22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Pundukan” pun Dicaplok

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 26, 2025
in Esai
Ketika “Pundukan” pun Dicaplok

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

JALAN bukan sekadar urat nadi perhubungan; ia adalah simbol kehidupan sosial. Jalan menghubungkan rumah dengan rumah, desa dengan desa, ladang dengan pasar, dan pada akhirnya, manusia dengan manusia. Namun, di banyak tempat, kita menyaksikan fenomena yang ironis: akses jalan masyarakat kecil semakin terpinggirkan. Bahkan jalan setapak di sawah—yang dalam bahasa lokal Bali disebut pundukan—tak luput dari pencaplokan.

Pundukan bukan sekadar tanah yang ditinggikan di antara petak sawah. Ia adalah jalan hidup. Petani menapakinya setiap hari saat menengok padi, anak-anak kecil berlarian di atasnya, dan warga desa menggunakan jalur itu untuk melintasi ruang-ruang kehidupan mereka. Ketika pundukan hilang, yang terganggu bukan hanya mobilitas fisik, melainkan juga keterhubungan sosial.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kita bisa melihat refleksi serupa dalam praktik pemagaran lahan di sekitar kawasan pariwisata besar, misalnya di sekitar Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali yang lagi-lagi bikin “tengkesiap” bin “kepupungan”. Lahan dipagari rapi demi kepentingan tertentu, namun di sisi lain, masyarakat lokal kehilangan akses jalan untuk melakukan aktivitas. Apa yang dahulu bebas dilalui, kini berubah menjadi wilayah terbatas.

Jalan Sebagai Ruang Publik

Sejak dulu, jalan adalah ruang publik yang paling egaliter. Siapa pun berhak menggunakannya tanpa memandang status sosial. Ia adalah ruang demokratis paling sederhana, tempat orang kaya dan miskin bisa melintas tanpa diskriminasi. Tetapi, seiring berkembangnya kepentingan ekonomi dan komersialisasi ruang, fungsi sosial jalan semakin terkikis.

Pundukan yang dicaplok memperlihatkan wajah konkret dari persoalan ini. Di tingkat desa, yang tampak sederhana justru sangat vital: bagaimana petani bisa mengakses sawahnya jika jalur dipersempit atau ditutup? Bagaimana anak-anak berjalan ke sekolah jika mereka harus memutar jauh hanya karena akses lama kini dibatasi pagar? Di kota besar, kita mungkin membicarakan jalan tol, underpass, dan flyover. Tapi di desa, pundukan adalah “jalan tol” mereka.

Akses Jalan dan Hak Asasi

Dalam kerangka yang lebih luas, akses jalan sejatinya menyangkut hak asasi. Hak bergerak bebas adalah bagian dari hak dasar manusia. Ketika akses jalan ditutup atau dicaplok, secara tidak langsung hak tersebut ikut terkekang. Persoalan ini kerap dianggap sepele karena menyangkut jalan setapak, bukan jalan raya. Namun bagi masyarakat kecil, setapak bisa berarti hidup atau mati, mudah atau susah, lancar atau macet dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Fenomena pemagaran di sekitar GWK memperlihatkan paradoks modernitas. Di satu sisi, pembangunan infrastruktur pariwisata mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja, dan memajukan citra daerah. Tetapi di sisi lain, masyarakat lokal yang sudah lebih dulu hidup di sana justru merasakan keterasingan. Jalan yang dulu bebas dilalui kini menjadi “jalan privat,” sementara jalan umum harus memutar jauh. Pertanyaannya: ke mana perginya fungsi sosial jalan?

Bukan Soal Menyalahkan

Penting untuk menegaskan: artikel ini bukan hendak menyalahkan siapa pun. Pencaplokan pundukan dan pemagaran lahan sering kali melibatkan kepentingan kompleks: legalitas tanah, rencana tata ruang, maupun kebutuhan investasi. Menyalahkan hanya akan melahirkan kebuntuan. Yang lebih urgen adalah menjadikannya refleksi bersama: bagaimana kita menjaga keseimbangan antara pembangunan dan hak akses masyarakat?

Di desa, solusi bisa berupa kesepakatan adat, di mana jalan setapak dilindungi sebagai milik bersama. Di kawasan pariwisata, pemerintah daerah dapat memfasilitasi jalur alternatif yang layak, agar masyarakat lokal tidak merasa terkucilkan. Win-win solution bukan utopia, asalkan ada kemauan duduk bersama.

Jalan Sebagai Simbol Kebersamaan

Bayangkan sebuah desa di mana pundukan tetap terbuka. Di pagi hari, petani berjalan ke sawah sambil bertegur sapa dengan tetangga. Anak-anak berlari kecil sambil membawa bekal sekolah. Warga desa melintas untuk menuju pasar tradisional. Jalan itu tidak hanya menghubungkan titik A ke titik B, tetapi juga menjadi arena perjumpaan, arena memperkuat rasa kebersamaan.

Sebaliknya, bayangkan pundukan itu dicaplok. Jalan yang dahulu ramah berubah menjadi tembok bisu. Orang harus memutar, waktu habis, interaksi berkurang. Perlahan, ikatan sosial yang semula erat ikut terkikis. Maka, menjaga jalan setapak berarti menjaga kehidupan sosial itu sendiri.

Menuju Kesepahaman Baru

Kita perlu kesadaran baru bahwa jalan, sekecil apa pun, adalah warisan bersama. Ia bukan sekadar infrastruktur, tetapi ekosistem sosial. Pemerintah, investor, maupun masyarakat lokal harus saling memahami. Investor tentu membutuhkan lahan yang jelas, sementara masyarakat lokal butuh akses untuk hidup sehari-hari. Pemerintah hadir untuk menyeimbangkan, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Win-win solution bisa berupa: menyediakan jalur hijau yang aman untuk masyarakat, menyisihkan akses pedestrian di area berpagar, atau bahkan membuka jalur khusus yang diatur bersama. Solusi ini bukan mustahil, hanya butuh keterbukaan hati.

Refleksi untuk Kita Semua

Pundukan yang dicaplok adalah cermin kecil dari masalah besar: bagaimana kita memandang ruang hidup bersama. Jika setapak saja bisa direbut, bagaimana dengan ruang-ruang publik lain? Lapangan desa, pantai, hutan, bahkan udara bersih—semuanya bisa terancam jika kita tidak menegaskan bahwa ruang publik harus tetap untuk publik.

Bali, dengan keindahan alam dan kearifan lokalnya, mestinya menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan. Filosofi Tri Hita Karana mengajarkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama. Menutup jalan masyarakat berarti merobek salah satu sisi harmoni itu.

Penutup

Maka, mari kita belajar dari pundukan yang dicaplok. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menyadari bahwa jalan adalah kehidupan bersama. Jalan adalah simbol persaudaraan sosial yang harus dijaga. Jika jalan setapak saja bisa hilang, kita akan kehilangan lebih dari sekadar akses: kita akan kehilangan rasa kebersamaan sebagai bangsa.

Solusinya sederhana tapi mendalam: mari duduk bersama, membuka hati, dan merumuskan kesepakatan baru. Dengan begitu, pembangunan bisa terus berjalan, pariwisata bisa berkembang, dan masyarakat kecil tetap memiliki hak atas jalannya sendiri. Sebab tanpa jalan, kehidupan sosial kita akan tersendat. Dan tanpa kehidupan sosial, pembangunan tidak lagi punya arti. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan
Tags: balihak azasiJalanruang publiktransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Resiliensi Akademik: Seni Bertahan dan Berkembang di Tengah Tekanan Kuliah

Next Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co