakak saya, membuat dirinya yang semula penat menjadi fresh. Beliau biasa sendiri berada di vila yang oleh keluarga dan warga sekitar sana dianggap tenget. Konon, banyak makhluk gaib mendiami wilayah tempat vila itu berdiri.

Saya baru tahu sekitar setahun lalu, dari anak kakak sepupu saya, bahwa saat ayahnya sakit, vila tersebut telah dijual. Bahkan, kini, vila itu dibiarkan kosong oleh pemilik baru. Oleh anak-anak muda yang mencoba peruntungan menjadi YouTuber, vila itu sering dijadikan obyek untuk konten misteri. Dikenal angker, umah gamang (rumahnya makhluk gaib), tentu dengan kisah “berbumbu”.

Di waktu yang berbeda, kini, memiliki vila tampaknya menjadi impian dan cita-cita banyak orang Bali. Bisa jadi, hal itu disebabkan karena melihat dan meniru gaya hidup orang asing di Bali. Mereka tampaknya begitu menikmati hidup—kapan bekerja, kapan bersantai, kapan bersosialisasi, semua (tampaknya) seperti dilakukan dengan enjoy, baik, dan terstruktur.  

Berbeda dengan penduduk lokal yang hidupnya lebih kompleks—menyama braya, mebanjaran budaya komunal hidup sebagai orang Bali, banyak upacara agama, belum lagi urusan pekerjaan; ASN, pekerja sektor pariwisata, wirausahawan, dan jenis pekerjaan lain yang sekarang dianggap “kurang keren” seperti wartawan, seniman, penulis dan juga penyair.

Vila bagi warga lokal selain sebagai aset dan investasi, sekarang juga dianggap sebagai prestise. Pencapaian yang dirasa sangat bagus. Tak hanya di wilayah turisme mainstream seperti Canggu, Ungasan, dan Ubud. Namun juga desa-desa di kabupaten lain yang dikenal “tidak terlalu ramai”, seperti Sidemen di Karangasem, Medewi dan Perancak di Jembrana, atau juga kawasan wisata Lovina, Tejakula, dan Munduk di Buleleng. Justru, pada wilayah yang agak sepi tersebut banyak “bule” yang senang tinggal di sana. Belum lagi tempat-tempat yang oleh orang Bali “tidak direkomendasikan” untuk ditempati seperti pinggir sungai, jurang, lembah, dan gunung karena “tenget”—wilayahnya memedi, gamang, nak (orang) samar. Para makhluk dari “alam lain”.

Beruntung jika kontruksi dan arsitektur vila masih “jadul” seperti yang pernah dipunyai kakak sepupu saya seperti cerita di atas. Kini banyak vila yang dibuat dengan konsep “private”: tembok tinggi, pintu selalu terkunci, lengkap dengan CCTV 24 jam selain satpam. Hal ini tentu kurang sesuai dengan budaya Bali yang orangnya bukan “lu-lu, gue-gue”. Setidaknya, masih ada interaksi antara pemilik rumah dengan tetangga dan masyarakat sekitar di mana kita hidup dan menetap. 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pada tahun 2024, di Bali terdapat 3.582 akomodasi hotel non-bintang. Vila tentu masuk dalam kategori itu. Angka ribuan ini bisa dipastikan akan terus bertambah setiap tahun, seiring masifnya Pembangunan dan juga arus migrasi penduduk, tak hanya dari Indonesia tapi juga dari negara-negara lain yang mana WNA sekarang tidak hanya berlibur saja di Bali, namun juga bekerja dan membuka usaha/bisnis di Bali.

Jika dilihat dari kacamata ekonomi, tentu saja hal ini akan dianggap sebagai sinyal positif. Investasi terbuka, lapangan kerja bertambah, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan lain lain. Namun, dilihat dari kacamata ilmu budaya dan humaniora, tentu saja dengan masifnya migrasi penduduk ke Bali dapat menimbulkan berbagai masalah sosial.

Jurang kaya-miskin semakin menganga, konflik kultural/gesekan budaya, kriminalitas meningkat, hingga masalah lingkungan seperti krisis air bersih, polusi udara, kemacetan lalu lintas. Kesehatan mental warga juga rawan akibat tekanan hidup yang tinggi, tak jarang berujung pada gangguan mental hingga kasus bunuh diri. Dampak-dampak ini tentu tidak bisa kita abaikan begitu saja.

Gaya hidup dengan budaya yang berbeda antara penduduk lokal dan orang asing juga bisa menimbulkan berbagai tantangan. Komunikasi antarbudaya dan cross-cultural understanding menjadi perlu banyak dilakukan. Selama ini di Bali ruang publik tempat bertemunya orang-orang dari berbagai suku, agama, dan ras masih kurang, atau jika ada, masih bersifat elitis dan mewah.

Kebanyakan warga asing hanya berkumpul dengan warga asing. Juga warga perantau luar Bali hanya bergaul dengan suku mereka yang sama. Jarang ada dialog atau kegiatan yang melibatkan warga yang heterogen. Hal itu tentu berbeda, jika kita melihat konsep pariwisata awal di Bali, Kuta misalnya. Warga asing menginap di homestay atau rumah penduduk. Ada interaksi budaya di sana. Sebenarnya konsep pariwisata inilah yang cocok dibuat di Bali.

Menjadi jauh berbeda ketika kemudian konsep pariwisata “alami” ini diubah oleh pemerintah pada masa lalu, Pembangunan hotel-hotel dan akomodasi pariwisata kemudian membuat “ruh” pariwisata Bali berbeda. Sangat kapitalistik dan materialistik.

Kini, dengan adanya banyak vila yang dimiliki baik oleh warga Bali atau bahkan WNA, saya melihat konsep pariwasata Bali akan bisa berubah lagi. Turis dan pelancong kini tak lagi banyak yang menginap di hotel, tapi di vila. Bahkan, banyak dari mereka yang kini juga tinggal di rumah-rumah kos. Maka tak aneh jika angka kunjungan wisatawan ke Bali meningkat tapi tidak membawa pengaruh pada okupansi hotel, terlebih pendapatan daerah. Karena mereka tidak tinggal di hotel.

Bisa dibayangkan, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, pulau mungil seperti Bali akan dikepung oleh banyaknya vila di segala penjuru. Warga lokal yang “kepepet” masalah uang dengan tanpa beban melepas sawah dan kebun mereka untuk dijual kepada pembeli. Tiba-tiba lahan produktif berpindah tangan. Tiba-tiba pembangunan dimana-mana. Tiba-tiba jadilah vila! [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa
Tags: baliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Galunggung: Wisata dengan Aura Mistis

Next Post

Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co