PENULIS Andre Syahreza resmi meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Semua Karena Nirankara (2025) di Institut Mpu Kuturan (IMK), Singaraja, Sabtu, 26 Juli 2025.
Acara itu menjadi bagian dari rangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Diskusi ini menelisik proses kreatif Andre Syahreza di balik novelnya yang terinspirasi dari karya sastra klasik Bali, yaitu Sukreni Gadis Bali karya A.A. Pandji Tisna Panji.
Mengenal sedikit Andre Syahreza, ia adalah seorang penulis Indonesia. Di Bali, ia pernah berkarir sebagai jurnalis di Bali Post, kemudian pindah ke Jakarta berkarir di sana, juga tak jauh dari jurnalistik. Ia pernah diundang ke Belanda sebagai peneliti tamu oleh Royal Netherlands Institute of Southeast Assian and Caribbean Studies untuk urusan-mengkaji Politik Warisan karya sastra modern di Indonesia.
Beberapa karyanya cukup dikenal luas oleh orang-orang, seperti Sex on the phone: sensasi, fantasi, rahasia (2003), The innocent rebel: sisi aneh orang Jakarta (2006), Black interview (2008), dan Semua Karena Nirankara (2025).
Dalam sesi diskusi pada peluncuran buku novel Semua Karena Nirankara itu, Andre mengungkapkan bahwa judul novelnya itu mengalami perubahan signifikan dari ide awal.
Semula, ia hendak menamainya “Kopi Bali Rasa Drama Korea” untuk menangkap esensi cerita berlatar belakang kopi dengan alur dramatis.
“Judul finalnya waktu itu adalah Kopi Bali Rasa Drama Korea. Karena kan itu background ceritanya,” ujar Andre di hadapan para peserta. Namun, atas saran dari Penerbit Buku Kompas, judul tersebut diubah menjadi lebih ringkas dan representatif.
Tapi, pada akhirnya proses pencarian judul baru mengantarkan Andre pada penemuan tokoh sentral dalam novelnya, yaitu Nirankara.
Nama Nirankara diambilnya dari bahasa Sanskerta, yang kemudian menjadi titik masuk utama ke dalam cerita lebih kontras.
“Saya baru sadar ternyata tokoh utamanya ada sekitar dua atau tiga yang berimbang. Akhirnya saya pilih Si Nirankara ini sebagai entry point,” jelasnya. Judul pun berevolusi dari Nirankara, hingga finalnya Semua Karena Nirankara.

Andre Syahreza dalam diskusi novel Semua Karena Nirankara (2025) di Institut Mpu Kuturan (IMK), Singaraja, Sabtu, 26 Juli 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Inspirasi utama novel ini datang secara tak terduga saat Andre menemukan dan membaca novel legendaris “Sukreni Gadis Bali” karya A.A. Pandji Tisna, sastrawan tersohor Bali Utara. Terpaut jarak 90 tahun, Andre merasa tertantang untuk menciptakan interpretasi modernnya.
Lebih dalam, Andre menjelaskan bahwa Semua Karena Nirankara adalah kisah asmara segitiga yang memperebutkan sosok Nirankara. Novel ini menyajikan kritik sosial mengenai pergeseran relasi kuasa di Bali masa kini.
Menurut Andre Syahreza, jika dahulu relasi kuasa sangat dipengaruhi oleh sistem kasta, kini faktor ekonomi menjadi penentu utama status sosial. Konflik itulah yang menjadi inti cerita, digambarkan melalui dua tokoh pria yang memperebutkan Nirankara.
Satu tokoh berasal dari kasta kesatria namun dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, sementara rivalnya tidak memiliki kasta tinggi namun sangat kaya.

Andre Syahreza dalam diskusi novel Semua Karena Nirankara (2025) di Institut Mpu Kuturan (IMK), Singaraja, Sabtu, 26 Juli 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Melalui karyanya itu, ia ingin menyampaikan bahwa pergeseran relasi kuasa dari kasta ke yang sekarang purely ekonomi. Memang, secara permukaan ini seperti kisah cinta, tapi di lapisan lebih dalam ada kritik sosial mengenai relasi kuasa hari ini.
Proses penulisan hingga penerbitan buku ini memakan waktu hampir dua tahun, sejak 2023 hingga akhirnya rilis pada 2025. Andre mengaku sangat lega setelah melalui proses panjang, termasuk diskusi intens dengan editor untuk menyempurnakan naskah.
“Lega banget sih karena hampir dua tahun prosesnya. Yang lama justru di tahap akhir sebelum terbit, seperti ganti judul dan diskusi dengan editor,” kata Andre Syareza. [T]
Reporter: Komang Puja Savitri
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























