23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Gading Ganesha by Gading Ganesha
September 17, 2025
in Esai
Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Kodisi di sebuah titik di Denpasar pasca banjir | Foto: Liputan6

BEBERAPA hari lalu, saya sangat kaget dan sedih. Tepat ketika saya di Buleleng menyambut hari raya Pagerwesi, dihari yang sama di Kota Denpasar sedang dilanda banjir besar—bahkan hingga menelan korban jiwa. Dulu, saya hanya melihat banjir itu ada di televisi, terjadi di luar Bali. Kali ini banjir hadir benar-benar nyata, menggenangi jalan yang dulu bertahun-tahun pernah saya lewati.

Bagi saya, ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ini seakan menjadi alarm keras, bahwa ada hal dalam sistem kita—orang Bali—yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Di antara arus yang mengalir deras dalam banjir itu, ada satu hal yang barangkali tidak boleh kita abaikan lagi, yakni soal sampah.

Sepedih apa pun tragedi ini, ada hal yang bisa menjadi momen refleksi kolektif. Masalah ini membuka mata saya bahwa banjir bukan hanya tentang curah hujan tinggi. Hujan yang terjadi di bulan September ini hanya dua hari. Bali di bulan tertentu punya curah hujan yang lebih tinggi. Tampak jelas ada faktor-faktor lain yang memperparahnya—dan salah satu yang paling mencolok dan banyak dibahas di media-media adalah persoalan tata kelola ruang dan juga soal pengelolaan sampah yang amburadul.

Lalu, dalam setiap tragedi seperti ini, entah kenapa saya merasa selalu menyaksikan pola yang berulang: masyarakat menyalahkan pemerintah, dan pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Ketika banjir datang dan kota penuh sampah, narasi saling tuding mulai terdengar. Dengan mudah kita lihat narasi yang menuding pemerintah tidak tegas dalam penegakan aturan tata ruang dan pengelolaan sampah. Sementara itu, di bagian lain, tidak jarang sering keluar narasi dari Pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Pemerintah menilai masyarakat tidak disiplin dalam membuang sampah, juga kurang peduli pada lingkungan. Begitupun sebaliknya. Padahal, jika saya coba sedikit merenung, sebenarnya akar masalah ini lebih dalam dan kompleks. Bukan hanya soal teknis, tapi soal kesadaran, partisipasi, dan juga demokrasi.

Harus mau saya akui, kesadaran individual masih sangat rendah. Kalau ada pertanyaan sampah kita apakah sudah benar kita kelola? Apakah kita sudah benar bertanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan? Ini jadi pertanyaan yang mudah tapi sulit untuk kita jawab.

Sampah sering kita buang sembarangan. Barangkali kita tidak mau disebut sembarangan. Tetapi menaruh begitu saja di tempat-tempat yang sudah ada sampah sebelumnya. Kita tidak peduli setelah itu kemana sampah itu. Padahal jelas, bukan ke tempat pengelolaan sampah.

Kita juga suka malas disuruh memilah. Ribet dan kita sibuk dengan urusan lain. Diimingi-imingi sampah bisa jadi uang pun masih belum mau. Kesadaran untuk mengelola sampah belum benar-benar hadir.

Namun, saya melihat tidak bisa berhenti di sini. Karena dalam masyarakat yang kompleks, banyak hal yang menjadi sebab susahnya kesadaran itu bisa tumbuh. Maka harusnya ada sistem dan kebijakan yang memainkan peran kunci. Tidak cukup hanya berharap semua orang sadar. Harus butuh sistem pengelolaan yang terstruktur dan kebijakan publik yang efektif. Dan di sinilah peran pemerintah menjadi amat sangat penting.

Tapi persoalan selanjutnya, bagaimana jika pemerintah yang seharusnya menyusun dan menegakkan kebijakan justru tidak hadir atau abai bahkan tidak mampu menyusun kebijakan dan mengawasi kebijakan itu? Maka bisa jadi harus kembali pada pertanyaan dasar: siapa yang memilih pemerintah? dalam sistem demokrasi yang kita anut di Indonesia. Kita diberi ruang untuk memilih para pemimpin kita sendiri.

Kita berada di negara demokratis, di mana pejabat publik—baik eksekutif maupun legislatif—dipilih melalui proses pemilu dan pilkada. Artinya, para pejabat itu adalah representasi dari pilihan kita. Maka jika kebijakan publik dibuat oleh mereka kemudian ternyata tidak berpihak pada lingkungan, jika penegakan hukum yang dilakukan lemah, kemudian jika anggaran untuk pengelolaan sampah tidak diprioritaskan, sepertinya kita tidak bisa sepenuhnya lepas tangan.

Sampai di sini, jangan-jangan masalahnya bukan hanya pada mereka yang memimpin, tetapi juga pada proses bagaimana mereka dipilih. Bisa jadi, kita telah memilih orang yang salah. Atau lebih parah lagi, kita tidak pernah peduli terhadap proses pemilihan itu.

Hubungan antara sampah dan demokrasi mungkin tampak jauh, tapi sesungguhnya sangat erat dan dekat. Sampah adalah produk harian dari kita. Pemerintah dalam hal ini eksekutif dan legislatifnya adalah produk berkala dari sistem demokrasi. Jika kedua produk ini buruk—dari sampah yang tidak terkelola dan selanjutnya pemimpin yang tidak kompeten—maka jangan-jangan akar masalahnya sama.

Untuk keluar dari lingkaran masalah ini, saya meyakini sangat tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Kesadaran ekologis harus tumbuh di tingkat individu, keluarga, komunitas, hingga pemerintah. Sistem pengelolaan sampah harus dibangun dengan pendekatan menyeluruh dan menjadi prioritas— dari proses penganggarannya, kemudian begaimana upaya pengurangan dari sumber, pemilahan hingga daur ulang. Termasuk ketegasan dan keadilan dalam melaksanakan peraturan terkait pengelolaan sampah.

Di sisi lain, demokrasi kita juga harus diperbaiki bersama. Partisipasi politik tidak boleh berhenti di bilik suara. Kita sebagai pemilih harus mulai bertanya: Siapa yang kita pilih? Apa visi mereka terhadap lingkungan? Adakah komitmen mereka terhadap kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan? Jangan sampai kita memilih karena hanya dapat bantuan sosial yang sifatnya hanya sesaat, lebih-lebih hanya karena mereka terkenal atau memiliki popularitas tanpa memiliki latar belakang yang jelas.

Tragedi banjir di Denpasar itu bisa kita jadikan peringatan. Tapi ia juga bisa menjadi titik balik. Ini saatnya tidak terfokus berpikir pada siapa yang salah. Barangkali bisa kita mulai untuk mengambil tanggung jawab bersama.

Sampah dan demokrasi ini ibarat dua sisi dari koin yang sama: keduanya adalah produk dari masyarakat. Jika kita ingin lingkungan yang bersih dan kota yang aman, maka  penguatan demokrasi, sistem politik yang bersih, dan pemerintahan yang bertanggung jawab harus diperjuangkan bersama.

Tentu sepenuhnya saya sadari perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi ia bisa dimulai hari ini—dari kesadaran kecil di rumah, hingga pilihan besar dalam pemilu dan pilkada. Karena pada akhirnya, kualitas lingkungan kita dapat mencerminkan kualitas demokrasi kita.[T]

Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Tags: balibanjirbencana alamdemokrasidenpasarpemiluPilkadaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Next Post

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co