TITIK-GARIS pariwisata Desa Les, adalah paralel. Dan Nyoman Nadiana menyebut titik-garis itu, adalah segara-gunung, laut dan gunung. Selatan untuk gunung dan utara untuk laut, saling berhadapan.
Titik sebagai wisata. Garis sebagai jalan—menuju titik wisata, jaraknya tidak terlalu jauh.
“Apa yang saudara dan saudari cari? Semua ada di Les. Sepanjang sesuai dengan kealamian kehidupan desa kami,” kata Nyoman Nadiana, Ketua Pengelola Desa Wisata Les ketika materi tentang Desa Wisata Les di acara Asesmen Lapangan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Tahun 2025 di Gedung Serba Guna, Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin, 1 September 2025.
Sebagai Desa Wisata yang pernah menyabet Anugerah Desa Wisata Terbaik 2024 , kini Desa Les tinggal melakukan asesmen lapangan untuk Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Tahun 2025.

Nyoman Nadiana | Foto: tatkala.co/Rusdy
Dan, dalam acara itu, seluk-beluk Desa Les dipaparkan Nyoman Nadiana secara jujur, yang dihadiri langsung oleh tim ssesor dari Kementerian Pariwisata RI. Tim itu datang, tentu saja, untuk membuktikan apakah paparan Nyoman Nadiana itu benar adanya.
Prof. Winda Marcedes Mingkid, M.Mar.Sc., Prof. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., PhD., IPM, dan Reagan Brian, S.ST., M.M, hadir dalam acara itu sebagai tim penilai.
Mereka datang untuk memastikan fakta secara dokumentasi, dan data—observasi secara langsung.
Untuk melihat Desa Les dari ketinggian, Nyoman Nadiana perlihatkan kemolekan Desa Les di hadapan mereka dengan video, dengan visual bergerak.

Tim Asesor: Reagan Brian, S.ST., M.M, Prof. Winda Marcedes Mingkid, M.Mar.Sc, dan Prof. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD, IPM. | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu
Video berdurasi 5:17 menit itu, setidaknya telah menampilkan bagaimana Desa Les secara utuh. Yang juga disaksikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Kepala Dina Pariwisata Kabupaten Buleleng, Camat Tejakula, Tokoh Masyarakat, hingga mahasiswa.
Tampak lautnya biru. Terumbu-karangnya subur dan ikan-ikan berenang sehat di kedalaman. Air terjunnya segar di sela tebing batu-batu dan pohonan hijau.
Di bibir pantai, sore hari jukung-jukung terlihat memarkir. Pagi hari, nelayan pergi melaut. Menunggu ikan beberapa warga yang lain bertani garam, ada juga yang berdagang di pasar—menjual garam dan ikan, juga kuliner.
Tradisi mengalir seperti laut biru terumbu-karang yang hidup. Anak-anak menari. Tetabuhan menggema. Gotong royong soal adat, masyarakat terasa intim terlihat di video itu.
“Maka dari itu, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) kami adalah Pokdarwis Segara Gunung. Jadi, kita punya laut, kita punya bukit seperti itu,” kata Nyoman Nadiana saat presentasi di hadapan tim asesor.
Desa Les, Melek Wisata Sadar Budaya
Warga Desa Les merupakan keturunan Bali Aga (Bali tua). Sebagian besar di antara mereka, berprofesi sebagai pedagang, petani garam, nelayan dan pengrajin—yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Sesi wawancara Tim Asesor dengan Stakeholder| Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu
Secara administratif, Desa Les termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tejakula, dan terbagi menjadi 9 Banjar Dinas. Lutian, Kanian, Panjingan, Tegal Linggah, Selonding, Kawanan, Lempedu, Tubuh dan Penyembah.
Dan tiga aktivitas utama yang menjadi package Desa Les sebagai wisata berkelanjutan, telah dilakukan masyarakat itu dengan kompak.
Pertama, mereka melakukan aktivitas wisata juga sekaligus sebagai paket wisata budaya, memperkenalkan budaya lokal, termasuk kuliner. Kedua, paket wisata alam. Dan ketiga, paket wisata edukasi; tentang alam dan budaya.
Tiga paket itu yang menjadi andalan warga Desa Les untuk menjadikannya lebih regeneratif. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara saat sambutan, Buleleng telah mengusung konsep pengembangan tourism ekowisata, dan Desa Les sudah melakukannya.
“Karena topografi kita kemiringannya tinggi, berbukit, kemudian panjang pantai ya 157,05 km, potensi hutannya juga luar biasa. Sehingga dari tiga hal yang mencakup pengembangan pariwisata itu, Desa Les juga miliki,” kata Gede Dodi Sukma.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu
Dody melihat Desa Les sudah melakukan konservasi terhadap alam, konservasi terhadap budaya sebagai langkah regenerative tourism.
Selepas penyampaian materi, penyerahan dokumen fisik, dan wawancara—yang lebih intim antara tim asesor dengan stakeholder. Perbekel Desa Les I Gede Adi Wistara menunjukkan beberapa titik—yang disebut keberlanjutan itu, di antaranya; Tempat Penolahan Sampah Terpadu (TPST), Integrated Farming, Kantor Bumdes Desa Les, Ladang garam Desa Les, Kura-kura Home Stay, dan Air Terjun Yeh Mampeh.
“Jadi kami dari pihak pemerintah desa dan juga pengelola Desa Wisata, memberikan jawaban atau bukti atau fakta dokumen-dokumen yang memang menyatakan Desa Les ini layak mendapatkan sertifikasi asesmen, sebagai Desa Wisata berkelanjutan,” kata I Gede Adi Wistara.
Siang itu, Desa Les tampak menampilkan apa adanya untuk dinilai. Tidak ada yang dilebih-lebihkan. Semuanya ditampilkan secara jujur.
Tim asesor diajak pergi ke TPST, untuk melihat secara langsung bagaimana sampah organik-anorganik itu diolah.

Magot | Foto: tatkala.co/Son
Jarak dari Gedung Serba Guna ke TPST itu hanya perlu membuang waktu lima menit. Lurus-berbelok jalannya. Di pintu masuk TPST, terlihat sampah anorganik menggunduk. Tiga langkah dari gundukan itu, terdapat beberapa tempat untuk memilah—jenis sampah.
Di ujung TPST, atau lima langkah dari ruang tempat penyimpanan produk dan mesin, ada kandang magot. Tim asesor diajak ke kandang magot yang ditutup jaring warna hitam berukuran 1×4 meter.
“Magot di sini makan sampah organik. Nanti magotnya yang sudah jadi, dia jadi pakan ikan lele,” kata Ketut Agus Winaya, Ketua Bumdes Desa Les, saat menjelaskan tentang TPST.
Selain magot, Ketut Agus Winaya juga menunjukkan produk pupuk kompos atau organik yang sudah dicampur antara tai kambing, daun-daun, juga sampah organik lainnya. Nama produknya Les Grow dengan netto 10 kg.
Bergeser tiga langkah kaki dari kandang magot, terdapat sebuah mesin—pengolah plastik menjadi sesuatu.
“Ini mesin untuk melelehkan plastik yang sudah dicacah. Hasil lelehannya kami jadikan—bisa gantungan kunci, dan piring,” kata Agus Wisnaya.
Namun Ketut Agus Winaya menyayangkan, mesin itu tidak bisa digunakan untuk produksi jumlah banyak. Hanya bisa digunakan sebagai alat untuk workshop, karena mesinnya kecil.
Perkebunan Organik, dan Produk yang Sehat
Di belakang TPST, terdapat sebuah integrated farming seluas 15 are. Tim asesor diajak untuk melihat-lihat kesehatan kebun yang tumbuh pohon-pohon dan sayur mayur dan bunga-bunga secara organik.
Di pintu masuk, mereka sudah disambut kandang-kandang trigona. Lebah yang menghasilkan madu dengan rasa agak asam.
“Itu kandang lebah trigona. Kami pelihara, karena mereka hewan yang sensitif terhadap kimia. Artinya, ketika mereka hidup, menandakan kebun ini sehat. Tidak ada bahan kimia,” kata Ketut Agus Winaya.

Tim asesor di ladang garam | Foto: tatkala.co/Son
Terdapat 30 kandang trigona masih aktif. Yang nantinya mereka hidup dari hasil menyedot sari putik-putik bunga yang tumbuh di kebun itu.
Sementara kolam lele jumlahnya ada 7, dengan ukuran 3×4 meter. Lele-lele itu diternak diberi makan magot-magot.
Kebun itu dipenuhi bunga dan sayuran. Dengan ekosistem yang sehat, bahkan, kesehatannya pun dikontrol secara langsung oleh lebah trigona. Setiap tumbuhan diberikan barcode, untuk dikenali jenis tumbuhan apa—sebagai edukasi.
Antara TPST dan kebun, terkonsep dengan baik. Menciptakan siklus kehidupan yang sehat. Bahkan, secara produksi, pun memiliki hilir bisnis yang konkrit.
Di Bumdes, seperti sebuah toko, madu trigona terbungkus dengan apik dipasarkan di sana. Begitupan dengan garam les, dan beberapa kerajinan tangan juga terlihat terpampang—dijual, termasuk gantungan kunci.
Ketika datang secara langsung ke Bumdes, tim asesor pun terpincut membeli beberapa produk, yaitu madu trigona, dan garam les sebagai oleh-oleh ketika pulang nanti.
“Bungkus, ya, satu, saya mau beli madunya,” kata Prof. Winda Marcedes Mingkid ketika datang langsung ke Bumdes selepas dari kebun.

Perbekel Desa Les Adi Wistara | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu
Selepas melihat trigona menghasilkan madu, mereka pun berlanjut melihat ladang garam masyarakat di pantai. Di tempat pemroduksian garam khas les, masyrakat punya gubuk tersendiri dengan nama Gudang Garam.
“Ini baru Gudang Garam asli. Ada garamnya bukan rokok,” kata Nyoman Nadiana humor. Mereka pun tertawa.
Gudang—atau yang terlihat seperti sebuah gubuk itu, menjadi tempat penyimpanan garam. Terlihat beberapa karung garam sudah siap angkut. Sekitar 58 kg garam dipanen setiap minggunya.
Garam itu digarap-diolah secara manual oleh para petani, secara tradisional. Ada 25 lahan garam milik warga. Beberapa petani mengolah-memasarkan sendiri hasil panennya. Dan beberapa petani lainnya, juga ada yang berkolaborasi dengan Bumdes soal pemasarannya.
Kemudian melihat laut biru di ladang garam, maupun saat pergi langsung ke Kura-kura Home Stay—yang jaraknya sekitar dua ratus meter itu dari ladang garam, lebih terasa birunya saat datang langsung dari pada sekadar menikmati visual bergerak melalui video.

Tim asesor diberi pejelasan tentang proses pembuatan garam | Foto: tatkala.co/Rusdy
Begitupun dengan kesejukan Air Terjun Yeh Mampeh. Prof. Winda menjelaskan Desa Wisata Les lumayan baik, hanya butuh beberapa penyempurnaan.
“Tinggal bagaimana air di sana, itu dicarikan datanya. Agar pengunjung bisa tahu, apakah air itu bisa diminum atau tidak,“ kata Prof. Winda.
Sampai di situ, ia juga menjelaskan walaupun sebenarnya air itu bisa diminum. Tapi penting data-kandungan apa saja di dalam air itu, mesti dicek dilaboratorium. Agar satu waktu ketika ada pengunjung yang sakit perut karena minum air itu, bisa tunjukan data secara jelas.
“Karena kita tidak tahu, dia sakit perut karena apa, barangkali karena dia sudah makan yang pedes-pedes, bukan karena air itu. Sehingga ini untuk jaga-jaga,” lanjutnya agar Desa Wisata Les selalu safety, dan semakin layak mendapatkan sertifikat. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























