MATAHARI Singaraja siang itu begitu menyengat. Langit nyaris tak menyisakan bayang. Namun di dalam aula tempat berlangsungnya Singaraja Literary Festival 2025 di hari kedua, 26 Juli 2025, udara terasa sejuk. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena kata-kata, kisah, dan semangat yang mengalir dari dua sosok perempuan inspiratif: Dewi ‘Dee’ Lestari dan Ratih Kumala.
Hari itu sesi diskusi bertema “Kisah-Kisah Ajaib dan Menyembuhkan,” dan benar-benar terasa sebagai perayaan jiwa dan kata. Dee Lestari mengingatkan para penulis—terutama yang masih ragu untuk mulai—bahwa karya terbaik bukanlah yang sempurna, tapi yang selesai. Fokuslah dulu untuk menyelesaikan tulisan, bukan terlalu lama tenggelam dalam riset. Ratih Kumala menyambung dengan satu pesan penting: tulislah yang otentik, jangan khawatir soal “gaya menulis” yang khas. Gaya akan datang seiring jam terbang.
Keduanya sepakat bahwa status “bestseller” bukanlah tujuan utama dalam menulis, melainkan bonus. Proses menulis sendiri adalah pengalaman ajaib, karena dalam proses itulah emosi terdalam, bawah sadar, dan kenangan masa lalu bisa bangkit dan memberi makna baru.
Saya merasakan keajaiban itu secara personal. Saat saya berbagi bahwa saya sedang menulis buku berjudul AUTIS ITU R.O.M.A.N.T.I.S., kisah 15 tahun saya mendampingi putra saya Gangga yang berada dalam spektrum autisme, Dewi ‘Dee’ Lestari memberikan apresiasi yang membuat hati saya bergetar. Ia menyebut judul itu jeli, dan mengatakan secara intuitif bahwa saya punya potensi sebagai penulis berbakat. Itu bukan sekadar pujian. Itu semacam afirmasi—yang menyembuhkan.
Di sesi selanjutnya, masih di arena Singaraja Literary Festival, ada diskusi “Sajak-Sajak yang Menyembuhkan” bersama Henry Manampiring, Sintha Febriany, dan Putu Fajar Arcana. Diskusi itu membuka lagi satu dimensi penting dari menulis: penyembuhan jiwa. Banyak audiens membagikan pengalaman bahwa puisi yang mereka tulis muncul dari luka batin. Ada yang menulis sajak saat dalam tekanan mental berat, dan merasa sedikit demi sedikit sembuh. Kata-kata menjadi pelarian, dan kemudian menjadi cahaya.
Saya menangkap sebuah mata rantai penting: ketika tubuh sakit, kita bisa mencari dokter. Tapi ketika jiwa yang sakit—luka, trauma, kehilangan—maka puisi dan tulisan bisa menjadi penolong. Terapi. Kata-kata yang terucap dari hati bisa menyembuhkan hati.
Dan dalam konteks yang lebih luas, pengalaman ini membuat saya bertanya: mengapa acara seperti ini masih jarang didukung secara serius oleh negara? Bukankah pendidikan literasi dan seni adalah fondasi dari bangsa yang berkarakter dan berempati?
Laporan PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, dengan posisi ke-62 dari 81 negara. Sementara itu, data dari Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan masih rendahnya kemampuan calistung anak-anak di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Buleleng yang mana di tingkat SD mencapai lebih dari 800 siswa dan lebih dari 400 siswa di tingkat SMP dimana para siswa dan siswi belum lancar hingga belum mampu membaca, menulis dan menghitung. Ini bukan hanya soal kurikulum, tapi soal pendekatan.
Pendekatan berbasis seni bisa menjadi kunci. Menurut Howard Gardner (1983) dengan teori Multiple Intelligences-nya, ada banyak bentuk kecerdasan, salah satunya adalah musikal, spasial, dan kinestetik—semua terkait dengan seni. Anak yang kurang kuat di kecerdasan verbal bisa berkembang melalui medium seni, yang justru membantu mereka memahami bahasa dan simbol secara lebih alami. ArtsEdSearch (2020)di Amerika Serikat mencatat bahwa anak-anak yang dikenalkan pada seni sejak dini—entah itu musik, gambar, tari, atau drama—menunjukkan peningkatan kemampuan literasi, kosakata, dan kemampuan bercerita. Mereka menjadi lebih percaya diri dan ekspresif dalam mengungkapkan pikiran.
Sebuah studi di Frontiers in Education (2025) menemukan bahwa metode narrative drawing—menggambar yang disertai bercerita—mampu membantu anak usia 5–6 tahun memahami struktur bahasa dan mengembangkan literasi dini. Di Inggris, program pembelajaran Shakespeare oleh Royal Shakespeare Company meningkatkan kemampuan bahasa anak SD sebesar 24%. Seni, secara empiris, telah terbukti mendorong literasi.
Semua fakta dan pengalaman ini menyatu menjadi keyakinan saya: jika kita ingin
anak-anak Indonesia tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga utuh jiwanya, maka pendidikan seni dan literasi harus menjadi jantung dari pendidikan sejak usia dini. Bayangkan jika di Buleleng kita berani memasukkan literasi dan seni sebagai pilar utama di PAUD dan TK. Anak-anak akan belajar menulis sambil menggambar, membaca sambil bermain peran, dan memahami emosi lewat musik dan cerita.
Untuk itu, saya ingin menekankan pentingnya peran Pemerintah Kabupaten Buleleng agar lebih totalitas dan berani berinvestasi pada pendidikan seni dan literasi sebagai dasar pembangunan manusia. Tidak cukup hanya mengizinkan acara seperti Singaraja Literary Festival berlangsung, tetapi harus ada komitmen kebijakan konkret: mendukung secara anggaran, menyertakan program seni dalam kurikulum PAUD dan TK termasuk penguatannya secara keberlanjutan di tingkat SD, serta menciptakan ruang kolaborasi antara seniman, pendidik, dan komunitas.
Singaraja telah memulai langkah yang indah. Tapi untuk menjadi gerakan yang berdampak luas dan berkelanjutan, dibutuhkan keberanian struktural dari Pemerintah Daerah. Buleleng bisa menjadi model nasional dalam mengintegrasikan seni dan literasi ke dalam pendidikan anak usia dini, membuktikan bahwa kita tidak hanya membangun gedung dan jalan, tapi juga membangun jiwa dan imajinasi generasi masa depan.
Saya percaya bahwa literasi adalah benih, seni adalah air, dan kasih adalah cahaya yang akan membuat karakter anak-anak kita tumbuh dengan indah. Dan saya percaya, Gangga pun suatu hari nanti akan menemukan cara berbahasa—entah lewat puisi, gambar, atau pelukan kecil yang penuh makna.
Terima kasih, Singaraja Literary Festival 2025.
Terima kasih atas cahaya kata dan rasa yang dibawa oleh Mbak Dewi ‘Dee’ Lestari, Ratih Kumala, Shinta Febriany, Mas Henry Manampiring dan Bli Putu Arcana, serta para penulis hebat lainnya.
Catatan Penutup:
“Kisah yang menyembuhkan, tak selalu harus sempurna.
Tapi harus sungguh-sungguh dari hati.”
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























