LONG weekend telah tiba, begitulah kira-kira status seseorang di media sosial yang saya baca. Waktu itu hari Kamis, 4 September 2025, di saat semua media sosial, maksud saya hampir semua, mengabarkan demonstrasi di mana-mana. Rakyat marah dan lelah akan gaya dan laku pemimpinnya, begitulah kira-kira intisarinya.
Selain itu, saya enek beberapa kali melihat ucapan dan ungkapan yang terkadang membuat asam lambung kumat dan mual seketika. Salah satu yang saya ingat adalah ungkapan kalau makan pisang tak perlu makan nasi dari salah satu penjabat publik di masa lalu dan diikuti dengan statement lucu, unik, aneh, dan sering bikin melongo.

Stress jadinya , bukan? Detox di media sosial juga bukan solusi. Bahkan Plato, filsuf ternama Yunani, pernah mengatakan, “Kesalahan terbesar adalah diam saat melihat ketidakadilan.” Sesederhana saya memaknai kita harus melakukan apa pun meski kecil untuk terus berdampak bagi sesama sesuai dengan kemampuan kita.
Kembali ke stres dan long weekend tadi. Akhirnya saya memutuskan untuk bergerak. Bergerak—baca berjalan—mengendarai sepeda motor menuju Amed, Karangasem. Di tengah gempuran pariwisata yang sudah tidak berimbang lagi—secara pembangunan—antara utara dan selatan, saya ingat pernah melihat dan merasakan bagaimana pembangunan dan perkembangan di timur Bali, yang notabena juga dekat dari kawasan Tejakula.

Amed sudah berpuluh-puluh kali saya kunjungi. Termasuk saat pandemi melanda. Sunyi, sawah-sawah masih menunjukan jati dirinya, pun pantai dan pasir hitamnya, berbalut pemandangan Gunung Agung yang menambah suasana Amed menjadi lebih magical.
Perjalanan kali ini saya mulai dari Denpasar. Butuh waktu kurang lebih 2-3 jam sampai di Amed. Mengambil jalur tengah, melewati Klungkung masuk Kecamatan Rendang, Karangasem, lanjut ke Selat dan selanjutnya Abang.

Banyak yang belum tahu bahkan bahwa di Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Bumi Lahar ini banyak terdapat persawahan, tak terkecuali di Amed. Surga, bukan?
Tapi perubahan akan terjadi, investasi masuk atas nama pembangunan dan kemajuan. Toh di desa selalu diidentikan dengan kemunduran. Tapi satu hal yang saya lihat , bangunan villa sudah mengambil dan mengkavling lahan persawahan di Amed.
Saya ingat Canggu. Di seberang rumah teman saya ada salah satu petak sawah yang masih aktif. Di gempur villa dan beach club di sana. Apakah Amed akan begitu?
Begini saja, jika memang Indonesia masih gelap dan pembuat kebijakan masih mengantuk dan sesekali bernyanyi dan bergoyang, kita akan terus menangis dan menikmati hal-hal seperti ini dari hari ke hari.

Saya bekerja di lingkungan pariwisata dan berjualan juga, ratusan orang yang pernah saya handle dari mancanegara tak ada yang menginginkan berjibun beton dan pembangunan atas nama pembukaan lapangan pekerjaan. Budaya, pertanian, alam, serta subak yang menjadi narasi Bali sejatinya sudah lama dikubur.
Padahal, yang menjadi minuman mewah di setiap sudut kemewahan pariwisata adalah jamu—ya jamu, resep minuman leluhur yang saya kenal dengan sebutan loloh.
Sambil menikmati loloh di sebuah tempat di Amed, stres ini semoga cepat larut menjadi kompos-kompos kehidupan. Selamat berpikir, bijak, dan bermanfaat.[T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto



























