BANYAK dari kita mungkin belum tahu kalau istilah “wartawan” dan “jurnalis” itu sebenarnya punya perbedaan. Wartawan, yang kita kenal sejak dulu, adalah mereka yang bekerja dengan menulis berita, mengumpulkan informasi dari lapangan, dan menyampaikan apa yang terjadi di dunia kepada pembaca.
Dulu, profesi ini dihormati, penuh pengorbanan, dan memang sering dianggap mulia. Mereka yang menjadi wartawan adalah pejuang informasi, yang menyampaikan kebenaran apa pun yang terjadi, meski kadang harus berhadapan dengan kekuatan besar.
Di sisi lain, jurnalis lebih dipandang sebagai profesi yang lebih luas. Bukan hanya menulis, jurnalis bekerja dengan cara yang lebih mendalam. Mereka menggali informasi lebih dalam, memeriksa kebenaran setiap data, dan menyusun narasi yang lebih menyeluruh. Jurnalis adalah orang yang harus selalu beradaptasi, karena dunia informasi berubah begitu cepat, apalagi dengan perkembangan teknologi dan media sosial.
Namun ada satu istilah yang terus terdengar dalam percakapan wartawan kita, yakni kuli tinta. Istilah ini lebih menggambarkan mereka yang bekerja di lapangan, langsung turun ke tempat kejadian, berbicara dengan orang-orang, dan mencatat apa yang mereka temui.
Tidak banyak yang tahu bagaimana mereka bekerja keras, bahkan sering kali tanpa dihargai. Mereka adalah manusia yang tak banyak terlihat, namun tanpa mereka, kita tak akan tahu banyak hal tentang dunia ini.
Namun, ironisnya, profesi wartawan kini terasa seperti mengalami penurunan. Bukan hanya dalam kualitas kerja, tapi juga dalam pengakuan publik. Wartawan, yang dulu dihormati sebagai penjaga kebenaran, kini menjadi “tukang berita”.
Mereka bukan lagi orang yang menyelami tiap detail informasi. Kini, sebagian besar wartawan hanya menulis ulang berita yang sudah ada, atau sekadar mengambil informasi dari internet. Bahkan, banyak yang mengandalkan media sosial sebagai sumber utama berita, tanpa meluangkan waktu untuk memverifikasi fakta.
Pergeseran ini membuat banyak wartawan seakan kehilangan tujuan. Dulu, menjadi wartawan berarti menulis sesuatu yang bermanfaat, yang dapat mengubah cara pandang orang terhadap dunia. Tapi sekarang, banyak yang menulis hanya untuk mengejar klik, bukan untuk menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya. Berita tak lagi ditulis dengan hati-hati, tetapi lebih kepada apa yang bisa menarik perhatian secepat mungkin.
Lebih parah lagi, wartawan kini banyak yang terperangkap dalam dilemma, yaitu bagaimana menghasilkan berita yang banyak dibaca jika upah mereka sendiri belum memadai. Banyak yang dipaksa bekerja dengan gaji yang tak sebanding dengan apa yang mereka lakukan. Mereka terpaksa membuat berita yang mudah viral, karena itu yang mendatangkan pembaca dan, tentu saja, penghasilan. Kualitas sering kali terpinggirkan, karena yang penting adalah angka, seberapa banyak orang yang klik artikel mereka.
Media sosial, yang dahulu hanya menjadi ruang untuk berbagi informasi secara informal, kini telah menjadi ladang utama bagi wartawan untuk mencari bahan berita. Dalam dunia yang serba cepat ini, siapa saja bisa menjadi sumber informasi. Selebritas, politisi, atau influencer kini lebih sering menjadi fokus berita.
Wartawan? Mereka hanya mengikuti apa yang ada di luar sana, mengejar informasi yang sudah tersebar di dunia maya. Ini membuat jurnalisme semakin kehilangan taringnya. Wartawan tak lagi menjadi sumber utama, mereka hanya menjadi pengikut yang menyalin dan menempel informasi tanpa banyak periksa.
Kehadiran era disrupsi digital juga mempengaruhi eksistensi media massa tradisional. Media cetak yang dulu menjadi pilar utama informasi kini perlahan kehilangan relevansinya. Banyak media yang terpaksa gulung tikar karena tak mampu bersaing dengan media digital yang menawarkan kecepatan, kemudahan, dan biaya yang lebih rendah. Bahkan media digital pun harus berjuang keras untuk tetap hidup, terpaksa mengejar traffic dan klik agar bisa bertahan.
Yang lebih mencemaskan, pemerintah tampaknya tidak memberikan cukup perhatian untuk mengatasi masalah ini. Walaupun ada Peraturan Presiden (Perpres) tentang Jurnalisme Berkualitas, implementasinya masih jauh dari harapan. Banyak wartawan yang belum mendapatkan kesejahteraan yang layak.
Pemerintah lebih memilih bekerja dengan content creator atau influencer untuk kebutuhan publikasi mereka, meskipun kualitas informasi yang disampaikan sering kali jauh dari standar jurnalistik.
Namun, tanpa keberadaan wartawan yang berkompeten dan jujur, kita akan kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar berita sensasional. Wartawan adalah garda terdepan yang menghubungkan kita dengan kenyataan. Mereka harus diperlakukan dengan hormat, diberikan ruang untuk berkembang, dan dilindungi agar tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Kalau tidak, kita hanya akan dikelilingi oleh informasi yang tidak jelas sumbernya, dan kita akan semakin jauh dari kebenaran. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA


























