2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pajek, Pajak, Kerajaan dan Pemerintah

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 15, 2025
in Esai
Pajek, Pajak, Kerajaan dan Pemerintah

Ilustrasi tatkala.co

ADA dugaan istilah pajak berasal dari kata serapan bahasa Jawa Kuna ‘ajek/ajeg’ yang berarti tegak/ harmonis. ‘Ajek/ajeg’ sebagai harapan kehidupan yang diinginkan masyarkat, untuk mewujudkan harapan itu salah satunya dipakailah pa-ajeg/ajek:pajeg/pajek.

Pemakaian awalan pa mengacu pada bentuk tunggal. Pemakaian awalan ka yang ditambahkan akhir, mengacu pada bentuk jamak, akan menjadi ka-ajek/ka-ajeg: kajegang/kajekang ang bermakna seseorang/sekelompok orang yang ditugaskan untuk menegakkan, mengharmoniskan sesuatu, hingga tercapai seperti yang diharapkan itu.

Istilah Pajak yang dipakai sejak masa penjajahan, kemerdekaan sampai sekarang, bunyi dan artinya nyaris sama.

Sebutan pajak untuk menjelaskan sesuatu yang diserahkan masyarkat kepada pengelola wilayah tidak menjadi masalah karena memang sudah ada sejak jaman kerajaan yang dimaksudkan untuk menjaga tegak dan harmonisnya sebuah kerajaan.

Pajak Pemerintah Indonesia

Pajak merupakan pungutan wajib yang dibayar oleh setiap warga negara (Wajib Pajak) kepada negara dan akan digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.

Pajak merupakan suatu kontribusi wajib kepada pemerintah secara terutang oleh seseorang atau badan yang sifatnya memaksa.

Berdasarkan Undang-Undang perpajakan terbaru, pembayaran pajak sebenarnya bukan hanya kewajiban saja, namun juga merupakan hak seluruh masyarakat untuk berperan terhadap pembiayaan negara maupun pembangunan nasional.

Tak ada penjelasan tentang hak yang didapat bagi yang sudah melaksanakan kewajibannya. Yang aneh dalam Undang-Undang Perpajakan terbaru, disebutkan bahwa wajib pajak dan seluruh masyarkat berhak untuk berperan terhadap pembiayaan negara maupun pembangunan nasional.

Hak yang seharusnya didapat (kalau benar seperti itu bunyi undang-undangnya) dengan permainan kata yang konyol menjadi malah menjelma menjadi kewajiban.

Contohnya, kita, masyarakat mengeluarkan uang/dana/ untuk pembeli sesuatu (barang atau jasa). Kita keluarkan uang sejuta, untuk mendapatkan sebuah alat pembersih cangih/jasa pembersih yang hebat, jadi hak yang kita dapatkan adalah sesuatu yang bersih, bukan hak yang kita dapatkan adalah hak untuk membayar ketersediaan alat/jasa agar kita mendapatkan sesuatu yang bersih.

Pajak Kerajaan

Pajak yang dikenakan dalam sebuah Kerajaan di Indonesia jaman dahulu, salah satunya termuat dalam Prasasti Sangguran yang dibuat tahun 928 Masehi. Prasasti ini menurut Arkeolog Indonesia, Dr Hasan Djafar, dibuat oleh raja Mataram kuno, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga, atau Raja Dyah Wawa. Prasasti itu menurutnya memberikan otonomi khusus pada Desa Sangguran yang dibebaskan membayar pajak kerajaan untuk membiayai segala kegiatan di bangunan suci desa sebelahnya, Desa Mananjung. Namun ada sistem pajak lokal untuk kas desa disebutkan dalam prasasti itu.

“Di zaman itu sudah ada sistem pajak ternyata. Ada pajak usaha, pajak penghasilan, dan ada penetapan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Ini menarik sekali,” jelas Hasan seperti yang termuat dalam detikcom.( https://news.detik.com/berita/d-2831902)

Dijelaskan juga bahwa pada saat itu sudah ada sistem perpajakan, kelompok usaha kerajinan, pertukangan, pandai besi dan batas minimal pembuatan yang dikenakan pajak.

Bagi warga Desa Sangguran dipungut pajak dijelaskan terlebih dahulu dikumpulkan dan selanjutnya dibagi tiga. Sepertiga untuk khas desa sepertiga untuk Bhatara (untuk upacara) dan untuk penjaga sima (daerah) serta para petugas.

Kerajaan

Di jaman kerajaan di Indonesia, seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan disebut “Cakraningrat” , cakra (senjata Dewa Wisnu berbentuk bulat, pemutar/mengelola, ning/dari, rat/rakyat). Sebagai pengelola rakyat dan wilayah, raja juga bertugas mengelola pajak untuk keharmonisan rakyat dan wilayahnya.

Pemerintah

Saat kemerdekaan Indonesia dikumandangkan sistem tata kelola negara, sepertinya masih meniru sistem pemerintahan Belanda/atau India Belanda, terlihat dari alenia 4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…. “

Istilah pemerintah yang dipakai mengandung makna hubungan antara pemimpin dan rakyat/masyarkat yang bersifat atasan dan bawahan, antara yang memberi perintah dan yang menerima perintah, menyerupai hubungan penjajah dan yang dijajah.

Kini, banyak pemimpin yang terpisah jauh dari masyarakatnya, bahkan seolah-olah pemimpin dan rakyat ada pada tempat yang bertolak belakang. Pemimpin seperti Dewa, tinggal di Sorga dan rakyat seperti manusia terhukum yang tinggal di neraka.

Indonesia mengklaim diri sebagai negara demokrasi, sehingga kepemimpinan konon dipilih secara demokrasi, dengan pengetahuan dan teknologi yang lebih cerdas dan maju dari jaman kerajaan.Tetapi tak melahirkan kepemimpinan yang lebih cerdas, maju dan demokratis. Yang ada justru semakin banyak pemimpin-pemimpin yang merasa seperti Dewa, bisa memerintah, meminta, menghukum bahkan mengutuk.

Rakyat semakin muak menyaksikan sepak terjang para pemimpin yang arogan. Dari tingkat kepala desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan negara.

Rakyat sempat terhibur saat kepemimpinan presiden Jokowi yang bisa dilihat, disentuh, difoto dan diajak ngobrol oleh masyarakat biasa. Masyarakat Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya juga menyukai kepemimpinan Dedy Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang dekat dengan rakyat. Kepemimpinan tiga kepala desa di Jawa berjuang mengelola desa bersama masyarakatnya menjadi angin segar ditengah beban pajak yang wajib dibayar masyarkat tanpa berhak menuntut hak-haknya.

Tak heran bila banyak yang berharap Indonesia (Nusantara) kembali kepada sistem kerajaan, sebagai negara mandiri tanpa dibebani pajak-pajak di luar kepentingan untuk kesejarteraan masyarakat dan kemakmuran negara, yang diatur dan dipengaruhi negara lain, yang adi kuasa yang bertindak seperti Dewa para Dewa. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Manusia, Sakit, Obat dan Pengobatan
Manusia, Karya, Tulisan, Penderitaan dan Kebahagiaan
Purnama, Pengetahuan, Profesor dan Pendeta
Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia
Tags: kerajaanpajak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebyar-Kebyar, Cintai Tanah Air Sepenuh Hati

Next Post

Membludaknya Bentuk Layanan Publik Elektronik di Kantor Pemerintah: Bentuk Latah FOMO?

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Membludaknya Bentuk Layanan Publik Elektronik di Kantor Pemerintah: Bentuk Latah FOMO?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co