BERSAMA Boy Candra, JS Khairen menjadi narasumber dalam acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi yang diselenggarakan oleh Yayasan mahima Indonesia serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha, Minggu, 10 Agustus 2025.
Jombang Santani Khairen—atau yang akrab dikenal JS Khairen—merupakan penulis berdarah Minang, Sumatra Barat. Sama seperti Boy Candra, ia menulis novel populer pada tahun 2013. JS Khairen lahir di Kota Padang, 23 Januari 1991.
Ia sudah menerbitkan 17 karya novel. Beberapa bukunya seperti Dompet Ayah Sepatu Ibu (2023), Kami Bukan Sarjana Kertas (2019), Bungkam Suara (2023), Kado Terbaik (2022), Rinduku Sederas Hujan Sore Itu (2017), Hal yang Tak Kau Bawa Perg Sat Meinggalkanku (2021), Kami (Bukan) Jongos Berdasi (2020), dan Melangkah (2020) adalah buku laris di pasaran.

JS Khairen saat menjadi narasumber dalam acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Berbeda saat awal-awal JS berkarya itu, banyak yang tidak laku dijual. Dari buku pertama sampai ke tujuh, tidak ada yang baca. Cetakan pertamanya tidak habis. Selalu menumpuk berakhir jadi cucian gudang.
Baru di buku yang ke delapan, yang berjudul Kami Bukan Sarjana Kertas (2019), itu laku. Sampai buku ke 17, berjudul Dompet Ayah Sepatu Ibu, laris manis banyak yang baca. Banyak yang beli. Da JS sedang garap buku yang ke-18, tentang rumah.
“Dari novel-novel awal itu terbit, saya datang dengan kesadaran-kesadaran tidak punya ekspektasi. Tidak punya ilmu dalam penulisan. Membaca buku juga tidak terlalu sering,” lanjut JS Khairen.
Nah, ketika tahu tidak ada perkembangan, tapi merasa diri kecemplung di dunia penulisan, JS Khairen akhirnya memutuskan belajar dengan sungguh-sungguh. Membaca banyak buku. Mempelajari semua tulisan dari karya-karya orang lain dengan sungguh-sungguh.
“Sepulang dari kuliah, saya membaca semua novel yang best seller baik yang di Indonesia maupun yang luar negeri. Saya membacanya setiap hari,” jelasnya.
Dari pengalamannya membaca, ia menemukan beberapa kesamaan kerangka bercerita di buku itu. Dia anggap sebagai pengetahuan baru, dijadikan ramuan baru untuk novel-novelnya.

JS Khairen menandatangani novelnya atas permintaan pembacanya di acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Lantas, segera Khairen mempraktikan pada karyanya yang ke-8 hingga ke 17, dan itu berhasil. Tulisannya mengalami perkembangan yang signifikan. Yang membuat Karyanya—banyak dibaca dan dibeli banyak orang, alias selalu jadi best seller.
Di toko buku Gramedia, di Denpasar, ia punya rak khusus untuk karya-karyanya. Berbeda dengan dulu, setiap kali dia masuk ke toko buku di hari pertama bukunya terbit, karyanya selalu menumpuk. Tidak ada yang beli.
Sampai dua bulan dari buku itu terbit, terlihat masih menumpuk, hanya hilang satu. Katanya, itu pun bukan laku, “Karena dipindahin saja ke belakang.”
Cerita itu terdengar getir. Namun JS Khairen merasa bangkit untuk terus belajar, mencari teknik-teknik dalam penulisan teranyar.
Tak segan Khairen menjumpai para penulis seperti Tere Liye, Boy Candra, juga Dee Lestari hingga Raditya Dika, untuk belajar atau sharing pengetahuan terkait teknis penulisan.


Interaksi aktif peserta di acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Dok. SLF 2025
JS Khairen merasa diri banyak belajar pada mereka. Bahkan, sangat serius dia merasa diri belajar kembali dari nol.
“Saya membaca karya-karya mereka. Saya pelajari cara mereka membuka cerita dan lain sebagainya. Sehingga ada banyak perubahan pada diri saya tentang penulisan” terangnya.
Pada masa awal-awal Khairen menulis, ia merasakan bahwa tulisannya dulu itu terlalu mendayu-merayu. Berbeda dengan sekarang, JS Khairen menulis langsung menembak tulang dada sumsum belakang pembaca.
Langsung disentuh psikologis pembaca di awal bab olehnya. Dari halaman pertama sampai halaman terakhir, ia perhitungkan agar tetap mengikat. Menembak. Memukul.
Di buku Dompet Ayah Sepatu Ibu, misalnya, para pembaca bisa merasakan bagaimana Khairen menulis, bisa menyeret siapa saja pada tangisan.
Sedang di bukunya berjudul Bukan Sarjana Kertas, JS Khairen bisa memastikan para pembaca bakal tertawa termehek-mehek. Kemudian di Bungkam Suara, para pembaca diajak Khairen untuk marah-marah tentang politik.
“Saya selalu berusaha untuk memainkan emosional para pembaca. Tentu agar mereka merasa tersentuh, agar mereka bertahan hingga akhir cerita,” kata JS Khairen.
Pasang-Surut Menjadi Penulis
“Saya punya halangan menjadi penulis, dan itu datang dari lingkaran terdekat, yaitu sahabat-sahabat dan orang tua, tidak mengizinkan,” aku JS Khairen.
Mereka mengerdilkan jika menulis itu dianggap sebagai pekerjaan yang tidak ada uangnya. Sia-sia—buang waktu masa muda. Orang tua JS Khairen sempat marah, bahwa jauh-jauh dari Padang kuliah di UI di Jakarta, ujung-ujungnya jadi penulis, untuk apa?
Kemudian di lingkaran pertemanan, penolakan juga tidak datang satu-satu. Ia datang kroyokan. Diejek karya jelek, buruk. Sok pujangga. Tapi keyakinan JS Khairen terus tumbuh bahwa dia adalah penulis—yang bakal besar.
Cerita mengerikan itu sebagai sisi getir menjadi seorang penulis. Tapi JS Khairen menguatkan para peserta Manajemen Talenta Nasional (MTN), jika suatu saat nanti di antara mereka ada yang mau jadi penulis, harus tahan-tahan soal itu. Jangan mundur.
“Karena mereka mengejek, sebab mereka takut nanti kamu bakal besar. Mereka takut nanti kamu bakal sukses,” kata JS Khairen. “Jadi, kalo ada teman-temanmu yang tidak mendukung, yang diganti itu bukan impiannya, tapi?” tanya JS Khairen pada peserta. “Temennya,” kompak para peserta menjawab sambil merenung.
“Tapi kalo ibu yang tidak setuju?” timpal JS Khairen.
Para peserta diam.
“Ya, ganti ibu!” jawab JS Khairen membuat para peserta tertawa.
“Kalau ibu yang tidak setuju,” tegas JS Khairen, “jangan diganti. Justru kita mesti menujukkan kemenangan-kemenangan kecil. Contohnya, ketika beberapa novel kita laku, kirimlah uang royalty untuk ibu. Agar ibu bisa juga mencicipinya.

JS Khairen bersama Boy Candra foto bersama beberapa tokoh penyelenggara dan undangan di depan peserta setelah acara Manajemen Talenta Nasional (MTN) Ikon Inspirasi | Foto: Dok. SLF 2025
Kemudian jika kita bersanding dengan penulis senior yang terkenal, misalnya, kasih tahu ibu soal itu. Agar ibu tahu, anaknya bersanding dengan orang hebat selain punya uang royalty dari hasil menulis.”
“Seperti saya, misalnya, saya memberi tahu pernah satu panggung dengan Boy Candra. Itu adalah kemenangan-kemenangan kecil, yang bisa membuat orang tua juga merasa senang jika anaknya menjadi penulis dan berhasil,” lanjut JS Khairen.
Kemudian, dari lantai atas seorang peserta, Revalina—namanya, ia dari Padang kuliah di Undiksha—bertanya pada JS Khairen tentang buku anyarnya, Dompet Ayah Sepatu Ibu.
“Di bab satu, saya sudah merasa tersentuh. Nah, bagaimana cara Kakak bisa menuliskannya dengan baik, sehingga membuat pembaca terhipnotis?” tanya Revalina atau biasa dipanggil Aca kepada JS Khairen.
Seperti yang dikatakan di awal, JS Khairen membuat perubahan dalam dirinya, dalam tulisannya, adalah karena belajar. Lalu ia membagi resep gratis untuk tembus ke penerbit lalu best seller:
Pertama, adalah banyak membaca. Kedua, banyak membaca juga. Ketiga, sampai ke delapan juga masih sama, (harus) banyak membaca. Lalu yang ke sembilan, adalah riset. Lalu ke sepuluh, adalah menulis.
“Membaca itu sangat penting,” kata JS Khairen menegaskan sebelum menyelesaikan sesinya. Dan itu seolah pesan yang tak boleh dilupakan peserta dan suatu pengakuan bahwa perkembangan penulisan karya-karya Khairen dihasilkan dari membaca dan berlatih. Terus menerus.[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto



























