14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Gading Ganesha by Gading Ganesha
September 17, 2025
in Esai
Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Kodisi di sebuah titik di Denpasar pasca banjir | Foto: Liputan6

BEBERAPA hari lalu, saya sangat kaget dan sedih. Tepat ketika saya di Buleleng menyambut hari raya Pagerwesi, dihari yang sama di Kota Denpasar sedang dilanda banjir besar—bahkan hingga menelan korban jiwa. Dulu, saya hanya melihat banjir itu ada di televisi, terjadi di luar Bali. Kali ini banjir hadir benar-benar nyata, menggenangi jalan yang dulu bertahun-tahun pernah saya lewati.

Bagi saya, ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ini seakan menjadi alarm keras, bahwa ada hal dalam sistem kita—orang Bali—yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Di antara arus yang mengalir deras dalam banjir itu, ada satu hal yang barangkali tidak boleh kita abaikan lagi, yakni soal sampah.

Sepedih apa pun tragedi ini, ada hal yang bisa menjadi momen refleksi kolektif. Masalah ini membuka mata saya bahwa banjir bukan hanya tentang curah hujan tinggi. Hujan yang terjadi di bulan September ini hanya dua hari. Bali di bulan tertentu punya curah hujan yang lebih tinggi. Tampak jelas ada faktor-faktor lain yang memperparahnya—dan salah satu yang paling mencolok dan banyak dibahas di media-media adalah persoalan tata kelola ruang dan juga soal pengelolaan sampah yang amburadul.

Lalu, dalam setiap tragedi seperti ini, entah kenapa saya merasa selalu menyaksikan pola yang berulang: masyarakat menyalahkan pemerintah, dan pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Ketika banjir datang dan kota penuh sampah, narasi saling tuding mulai terdengar. Dengan mudah kita lihat narasi yang menuding pemerintah tidak tegas dalam penegakan aturan tata ruang dan pengelolaan sampah. Sementara itu, di bagian lain, tidak jarang sering keluar narasi dari Pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Pemerintah menilai masyarakat tidak disiplin dalam membuang sampah, juga kurang peduli pada lingkungan. Begitupun sebaliknya. Padahal, jika saya coba sedikit merenung, sebenarnya akar masalah ini lebih dalam dan kompleks. Bukan hanya soal teknis, tapi soal kesadaran, partisipasi, dan juga demokrasi.

Harus mau saya akui, kesadaran individual masih sangat rendah. Kalau ada pertanyaan sampah kita apakah sudah benar kita kelola? Apakah kita sudah benar bertanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan? Ini jadi pertanyaan yang mudah tapi sulit untuk kita jawab.

Sampah sering kita buang sembarangan. Barangkali kita tidak mau disebut sembarangan. Tetapi menaruh begitu saja di tempat-tempat yang sudah ada sampah sebelumnya. Kita tidak peduli setelah itu kemana sampah itu. Padahal jelas, bukan ke tempat pengelolaan sampah.

Kita juga suka malas disuruh memilah. Ribet dan kita sibuk dengan urusan lain. Diimingi-imingi sampah bisa jadi uang pun masih belum mau. Kesadaran untuk mengelola sampah belum benar-benar hadir.

Namun, saya melihat tidak bisa berhenti di sini. Karena dalam masyarakat yang kompleks, banyak hal yang menjadi sebab susahnya kesadaran itu bisa tumbuh. Maka harusnya ada sistem dan kebijakan yang memainkan peran kunci. Tidak cukup hanya berharap semua orang sadar. Harus butuh sistem pengelolaan yang terstruktur dan kebijakan publik yang efektif. Dan di sinilah peran pemerintah menjadi amat sangat penting.

Tapi persoalan selanjutnya, bagaimana jika pemerintah yang seharusnya menyusun dan menegakkan kebijakan justru tidak hadir atau abai bahkan tidak mampu menyusun kebijakan dan mengawasi kebijakan itu? Maka bisa jadi harus kembali pada pertanyaan dasar: siapa yang memilih pemerintah? dalam sistem demokrasi yang kita anut di Indonesia. Kita diberi ruang untuk memilih para pemimpin kita sendiri.

Kita berada di negara demokratis, di mana pejabat publik—baik eksekutif maupun legislatif—dipilih melalui proses pemilu dan pilkada. Artinya, para pejabat itu adalah representasi dari pilihan kita. Maka jika kebijakan publik dibuat oleh mereka kemudian ternyata tidak berpihak pada lingkungan, jika penegakan hukum yang dilakukan lemah, kemudian jika anggaran untuk pengelolaan sampah tidak diprioritaskan, sepertinya kita tidak bisa sepenuhnya lepas tangan.

Sampai di sini, jangan-jangan masalahnya bukan hanya pada mereka yang memimpin, tetapi juga pada proses bagaimana mereka dipilih. Bisa jadi, kita telah memilih orang yang salah. Atau lebih parah lagi, kita tidak pernah peduli terhadap proses pemilihan itu.

Hubungan antara sampah dan demokrasi mungkin tampak jauh, tapi sesungguhnya sangat erat dan dekat. Sampah adalah produk harian dari kita. Pemerintah dalam hal ini eksekutif dan legislatifnya adalah produk berkala dari sistem demokrasi. Jika kedua produk ini buruk—dari sampah yang tidak terkelola dan selanjutnya pemimpin yang tidak kompeten—maka jangan-jangan akar masalahnya sama.

Untuk keluar dari lingkaran masalah ini, saya meyakini sangat tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Kesadaran ekologis harus tumbuh di tingkat individu, keluarga, komunitas, hingga pemerintah. Sistem pengelolaan sampah harus dibangun dengan pendekatan menyeluruh dan menjadi prioritas— dari proses penganggarannya, kemudian begaimana upaya pengurangan dari sumber, pemilahan hingga daur ulang. Termasuk ketegasan dan keadilan dalam melaksanakan peraturan terkait pengelolaan sampah.

Di sisi lain, demokrasi kita juga harus diperbaiki bersama. Partisipasi politik tidak boleh berhenti di bilik suara. Kita sebagai pemilih harus mulai bertanya: Siapa yang kita pilih? Apa visi mereka terhadap lingkungan? Adakah komitmen mereka terhadap kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan? Jangan sampai kita memilih karena hanya dapat bantuan sosial yang sifatnya hanya sesaat, lebih-lebih hanya karena mereka terkenal atau memiliki popularitas tanpa memiliki latar belakang yang jelas.

Tragedi banjir di Denpasar itu bisa kita jadikan peringatan. Tapi ia juga bisa menjadi titik balik. Ini saatnya tidak terfokus berpikir pada siapa yang salah. Barangkali bisa kita mulai untuk mengambil tanggung jawab bersama.

Sampah dan demokrasi ini ibarat dua sisi dari koin yang sama: keduanya adalah produk dari masyarakat. Jika kita ingin lingkungan yang bersih dan kota yang aman, maka  penguatan demokrasi, sistem politik yang bersih, dan pemerintahan yang bertanggung jawab harus diperjuangkan bersama.

Tentu sepenuhnya saya sadari perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi ia bisa dimulai hari ini—dari kesadaran kecil di rumah, hingga pilihan besar dalam pemilu dan pilkada. Karena pada akhirnya, kualitas lingkungan kita dapat mencerminkan kualitas demokrasi kita.[T]

Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Tags: balibanjirbencana alamdemokrasidenpasarpemiluPilkadaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Next Post

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co