2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Pundukan” pun Dicaplok

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 26, 2025
in Esai
Ketika “Pundukan” pun Dicaplok

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

JALAN bukan sekadar urat nadi perhubungan; ia adalah simbol kehidupan sosial. Jalan menghubungkan rumah dengan rumah, desa dengan desa, ladang dengan pasar, dan pada akhirnya, manusia dengan manusia. Namun, di banyak tempat, kita menyaksikan fenomena yang ironis: akses jalan masyarakat kecil semakin terpinggirkan. Bahkan jalan setapak di sawah—yang dalam bahasa lokal Bali disebut pundukan—tak luput dari pencaplokan.

Pundukan bukan sekadar tanah yang ditinggikan di antara petak sawah. Ia adalah jalan hidup. Petani menapakinya setiap hari saat menengok padi, anak-anak kecil berlarian di atasnya, dan warga desa menggunakan jalur itu untuk melintasi ruang-ruang kehidupan mereka. Ketika pundukan hilang, yang terganggu bukan hanya mobilitas fisik, melainkan juga keterhubungan sosial.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kita bisa melihat refleksi serupa dalam praktik pemagaran lahan di sekitar kawasan pariwisata besar, misalnya di sekitar Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali yang lagi-lagi bikin “tengkesiap” bin “kepupungan”. Lahan dipagari rapi demi kepentingan tertentu, namun di sisi lain, masyarakat lokal kehilangan akses jalan untuk melakukan aktivitas. Apa yang dahulu bebas dilalui, kini berubah menjadi wilayah terbatas.

Jalan Sebagai Ruang Publik

Sejak dulu, jalan adalah ruang publik yang paling egaliter. Siapa pun berhak menggunakannya tanpa memandang status sosial. Ia adalah ruang demokratis paling sederhana, tempat orang kaya dan miskin bisa melintas tanpa diskriminasi. Tetapi, seiring berkembangnya kepentingan ekonomi dan komersialisasi ruang, fungsi sosial jalan semakin terkikis.

Pundukan yang dicaplok memperlihatkan wajah konkret dari persoalan ini. Di tingkat desa, yang tampak sederhana justru sangat vital: bagaimana petani bisa mengakses sawahnya jika jalur dipersempit atau ditutup? Bagaimana anak-anak berjalan ke sekolah jika mereka harus memutar jauh hanya karena akses lama kini dibatasi pagar? Di kota besar, kita mungkin membicarakan jalan tol, underpass, dan flyover. Tapi di desa, pundukan adalah “jalan tol” mereka.

Akses Jalan dan Hak Asasi

Dalam kerangka yang lebih luas, akses jalan sejatinya menyangkut hak asasi. Hak bergerak bebas adalah bagian dari hak dasar manusia. Ketika akses jalan ditutup atau dicaplok, secara tidak langsung hak tersebut ikut terkekang. Persoalan ini kerap dianggap sepele karena menyangkut jalan setapak, bukan jalan raya. Namun bagi masyarakat kecil, setapak bisa berarti hidup atau mati, mudah atau susah, lancar atau macet dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Fenomena pemagaran di sekitar GWK memperlihatkan paradoks modernitas. Di satu sisi, pembangunan infrastruktur pariwisata mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja, dan memajukan citra daerah. Tetapi di sisi lain, masyarakat lokal yang sudah lebih dulu hidup di sana justru merasakan keterasingan. Jalan yang dulu bebas dilalui kini menjadi “jalan privat,” sementara jalan umum harus memutar jauh. Pertanyaannya: ke mana perginya fungsi sosial jalan?

Bukan Soal Menyalahkan

Penting untuk menegaskan: artikel ini bukan hendak menyalahkan siapa pun. Pencaplokan pundukan dan pemagaran lahan sering kali melibatkan kepentingan kompleks: legalitas tanah, rencana tata ruang, maupun kebutuhan investasi. Menyalahkan hanya akan melahirkan kebuntuan. Yang lebih urgen adalah menjadikannya refleksi bersama: bagaimana kita menjaga keseimbangan antara pembangunan dan hak akses masyarakat?

Di desa, solusi bisa berupa kesepakatan adat, di mana jalan setapak dilindungi sebagai milik bersama. Di kawasan pariwisata, pemerintah daerah dapat memfasilitasi jalur alternatif yang layak, agar masyarakat lokal tidak merasa terkucilkan. Win-win solution bukan utopia, asalkan ada kemauan duduk bersama.

Jalan Sebagai Simbol Kebersamaan

Bayangkan sebuah desa di mana pundukan tetap terbuka. Di pagi hari, petani berjalan ke sawah sambil bertegur sapa dengan tetangga. Anak-anak berlari kecil sambil membawa bekal sekolah. Warga desa melintas untuk menuju pasar tradisional. Jalan itu tidak hanya menghubungkan titik A ke titik B, tetapi juga menjadi arena perjumpaan, arena memperkuat rasa kebersamaan.

Sebaliknya, bayangkan pundukan itu dicaplok. Jalan yang dahulu ramah berubah menjadi tembok bisu. Orang harus memutar, waktu habis, interaksi berkurang. Perlahan, ikatan sosial yang semula erat ikut terkikis. Maka, menjaga jalan setapak berarti menjaga kehidupan sosial itu sendiri.

Menuju Kesepahaman Baru

Kita perlu kesadaran baru bahwa jalan, sekecil apa pun, adalah warisan bersama. Ia bukan sekadar infrastruktur, tetapi ekosistem sosial. Pemerintah, investor, maupun masyarakat lokal harus saling memahami. Investor tentu membutuhkan lahan yang jelas, sementara masyarakat lokal butuh akses untuk hidup sehari-hari. Pemerintah hadir untuk menyeimbangkan, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Win-win solution bisa berupa: menyediakan jalur hijau yang aman untuk masyarakat, menyisihkan akses pedestrian di area berpagar, atau bahkan membuka jalur khusus yang diatur bersama. Solusi ini bukan mustahil, hanya butuh keterbukaan hati.

Refleksi untuk Kita Semua

Pundukan yang dicaplok adalah cermin kecil dari masalah besar: bagaimana kita memandang ruang hidup bersama. Jika setapak saja bisa direbut, bagaimana dengan ruang-ruang publik lain? Lapangan desa, pantai, hutan, bahkan udara bersih—semuanya bisa terancam jika kita tidak menegaskan bahwa ruang publik harus tetap untuk publik.

Bali, dengan keindahan alam dan kearifan lokalnya, mestinya menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan. Filosofi Tri Hita Karana mengajarkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama. Menutup jalan masyarakat berarti merobek salah satu sisi harmoni itu.

Penutup

Maka, mari kita belajar dari pundukan yang dicaplok. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menyadari bahwa jalan adalah kehidupan bersama. Jalan adalah simbol persaudaraan sosial yang harus dijaga. Jika jalan setapak saja bisa hilang, kita akan kehilangan lebih dari sekadar akses: kita akan kehilangan rasa kebersamaan sebagai bangsa.

Solusinya sederhana tapi mendalam: mari duduk bersama, membuka hati, dan merumuskan kesepakatan baru. Dengan begitu, pembangunan bisa terus berjalan, pariwisata bisa berkembang, dan masyarakat kecil tetap memiliki hak atas jalannya sendiri. Sebab tanpa jalan, kehidupan sosial kita akan tersendat. Dan tanpa kehidupan sosial, pembangunan tidak lagi punya arti. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan
Tags: balihak azasiJalanruang publiktransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Resiliensi Akademik: Seni Bertahan dan Berkembang di Tengah Tekanan Kuliah

Next Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co