SEHARI sebelum Saraswati, Jumat 5 September 2025, masyarakat pengempon Merajan Sira Àrya Gajah Para di Desa Tagtag Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, melaksanakan pembacaan prasasti. Prasasti tersebut ditulis pada daun lontar dengan ukuran panjang kurang lebih 45cm jumlah baris dalam satu lembar adalah tiga baris serta berjumlah 45 lembar.
Prasasti tersebut menjelaskan mengenai perjalanan leluhur mereka yang semulanya berasal dari Arya Gajah Para. Namun sayang, angka tahun termasuk nama si penulis tidak tertulis pada prasasti itu. Sebagai naskah yang sangat disucikan, prasasti ini disimpan pada sebuah kotak berukir dengan cat emas, disebut dengan keropak. Dalam satu keropak terdapat lontar lainnya, seperti mengenai wariga dan usada.
Pembacaan saat itu dilakukan oleh I Wayan Eka Septiawan dan saya sendiri. Serta penerjemahan (ngartos) dilakukan oleh I Made Arik Wiraputra. Serta disaksikan oleh Panglingsir Puri Kukuh I Gusti Ngurah Artha Wijaya.
Sebelum pembacaan dimulai, prosesi diawali dengan matur piuning oleh jero mangku dan diikuti oleh seluruh krama pangempon.Selanjutnya prasasti tersebut katedunang (diturunkan) dari bale piyasan dan dilanjutkan dengan identifikasi naskah.
Identifikasi naskah bertujuan untuk memastikan kondisi naskah. Biasanya naskah seperti babad, prasasti dan sejenisnya memiliki kondisi yang memprihatinkan. Sebab ia disimpan dan tak pernah disentuh dalam waktu yg cukup panjang. Sehingga, terlebih pada prasasti yg ditulis pada daun lontar akan lebih cepat mengalami kerusakan.
Setelah diidentifikasi, prosesi dilanjutkan dengan matur piuing oleh sang pembaca. Tujuannya agar mendapatkan kelancaran dan keselamatan saat melaksanakan pembacaan.
Struktur teks jika saya simak, dimulai dengan mantra pemujaan kepada para leluhur dalam bahasa Sanskerta. Sehingga cara membacanya dengan menggunakan nada (tembang) nyruti. Hal ini cukup lumrah dalam beberapa prasasti dan naskah sejenisnya. Setelah memanjatkan puja dalam bahasa Sanskerta, puja dilanjutkan dalam bahasa Kawi. Karena bahasa yang digunakan sudah berbeda, maka nada pembacaan menggunakan teknik phalawakya.

Dokumentasi pembacaan prasasti. Foto: Penulis
Kemudian, teks menceritakan Raja Mayadanawa, kelahiran Ràja Sri Masula-Masuli (raja kembar buncing), kelahiran Ni Diah Soka putra dari Sang Antabhoga, hingga kisah maharaja Bedahulu yang berkepala babi. Arikwiraputra menjelaskan, Raja Bedahulu memiliki kepala yang berbeda, karena saat itu pemerintahan Bali tidak berkenan tunduk terhadap Majapahit sebagai pemerintahan tertinggi saat itu. Sehingga kata bedahulu berarti berkepala berbeda dan dapat dimaknai ketidaktundukan terhadap atasan/pusat pemerintahan.
Di tengah pembacaan, Arik Wiraputra dan Eka Septiawan menjelaskan bahwa cerita yang diceritakan merupakan kisah umum mengenai masa terkahir Bali Kuno dan masuknya Majapahit ke Bali. Ia menjelaskan jika pembacaan terus dilanjutkan lempir demi lempir maka akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Sementara itu, tujuan pembacaan prasasti adalah untuk memastikan kisah leluhur semeton Arya Gajah Para dapat sampai di Tagtag.
Maka atas persetujuan para tetua, pembacaan dilanjutkan pada tahap yang lebih penting, termasuk cerita yang menjelaskan mengenai leluhur Arya Gajah Para. Dijelaskan bahwa leluhur mereka berasal dari daerah Gelgel, kemudian menuju Penebel dan dilanjutkan menuju Desa Tagtag. Di Desa Tagtag inilah lahir leluhur mereka yang berjumlah sembilan orang. Serta melahirkan sentana (keturunan) hingga saat ini.
Prasasti ditulis menggunakan aksara Bali wreastra dan swalalita. Penulisan menggunakan model pasang jajar sambung dan pasang jajar tumpuk. Penulisan dengan pasang jajar tumpuk cukup sering dijumpai pada naskah yang berusia cukup tua. Contoh penulisan dengan pasang jajar tumpuk adalah pada kata pnebel, jruk, krangasem. Kata-kata tersebut jika ditulis menggunakan model pasang jajar sambung menjadi penebel, jeruk, karangasem. Terdapat perbedaan, tapi tetap dapat dipahami referen yang diacu.
Pembacaan disimak dengan baik oleh krama pengempon. Hal seperti ini dilakukan agar setiap generasi memahami asal mereka sebenarnya. Sehingga keterjalinan pemahamam setiap generasi tetap terikat. Diakhir pembacaan, krama pengempon meminta agar naskah ini nantinya dapat dialih aksara dan alih bahasa. Tujuannya agar mereka mempunyai arsip dalam bahasa yang mudah dipahami. Sehingga ingatan dan pemahaman mereka akan tetap terjaga.
Arikwiraputra pada akhir kesempatan menjelaskan bahwa Prasasti adalah sejenis maklumat yang hanya dikeluarkan oleh raja. Prasasti biasanya ditulis pada media batu dan tembaga. Di Bali jika suatu naskah jika menjelaskan mengenai asal usul leluhur mereka maka naskah tersebut akan disebut prasasti. Padahal naskah seperti ini dapat disebut sebagai bancangah.
Bancangah dalam bahasa Bali dapat dimaknai sebagai ‘pecahan’ karena menceritakan mengenai ‘pecahan suatu leluhur’ yang menyebar ke tempat yang berbeda. Serta bancangah tersebut disusun berdasarkan naskah babad atau historiografi tradisional. [T]
Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole



























