PADA Jumat, 25 Juli 2025, di halaman Museum Buleleng, sedang berlangsung lokakarya dengan tajuk “Pewarna Alam pada Kain”, salah satu mata program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Workshop ini diampu oleh Andika Putra, founder Pagi Motley—industri kreatif yang berfokus pada pewarna alami—dan Dina Widiawan, founder Din’z Handmade—pun perempuan kreatif yang juga intens menggunakan kain berwarna alam untuk produk-produknya.
Namun, lebih dari sekadar workshop celup-menyelup kain, lokakarya ini juga sebagai bentuk respon atas dampak limbah kimia, terutama di bidang industri tekstil. Di situlah letak keterhubungan antara terselenggaranya lokakarya ini dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini, yakni “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta”. Artinya, dalam hal ini peserta mendapat dua hal sekaligus, yakni tata cara pembuatan pewarna alam sekaligus pengaplikasiannya pada kain; dan pengetahuan akan dampak dari lingkungan yang tercemar oleh penggunaan bahan kimia pada industri tekstil.
Ya, di tengah derasnya diskursus akan kerusakan lingkungan karena aktivitas industri sandang, workshop ini memberikan satu kesempatan belajar dan menyadarkan para peserta untuk dapat menyembuhkan semesta melalui pewarna alami.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja
Pagi Motley dan Din’z Handmade tampaknya bukan sekadar tempat usaha. Ia mengandung, katakanlah, napas perjuangan yang luhur. Ya, Andika dan Dina merupakan sosok yang sangat menghormati lingkungan—bukan Wahabi Lingkungan, ya. Mereka meyakini industri pewarna alam dapat mendorong aksi-aksi pelestarian lingkungan hidup, paling tidak dapat melestarikan tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijadikan bahan baku pewarna alam, seperti secang, mangga, ketapang, kelapa, dan indigo.
Kegiatan belajar dan praktik yang berlangsung di depan mobil bersejarah Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Pudja itu, diikuti belasan siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Singaraja dan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Singaraja. Para peserta itu teteg dari awal sampai kegiatan workshop berakhir.
Biru Indigo, Sebuah Fermentasi
Andika Putra, sosok yang sudah berpengalaman selama dua puluh tahun di bidang pewarna alam, begitu menggebu saat menjelaskan cara membuat pewarna alami. Terang saja, melalui Studio Pagi Motley di Sembiran, Tejakula, Andika telah bertungkus-lumus dengan pewarna alam sampai mendapat penghargaan Sewaka Kerthi Mahawidya Nugraha 2023 dari Institut Seni Indonesia Depasar.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja
“Proses pewarnaan alam ini seperti memasak sayur, bahannya kita ekstrak dengan cara direbus,” kata Andika kepada para peserta workshop.
Ia mengatakan bahwa berbagai tumbuhan di sekitar kita sebenarnya dapat menghasilkan warna-warna yang unik, dan tentunya sehat. Daun mangga menghasilkan warna kuning, daun ketapang memberikan warna hitam pekat, serabut kelapa diubah menjadi warna coklat, dan kayu secang mampu menghasilkan warna merah.
Selayaknya sebuah lokakarya, para peserta diajak meracik warna indigo, yang menghasilkan warna biru. Berbeda dengan teknik ekstraksi rebus, indigo memerlukan proses yang lebih kompleks dan “spesial”, yaitu fermentasi.
“Yang spesial adalah warna indigo. Itu yang fermentasi. Jadi dibusukkan. Dari daun, kita ubah menjadi pasta dulu. Setelah jadi pasta, kita campur dengan gula lontar, baru bisa jadi warna,” ungkap Andika.
Proses pembuatan pasta indigo ini sendiri membutuhkan waktu dan kesabaran. Daun indigo jenis Strobilanthes cusia, yang aslinya berasal dari Bhutan dan kini telah berhasil dibudidayakan di Jawa dan Bali, direndam selama 24 hingga 48 jam, tergantung kondisi cuaca.
Proses perendaman ini merupakan tahap awal fermentasi untuk mengeluarkan pigmen warna. Selanjutnya, air rendaman tersebut diproses oksidasi dengan penambahan kapur (limestone).

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja
Tampak di proses itu para peserta dengan antusias mencoba “mengocok” campuran air indigo dan kapur, mirip seperti membuat teh tarik. Proses itu untuk memasukkan oksigen, juga mengubah cairan yang semula kehijauan menjadi biru pekat. Buih-buih yang muncul menjadi penanda jika proses oksidasi telah berjalan baik.
“Jika kapurnya terlalu banyak, pasta yang didapat banyak tapi kualitas warnanya turun. Jika kapurnya sedikit, warnanya bagus tapi pastanya sedikit,” Andika menerangkan berapa takaran yang pas.
Setelah didiamkan semalaman, endapan pasta biru akan terpisah dari airnya. Pasta inilah yang kemudian diaktifkan kembali menggunakan air hangat dan gula aren sebelum siap digunakan untuk mencelup kain. Gula lontar berfungsi sebagai aktivator untuk menaikkan pH larutan pewarna.
Pentingnya Proses Mordanting
Selain teknik pewarnaan yang unik, para pengampu juga menekankan pentingnya persiapan kain. Dina Widiawan menjelaskan bahwa kain harus melalui proses mordanting— proses pra-perlakuan kain, terutama untuk pewarnaan alami, dengan merendamnya dalam larutan mordan (biasanya tawas dan soda abu)—terlebih dahulu sebelum diwarnai.
“Kadang-kadang, kegagalan orang mewarnai itu karena kainnya tidak di-mordan dulu. Mordan itu satu step sebelum pewarnaan untuk menyiapkan kain,” jelas Dina.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja
Kemudian ia melanjutkan, bahwa proses ini bertujuan agar warna dapat terikat sempurna pada serat kain dan tidak mudah luntur. Uniknya, abu dari sisa daun indigo yang telah difermentasi pun dapat dimanfaatkan untuk proses mordanting, sehingga tidak ada yang terbuang.
Dina juga menambahkan pentingnya pemilihan bahan kain. Karena bermain dengan yang natural, seratnya harus serat natural seperti katun atau linen. Tidak bisa memakai kain bersifat plastik seperti bahan poliester.
Proses pencelupan indigo tidak bisa terburu-buru, ia harus sabar dan tenang. Layaknya sebuah meditasi, kain yang dicelup tidak boleh terlalu banyak bergerak di dalam air untuk menghindari oksidasi yang berlebihan, yang bisa mematikan zat warna.
Untuk mendapatkan warna biru yang pekat, proses pencelupan bisa diulang hingga lebih dari sepuluh kali. Dalam sesi praktik itu, para peserta workshop dibolehkan untuk berkreasi membuat berbagai motif pada kain menggunakan teknik jumputan (tie-dye).
Dengan bantuan jepitan, sumpit, tali rafia, dan karet gelang, para peserta menciptakan pola-pola unik sebelum mencelupkannya ke dalam larutan indigo yang telah disiapkan. Workshop ini memberikan keterampilan baru bagi peserta dan membuka wawasan tentang potensi alam, dan gaya hidup yang sehat di bidang fashion—dan sedikit melangkah menuju penyembuhan semesta dengan pewarna alami.[T]
Reporter: Komang Puja Savitri
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto



























