“Sejak kapan tari topeng berkembang menjadi seni pertunjukan di Bali?” tanya Anggara Rismandika, seorang seniman dari Buleleng kepada Prof Made Bandem.
Prof Bandem pun menjawab, “Tari topeng berkembang sebagai seni pertunjukan sejak abad ke-14. Tonggak penting terjadi pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel (abad ke-15–16), dimulai dari upacara di Pura Besakih yang dipimpin Sangkul Putih, ketika tari topeng ditetapkan sebagai tari wali (sakral).”
Dialog itu terjadi pada Seminar Budaya bertajuk “Perkembangan Topeng Bali Dewasa Ini: Dari Hulu ke Hilir”, Sabtu, 23 Agustus 2025, di Gedung Wanita Laksmi Graha, Singaraja. Seminar itu dilenggarakan Dinas Kebudayaan Buleleng serangkaian acara Buleleng Festival (Bulfest) 2025.
Selain dialog tentang topeng sebagai seni pertunjukan, juga terjadi dialog tentang beda topeng Bali selatan dan topeng Bali utara dan dialog tentang karakter topeng perempuan.
Pertanyaan tentang topeng Bali selatan dan topeng Bali utara disampaikan Putu Satria Kusuma, seorang dramawan Buleleng.
“Apa yang membedakan karakter topeng Bali Utara dengan daerah lain di Bali?” tanya Putu Satria.
Prof. Bandem menjawab, “Topeng Bali Utara banyak dipengaruhi aliran bairawa. Hal ini tampak pada karya-karya Singa Ambara Raja khas Singaraja yang sarat dengan karakter bairawa. Tradisi pembuatan topeng di Tejakula, misalnya, berawal dari pemberian beberapa topeng dari Kerajaan Bangli yang kemudian dikembangkan dengan karakteristik khas, salah satunya menurut keterangan seniman Bapak Made Gelgel.”
Berbagai Hal Tentang Topeng
Seminar ini semula dijadwalkan dibuka oleh Sekda Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd., namun beliau berhalangan hadir karena mendampingi kunjungan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, dalam agenda Bulfest 2025.

Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Drs. I Nyoman Wisandika, didampingi I Made Tegeh Okta Maheri, S.Sn., Kepala Bidang Kesenian Buleleng, selaku penanggung jawab kegiatan. Bidang Kesenian Disbud Buleleng menjadi penggerak utama pelaksanaan seminar ini.
Prof. Dr. I Made Bandem, MA, maestro tari dan akademisi terkemuka, dalam seminar itu memaparkan perjalanan topeng Bali sejak masa prasejarah hingga era kontemporer. Dalam paparannya, Prof. Bandem menyoroti perkembangan topeng mulai dari fungsinya dalam ritual animisme dan dinamisme pada zaman prasejarah (2000 SM – 800 M), transformasinya menjadi seni pertunjukan istana, hiburan rakyat, hingga media kritik sosial di era modern.
Dalam seminar ini Prof Bandem juga memperkenalkan buku terbarunya yang ditulis bersama penulis dan sejarawan seni Bruce W. Carpenter, berjudul “Masks of Bali: Between Heaven and Hell”.

Buku tersebut mengupas secara mendalam sejarah, fungsi, serta kekayaan estetika topeng Bali, sekaligus menegaskan posisinya sebagai warisan budaya dunia yang masih hidup dan relevan hingga kini.
Kehadiran I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn. sebagai moderator turut memberi warna tersendiri dalam jalannya seminar. Dengan latar belakang yang kuat di bidang seni, Ardiyasa berhasil memandu diskusi secara dinamis dan interaktif. Ia dikenal aktif mengasuh Forum Seni Suluh Tulis sejak 2022, anggota Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Bali sejak 2019, serta pernah menjadi manajer proyek Komunitas I-Pedalangan (2016–2019). Pada 2018, ia mendirikan Sanggar Seni Lemah Tulis yang konsisten mengembangkan seni tradisi di Buleleng.
Kiprah tersebut menjadikannya figur penting generasi muda yang menjembatani gagasan lintas generasi antara maestro, peneliti, dan seniman muda sehingga perannya tidak sebatas moderator, melainkan juga penggerak yang memperkaya substansi seminar.
Dialog Berlangsung Hangat
Seminar yang dihadiri seniman, akademisi, komunitas seni, serta mahasiswa dari berbagai kampus di Buleleng berlangsung hangat. Para peserta tak segan-segan menyampaikan berbagai pertanyaan kepada Prof Bandem yang memang menguasai seluk-beluk topeng di Bali.

Dian Suryantini misalnya bertanya tentang bagaimana karakter topeng perempuan Buleleng, dan apa bedanya dengan topeng lain di Bali?
Prof. Bandem menjawab topeng Buleleng memiliki karakter lebih tegas. Topeng perempuan yang ditemukan memiliki alis agak tebal, mata besar dan cerdas dengan ujung mata tipis, telinga lebar, serta garis bibir tegas. Topeng ini kemungkinan merepresentasikan wajah perempuan masa lampau, sekaligus menunjukkan pengaruh luar karena Buleleng merupakan wilayah pertama yang dituju ketika sampai Bali, mengingat pintu masuk utama dulu ada di Pelabuhan Julah. Topeng tersebut diduga digunakan dalam persembahan untuk menghormati perempuan, terlihat dari aksesoris seperti anting (subang) pada telinganya.
Sementara itu, I Gede Made Surya Darma bertanya tentang apakah Van der Tuuk juga meneliti topeng, selain bahasa?
Kata Surya Darma, pada masa kehadiran J.H.C. Van der Tuuk di Bali tahun 1870–1880-an, beliau diketahui banyak mengoleksi lukisan Bali, termasuk karya seniman Bali Utara. Apakah iajuga meneliti topeng? Bagaimana dengan pameran besar di Paris pada 1931 dan 1937, siapa seniman topeng Bali Utara yang terlibat?
Hingga kini, jawab Prof Bandem, belum ditemukan catatan Van der Tuuk mengenai penelitian topeng. Namun, salah satu pelukis Bali Utara, I Ketut Gede, pernah melukis barong dan rangda dengan bentuk menyerupai Barong Bangkal, meskipun topeng yang digambarkan adalah barong ket.
Catatan keterlibatan seniman topeng Bali Utara dalam pameran internasional Paris 1931 (Colonial Exhibition) dan 1937 (Exposition Internationale des Arts et Techniques dans la Vie Moderne) juga belum ditemukan sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. Kedua pameran tersebut menjadi cikal bakal pariwisata Bali. Bahkan sejak 1924, Buleleng sudah dikunjungi wisatawan melalui agen perjalanan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dari Belanda.

Ketut Suartana, seorang peserta bertanya, apakah seorang penari topeng harus berasal dari keturunan atau klan tertentu?
Menurut Prof. Bandem, siapa pun dapat menjadi penari topeng dengan latihan serius hingga profesional. Idealnya, seorang penari juga mempelajari lontar Darma Pegambuhan, karena tari topeng merupakan penerjemahan Weda ke-5 yang sarat simbol gerakan mudra dalam puja. Penari juga dianjurkan memahami ajaran Dasa Bayu untuk meningkatkan taksu dan mendalami babad topeng, salah satunya Babad Sidakarya
Dalam kesempatan itu, Prof. Bandem juga menyinggung keberadaan Barong Bangkal, barong khas Buleleng Barat dengan ciri topeng berukuran kecil.
Menjelang akhir seminar, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui I Made Tegeh Okta Maheri, S.Sn. menyerahkan penghargaan kepada Prof. Bandem atas dedikasinya dalam pengembangan seni tari dan topeng Bali. Penghargaan juga diberikan kepada I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn. selaku moderator, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kesuksesan acara.

Sebagai penutup, dilakukan penyerahan buku Jaya Prana karya Putu Satria kepada Prof. Bandem. Momen ini menjadi simbol kolaborasi lintas generasi antara seniman muda dan maestro tari Bali, sekaligus menegaskan pentingnya kesinambungan tradisi dalam menjaga kebudayaan.
Seminar ini tidak hanya menghadirkan diskusi akademis, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara generasi seniman, peneliti, dan komunitas seni. Kehadiran beragam peserta membuktikan bahwa seni topeng masih memiliki daya hidup kuat, bukan sekadar tontonan, tetapi juga identitas budaya sekaligus spiritual masyarakat Buleleng dan Bali. [T]
Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Adnyana Ole
- BACA artikel lain dari penulis I GEDE MADE SURYA DARMA



























