6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Ajaib, Kata-Kata yang Menyembuhkan, dan Jiwa yang Bertumbuh —  Refleksi dari Pengunjung Singaraja Literary Festival 2025

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
July 29, 2025
in Esai
Kisah Ajaib, Kata-Kata yang Menyembuhkan, dan Jiwa yang Bertumbuh —  Refleksi dari Pengunjung Singaraja Literary Festival 2025

Dewa Rhadea

MATAHARI Singaraja siang itu begitu menyengat. Langit nyaris tak menyisakan bayang. Namun di dalam aula tempat berlangsungnya Singaraja Literary Festival 2025 di hari kedua, 26 Juli 2025, udara terasa sejuk. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena kata-kata, kisah, dan semangat yang mengalir dari dua sosok perempuan inspiratif: Dewi ‘Dee’ Lestari dan Ratih Kumala.

Hari itu sesi diskusi bertema “Kisah-Kisah Ajaib dan Menyembuhkan,” dan benar-benar terasa sebagai perayaan jiwa dan kata. Dee Lestari mengingatkan para penulis—terutama yang masih ragu untuk mulai—bahwa karya terbaik bukanlah yang sempurna, tapi yang selesai. Fokuslah dulu untuk menyelesaikan tulisan, bukan terlalu lama tenggelam dalam riset. Ratih Kumala menyambung dengan satu pesan penting: tulislah yang otentik, jangan khawatir soal “gaya menulis” yang khas. Gaya akan datang seiring jam terbang.

Keduanya sepakat bahwa status “bestseller” bukanlah tujuan utama dalam menulis, melainkan bonus. Proses menulis sendiri adalah pengalaman ajaib, karena dalam proses itulah emosi terdalam, bawah sadar, dan kenangan masa lalu bisa bangkit dan memberi makna baru.

Saya merasakan keajaiban itu secara personal. Saat saya berbagi bahwa saya sedang menulis buku berjudul AUTIS ITU R.O.M.A.N.T.I.S., kisah 15 tahun saya mendampingi putra saya Gangga yang berada dalam spektrum autisme, Dewi ‘Dee’ Lestari memberikan apresiasi yang membuat hati saya bergetar. Ia menyebut judul itu jeli, dan mengatakan secara intuitif bahwa saya punya potensi sebagai penulis berbakat. Itu bukan sekadar pujian. Itu semacam afirmasi—yang menyembuhkan.

Di sesi selanjutnya, masih di arena Singaraja Literary Festival, ada diskusi “Sajak-Sajak yang Menyembuhkan” bersama Henry Manampiring, Sintha Febriany, dan Putu Fajar Arcana. Diskusi itu membuka lagi satu dimensi penting dari menulis: penyembuhan jiwa. Banyak audiens membagikan pengalaman bahwa puisi yang mereka tulis muncul dari luka batin. Ada yang menulis sajak saat dalam tekanan mental berat, dan merasa sedikit demi sedikit sembuh. Kata-kata menjadi pelarian, dan kemudian menjadi cahaya.

Saya menangkap sebuah mata rantai penting: ketika tubuh sakit, kita bisa mencari dokter. Tapi ketika jiwa yang sakit—luka, trauma, kehilangan—maka puisi dan tulisan bisa menjadi penolong. Terapi. Kata-kata yang terucap dari hati bisa menyembuhkan hati.

Dan dalam konteks yang lebih luas, pengalaman ini membuat saya bertanya: mengapa acara seperti ini masih jarang didukung secara serius oleh negara? Bukankah pendidikan literasi dan seni adalah fondasi dari bangsa yang berkarakter dan berempati?

Laporan PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, dengan posisi ke-62 dari 81 negara. Sementara itu, data dari Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan masih rendahnya kemampuan calistung anak-anak di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Buleleng yang mana di tingkat SD mencapai lebih dari 800 siswa dan lebih dari 400 siswa di tingkat SMP dimana para siswa dan siswi belum lancar hingga belum mampu membaca, menulis dan menghitung. Ini bukan hanya soal kurikulum, tapi soal pendekatan.

Pendekatan berbasis seni bisa menjadi kunci. Menurut Howard Gardner (1983) dengan teori Multiple Intelligences-nya, ada banyak bentuk kecerdasan, salah satunya adalah musikal, spasial, dan kinestetik—semua terkait dengan seni. Anak yang kurang kuat di kecerdasan verbal bisa berkembang melalui medium seni, yang justru membantu mereka memahami bahasa dan simbol secara lebih alami. ArtsEdSearch (2020)di Amerika Serikat mencatat bahwa anak-anak yang dikenalkan pada seni sejak dini—entah itu musik, gambar, tari, atau drama—menunjukkan peningkatan kemampuan literasi, kosakata, dan kemampuan bercerita. Mereka menjadi lebih percaya diri dan ekspresif dalam mengungkapkan pikiran.

Sebuah studi di Frontiers in Education (2025) menemukan bahwa metode narrative drawing—menggambar yang disertai bercerita—mampu membantu anak usia 5–6 tahun memahami struktur bahasa dan mengembangkan literasi dini. Di Inggris, program pembelajaran Shakespeare oleh Royal Shakespeare Company meningkatkan kemampuan bahasa anak SD sebesar 24%. Seni, secara empiris, telah terbukti mendorong literasi.

Semua fakta dan pengalaman ini menyatu menjadi keyakinan saya: jika kita ingin
 anak-anak Indonesia tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga utuh jiwanya, maka pendidikan seni dan literasi harus menjadi jantung dari pendidikan sejak usia dini. Bayangkan jika di Buleleng kita berani memasukkan literasi dan seni sebagai pilar utama di PAUD dan TK. Anak-anak akan belajar menulis sambil menggambar, membaca sambil bermain peran, dan memahami emosi lewat musik dan cerita.

Untuk itu, saya ingin menekankan pentingnya peran Pemerintah Kabupaten Buleleng agar lebih totalitas dan berani berinvestasi pada pendidikan seni dan literasi sebagai dasar pembangunan manusia. Tidak cukup hanya mengizinkan acara seperti Singaraja Literary Festival berlangsung, tetapi harus ada komitmen kebijakan konkret: mendukung secara anggaran, menyertakan program seni dalam kurikulum PAUD dan TK termasuk penguatannya secara keberlanjutan di tingkat SD, serta menciptakan ruang kolaborasi antara seniman, pendidik, dan komunitas.

Singaraja telah memulai langkah yang indah. Tapi untuk menjadi gerakan yang berdampak luas dan berkelanjutan, dibutuhkan keberanian struktural dari Pemerintah Daerah. Buleleng bisa menjadi model nasional dalam mengintegrasikan seni dan literasi ke dalam pendidikan anak usia dini, membuktikan bahwa kita tidak hanya membangun gedung dan jalan, tapi juga membangun jiwa dan imajinasi generasi masa depan.

Saya percaya bahwa literasi adalah benih, seni adalah air, dan kasih adalah cahaya yang akan membuat karakter anak-anak kita tumbuh dengan indah. Dan saya percaya, Gangga pun suatu hari nanti akan menemukan cara berbahasa—entah lewat puisi, gambar, atau pelukan kecil yang penuh makna.

Terima kasih, Singaraja Literary Festival 2025.

Terima kasih atas cahaya kata dan rasa yang dibawa oleh Mbak Dewi ‘Dee’ Lestari, Ratih Kumala, Shinta Febriany, Mas Henry Manampiring dan Bli Putu Arcana, serta para penulis hebat lainnya.

Catatan Penutup:

“Kisah yang menyembuhkan, tak selalu harus sempurna.
Tapi harus sungguh-sungguh dari hati.”

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mengambil Api Literasi dari Gayatri Mantram  — Catatan untuk Singaraja Literary Festival 2025
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Next Post

Gubernur Koster Berkomitmen Menambah Anggaran PKB dan FSBJ Tahun 2026, Karena Seni Budaya Jadi Penopang Pariwisata dan Ekonomi Bali

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Gubernur Koster Berkomitmen Menambah Anggaran PKB dan FSBJ Tahun 2026, Karena Seni Budaya Jadi Penopang Pariwisata dan Ekonomi Bali

Gubernur Koster Berkomitmen Menambah Anggaran PKB dan FSBJ Tahun 2026, Karena Seni Budaya Jadi Penopang Pariwisata dan Ekonomi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co