14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Air, Banjir, dan Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
September 21, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KAGET. Itu yang dirasakan masyarakat Bali, dan juga masyarakat Indonesia ketika beberapa daerah di Bali diterjang banjir belum lama ini. Rumah, bangunan, dan kendaraan hancur porak-poranda; terdapat pula korban jiwa.

Lebih dari 20 tahun pernah tinggal di Bali (1986-2007), baru kali ini mendapat kabar banjir yang begitu dahsyat. Tahun 1990-an Bali juga pernah dilanda banjir, namun hanya sebatas mata kaki, maksimal setinggi lutut orang dewasa. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul, mengapa bisa terjadi banjir besar di Bali; termasuk di daerah lain Indonesia.

Banjir adalah keadaan di mana suatu daratan yang biasanya kering tergenang air dalam jumlah besar karena volume air di sungai, danau, atau saluran air lainnya meluap melebihi kapasitas tampung. Efeknya bisa merusak dan menimbulkan korban jiwa. Padahal air adalah sumber kehidupan.

Masyarakat di mana pun memiliki pandangan dunia tentang air. Terdapat fungsi dan mitologi tentang air. Ada dewa air di berbagai belahan dunia. Yunani mengenal Poseidon, yaitu dewa laut, sungai, dan danau. Vietnam memiliki Hà Bá sebagai dewa sungai. Suku Maya mengenal Chac sebagai dewa yang melambangkan hujan. Sedangkan di Indonesia dikenal Baruna atau Varuna sebagai dewa air, lautan, dan langit.

 Masyarakat tradisional sering menggunakan air sebagai media pengobatan berbagai penyakit. Dengan diberi bacaan doa maupun mantra, air dipercaya mampu menjadi obat. Air dipercaya memiliki kekuatan penyembuh dan energi kehidupan.

Air sering pula menjadi bagian dari ritual hajatan di beberapa masyarakat Indonesia. Di Jawa misalnya, ritual siraman dalam prosesi pernikahan menggunakan air yang berasal dari tujuh sumber mata air atau dari tujuh campuhan sungai. Untuk menjaga agar sumber mata air tetap suci, masyarakat pun menciptakan mitos tentang sumber mata air yang dianggap keramat, sakral, dan angker.

Zaman dahulu, air memiliki fungsi sosial kultural yang tinggi. Masyarakat tradisional selalu menyediakan gentong atau tempayan yang berisi air dan ditaruh di pelataran rumah. Harapannya, bila ada musafir, pengembara atau pengelana yang melakukan perjalanan jauh dan kehausan, dapat mengambil air di gentong tersebut untuk diminum atau sekadar mencuci muka.

Kini, air sudah berubah fungsi dan mitologinya. Air sudah dikapitalisasi, menjadi bagian dari korporasi. Air menjadi bagian dari perusahaan daerah air minum, dan masyarakat harus membayar untuk mengkonsumsinya. Air minum dalam bentuk kemasan juga dijual. Sumber-sumber air seperti sungai, pantai, dan danau dikapling untuk kepentingan pariwisata. Air kehilangan fungsi sosialnya, kehilangan mitologi dan kesakralannya.

Penyebab Banjir

 Tahun 1980-an Bali masih tampak asri. Belum begitu banyak hotel, restoran, kafe, diskotek, dan objek wisata. Bali masih nyaman dikunjungi wisatawan. Jalanan juga belum macet seperti sekarang. Mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat lain masih lancar.

Memasuki tahun 2000-an, Bali mulai berubah. Pembangunan sarana dan prasarana pariwisata seolah jor-joran. Banyak pihak, akademisi,  LSM, media massa, dan tokoh masyarakat yang khawatir masa depan Bali. Namun the show must go on, pariwisata Bali melaju cepat. Dari satu presiden ke presiden berikut, dari satu gubernur ke gubernur selanjutnya, dan dari satu menteri ke menteri yang lain, tak hirau dengan kecemasan banyak pihak yang takut Bali akan rusak ke depannya. Terpenting, angka kunjungan wisatawan selalu meningkat, pendapatan asli daerah melonjak, dan devisa negara mengalir.

Kini Bali diterpa isu overtourism. Beberapa kalangan menyarankan agar dilakukan moratorium pembangunan sarana prasarana pariwisata. Namun para pejabat di daerah hingga menteri menepis tudingan itu. Mereka mengatakan Bali tidak overtourism, melainkan over concentrate atau penumpukan wisatawan di area tertentu, terutama Bali Selatan. Buktinya, masih banyak kamar hotel yang kosong. Sementara itu, pembangunan hotel pun terus berlanjut. Hingga tiba-tiba Bali diterjang banjir. Lantas apa penyebabnya?

Secara umum, banjir dapat disebabkan curah hujan yang tinggi. Hujan lebat yang berlangsung lama dapat membuat volume air melebihi daya tampung selokan, sungai, maupun danau. Air sungai maupun laut yang meluap ke daratan akan menimbulkan baniir.

Drainase yang buruk, dangkal, dan tersumbat sampah membuat tak mampu menampung volume air. Faktor manusia sangat berpengaruh terhadap timbulnya banjir. Kerusakan ekosistem, penebangan hutan, pembuangan sampah sembarangan, dan alih fungsi lahan berkontribusi besar terhadap datangnya banjir.

Perbedaan pandangan tentang penyebab banjir di Bali sempat mencuat. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali mengatakan banjir disebabkan oleh alih fungsi lahan, tata kelola ruang, dan sampah yang buruk (kumparan.com, 11/9/2025). Sedangkan Gubernur Bali menyebut curah hujan yang sangat tinggi mengguyur sebagian wilayah di Pulau Dewata menjadi penyebab banjir (detik.com, 10/9/2025).

Silang pendapat itu terhenti setelah Menteri Lingkungan Hidup memaparkan data, dari sekitar 49.500 hektare hutan yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung, kini lahan yang ditumbuhi pepohonan hanya tersisa sekitar 1.500 hektare atau 3 persen. Padahal secara ekologis paling tidak, harus 30 persen. Gubernur Bali kaget mendengar itu (cnnindonesia.com, 14/9/2025).

Tak lama berselang, Gubernur Bali menegaskan kebijakan moratorium alih fungsi lahan produktif untuk fasilitas komersial. Momentum banjir kali ini sebagai pelajaran berharga agar seluruh pihak memiliki tanggung jawab menjaga alam Bali. Sungai adalah sumber kehidupan, dan ekosistem Bali harus dijaga demi generasi yang akan datang (balipost.com, 14/92025).

Pertanyaannya, mengapa moratorium itu tidak diputuskan jauh hari? Bukankah banyak pihak yang sudah menyarankan agar Bali segera melakukan moratorium? Sepertinya memang harus ada campur tangan alam untuk sebuah keputusan politik yang berdampak bagi banyak orang. Terlambat memang; tetapi lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.

Dampak Pariwisata

Bali porak-poranda. Bukan karena ledakan bom teroris. Bukan lantaran kerusuhan dan penjarahan. Bali sempat lumpuh karena air. Banjir sudah pasti berdampak. Bukan hanya pada sektor pariwisata, tapi juga pada sektor yang lain.

Dampak yang terasa tentunya adalah masalah aksesibilitas. Bukan hanya Bali, daerah lain yang dilanda banjir juga akan mengalami gangguan aksesibilitas ke objek wisata maupun ke tempat lain. Mobilitas orang dan wisatawan menjadi terhambat.

Banjir yang dahsyat tentu saja akan menimbulkan kerusakan pada objek dan daya tarik wisata. Sarana dan prasarana lain juga rusak. Nilai kerugian bisa mencapai miliaran rupiah. Dan tentu perlu waktu yang lama untuk merehabilitasi. Apalagi bagi pedagang maupun pengusaha kecil, nilai kerugian itu akan menjadi pukulan berat.

Lebih menyedihkan, banjir menimbulkan korban jiwa. Kerugian materi mungkin bisa diperbaiki dengan berbagai cara, namun korban jiwa meninggalkan duka yang berkepanjangan. Apalagi bila korban jiwa itu menimpa wisatawan, tentu akan menambah cerita buruk tentang sebuah destinasi. Pariwisata adalah industri jasa yang sangat sensitif terhadap isu dan gangguan keamanan.

Citra pariwisata dipertaruhkan. Ujung-ujungnya, destinasi yang kerap dilanda banjir akan ditinggalkan wisatawan. Beruntung banjir di Bali tidak berlangsung lama. Beruntung pula, menurut Menteri Pariwisata tidak ada pembatalan kunjungan wiasatawan, baik domestik maupun mancanegara (wartaekonomi.co.id, 15/9/2025). Namun banjir kemarin mestinya menjadi alarm bagi Bali untuk secepatnya berbenah.

 Banjir merupakan salah satu cara alam berkomunikasi  dengan manusia. Jika air selalu dieksploitasi, dikapitalisasi, dan dipaksa berubah fungsi, maka ia akan melawan dengan caranya sendiri. Dan manusia hanya bisa meratapi. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Destinasi Bikin Kapok, Alarm bagi Industri Pariwisata
“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi
Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
Tags: banjir baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Resmikan Transformasi Institut Mpu Kuturan, Menag Nasaruddin: “Kampus Seindah ini Kenapa Tidak Menjadi Universitas?”

Next Post

Puisi-puisi Via Firdhayanti | Senja-Ta

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Via Firdhayanti | Senja-Ta

Puisi-puisi Via Firdhayanti | Senja-Ta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co