NAMAKU Ayu Ranjani. Aku bersaudara tiga orang. Aku hidup dalam keluarga yang biasa-biasa saja. Di rumahku hanya ada aku, adikku, dan ibuku. Kakakku seorang perempuan, sudah memiliki keluarga dan sangat jarang pulang melihat keadaan kami.
Aku hidup serba sederhana, begitu juga adikku. Ayahku sudah lama meninggal. Semenjak aku berumur lima tahun, dan adikku baru berusia dua tahun, kami sudah tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Ibu sebagai tulang punggung keluargaku, tidak pernah menyerah. Ia selalu berjuang sekuat tenaga agar aku dan adikku bisa makan.
Ibu hanya seorang petani. Ayahku meninggal dan memberikan warisan dari kakek untuk anak dan cucunya, hanya sebidang tanah pertanian. Tanah yang ditinggalkan tidaklah luas, cukup untuk menghidupi kami sekeluarga. Sekarang Ibu yang mengurus tanah itu sendiri. Ibu sangat kuat, tidak pernah mengeluh. Air matanya terasa sudah habis terkuras ketika aku dan saudara-saudaraku masih kecil-kecil.
Aku sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, adikku sudah tumbuh remaja. Aku sudah memiliki karier, meskipun hidupku belum bisa disebut mapan. Adikku sudah SMA. Dia sangat-sangat sayang padaku sebab aku sudah mampu membantu perekonomian keluargaku. Ibu yang sudah merasa lelah mengurus kami, bisa sedikit beristirahat.
Adikku memiliki harapan dan cita-cita ingin menjadi dokter. Aku tahu itu cita-cita yang besar untuk kami yang datang dari sawah dan tanah yang tak seberapa luas. Aku sudah dididik keras oleh ibuku. Selain aku bekerja di sebuah toko buku, aku juga tidak berhenti menari, karena menjadi seorang guru tari impianku dari kecil. Aku menari sejak di bangku SD, itu juga sangat menambah uang sakuku saat masih duduk di bangku sekolah. Kadang-kadang libur di toko, aku banyak menghabiskan waktuku di sanggar tariku mengajar anak-anak di desa menari. Pak Ketut, pemilik sanggar, pun sering mengajak aku pentas kalau ada kegiatan tertentu.
Malam itu, pulang dari menari, aku duduk di depan cermin besar di kamar rumahku. Aku membuka kancing baju dan menatap gambar di lengan kiriku. Aku menyentuhnya pelan, seperti menyapa, membelai kerinduan yang kini tak lagi ada trauma, yang mengingat masa kecilku tentang lelaki yang sangat aku rindukan. Gambaran ini membuat aku kuat tanpa membatasi langkahku.
Suara pintu yang mengagetkan terdengar dari luar. Aku menutup bajuku. Ibuku menyapa dengan suara lembut dan hati yang sangat tulus.
“Nak Ayu, kenapa belum tidur? Sudah larut malam?”
Aku menyuruh ibuku duduk di atas tempat tidurku. Aku peluk ibuku, air mataku menetes, bukan air mata perpisahan, namun air mata kebahagiaan.
“Bu, aku belum mengantuk. Aku teringat kepada Ayah, semoga Ayah selalu berada di sekitar kita ya, Bu!”
Ibuku tersenyum sambil mengelus rambutku, lalu menyuruh aku tidur. “Jangan mengingat Ayah lagi, dia sudah tenang di alam sana,” kata ibuku yang tidak henti-hentinya menatap mataku dan mengelus rambutku yang tebal, lebat, lurus. Lalu ibuku beranjak keluar dan menutup pintu kamarku.
Kebetulan hari Minggu toko tempat aku kerja libur, jadi aku bisa santai di rumah selesai mencuci bajuku dan baju adikku. Aku terkejut melihat ada mobil parkir depan pintu rumahku. Ternyata dia pelanggan tetap di toko buku. Pekerjaannya sebagai arsitek membuatnya sering mencari buku-buku desain dan filsafat.
Namanya Danu. Kalau boleh dibilang, aku sudah lama kenal Danu, baru kali ini dia datang ke rumah. Danu anak yang sopan, berwawasan, dan menyukai senja. Aku persilakan Danu masuk ke halaman rumahku, disambut juga oleh adikku dengan ramah. Begitu juga Danu sangat ramah dengan adikku.
“Cieeee, sudah punya gebetan yaaa?” bisik adikku.
Dengan perasaan tidak enak, aku berkata, “Bukan, Rangga, itu teman, pelanggan toko buku Kakak!”
“Iya, percaya. Siapa sih yang tidak percaya dengan kakakku ini? Hehehehe.” Lagi-lagi Rangga membuli dan mencolek pinggangku sambil keluar kamar.
Danu bengong, sepertinya heran melihat aku dan adikku yang sangat akrab sekali. “Tidak pernah berkelahi ya dengan adikmu?” tanya Danu.
Sebelum aku menjawab pertanyaan Danu, aku menyuruhnya duduk, karena sudah dari tadi berdiri memandangi ruang kamarku. “Aku tidak pernah berkelahi dengan saudara-saudaraku. Aku selalu mengalah dengan adikku karena dari kecil, baru berumur dua tahun, sudah ditinggal Ayah meninggal. Aku punya kakak sudah menikah, keluar, dan tidak pernah pulang. Bagaimanapun juga, akulah yang harus memberikan kasih sayang terhadap adikku.”
Danu tersenyum sambil mengambil gelas yang berisi teh hangat buatan adikku, lalu meminumnya. Untuk menambah keakraban, Danu juga menceritakan tentang proyek-proyeknya, tentang ibunya yang juga seorang guru desa. Dan aku… perlahan mulai terbuka. Kututurkan cerita tentang ibu, tentang lumpur sawah dan dinginnya air pagi. Ia tak menertawakan. Bahkan, ia bilang aku kuat.
Tak terasa banyak bercerita, waktu sudah sore. Danu pulang dan aku bersiap-siap mau ke sanggar tari untuk melatih anak-anak desa. Pulang dari sanggar, seperti biasa mengambil pekerjaan rumah membersihkan rumah, memasak nasi, meringankan pekerjaan ibu yang datang dari sawah. Hari sudah malam, masing-masing menuju kamar tidur untuk membaringkan tubuh yang sudah lelah bekerja seharian.
Sore hari, selesai menutup toko, semua karyawan dipanggil oleh Pak Rudi, pemilik toko. Ia memberitahu semua karyawan kalau tokonya akan pindah ke kota lain bulan depan, karena masa kontrak toko sudah habis. Semua karyawan agar bersiap-siap untuk ikut ke kota bersama dan mencari kontrakan tempat tinggal.
Teman-temanku semua senang bahwa ia akan ke kota. Hatiku sangat bingung dan bertanya-tanya, “Apa aku harus ikut mereka ke kota?”
Pak Rudi melihat aku murung, dia bertanya. “Ayu, kenapa dengan dirimu, apa kamu mau ikut ke kota?”
Aku hanya menjawab, “belum tahu,” sebab aku masih memikirkan ibu dan adikku. Pak Rudi memang bos yang baik hati, tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada karyawan, maka semua pegawai tokonya betah bekerja dengan Pak Rudi. Toko tutup, semua karyawan toko pulang.
Sesampainya di rumah, aku menyandarkan tubuhku di kasur, hatiku kacau. Aku membayangkan jika tidak ikut ke kota tidak ada lagi pekerjaan. Tak ada lagi gaji untuk ibu dan Rangga. Tubuhku langsung dingin, seperti saat mandi di pagi-pagi desa dulu. Tapi kali ini, dinginnya menusuk ke dada. Aku tak tahu harus bagaimana, aku mengusap gambar lelaki yang menempel pada tubuhku, seolah-olah aku mengadu. “Jika aku ke kota, apa Ibu mengizinkan aku pergi?” Namun dia tidak menyahut, tetap terdiam, hanya memandang dengan sorot mata yang tajam.
Ibu dan adikku tanpa sepengetahuan aku dan tidak mengetuk pintu, masuk ke dalam kamarku. Mereka kaget melihat gambar yang ada pada lengan kiriku.
“Ayu, lenganmu kau tattoo?” tanya ibuku.
“Iya, Bu,” jawabku.
“Kenapa kamu seperti ini? Kenapa tidak bilang? Bagaimana kalau orang-orang di sana melihat, apa tanggapannya?”
Banyak sekali pertanyaan yang diberikan ibuku terhadap diriku. Seketika aku membentak ibuku dengan tumpahan air mata, aku menceritakan tentang tato yang ada pada tubuhku.
“Ibu tak banyak yang Ibu ketahui, tentang guratan di kulit Ayu. Gambaran ini menyimpan kenangan, Bu, bukan tentang percintaan, bukan pula Ayu gadis nakal baru pulang malam-malam. Ini tato pertama yang Ayu buat dengan hati yang sangat sakit, Bu. Di mana Ayu baru berusia lima tahun, laki-laki ini meninggalkan Ayu, Rangga, juga Ibu karena kanker.”
Seketika ibuku lemas dan terdiam, dan aku peluk adikku yang tidak pernah tahu tentang ayahnya. “Ibu jangan lagi membentak Kakak, Kakak bukan seperti yang Ibu tuduhkan. Tato yang dia buat pasti memiliki arti yang dalam dan akan selalu membuatnya semangat di tengah-tengah kesulitan yang kita alami, Bu!” kata adikku menasihati Ibu.
Suasana yang menegangkan dalam kamar tidurku kini perlahan mereda, amarah ibuku juga sudah mereda. Kami bertiga mengobrol dengan baik dan pelan-pelan. Akhirnya aku mengatakan kepada ibu dan adikku bahwa toko tempat aku bekerja akan pindah ke kota. Semua karyawan toko diajak ikut ke kota. Ibuku tidak melarang aku ikut ke kota, bahkan ibuku memberikan kebebasan terhadap diriku, asalkan aku bisa membiayai sekolah adikku yang tinggal sebentar lagi akan tamat dari SMA.
“Hai!” Danu menyapaku. Aku mengangguk dan tersenyum. Danu menanyakan buku novel karya Eka Kurniawan yang berjudul Cantik Itu Luka. Aku menyarankan buku novel dan cerpen ada pada rak buku paling barat.
Danu melangkahkan kakinya menuju rak buku, sesampainya di sana Danu memanggil aku, “Ayu, tolong ke sini sebentar!” Kakiku melangkah menuju Danu. “Tolong ambilkan aku buku yang aku minta tadi!” perintah Danu.
Aku segera mengambilkan buku, tidak sengaja bibirku berkata bahwa toko ini akan pindah ke kota, karena kontraknya sudah habis. Danu kaget mendengarnya dan menanyakan aku akan kerja di mana. Aku juga mengatakan akan ikut ke kota dan ibuku sudah mengizinkan.
Danu bengong lalu mengatakan, “Pindah kerja ke tempatku saja!”
“Kalau di tempatmu, aku bisa kerja apa?” tanyaku.
“Aku bisa bantu. Posisi admin proyek. Gajinya lebih dari cukup untuk bantu keluargamu.”
Tapi aku ragu.
Danu mengambil buku dari tanganku lalu mengatakan, “Aku tunggu jawabanmu.” Lantas kakinya melangkah pergi menuju pintu keluar.
Sepulang aku kerja, aku melihat rumahku sepi, tidak ada adikku. Rumahku sangat berantakan. Tetanggaku datang menghampiriku mengatakan ibuku masuk rumah sakit. Seketika itu aku kaget menanyakan ke tetanggaku, “Kenapa ibuku sampai masuk rumah sakit?” Kata tetanggaku ibuku terjatuh saat mencari rumput tidak sadarkan diri. Aku tidak berkata apa-apa, aku mengambil sepeda motorku dan meninggalkan tetanggaku, aku pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat ibuku terbaring di ranjang, sudah terpasang infus. Hatiku sakit, terasa pecah. Selimut putih menutupi tubuhnya yang ku lihat kuat, kini rapuh. Aku duduk di sebelahnya, membelai rambutnya yang sudah mulai memutih. Dadaku sesak. Rasanya seperti dihantam oleh kenangan yang tak pernah pergi.
“Bu,” bisikku pelan, “Maaf ya, Ayu belum bisa bahagiain Ibu sepenuhnya…”
Ibu membuka matanya perlahan. Senyumnya tipis dan penuh lelah. “Ayu sudah membahagiakan Ibu. Lihat Ayu sekarang, Ibu bisa tidur tanpa harus mikir besok makan apa. Itu cukup. Ayu jaga Rangga, jadikan dia adik yang sukses, sampaikan juga sama Kakak bahwa Ibu menyayanginya, Ibu sayang semua anak-anak Ibu. Jaga dirimu baik-baik ya Nak, Ibu pergi!”
Ibu mulai memejamkan matanya dan napas terakhir, “Ibu sudah tiada, Kak,” kata adikku sambil menangis.
Aku menghubungi Danu, maksudku aku mau menerima tawaran kerjanya, bahwa aku tidak mungkin meninggalkan adikku sendiri tanpa ibu. Baru aku bicara Danu kaget dengan suara bergetar mengatakan, “Ibumu meninggal?”
“Iya,” aku jawab. Danu mematikan ponselnya, dan aku memberitahu tetanggaku semua untuk ikut ke kuburan untuk memakamkan ibuku. Danu juga datang ikut memakamkan ibu.
Di toko, semua karyawan sudah membersihkan peralatan yang akan dibawa ke tempat lain. Aku datang menghadap Bapak Rudi, pemilik toko untuk membawa surat pengunduran diri. Bapak Rudi menerima dengan baik, banyak mengobrol, berusaha membuat diri aku kuat. Bapak Rudi memberikan uang pesangon untuk terakhir kalinya. Aku mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak Rudi. Lalu aku keluar dari ruangannya, di luar aku sudah ditunggu oleh teman-temanku untuk mengucapkan salam perpisahan. Sedih sekali rasanya teman yang sudah lama diajak kerja sudah seperti saudara sendiri, sekarang aku tinggalkan.
Danu menghubungiku, agar aku hari ini datang ke kantornya membawa surat lamaran dan akan di interview. Aku duduk di bangku tunggu kantor Danu, detak jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Tangan kananku tanpa sadar meraba lengan kiri, tempat tato itu bertengger, seolah mencari kekuatan dari sana. Di sekelilingku, orang-orang dengan langkah tergesa, sibuk dengan urusan masing-masing. Ini benar-benar berbeda dengan suasana toko buku Pak Rudi yang tenang, apalagi sanggar tari di desa yang selalu riuh tawa anak-anak.
Pintu kantor terbuka dan Danu muncul, senyum tipisnya membuatku sedikit lega. “Ayu, mari masuk,” katanya ramah. Ruangan Danu minimalis namun modern, dipenuhi dengan maket bangunan dan buku-buku arsitektur. Aku menyerahkan map berisi surat lamaran kerja yang sudah kusiapkan semalam. Danu membaca sekilas, lalu meletakkannya di meja.
“Kamu siap dengan lingkungan kerja yang baru, Ayu?” tanyanya.
Aku mengangguk mantap. “Siap, Danu. Aku harus siap.”
Danu menatapku dalam, seolah membaca isi hatiku. “Aku tahu ini berat buatmu. Kehilangan ibumu, lalu harus pindah ke sini. Tapi, aku yakin kamu bisa. Kamu kuat, Ayu.” Kata-kata Danu terasa begitu menenangkan. Ia mengerti, dan ia tak menuntutku untuk berpura-pura baik-baik saja.
Proses wawancara berjalan lancar. Danu menjelaskan lingkup pekerjaanku sebagai admin proyek, yang meliputi pengelolaan dokumen, jadwal, dan komunikasi dengan klien. Meskipun belum pernah ada pengalaman di bidang arsitektur, Danu meyakinkanku bahwa aku akan cepat beradaptasi. “Yang penting kamu mau belajar, Ayu. Sisanya biar aku dan tim bantu.”
Sore itu, aku pulang dengan rasa lega dan sedikit harapan. Akhirnya, ada jalan keluar. Aku bisa membiayai Rangga. Setibanya di rumah, Rangga menyambutku dengan wajah murung.
Sejak Ibu pergi, adikku yang periang itu menjadi lebih pendiam. “Gimana, Kak?” tanyanya pelan.
“Diterima, Rangga. Besok Kakak mulai kerja.” Aku mencoba tersenyum, meski hatiku masih perih.
Rangga memelukku erat. “Makasih, Kak. Makasih banget.”
Malam-malam setelah itu, aku dan Rangga mulai membiasakan diri hidup berdua. Aku memasak, membersihkan rumah, dan memastikan Rangga belajar dengan baik. Terkadang, aku masih menari di kamarku, gerakan-gerakan yang dulu penuh semangat kini terasa sedikit hampa tanpa tawa dan tatapan ibuku. Tato di lenganku selalu menjadi teman setia, mengingatkanku pada Ayah dan pada kekuatan yang harus kumiliki.
Hari pertamaku di kantor Danu terasa canggung. Semua terasa asing, mulai dari situasi kantor, tentang istilah-istilah proyek yang belum kumengerti. Rekan-rekan kerja menyambutku dengan ramah, tetapi aku masih merasa seperti ikan yang keluar dari air.
Danu banyak membimbingku, menjelaskan tugas-tugas dengan sabar. Ia bahkan sering membantuku menyelesaikan pekerjaan yang rumit.
“Jangan takut bertanya, Ayu, ketika melihat kesulitan. Kita tim di sini,” kata Danu. Aku hanya tersenyum, menganggukan kepala.
Sepulang dari kantor, aku pergi ke salon tato untuk menggambar dadaku, menggambar wajah, tubuh ibuku yang selalu menghibur dan memberikan kekuatan saat-saat aku mengalami kesulitan. Aku rasakan sakitnya tubuhku tergores jarum, namun lebih sakit hatiku yang kehilangan kedua orang tuaku. Aku goreskan di dada dan lengan kiriku untuk mengingat sosok yang kuat dalam hidupku. Sekarang kedua sosok yang kuat ini sudah menempel dalam tubuhku. Guratan tubuh yang selalu mengingatkanku.
Sesampainya di rumah, aku menyempatkan diri menjenguk Rangga. Adikku sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya, dan aku berusaha memastikan ia tidak merasa kesepian. Kami sering berbagi cerita di malam hari, mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan Ibu. Danu meneleponku, mengajakku bertemu dengan salah satu klien pentingnya besok pagi. Jantungku berdebar kencang. Ini adalah kali pertama aku terlibat dalam pertemuan sebesar ini. Aku menjawab singkat lalu Danu mematikan ponselnya.
Aku mengenakan blus terbaikku, mencoba terlihat profesional. Di ruang rapat yang megah, aku berusaha mencatat setiap detail yang dibicarakan. Ketika klien mengajukan pertanyaan teknis yang tak kuduga, aku sempat terdiam.
Danu melihat kegugupanku.
“Ayu, kamu bisa menjawabnya?” bisiknya.
Aku menelan ludah. “Maaf, Pak, saya belum mengerti betul bagian itu.”
Danu tersenyum tipis, lalu menjelaskan dengan tenang kepada klien. Setelah pertemuan, ia mengajakku bicara empat mata. “Ayu, kamu harus lebih berani. Jangan takut salah. Belajar dari setiap kesalahan. Itu yang akan membuatmu maju.”
Kata-kata Danu menancap dalam. Aku tahu ia benar. Aku tidak bisa terus-menerus bergantung pada orang lain. Demi Rangga, demi impian kami, aku harus lebih kuat. Haripun berlalu, dan aku mulai terbiasa dengan ritme kerja di kantor Danu. Aku tak lagi canggung bertanya, bahkan mulai berinisiatif dalam beberapa pekerjaan.
Danu sering memujiku atas kemajuan yang pesat. Hubungan kami semakin erat, tak hanya sebagai atasan dan bawahan, tetapi juga sebagai teman yang saling mendukung. Kami sering makan siang bersama, berbagi cerita tentang kehidupan, mimpi, dan kenangan.
Sore hari, saat libur kantor, Danu mengajakku ke sebuah kafe dengan pemandangan senja yang indah. Kami duduk di sana, memandangi langit yang mulai jingga.
“Ayu,” katanya, “Aku kagum dengan kekuatanmu. Kamu kehilangan orang yang kamu cintai, tapi kamu tetap berdiri tegak demi adikmu. Itu luar biasa.”
Aku tersenyum tipis. “Ayah dan Ibu mengajarkanku untuk kuat, Danu. Mereka selalu ada di sini,” kataku sambil menyentuh dadaku, dan kemudian lengan kiriku.
Danu mengangguk. “Aku tahu.” Lalu ia menatapku, tatapannya begitu lembut.
“Aku… aku ingin selalu ada untukmu, Ayu. Kalau kamu mengizinkan.”
Hatiku berdesir. Kata-kata itu begitu tulus. Selama ini, aku hanya fokus pada Rangga, pada pekerjaan, pada bagaimana aku bisa bertahan. Aku lupa bahwa aku juga berhak merasa dicintai dan didukung.
“Danu…” bisikku, tak tahu harus berkata apa.
Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Ayu, biarkan aku menemanimu. Menemanimu merajut kembali mimpi, menemanimu tumbuh, dan menemanimu di setiap langkah yang kamu ambil.”
Aku menatap Danu, kemudian menatap senja yang mulai memudar. Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala, berpendar seperti bintang-bintang di bumi. Sebuah babak baru telah dimulai, dan aku tahu, kali ini, aku tidak akan melangkah sendiri. [T]
Penulis: Ni Made Royani
Editor: Adnyana Ole



























