PERPUSTAKAAN Medayu Agung, Surabaya, baru saja bergembira atas terselenggaranya “Pamer Koleksi” sepekan yang lalu. Pameran arsip itu berjalan lancar dan sangat mengesankan bagi pengunjung dan, tentu saja, bagi para Sahabat Medayu Agung. Namun, suka-cita itu sepertinya tak berlangsung lama. Pasalnya, sosok pendiri Medayu Agung, orang yang dihormati atas jasa-jasa dan peninggalan baiknya, mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 3 September 2025.
Sosok tersebut tak lain ialah Oei Hiem Hwie (1935-2025), seorang jurnalis, pustakawan partikelir, saksi Tapol 65 Pulau Buru, sahabat Pramoedya Ananta Toer, sekaligus penyelamat naskah-naskah Pram selama di Pulau Buru, termasuk naskah Bumi Manusia—novel yang legendaris itu.
Mengutip BBC Indonesia, Hwie lahir pada 26 November 1935 dari keluarga yang disebutnya “sulit bila disebut keluarga Tionghoa asli”. Ibunya, The Lekas Nio, adalah peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah beberapa generasi tinggal di kaki Gunung Merbabu, Magelang, dan tidak bisa lagi bicara bahasa Tionghoa. Sedangkan ayahnya, Oei Tiong Han, lahir di Hokkian dan kemudian merantau ke Jawa.
“Saya lahir di Malang dari seorang lelaki Hokian totok dan perempuan peranakan dari Jawa Tengah. Papa berpendidikan Tionghoa, sementara mama yang peranakan Jawa bersekolah honocoroko. Itu yang membuat saya tertarik pada berbagai kebudayaan,” kisah Hwie kepada Soe Tjen Marching yang dipublikasikan di Islam Bergerak.
Hwie sekoah di TNHK (Tionghoa Hoe Kwan). Lulus SMA ia masuk sekolah wartawan, waktu itu ada sekolah wartawan, karena ia mengaku profesi itu dulu sangat dihormati—wartawan dianggap ratu dunia, segala tahu dan bisa—sebagaimana Soe Tjen Marching menuliskannya dalam artikel bertajuk Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru.
“Tujuh bulan kemudian saya lulus,” ujar Hwie. “Waktu itu tidak dikenal sistem kelas, jadi seperti akademi, asal sudah menyelesaikan tugas dan ketentuan, bisa lulus,” sambungnya.

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa
Setelah berulangkali mengirimkan lamaran pekerjaan, ia diterima bekerja di Trompet Masjarakat —koran berhaluan tengah, bukan kiri dan bukan kanan—pimpinan Goei Poo An. Kantor Terompet berada di depan Tugu Pahlawan (sampai sekarang masih berdiri), satu lantai dengan percetakan Brantas. Di depannya terdapat banyak penjual koran.
Karir jurnalistik Hwie berhenti saat terjadi peristiwa 30 September 1965. Trompet Masjarakat ditutup dan Hwie ditangkap.
Tapol 65
Ia keturunan Tionghoa. Dan sebagaimana banyak kisah pada tragedi 1965, Hwie dituduh simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan harus ditindak. Tentu saja Hwie bukan anggota PKI. “Waktu Gestok terjadi, saya sedang di Malang. Tak lama sesudah peristiwa itu, puluhan orang berjubah hitam, berpenutup wajah dan hanya kelihatan mata, dan bersenjata datang ke rumah,” Hwie bercerita kepada Soe Tjen Marching.
Orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata itu mengaku ditugaskan untuk memeriksanya. Dokumen dan buku-buku di rumah Hwie di jl. Klojen Kidul nomer 26 Malang (sekarang jadi Jl Arismunandar) juga dirampas.
“Selain saya, di rumah ada mama dan adik. Papa sudah meninggal tahun 1960. Mereka berani sekali, sama sekali tidak ketakutan. Orang-orang itu mengambil buku-buku dan menaikkannya ke jip Russia yang besar. Karena tidak muat, sebagian buku akhirnya ditinggal. Oleh adik saya, buku yang tertinggal diambil dan disembunyikan di plafon, kebanyakan buku-buku Belanda. Sayangnya beberapa di antaranya hancur karena terkena hujan dan ada pula yang dimakan ngengat,” Soe Tjen Marching menulis pengakuan Hwie.
Sejak saat itu Hwie ditahan. Pertama kali ia ditahan di Batu, Malang, di kamp bekas pabrik kalengan, Kamp Gap Sin. Meskipun pabrik sudah ditutup, masih ada bekas-bekas kaleng, katanya. Di situ, bersama banyak orang, ia diperiksa dan ditanyai: “Kamu orang PKI ya?” Mereka—orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata itu—mencari-cari dan ketemu tulisannya tentang Sukarno. Ia dicap: “Sukarno-centris”. Hwie bilang: “Jadi saya bukan PKI, kan?” Orang itu berkata: “Tidak bisa, nanti kalau kamu saya bebaskan, akan membela Sukarno”.
Setelah 2 bulan di kamp Batu, tanggal 12 Januari 1966, ia dipindah ke penjara Lowokwaru, Malang. “Temboknya lapis 3, berpagar duri dan listrik. Mama saya yang belum mendengar kabar tentang saya, mengira saya sudah mati. Dia sempat mengadakan selamatan,” kisah Hwie.
Selepas dari Lowokwaru, Hwie dikirim ke penjara Kalisosok, sehari-hari diberi makan nasi jagung yang sudah keras dengan kelapa. Orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata memperlakukan para tahanan dengan kejam. “Tahanan di sana tidak diberi minum. Padahal panas luar biasa. Makanan hanya dibungkus daun jati dan dilempar sambil bilang: “Mampus lu!” Kadang didorong dengan kaki,” aku Hwie kepada Soe Tjen Marching.
Namun, nasib Hwie lebih baik daripada tahanan lain. Ia dikasih minum dan diberi makan yang agak lebih baik karena dianggap titipan, belum jelas PKI atau bukan. Sedangkan yang sudah jelas statusnya sebagai orang PKI, langsung diperlakukan buruk dan disiksa. Kalau orang-orang PKI itu haus, mereka mengulurkan keluar baju, kain, atau celana saat hujan. Lalu air itu diperas dan diminum. Banyak yang ususnya lengket karena kurang makan dan kurang minum. Tiap malam, mereka diambil dan disiksa atau hilang. Sungguh kejam.

Arsip koleksi Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa
Di Kalisosok, Hwie mengaku sempat melihat Murahman, bekas walikota Surabaya yang juga penasihat hukum Baperki dan penasihat hukum BTI. Menurut Hwie, Murahman sebenarnya bukan orang PKI, ia pendukung Sukarno dan anggota Baperki. Baperki waktu itu membuka perguruan, namanya Universitas Res Republika. Di Jakarta sekarang jadi Trisakti. Di Surabaya jadi UBAYA. “Saya lihat dia lewat dari jauh. Lalu, kami tidak tahu ke mana dia. Fotonya sekarang di kantor walikota pun tidak ada. Dihancurkan, karena dianggap PKI.”
“Setelah Kalisosok, saya dipindah di Koblen (Penjara Militer), lalu ke Nusakambanagan. Di sini, kami diberi bulgur dan ikan asin (kadang kepala dan buntut saja) atau tempe sepotong kecil sekali. Bulgur itu ampasnya bir, jadi tidak ada gizinya. Biasanya, apabila masih lapar, kami mencari rumput-rumputan dan kulit singkong di tempat sampah. Kami rajang, lalu diberi garam.”
Kira-kira 3-4 bulan Hwie ditahan di Nusakambangan, lalu ia diangkut ke pulau Buru tahun 1970. Karena kapal itu takut ketahuan dunia internasional, jadi sembunyi-sembunyi, lewat pulau-pulau kecil, tidak lewat jalan kapal besar. Gelombang tidak karuan, dan ia muntah-muntah. “Banyak yang muntah, sampai muntahan itu sekamar ada 2 drum. Terus dibuang ke laut, ada tukang buangnya, dari kami-kami juga. Sampai akhirnya kakus buntu. Baunya bukan main.”
Di Pulau Buru, Maluku, kata Hwie, saat ia datang sudah ada 13 unit yang ditempati para tahanan politik (tapol) 1965. Ia dimasukkan di unit 4—unit yang paling dekat dengan laut. “Kira-kira 3 kilo saja. Ada lapangan yang rata, dan juga tidak ada pohon besar-besar, jadi kami bisa bertani dengan cukup enak.”
Yang ditaruh bersama Hwie di unit 4—Unit Savanajaya, begitu para tapol menamainya—memang orang-orang pilihan. Kira-kira ada 1500 orang. Kebanyakan mahasiswa, pelajar, wartawan, dosen dan professor yang dianggap tidak ikut-ikutan partai. “Kalau ada di antara intelektual ini yang ketahuan aktif di partai, ya dibuang ke atas. Itu kata beberapa penjaga penjara,” kata Hwie bercerita kepada Soe Tjen Marching.
Membantu Pram Menulis
Di pulau yang sama, Pramoedya Ananta Toer juga diasingkan. “Dia ditaruh di atas, di unit 3,” kata Hwie. Pada saat itu, menurut kisah Hwie, banyak orang yang sudah mengenal Pram sebagai penulis yang hebat. “Saya sendiri sudah kagum dengan Pram,” ujar Hwie. “Kebetulan di belakang unitnya Pram itu, tepat ladang saya. Waktu melihat Pram, saya sudah ingin sekali bertemu. Jadi, saya menunggu kesempatan. Kalau yang jaga malas dan pergi, saya bisa ngobrol dengan Pram sebentar.”
Mengetahui Pram sebagai seorang penulis, bersama beberapa tahanan Hwie berusaha membantunya. Bahkan ia mencoba pinjam mesin ketik dari kantor unit dan minta kertas barang sedikit. “Eh, diberi,” celetuk Hwie. Siang hari, waktu semuanya tidur, ia menemui Pram dan memberinya mesin ketik pinjaman itu. “Selesai ngetik, saya ambil lagi dan saya kembalikan ke kantor. Begitu terus. Kalau ada kesempatan, saya bisa menyelinap ke unit Pram dan membantu dia. Pram ngarang dan ngetik, saya ngoreksi ketikan yang salah-salah. Di kertas tipis sekali,” Hwie bercerita.
Naskah-naskah Pram disembunyikan di sebuah lubang mirip septic tank dan dibungkus dengan duan pisang. “Orang-orang berpikir itu tinja. Tidak ada yang berani buka. Jadi, naskah-naskah semua tersimpan di sana. Karena protes luar negeri, akhirnya Pram diizinkan menulis kembali. Waktu itu Kopkamtibnya Sumitro. Dia datang ke pulau Buru dan bilang: ‘Pram, ini mesin ketik buat kamu.’ Tapi, mesin tik itu sudah rusak dan harus diperbaiki sendiri oleh Pram. Pitanya hanya ada 1. Waktu sudah habis, saya carikan nila (indigofera), saya godog, saya basahi pita itu, lalu dijemur, ternyata bisa untuk tinta.”
Selain mesik ketik, Pram juga dikasih kertas, tapi kertas duslah (doorslag, ed)—kertas tipis, sering kali transparan. Waktu kertas itu habis, Pram tidak diberi lagi. “Ia mendapat kertas berkat telur ayam,” kata Hwie. Ya, saat menjadi tapol di Buru, Pram sempat pelihara ayam. Setiap kali teman-teman tapolnya pergi ke Kota Namlea, Pram titip telur. Telur-telur itu kemudian dibarter dengan kertas. Tapi jika tak ada telur untuk ditukar, Hwie mengambil kertas-kertas semen sisa pembangunan, lalu membersihkan dan memotongnya seukuran folio. Ketika Pram menulis buku “Perawan Remaja di Sarang Penyamun”, para tapol lain berusaha melakukan penyelidikan dengan mendatangi para bekas jugun ianfu di Pulau Buru. Hasilnya dilaporkan pada Pram.
Tugas Hwie yang lain terjadi ketika datang kabar bahwa dia akan dibebaskan. Dikutip dari BBC Indonesia, Pramoedya menitipkan beberapa naskah tulisannya untuk dibawa ke luar Pulau Buru. Salah satunya adalah Bumi Manusia dan Ensiklopedi Citrawi Indonesia, dalam bentuk naskah asli tulisan tangan, dan ada juga salinan yang diketik. Agar tidak ketahuan, naskah Pram dia sembunyikan dalam gulungan baju kotor, lalu dimasukkan ke dalam besek.
“Tulisan-tulisan Pram itu saya kumpulkan, saya lem dengan singkong yang direbus sampai tanak, dan dibendel. Saya press dengan tutupan yang mirip tutup septic tank itu. Saya diberi rangkapan naskah Pram tahun 1975.”
Tahun 1978 Hwie dibebaskan. “Tapi Pram belum, rupanya Suharto masih belum rela,” katanya. Baru setahun kemudian, Pram dan Oei Hai Joen dibebaskan. Sebelum pulang, ia dititipi naskah asli Pramoedya, Bumi Manusia. Ia bawa juga penutup naskah-naskah Pram di Pulau Buru, yang terbuat dari semen itu.
“Saya dinaikkan kapal haji. Sampai di kapal, saya takut sekali karena ada pemeriksaan beberapa kali. Buku Pram dan tutupan semen yang berat ini pasti tidak lolos, atau saya sendiri bisa dicemplungkan ke laut bersama kedua barang ini. Untung sekali saya tidak diperiksa,” ujar jurnalis Trompet Masjarakat itu.
Kembali ke Malang, Hwie mengaku seperti Tarzan masuk kota. Ia kaget dengan perubahan Indonesia yang pesat. Ia tercengang melihat ada bis besar yang di dalam terdapat sebuah TV. Jalanan tiba-tiba besar, mobil-mobil besar dan banyak. “Juga macet, saya bingung,” katanya.
Sampai di Malang, ia ditaruh di Kodim, wajib lapor. Hwie diberitahu bahwa ia wajib lapor seminggu 3 kali. Setelah itu, ia diperbolehkan pulang. Di sana, orang-orang lain dijemput anak dan istri, juga keluarga. Tapi Hwie tidak melihat anggota keluarganya. “Sudah agak lama saya melihat-lihat, tetap saja tidak ada wajah adik dan mama saya.” Hwie pulang sendiri naik becak. Ia mengaku saat itu agak takut, karena sudah bertahun-tahun tidak di Malang. “Apa saya masih ingat jalan pulang?” gumamnya. “Ternyata masih.”
“Mama sudah meninggal 50 hari yang lalu.” Adik Hwie memberitahunya. Seketika dunianya seolah runtuh. Luar biasa sedihnya. “Saya mengharap bisa bertemu mama, tapi ternyata terlambat 50 hari.” Sepulang dari Pulau Buru, Hwie tak kunjung mendapat pekerjaan karena di KTP-nya terdapat cap ET.
Pustakawan dan Arsiparis Partikelir
Setelah bebas dari penjara, Hwie kembali menekuni hobinya membaca dan membuat kliping. Meski bebas, ruang geraknya terasa terbatas karena dia merasa terus dimata-matai—bahkan di tingkat RT dan RW. “Lalu datang seorang Tionghoa, namanya Haji Masagung yang punya Gunung Agung. Dia bilang, ‘Hwie, kamu kalau di Malang terus nggak bisa maju, sini saya bantu,’ jadi saya pindah ke Surabaya,” kata Hwie seperti dikutip BBC Indonesia. Dia lalu bekerja di perusahaan Haji Masagung hingga pensiun dan memutuskan untuk membuat perpustakaan umum di Surabaya, bernama Perpustakaan Medayu Agung.
Di Jakarta Hwie mengaku sempat belajar tentang perpustakaan. Itu menjadi modal penting saat ia mendirikan Medayu Agung pada 2001 silam. “Buku-buku dan arisp di Malang saya bawa ke sini. Rumah saya jadi penuh buku. Hampir tidak ada ruang untuk manusia.”
Perpustakaan ini dibuka untuk umum, dan berisi berbagai macam buku, puluhan ribu eksemplar koleksi koran, dan beberapa memorabilia. Hwie pernah mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai “kolektor surat kabar terlengkap sejak awal terbit”.

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa
Sekitar tahun 1998, kisah Hwie kepada Soe Tjen Marching, ada 2 orang Australia mendatanginya. Buku-buku, majalah, dan koran yang ia miliki mau dibeli. “Semua pokoknya. Saya ditawari 1 Milliar,” ujarnya. Waktu itu, uang 1 M tentu saja sangat banyak. Kata Hwie bisa dibelikan rumah yang besar dan mewah di Surabaya. Tapi ia bilang tidak—walaupun sebenarnya ia kebingungan dengan biaya perawatan buku-buku itu.
Ia mendirikan Medayu Agung berkat bantuan pengusaha Sindhunata Sambudi dan Ongko Tikdoyo dari Surabaya. Mereka membelikan rumah yang kini dijadikan gedung perpustakaan di JL. Medayu Selatan Gang IV No. 42-44, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya.
Sebuah liputan di Kumparan menyebut puluhan ribu eksemplar koran memenuhi lantai dua Medayu Agung. Sebagian dijilid, sisanya dibungkus plastik sesuai bulan terbitnya masing-masing. Kamar-kamar dan ruangan di lantai satu penuh dengan rak berisi buku dan majalah, juga beberapa memorabilia. Di antara berbagai dokumen itu, ada naskah asli salah Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di kertas pembungkus semen.
Dalam wawancaranya dengan Soe Tjen Marching, Hwie mengaku banyak peneliti dari berbagai negara, termasuk Ben Anderson (Cornell University) dan Daniel S. Lev (Washington University) datang ke Medayu Agung.
“Harapan saya, semoga perpustakaan ini bisa terus berkembang, koleksi buku yang bermutu juga bisa bertambah, dan kalau bisa juga terus gratisan seperti ini, supaya generasi muda bisa belajar dari sini. Saya tidak pernah menyesal akan apa yang terjadi pada saya. Saya anggap “disekolahke karo Pak Harto [Disekolahkan oleh Soeharto]”, supaya tambah pengalaman dan tabah,” kata Hwie menutup wawancaranya.
Memilih menjadi Indonesia
Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dari sosok Oei Hiem Hwie adalah tetap memilih Indonesia sebagai negaranya—walaupun ia pernah diperlakukan semena-mena.
Sebagai keturunan Tionghoa pada masa itu, seperti yang dilaporkan BBC Indonesia, menjadi Indonesia bukan hal yang otomatis terjadi. Hwie memutuskan menjadi warga negara Indonesia atas pilihannya sendiri. Karena ayahnya adalah warga negara asing, meskipun lahir dan besar di Indonesia, awalnya Hwie mengikuti kewarganegaraan ayahnya. Hingga muncul aturan baru pada tahun 50-an, bahwa warga keturunan Tionghoa harus memilih untuk menjadi WNI atau warga negara Tiongkok. Dan ia memilih menjadi WNI.
Dalam memoarnya Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung, Hwie menulis bahwa dia memilih menjadi WNI karena “berarti ikut membantu kemajuan Indonesia dan sosialisme yang kami banggakan”. Untuk mencapai tujuan itu, Hwie aktif berorganisasi di Baperki—Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi massa yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa yang bertujuan menentang diskriminasi berdasarkan keturunan seseorang.
“Di kepala dan hati saya tertanam perjuangan melawan diskriminasi, bagaimana berintegrasi dengan rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama mewujudkan tatanan sosialisme,” kata Hwie dalam memoarnya.
Kini, Oei Hiem Hwie telah berpulang. Kembali ke Asal, sangkan paraning dumadi, dengan peninggalan yang tak ternilai. Selama Perpustakaan Medayu Agung masih ada, namanya akan tetap harum. Perjuangan dan kisah-kisahnya akan terus hidup selamanya. Selama-lamanya. Terima kasih sudah turut menumbuhkan literasi di Indonesia. Selamat jalan, Pak Hwie.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























