DI tengah hiruk pikuk Denpasar yang tak pernah tidur, cerita perjuangan anak-anak mahasiswa dari Nusa Tenggara Timur (NTT) menyelusup pelan, mengalun seperti irama musik: tekun dan sabar. Mereka datang dengan satu tujuan: menjemput mimpi di tanah rantau, Pulau Dewata.
Dengarlah cerita Desideria Juen, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar. Ia adalah salah satu mahasiswa yang bisa disebut sebagai simbol dari perjuangan mahasiswa NTT di Denpasar.
Desideria berasal dari Manggarai Barat, Flores, harus kerja keras agar kuliahnya di Denpasar tidak berantakan. Ia terbiasa menjalani hari-hari yang padat.
Sejak pagi hingga sore ia bekerja di wisata Cineplex, di wilayah Denpasar Barat. Usai bekerja, malam hari ia duduk di bangku kuliah.
“Capek pasti ada, apalagi di tempat kerja ramai, kadang saya harus pulang kerja mepet sekali dengan jadwal kuliah,” kata Desideria.
Tapi mau apa lagi. Ia harus ingat tujuannya datang dan merantau ke Kota Denpasar.
“Kalau menyerah, tidak ada lagi alasan saya merantau jauh dari kampung halaman,” ujarnya tegas.
Kisah Desideria hanyalah satu dari sekian banyak kisah serupa. Mahasiswa dari NTT yang kuliah di Bali terbagi dalam ritme yang sama: ada yang bekerja di restoran, kafe, hingga toko pakaian; ada pula yang menjadi staf administrasi atau penjaga minimarket.
Mereka mengatur waktu dengan cermat,ada yang kuliah pagi lalu bekerja sore hingga malam, ada pula yang bekerja dari pagi hingga sore, lalu kembali ke ruang kelas di malam hari. Kesulitan itu kerap terasa saat tubuh sudah lelah, sementara tugas kuliah menunggu.
Intan, mahasiswi asal Manggarai Barat yang bekerja di sebuah butik di Denpasar, mengaku pernah hampir putus asa.
“Pernah suatu kali saya pulang kerja sudah sangat lelah, lalu ada tugas kelompok yang harus segera dikumpulkan. Saya sempat menangis sendiri karena badan capek sekali, tapi tugas tidak bisa ditunda,” kata Intan.
Namun, dari situlah, Intan belajar tentang pentingnya manajemen waktu dan komunikasi dengan dosen maupun teman kuliah. “Saya harus terus belajar membagi waktu agar tak keteteran di tempat kuiah atau di tempat kerja,” kata Intan.

Ido Mesa, kuliah sambil bekerja jadi barista di Sanur | Foto: Ist
Tekanan bukan hanya datang dari tugas kampus. Kesulitan juga sering datang dari sisi pekerjaan. Ada yang pernah dimarahi atasan karena dianggap lambat bekerja, padahal mereka baru belajar. Ada juga yang merasakan diskriminasi kecil dari rekan kerja. Namun, mereka memilih menanggapinya dengan kesabaran.
“Kami anggap itu pelajaran. Kalau orang meremehkan, justru itu jadi penyemangat untuk membuktikan bahwa kami bisa,” ujar Evan, mahasiswa asal Ende yang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe.
Kisah serupa juga dialami oleh Ido Mesa, mahasiswa asal NTT yang bekerja sambil kuliah di Denpasar. Ia bekerja di Kidzcafe Sanur sebagai barista. Baginya, tantangan terbesar adalah mengatur waktu.
“Pokoknya saya sulit atur waktu, stres, kelelahan, prestasi menurun, dan kurang waktu istirahat, itu yang saya alami,” kata Ido.
Untuk mengatasinya, Ido biasanya meminta izin pulang lebih cepat dari tempat kerja agar bisa beristirahat sejenak di kos sebelum kuliah malam. “Biasanya saya istirahat sebentar dulu di kos, jadi saat sampai di kampus saya tidak terlalu lelah dan bisa fokus. Kalau ada kegiatan kampus, saya minta libur atau cuti dari jauh-jauh hari agar bisa dipertimbangkan oleh manajemen,” ujar Ido.
Kebersamaan dalam Organisasi
Di tengah perjuangan hidup antara kuliah dan bekerja, yang kadang bikin nyaris putus asa, mahasiswa dari NTT itu punya cara untuk tetap ceria dan saling mendukung antara mahasiswa dari NTT. Salah satu caranya adalah ikut dalam organisasi-organisasi mahasiswa, terutama organisasi yang di dalamnya banyak berisi mahasiswa NTT.
Jadi, jangan heran, selain sibuk bekerja dan kuliah, mahasiswa NTT juga aktif dalam organisasi persaudaraan mahasiswa. Organisasi ini menjadi rumah kedua yang mengikat erat rasa kekeluargaan.
“Kalau kita aktif, orang-orang NTT di Bali tidak akan asing dengan kita. Saat dalam kondisi apapun, selalu ada tempat untuk berteduh,” ujar Intan.

Makan bersama mahasiswa NTT di Denpasar untuk mengikat tali kebersamaan | Foto: Ist
Iden, mahasiswa lain asal NTT, menambahkan bahwa kebersamaan mereka semakin erat lewat tradisi makan bersama. Mereka kerap mengumpulkan uang untuk membeli bahan makanan sederhana, seperti ikan, sayur, atau ubi, lalu memasak bersama di kos.
“Setiap malam Minggu kalau ada waktu, kami kumpul bareng, masak, makan-makan, berbagi cerita dalam suasana damai. Rasanya seperti kembali ke rumah,” kata Iden.
Tidak hanya itu, kegiatan keagamaan juga mempererat persaudaraan. Evan menceritakan bahwa setiap Minggu mereka berusaha menghadiri misa bersama. Kadang, selepas misa, mereka lanjut dengan olahraga futsal.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar olahraga, tapi juga cara untuk menjaga solidaritas dan kesehatan di tengah jadwal padat,” kata Iden.
Ida, mahasiswi asal Sumba, menuturkan bahwa awalnya ia ragu untuk merantau ke Bali karena takut hidup sendirian. Namun, ia merasa beruntung karena diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas sesama anak NTT.
“Awalnya saya ragu bakalan hidup sendirian di Denpasar, tapi kenyataannya sekarang saya sepertinya hidup bersama keluarga saya di kampung halaman,” kata Ida.
Ida menceritakan, mahasiswa dari NTT sesama perantau di Denpasar memperlakukannya seperti saudara mereka sendiri.
“Saya tidak merasa sendirian, saya merasa bersyukur walaupun hidup di tanah rantau, tapi saya dikelilingi oleh saudara-saudara saya. Sampai saat ini saya tidak pernah merasa kekurangan karena ketika saya membutuhkan sesuatu pasti ada saudara lain yang akan membantu,” kata Ida.

Berfoto bersama dalam satu kegiatan mahasiswa KBMK | Foto: Ist
Beni Aprianus, salah satu pengurus organisasi keagamaan NTT di Bali, mengatakan kegiatan bersama mahasiswa-mahasiswa NTT ini menjadi ruang penting untuk saling menopang di antara mereka.
“Kami ingin memastikan tidak ada yang merasa sendirian. Hidup di rantau memang berat, tapi kalau kita jalan bersama, rasanya jadi lebih ringan,” kata Beni.
Organisasi di Kampus
Di dalam kampus, mahasiswa NTT juga menggabungkan diri mereka dalam organisasi. Selain organisasi kampus semacam BEM dan HMJ, mereka juga ikut dalam organisasi keagaamaan yang anggotanya banyak mahasiswa NTT.
Di kampus Universita PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali ada organisasi bernama Keluarga Besar Mahasiswa Kristiani (KBMK) UPMI Bali yang berdiri sejak 24 April 2007. Organisasi itu hadir sebagai ruang komunikasi dan penguatan iman di kalangan mahasiswa Kristiani, termasuk dari NTT.
Tujuan organisasi ini adalah menjadi wadah komunikasi mahasiswa Kristiani di kampus, baik dalam kegiatan akademis maupun non-akademis. Karena berfungsi sebagai jembatan komunikasi, KBMK berada langsung di bawah ketua yayasan dan rektor selaku pelindung/penasehat, dengan pembina yang sejak awal hingga kini dijalankan oleh Agus Dei.

Mahasiswa KBMK dalam satu kegiatan siarah ke Gua Maria | Foto: Ist
KBMK bukan bagian dari organisasi kemahasiswaan biasa, melainkan organisasi berbasis agama, sehingga kegiatan yang dijalankan pun lebih berfokus pada sisi spiritual dan sosial.
Setiap tahun, KBMK rutin menggelar perayaan Natal dan Tahun Baru, mengadakan kejuaraan futsal yang sekaligus menjadi ajang promosi penerimaan mahasiswa baru, serta turut membantu kampus dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan.
Menurut Agus Dei, selaku pembina KBMK di UPMI Bali, hampir 80 persen mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ini kuliah sambil bekerja.
“Karena itu, roda organisasi tidak bisa berjalan sesering ormawa lain. Kegiatan hanya bisa dilakukan pada momen-momen tertentu, menyesuaikan dengan waktu luang mahasiswa. Tapi justru di situlah nilai solidaritas diuji, bagaimana mereka tetap menjaga komitmen meski dalam kesibukan,” kata Agus Dei.
Hal ini diperkuat oleh pengalaman Fian yang kini dipercaya menjadi Ketua KBMK. Ia mengaku awalnya merasa sangat asing ketika pertama kali tiba di Bali.
“Saya yang notabene merantau sendiri dari timur ke Bali tentunya merasa sangat asing dan sangat gugup ketika sudah menginjakkan kaki di tanah Bali ini, apalagi ini kali pertamanya saya meninggalkan rumah dan keluarga. Bergabung dengan teman-teman di KBMK membuat saya merasa sangat senang sekaligus membawa perasaan tenang bagi saya pribadi. Saya tidak lagi merasa sendiri, dan sejak bergabung, saya menganggap teman-teman di KBMK adalah keluarga saya,” kata Fian.
Terpilihnya Fian sebagai ketua pun di luar ekspektasi dirinya. Ia tidak pernah mencalonkan diri, tetapi secara langsung ditunjuk oleh ketua sebelumnya karena dinilai memiliki pengaruh dan sumbangsih besar pada kepengurusan sebelumnya.
“Singkat cerita, saya menerima mandat itu dan akhirnya mulai menjalankan tugas serta tanggung jawab saya sebagai seorang ketua hingga saat ini. Dalam perjalanan, begitu banyak hal yang saya dan teman-teman pengurus jumpai. Dari hal-hal itu saya mulai belajar banyak hal, termasuk bagaimana menjadi seorang pemimpin. Saya sangat bangga bisa bergabung bersama-sama dengan teman-teman di KBMK,” tutur Fian.
Sebagai ketua, Fian kerap memberikan pesan kepada rekan-rekannya untuk memanfaatkan momentum berorganisasi sebagai sarana pembelajaran hidup.
“Kita bisa belajar banyak hal, mulai dari bagaimana menyelesaikan masalah, tidak takut untuk berpendapat, bagaimana berbicara di depan orang banyak, dan masih banyak lagi. Hal-hal itu nantinya sangat bermanfaat ketika kita bermasyarakat ke depannya,” tambah Fian.
Ia pun menitipkan harapan agar nilai kekeluargaan tetap menjadi fondasi utama organisasi.
“Saya selalu berpesan kepada teman-teman maupun adik-adik saya di KBMK, tetap mempertahankan nilai-nilai kekeluargaan dan kekerabatan di antara sesama mahasiswa KBMK. Kita adalah keluarga, kita adalah saudara,” kata Fian.

Fian | Foto: Ist
Fian mengajak mahasiswa NTT yang tergabung dalam KBMK, khususnya para perantau, menjadi pelopor perdamaian di tanah Bali.
“Rangkul teman-teman kita yang di luar sana untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak reputasi daerah,” kata Fian.
Bagi Desideria dan kawan-kawannya, perjuangan ini adalah bagian dari jalan panjang menuju cita-cita. Meski melelahkan, mereka memilih melihat tantangan dengan kacamata positif.
“Saya berharap anak-anak NTT yang kuliah sambil bekerja di Bali terus mendapatkan dukungan dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Dengan semangat dan ketekunan, kita bisa berhasil,” ujar Desideria penuh keyakinan.
Baginya, menjadi anak rantau bukan hanya soal mengejar gelar sarjana, tetapi juga tentang membangun jembatan harapan.
“Kerja keras hari ini adalah teladan bagi generasi muda NTT berikutnya. Harapan saya, kami semua bisa terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi positif, tidak hanya untuk komunitas NTT di Bali, tetapi juga masyarakat luas,” tutup Desideria. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Maria Frangela Suriti Sangu
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























