3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Gading Ganesha by Gading Ganesha
September 17, 2025
in Esai
Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Kodisi di sebuah titik di Denpasar pasca banjir | Foto: Liputan6

BEBERAPA hari lalu, saya sangat kaget dan sedih. Tepat ketika saya di Buleleng menyambut hari raya Pagerwesi, dihari yang sama di Kota Denpasar sedang dilanda banjir besar—bahkan hingga menelan korban jiwa. Dulu, saya hanya melihat banjir itu ada di televisi, terjadi di luar Bali. Kali ini banjir hadir benar-benar nyata, menggenangi jalan yang dulu bertahun-tahun pernah saya lewati.

Bagi saya, ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ini seakan menjadi alarm keras, bahwa ada hal dalam sistem kita—orang Bali—yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Di antara arus yang mengalir deras dalam banjir itu, ada satu hal yang barangkali tidak boleh kita abaikan lagi, yakni soal sampah.

Sepedih apa pun tragedi ini, ada hal yang bisa menjadi momen refleksi kolektif. Masalah ini membuka mata saya bahwa banjir bukan hanya tentang curah hujan tinggi. Hujan yang terjadi di bulan September ini hanya dua hari. Bali di bulan tertentu punya curah hujan yang lebih tinggi. Tampak jelas ada faktor-faktor lain yang memperparahnya—dan salah satu yang paling mencolok dan banyak dibahas di media-media adalah persoalan tata kelola ruang dan juga soal pengelolaan sampah yang amburadul.

Lalu, dalam setiap tragedi seperti ini, entah kenapa saya merasa selalu menyaksikan pola yang berulang: masyarakat menyalahkan pemerintah, dan pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Ketika banjir datang dan kota penuh sampah, narasi saling tuding mulai terdengar. Dengan mudah kita lihat narasi yang menuding pemerintah tidak tegas dalam penegakan aturan tata ruang dan pengelolaan sampah. Sementara itu, di bagian lain, tidak jarang sering keluar narasi dari Pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Pemerintah menilai masyarakat tidak disiplin dalam membuang sampah, juga kurang peduli pada lingkungan. Begitupun sebaliknya. Padahal, jika saya coba sedikit merenung, sebenarnya akar masalah ini lebih dalam dan kompleks. Bukan hanya soal teknis, tapi soal kesadaran, partisipasi, dan juga demokrasi.

Harus mau saya akui, kesadaran individual masih sangat rendah. Kalau ada pertanyaan sampah kita apakah sudah benar kita kelola? Apakah kita sudah benar bertanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan? Ini jadi pertanyaan yang mudah tapi sulit untuk kita jawab.

Sampah sering kita buang sembarangan. Barangkali kita tidak mau disebut sembarangan. Tetapi menaruh begitu saja di tempat-tempat yang sudah ada sampah sebelumnya. Kita tidak peduli setelah itu kemana sampah itu. Padahal jelas, bukan ke tempat pengelolaan sampah.

Kita juga suka malas disuruh memilah. Ribet dan kita sibuk dengan urusan lain. Diimingi-imingi sampah bisa jadi uang pun masih belum mau. Kesadaran untuk mengelola sampah belum benar-benar hadir.

Namun, saya melihat tidak bisa berhenti di sini. Karena dalam masyarakat yang kompleks, banyak hal yang menjadi sebab susahnya kesadaran itu bisa tumbuh. Maka harusnya ada sistem dan kebijakan yang memainkan peran kunci. Tidak cukup hanya berharap semua orang sadar. Harus butuh sistem pengelolaan yang terstruktur dan kebijakan publik yang efektif. Dan di sinilah peran pemerintah menjadi amat sangat penting.

Tapi persoalan selanjutnya, bagaimana jika pemerintah yang seharusnya menyusun dan menegakkan kebijakan justru tidak hadir atau abai bahkan tidak mampu menyusun kebijakan dan mengawasi kebijakan itu? Maka bisa jadi harus kembali pada pertanyaan dasar: siapa yang memilih pemerintah? dalam sistem demokrasi yang kita anut di Indonesia. Kita diberi ruang untuk memilih para pemimpin kita sendiri.

Kita berada di negara demokratis, di mana pejabat publik—baik eksekutif maupun legislatif—dipilih melalui proses pemilu dan pilkada. Artinya, para pejabat itu adalah representasi dari pilihan kita. Maka jika kebijakan publik dibuat oleh mereka kemudian ternyata tidak berpihak pada lingkungan, jika penegakan hukum yang dilakukan lemah, kemudian jika anggaran untuk pengelolaan sampah tidak diprioritaskan, sepertinya kita tidak bisa sepenuhnya lepas tangan.

Sampai di sini, jangan-jangan masalahnya bukan hanya pada mereka yang memimpin, tetapi juga pada proses bagaimana mereka dipilih. Bisa jadi, kita telah memilih orang yang salah. Atau lebih parah lagi, kita tidak pernah peduli terhadap proses pemilihan itu.

Hubungan antara sampah dan demokrasi mungkin tampak jauh, tapi sesungguhnya sangat erat dan dekat. Sampah adalah produk harian dari kita. Pemerintah dalam hal ini eksekutif dan legislatifnya adalah produk berkala dari sistem demokrasi. Jika kedua produk ini buruk—dari sampah yang tidak terkelola dan selanjutnya pemimpin yang tidak kompeten—maka jangan-jangan akar masalahnya sama.

Untuk keluar dari lingkaran masalah ini, saya meyakini sangat tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Kesadaran ekologis harus tumbuh di tingkat individu, keluarga, komunitas, hingga pemerintah. Sistem pengelolaan sampah harus dibangun dengan pendekatan menyeluruh dan menjadi prioritas— dari proses penganggarannya, kemudian begaimana upaya pengurangan dari sumber, pemilahan hingga daur ulang. Termasuk ketegasan dan keadilan dalam melaksanakan peraturan terkait pengelolaan sampah.

Di sisi lain, demokrasi kita juga harus diperbaiki bersama. Partisipasi politik tidak boleh berhenti di bilik suara. Kita sebagai pemilih harus mulai bertanya: Siapa yang kita pilih? Apa visi mereka terhadap lingkungan? Adakah komitmen mereka terhadap kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan? Jangan sampai kita memilih karena hanya dapat bantuan sosial yang sifatnya hanya sesaat, lebih-lebih hanya karena mereka terkenal atau memiliki popularitas tanpa memiliki latar belakang yang jelas.

Tragedi banjir di Denpasar itu bisa kita jadikan peringatan. Tapi ia juga bisa menjadi titik balik. Ini saatnya tidak terfokus berpikir pada siapa yang salah. Barangkali bisa kita mulai untuk mengambil tanggung jawab bersama.

Sampah dan demokrasi ini ibarat dua sisi dari koin yang sama: keduanya adalah produk dari masyarakat. Jika kita ingin lingkungan yang bersih dan kota yang aman, maka  penguatan demokrasi, sistem politik yang bersih, dan pemerintahan yang bertanggung jawab harus diperjuangkan bersama.

Tentu sepenuhnya saya sadari perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi ia bisa dimulai hari ini—dari kesadaran kecil di rumah, hingga pilihan besar dalam pemilu dan pilkada. Karena pada akhirnya, kualitas lingkungan kita dapat mencerminkan kualitas demokrasi kita.[T]

Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Tags: balibanjirbencana alamdemokrasidenpasarpemiluPilkadaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Next Post

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co