PENAMPILAN joged bumbung dari Sanggar Seni Dharma Shanti, Desa Bila, Kubutambahan, memikat penonton di Buleleng Festival (Bulfest) 2025. Joged ini tampil di Puri Kanginan, Sabtu 23 Agustus 2025 dengan membawakan tiga garapan apik yaitu Tabuh Kreasi Malpi Yowana, Tari Joged Sekar Jepun, dan Tari Joged GelatikNuut Papah.
Tepuk tangan penonton mengiringi setiap garapan tabuh dan tarian, terlebih saat para penari menghibur dengan joged.

Penabuh joged bumbung dari Sanggar Seni Dharma Shanti, Desa Bila, Kubutambahan | Foto: Disbud Buleleng
Ketua Sanggar Ni Nyoman Darmaweni menjelaskan Tabuh Kreasi Malpi Yowana terinspirasi dari semangat pemuda yang beranjak dewasa. Alunan melodi rapi memberi nuansa indah bagi penikmatnya. “Suasana tersebut dituangkan dalam garapan Tabuh Malpi Yowana,” ujarnya.
Meluruskan Citra Joged
Selepas Tabuh Kreasi Malpi Yowana, penonton disuguhkan Tari Joged Sekar Jepun yang mengisahkan seorang gadis yang bergerak lemah lembut bak bunga kamboja yang tertiup angin, namun tetap ajeg atau kukuh berdiri dengan gerakan yang pasti. Penampilan ditutup dengan Tari Joged Gelatik Nuut Papah, yang menceritakan seorang gadis cantik yang menggerakkan badan, tangan pinggang dan kaki, menyerupai se ekor burung gelatik. Geraknya gepik dan ngegol pun membuat penonton terhibur.

Salah satu penari joged bumbung dari Sanggar Seni Dharma Shanti, Desa Bila, Kubutambahan | Foto: Disbud Buleleng
Bagi Darmaweni, tampil di panggung Bulfest menjadi ruang untuk meluruskan stigma yang kerap melekat pada Joged Bumbung Buleleng yang mengandung unsur porno.
“Tidak semua joged itu porno. Contohnya di sanggar kami, penari dan sekaa gong berasal dari anak-anak remaja. Kami tetap berpegang pada pakem Bali sakral, tidak ada goyangan pinggul berlebihan,” tegasnya.
Darmaweni menambahkan, joged yang mereka bawakan masih menggunakan aturan dasar agem kanan dan agem kiri sesuai arahan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Joged, menurutnya, adalah tarian pergaulan yang sarat nilai estetika, dan hiburan berkonotasi negatif.
Salah satu penari Joged Bumbung, Ni Ketut Arlina Mas Kaika Putri dari Desa Cempaga, Buleleng. Siswi kelas 11 SMAN 2 Singaraja ini telah menari joged sejak kelas 5 SD. Bagi Arlina, menari bukan paksaan dari pihak manapun.
“Saya sangat menikmati sebagai penari joged,” ucapnya bangga. Kecintaannya pada seni tari bahkan memberinya kemandirian finansial. Ia sering diundang untuk tampil di berbagai upacara manusa yadnya seperti pernikahan, upacara tiga bulanan, hingga membayar kaul (naur sesangi).

Salah satu penari joged bumbung dari Sanggar Seni Dharma Shanti, Desa Bila, Kubutambahan | Foto: Disbud Buleleng
Meski jadwalnya padat, Arlina piawai mengatur waktu antara sebagai pelajar dan penari. ’Lumayan, sekali tampil bisa dibayar Rp350 ribu. Uangnya langsung saya tabung untuk bekal masa depan,” katanya sambil tersenyum.
Sebelum tampil di Bulfest 2025, mereka telah mewakili Kabupaten Buleleng di Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 2023.
Dari Melatih di Desa-Desa, Hingga Tampil di Panggung Bergengsi
Sejarah sanggar ini dimulai dari perjalanan panjang Ni Nyoman Darmaweni sendiri. Sejak tahun 1985, ia telah mengabdikan diri dengan mengajar tari dari desa ke desa di sekitar Kecamatan Kubutambahan selama 22 tahun. Karena banyaknya murid dari melatih anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, ia pun mendirikan Sanggar Seni Dharma Shanti yang diresmikan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng pada 5 September 2007.

Salah satu pengibing dan penari joged bumbung dari Sanggar Seni Dharma Shanti, Desa Bila, Kubutambahan | Foto: Disbud Buleleng
Nama sanggar ini memiliki makna. Dharma berarti kebaikan, dan Shanti berarti kedamaian. ”Sehingga dalam berkesenian, kita melaksanakan kebenaran untuk mendapatkan kedamaian hati,” jelas Darmaweni.
Kini, lewat panggung Bulfest 2025, Sanggar Dharma Santi kembali membuktikan diri. Joged hadir sebagai identitas budaya yang mesti dijaga, diwariskan, dan dipandang dengan hormat. [T]
Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole



























