Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Lagu itu berkumandang di antara kendaraan lewat di jalan-jalan Kota Singaraja, Rabu, 6 Agustus 2025.
Lagu 17 Agustus karya Husein Mutahar itu, dan di jalan-jalan, dikumandangkan oleh Regu SMK Triatma Jaya, nomor urut 25.

Mereka berjumlah 17 orang (termasuk satu danton). Mereka semua adalah perempuan. Menggunakan kostum sederhana, yaitu mini skirt berwarna putih untuk bawahan, dan untuk atasannya baju kaos lengan panjang berwarna biru dengan tulisan TRIATMA JAYA di bagian depan (torso). Kostum mereka tampak sederhana, tapi mereka tampak begitu semangat.
Lihat saja mereka sudah menghabiskan jarak 8 Km, atau sudah sampai pada tahap etape 1 (satu), yaitu di Jalan A. Yani.
Ni Nyoman Ayu Riastuti, sebagai danton atau pemimpin pasukan regu, melihat jalan terbelah oleh dua sisi penonton di garis istirahat. Lantas ia segera siapkan barisan dengan derap langkah yang kompak dan yel-yel pendek untuk membakar semangat.
“Triatma..Triatmaa…Triatma…” teriak Danton.
“Jaya..Jaya..Jaya…” timpal pasukan.
Regu Triatma Jaya itu terdiri dari Cinta, Nia, Erna, Selina, Ratih, Meyta, Yunita, Chelsea Maharani, Chelsea Wahyuni, Yuni, Lia, Nia, Ayu Trisna, Ira, dan Ari.
“Kami mempersiapkan diri selama dua Minggu di bulan kemarin. Walaupun hanya sedikit waktu latihannya, tapi kami tetap berusaha untuk maksimal.” kata Ayu Riastuti, danton, di waktu istirahat.

Ayu Riastuti mengaku, jika di jalan mendapat tantangan yang cukup berat. Yaitu energi terkuras sampai suara mau habis. Tapi sebagai danton, ia mampu membawa pasukannya di garis istirahat. Karena di perjalanan, ia mengatur siasat agar suara dan energi tidak terkuras sehabis-habisnya. Agar pasukan tak ada yang tumbang.
Setelah datang di etape satu itu, Ayu dan teman-temannya mengambil waktu untuk istirahat, sekitar 15 menitan. Mereka minum. Menghela nafas panjang untuk melanjutkan perjalanan lagi sepanjang 9 kilo meter untuk sampai finish.
Lomba Gerak Jalan Putri (dewasa) ini dengan tantangan jarak tempuh 17 KM
Dimulai di jam 13.00 WITA. Start mereka dari GOR Buana Patra. Kemudian lanjut melewati Jalan Ngurahrai-Letkol Wisnu-Gajah Mada-Gempol Banyuning-Pulau Komodo-Surapati-Supratman-Imam Bonjol-dr. Soetomo-A.Yani-Kartini untuk etape satu (waktu istirahat).
Di garis start yang kedua di depan Klinik Utama Cortex di Jalan Kartini Banyuasri, Regu Triatma Jaya melanjutkan perjalanan dengan semangat masih sama. Membara.

Danton segera memberi komando untuk pasukannya melakukan pengecekan atribut, dan menyusul melakukan yel-yel kecil untuk membakar semangat mereka sebelum lanjut perjalanan.
“GJ Triatma?” kata Ayu Riastuti, danton.
“Elite Women of Triatma,” teriak pasukannya.
Mereka akan melakukan perjalanan ke Jalan Udayana-Jendral Sudirman-Banyuasri-Pemaron-Bhaktiseraga/Jalan Laksamana-Pahlwan-Ngurahrai-dan finishnya di GOR Bhuana Patra (pintu masuk sebelah kanan).
Sebagai Pembelajaran
Melihat semangat mereka tetap utuh–alias tidak ada yang tumbang, Ni Luh Putu Ayu Reonningrat, sebagai kepala Sekolah SMK Triatma Jaya Singaraja, dia merasa bangga pada anak didiknya.
Karena bagi Reonningrat, perlombaan ini menjadi ajang bagi siswi untuk saling tahu satu sama lain, dan mengenalkan dunia kompetisi dengan kerja tim yang kompak.
“Saya tidak terlalu menuntut untuk mereka dapat juara. Tapi bagaimana mental mereka diuji saat lomba, itu bisa menjadi satu pengalaman yang berarti bagi mereka,” kata Reonningrat, Kepala Sekolah SMK Triatma Jaya, setia membersamai perjuangan anak didiknya sejauh 17 KM.
Sedang di GOR Bhuana Patra, ada Regu SMK 1 Tejakula dengan nomor urut 01 sudah mau sampai finish.

Orang-orang berjubel di ruas jalan menanti kedatangannya. Memberi tepuk tangan untuk Putu Kertiasih, Purnama, Sulis, Sariani, Gandis, Dwipayani, Anggita, Dayu, Regita, Cinta, Jessica, Sri Suryanti, Zivara, Rieki Kansha, Gian Kartini, Mila Damayanti, dan Siska itu. Selayang para pejuang.
Ya, mereka disambut seperti pejuang. Termasuk Regu Triatma Jaya atau peserta lainnya jika sudah sampai itu, akan disambut seperti pejuang. Sebab, jarak 17 KM bukan jarak yang pendek. Merdeka. [T]
Reporter/Penulis/Fotografer: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:











![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-75x75.jpg)















