ADA hal menarik yang dikembangkan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) saban menyambut ulang tahun sekolah pasca-masa pandemi Covid-19, yaitu peluncuran buku sekaligus bedah buku.
Tak terkecuali pada perayaan HUT VI yang jatuh pada Buda Urip Watugunung, 3 September 2025. Jika pada HUT V dibedah dua buku, Guru Merdeka Menulis karya antologi guru dan Sekolah Pengerak, Sebuah Refleksi karya saya sendiri, I Nyoman Tingkat, pada HUT VI dibedah buku Gelis Diksi : Masa Depan Wisata Literasi, juga karya saya, I Nyoman Tingkat.
Buku Gelis Diksi : Masa Depan Wisata Literasi merupakan catatan perjalanan penulis yang terdiri atas 38 esai dalam berbagai aktivitas pendidikan baik secara lokal maupun nasional. Ke-38 esai itu diklasifikasikan menjadi 3 bagian: Literasi Ala Toska, Wisata Literasi, dan Arah ke depan.
Secara keseluruhan isinya menggambarkan program literasi di Toska yang dielaborasi dan dieksplorasi ke luar sehingga jangkauannya lebih luas dan berterima untuk berbagai kalangan di luar Toska.

Diperkuat juga dengan data teks yang kontekstual sepanjang perjalanan membuat buku ini memiliki nilai plus dan mengajak pembaca untuk berwisata literasi. Sebuah istilah yang terasa tepat saat pendekatan deep learning dikampanyekan dalam pembelajaran. Pendekatan ini mensyaratkan pembelajaran menyenangkan, bermakna, dan mendalam. Wisata Literasi adalah jawaban yang coba ditawarkan.
Judulnya menarik dan mengundang tanya peserta bedah buku yang diikuti oleh Ketua PGRI Badung, Ketua PGRI Kecamatan Kuta Selatan, MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Badung, perwakilan SMA se-Badung dan jurnalis SMA se- Badung.
Daya tarik buku ini adalah menggabungkan kosakata Bali “Gelis” artinya cepat dan kosakata Indonesia “Diksi” artinya pilihan kata sebagai judul utama dengan anak judul : Masa Depan Wisata Literasi.
“Ini judul yang menggoda dengan frasa “Wisata Literasi” yang tidak umum. Sebuah bentuk kreativitas bagi penulisnya, yang belum ada selama ini,” puji Dr. Made Adnyana, S.H., M.H. sebagai pembedah.


Peserta bedah buku “Gelis Diksi” | Foto: Nyoman Tingkat
Namun demikian, “Gelis Diksi” bukan sekadar bermakna secara semantik, melainkan juga dalam konteks akronim. Gelis Diksi adalah akronim dari Gerakan Literasi bersama Pendidik dan Siswa. Itu nama program literasi yang diinisiasi oleh Toska, sebagai gerakan bersama dengan posisi pendidik dan siswa setara. Mereka belajar bersama dengan pendidik sebagai teladan untuk anak.
Dari nama programnya, menunjukkan Toska memuliakan kearifan lokal tanpa berpretensi melupakan semangat nasional dan selalu terbuka dengan arus globalisasi dengan filter kepribadian dan budaya bangsa. Kuat ke dalam tetapi lentur ke luar. Meminjam istilah Tan Malaka, “terbentur… terbentur… terbentur, lalu terbentuk”.
Sebagai sebuah program, Gelis Diksi memerlukan dukungaan seluruh warga sekolah secara kontinu dan konsisten berintegritas. Program ini tidak bergantung pada perubahan kurikulum dan Kementerian dengan menterinya. “Apa pun kurikulumnya, siapa pun menterinya, program literasi tidak pernah hilang. Pasalnya literasi adalah pangkal dari semua proses pembelajaran yang berlaku seumur hidup. Ini sesuai dengan prinsif belajar sepanjang hayat. Saya, I Nyoman Tingkat, memang selalu menginisiasi program dan mengeksplorasinya hingga menjadi buku sebagai wisata literasi.
Dr. Made Adnyana, S.H., M.H. sebagai pembedah adalah dosen jurnalistik dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mengaku bangga dengan hadirnya buku ini. Memuliakan kearifan lokal lalu mengawinkan dengan kearifan nasional identik dengan paham nasi goreng yang pernah digagas Rabindranath Tagore dalam dunia pendidikan yang banyak diserap oleh Ki Hadjar Dewantara di Perguruan Taman Siswa.
“I Nyoman Tingkat berhasil mengeksplorasi perjalanan wisata dan pelatihan yang diikuti lalu menuliskan secara kontekstual berdasarkan isu-isu terkini, termasuk mengkritisi kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan bahasa yang santun. Khas gaya guru, mengedepankan etika. Tidak banyak guru, apalagi Kepala Sekolah yang mau dan mampu melakukan kerja literasi seperti ini,” kata Made Adnyana, doktor jebolan Unud yang pernah berkiprah di Kelompok Media Bali Post sejak mahasiswa.

Made Adnyana (kanan) membedah buku Gelis Diksi | Foto: Nyoman Tingkat
Namun demikian, Adnyana juga mengkritik buku yang dibedah. “Penulisan yang tidak konsisten, dasar klasifikasi tulisan, dan kesalahan redaksional yang cukup banyak dan menggangu. Cover buku juga kurang cerah dan tajam,” demikian kata pemilik akun youtube Oke Made yang suntuk memopulerkan artis pop Bali.
Terhadap kritik itu, saya sebagai penulis buku menerima dengan hati lapang. Saya sadar masih banyak kesalahan redaksional dalam buku ini, termasuk kesalahan pemasangan foto. Saya sendiri menilai buku ini tidak baik. Namun, lebih tidak baik, bila tidak dituliskan.
Bedah buku yang berlangsung sekitar 2 jam itu, berlangsung hangat dan seru. Buktinya sejumlah pertanyaan datang dari peserta ditujukan kepada pembedah dan penulis buku. Sementara itu, di luar ruangan terdengar musik dari band siswa yang akan tampil pada puncak HUT Toska. Suara musik pun menjadi inspirasi bagi Adnyana membedah buku Gelis Diksi : Masa Depan Wisata Literasi. Dasar Adnyana bertalenta musik, kebisingan musik pun ditangkapnya sebagai berkah.
Begitulah seharusnya pembelajaran dihidupkan. Adnyana membedah Gelis Diksi dengan gelis. Salam Literasi! [T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole



























