SENIN, 21 November 2022, hari kedua belas. Dompu-Sape merupakan rute terakhir saya bersepeda. Karena untuk menuju Labuan Bajo, hanya tinggal menyeberang dari Pelabuhan Sape.
Untuk menuju Sape, saya harus menempuh jarak 112 kilometer dari Dompu. Menurut referensi yang saya baca, rute tersebut terbilang ‘aman’. Hanya saja ada beberapa tanjakan dan turunan antara Bima dan Sape.
Seperti hari sebelumnya, saya berangkat dari Dompu sebelum matahari terbit. Jam di ponsel menunjukkan angka 05.15 WITA.
Jarak antara Dompu dan Bima relatif dekat, hanya 65 kilometer. Karena perjalanan lancar, saya masuk gerbang kota Bima pukul 09.20 WITA.
Beberapa kilometer setelah keluar dari Bima, langit mulai gelap. Saya lihat awan tebal bergelayut. Sesekali terdengar suara petir menggelegar.
Tidak lama kemudian hujan turun dengan lebat. Saya segera mencari tempat berteduh. Untuk beberapa saat saya berteduh di emperan toko.
Karena hujan tidak kunjung reda, saya mengambil jas hujan di rak depan. saya harus meneruskan perjalanan agar tidak kesorean sampai di Sape. Hujan baru reda setelah saya bersepeda hampir 25 menit.
Pada kilometer ke 10 setelah saya keluar dari Bima, jalan mulai menanjak dan berkelok. Saya pikir setelah selesai tanjakan, jalan akan menurun dan datar hingga Sape, tapi ternyata tidak.
Sepanjang lebih dari 20 kilometer, saya melewati turunan dan tanjakan dengan jumlah tak terhitung. Jika dibandingkan dengan Nanga Tumpu, tanjakan di jalur tersebut lebih berat.
Tanjakan dan turunan seolah tidak pernah berakhir. Beberapa kali saya harus berhenti untuk mengatur napas, meskipun belum mencapai target pitstop minimal 30 kilometer. Saya menjaga agar heart rate tidak mendekati angka maksimal.
Baru ketika masuk Desa Ntori, Kecamatan Wawo, jalan melandai, meskipun masih menemui beberapa tanjakan dan turunan ringan.
Empat kilometer kemudian, jalan mulai menurun. Patok kilometer di kanan jalan menunjukkan Pelabuhan Sape kurang 9 kilometer lagi.
Belakangan saya tahu dari catatan di Strava, ternyata elevation gain (total akumulasi ketinggian) rute Sumbawa Besar-Dompu 1.109 meter, sedangkan rute Dompu-Sape 1.245 meter.
Akhirnya saya masuk Kecamatan Sape. Saya lega, karena perjalanan segera berakhir, hanya tinggal menyeberang dengan kapal feri ke Labuan Bajo.
Beberapa belas menit kemudian, atas bantuan Google Map, saya masuk gerbang Pelabuhan Sape pada pukul. 14.30 WITA. Tapi saya tidak bisa langsung menyeberang, karena kapal feri sudah berangkat pukul 10 pagi.
Saya bermalam di penginapan yang terletak hanya 1,3 kilometer dari Pelabuhan Sape. Saya perhatikan ada cukup banyak penginapan dan warung makan di lokasi tersebut. Sepertinya penginapan dan warung itu, untuk memfasilitasi penumpang yang menunggu keberangkatan kapal feri.
Esok hari, sebelum menuju kapal feri, saya sempatkan berfoto di Titik Nol Sape. Saya baru tahu ada monumen tersebut dari salah satu kawan. Dia menyampaikan hal tersebut melalui kolom komentar di Facebook.
Pukul 08.10 WITA saya langsung menuju kapal. Portal dermaga menuju ke kapal feri yang akan menyeberang ke Labuan Bajo, sudah dibuka.
Di dalam kapal baru ada dua truk, satu mobil bak terbuka dan satu mobil penumpang. Dua bule bersepeda motor terlihat menata barang bawaan, bersiap naik ke lantai 2.
Kapal dengan interior yang tidak begitu bagus. Di lantai dua disediakan tempat untuk berbaring, beberapa terlihat kotor bekas tumpahan minuman kemasan.
Jadwal keberangkatan kapal pukul 10.00 WITA, tapi baru pada pukul 10.28 WITA kapal meninggalkan dermaga. Tepat pukul 18.05 WITA, kapal merapat di Labuan Bajo.
Saya sudah membayangkan akan menginap dua-tiga hari, menikmati pantai-pantai yang indah. Setelah itu pulang dengan naik kapal dari Labuan Bajo ke Tanjung Perak, Surabaya. Tapi kenyataan tidak seperti yang saya bayangkan.[T]
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/Made-Wirya-3-750x375.jpg)


























