PENGALAMAN yang menyenangkan merupakan sesuatu yang didambakan wisatawan ketika mengunjungi satu destinasi. Namun tidak jarang wisatawan mengalami kedongkolan saat berada di destinasi wisata. Tentu saja ini akan membuat wisatawan kapok untuk kembali mengunjungi destinasi tersebut.
Biasanya wisatawan melakukan perjalanan tidak ujug-ujug. Sebelum mengunjungi destinasi wisata, orang akan melakukan perencanaan dan persiapan yang matang. Pilihan terhadap destinasi maupun objek wisata direncanakan berdasarkan pada banyak hal, seperti anggaran perjalanan, moda transportasi yang digunakan, akomodasi, tempat kuliner, jumlah peserta, apakah melakukan perjalanan secara mandiri atau melalui biro perjalanan, maupun barang bawaan selama berwisata.
Kedongkolan wisatawan dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Kesiapan anggaran kerap menjadi alasan bagi wisatawan untuk berhati-hati dalam pengeluaran. Anggaran akan menentukan apakah wisatawan akan menggunakan pesawat, kereta api, atau kendaraan pribadi. Harga tiket pesawat yang mahal sempat membuat wisatawan kesal dan kapok, sehingga memilih menunda perjalanan atau menggunakan moda transportasi lain yang lebih murah.
Di mana wisatawan akan menginap juga ditentukan oleh anggaran perjalanan. Apakah menginap di hotel atau homestay. Informasi tentang akomodasi sering diperoleh melalui internet, lantaran pengusaha akomodasi melakukan promosi dan pemasaran secara digital. Kekecewaan yang berujung kapok dapat terjadi ketika fasilitas yang diberikan berbeda dengan yang dipromosikan.
Tempat kuliner acap mejadi sasaran kedongkolan wisatawan. Salah satu pengalaman yang menyenangkan bagi wisatawan memang menikmati kuliner khas daerah. Namun kadang wisatawan dibuat kapok untuk kembali menikmati kuliner itu, entah karena rasanya yang tidak sesuai ekspektasi maupun harga makanan yang terlalu mahal. Hal ini akan sangat dirasakan bagi wisatawan yang mengajak anggota keluarga dalam jumlah banyak.
Menikmati perjalanan wisata melalui biro perjalanan kadang menjadi pilihan bagi wisatawan, karena dianggap praktis, utamanya bagi wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi satu destinasi. Akan tetapi ketidakcermatan dalam memilih biro perjalanan juga dapat berujung kekecewaan. Ada saja yang membuat wisatawan kapok, lantaran apa yang diterima wisatawan tidak sesuai dengan paket wisata yang ditawarkan. Ini bisa terjadi pada biro perjalanan wisata yang abal-abal atau tidak tersertifikasi.
Destinasi yang Bikin Kapok
Keluhan setiap wisatawan tentang destinasi yang dikunjungi berbeda-beda. Ada wisatawan yang mengeluhkan fasilitas akomodasi, ada yang kecewa terhadap wahana wisata, ada yang tidak puas pada pelayanan pekerja wisata, ada pula yang kapok berkunjung karena lingkungan yang rusak di destinasi wisata. Semua keluhan, kekecewaan, dan ketidakpuasan yang bikin kapok wisatawan adalah alarm dalam industri pariwisata, peringatan keras bagi pengembangan pariwisata.
Tidak sedikit destinasi yang bikin kapok wisatawan, baik yang ada di Indonesia maupun mancanegara. Beberapa destinasi di Indonesia berpotensi membuat kapok wisatawan. Sebut saja Puncak Bogor, Bandung, Yogyakarta, Bali, Danau Toba, Labuhan Bajo, Raja Ampat, dan daerah lain yang pernah dikeluhkan wisatawan.
Puncak Bogor di Jawa Barat merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan setiap libur panjang tiba. Namun alih-alih menikmati kenyamanan, wisatawan justru disuguhi kemacetan lalu lintas. Bagi yang mendambakan kenyamanan dalam berwisata, Puncak Bogor bisa bikin kapok. Meski kenyataannya setiap libur panjang Puncak Bogor selalu diburu wisatawan.
Nyaris sama dengan Puncak Bogor, Bandung juga kerap membuat kesal wisatawan. Kota yang konon disebut Paris Van Java ini tak lagi senyaman dulu. Berwisata ke Bandung pada libur panjang harus bersiap dengan kemacetan dan kesemerawutan lalu lintas di dalam kota. Kuliner Sunda mungkin bisa menyajikan kenikmatan, namun rasa lelah di jalanan akan sulit terobati.
Senada, Yogyakarta juga destinasi yang menyenangkan dan penuh kenangan bagi wisatawan. Namun Yogyakarta juga menyimpan banyak persoalan yang membuat kapok wisatawan. Selain kemacetan, Yogyakarta juga bermasalah dengan parkir liar maupun tarif parkir yang tak wajar, membuat kesal wisatawan. Belum lagi Jalan Malioboro yang legendaris diwarnai dengan pengamen yang membuat wisatawan dongkol; apalagi pengamen yang marah ketika tidak diberikan uang.
Bali sempat menjadi destinasi yang bikin kapok wisatawan. Bahkan Fodor’s Travel pernah menyarankan wisatawan untuk mempertimbangkan jika ingin berkunjung ke Pantai Kuta. Padatnya wisatawan domestik dan mancanegara membuat Pantai Kuta tak lagi nyaman untuk dikunjungi. Belum lagi persoalan sampah dan abrasi pantai membuat wisatawan kapok untuk berkunjung kembali.
Walau Bali tetap ramai dikunjungi wisatawan, namun bagi mereka yang mengejar kualitas berwisata, Bali mendapat alarm berbahaya. Kemacetan lalu lintas di Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan memasuki tahap parah. Belum lagi tindak kriminalitas yang melibatkan wisatawan membuat Bali tidak lagi aman dan nyaman. Bule yang mabuk dan ugal-ugalan di jalanan membuat was-was wisatawan lain yang menginginkan kenyamanan dan keamanan.
Raja Ampat di Papua Barat Daya sesungguhnya merupakan destinasi yang masih alami. Namun Raja Ampat juga didera masalah yang dapat membuat wisatawan kapok dan menjadi alarm berbahaya bagi industri pariwisata Tanah Air. Pungutan liar kepada wisatawan di Raja Ampat sempat meresahkan. Disusul kemudian kasus sejumlah warga yang mengusir wisatawan asing di Raja Ampat sebagai buntut pencabutan izin usaha pertambangan di wilayah itu. Hal ini tentu dapat memicu rasa kapok wisatawan.
Tren Anti Promosi Influencer
Animo wisatawan mengunjungi satu destinasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain keunggulan yang dimiliki destinasi, promosi wisata terhadap destinasi juga mengundang wisatawan untuk berkunjung. Peran influencer atau kaum pemengaruh ini cukup besar dalam menumbuhkan keinginan orang untuk berwisata.
Meski begitu, saat terjadi masalah di sebuah destinasi, maka peran influencer akan terabaikan. Wisatawan yang terlanjur dongkol atas kualitas produk wisata di destinasi akan menganggap tayangan influencer di berbagai media sosial adalah omong kosong belaka. Apalagi kini muncul tren anti influencer yang dilakukan wisatawan.
Mengutip CEO jejaring sosial ASMALLWORD, Jan Luescher sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia (11/2/2025), para wisatawan mulai menghindari rekomendasi destinasi dari para influencer sebagai upaya menghindari tempat yang terlalu ramai. Wisatawan mencari perjalanan yang lebih bersifat personal dan berbeda dari rencana perjalanan yang dapat diprediksi dan penuh dengan foto yang dibentuk media sosial.
Tren ini sesungguhnya bersifat linier dengan pengalaman wisatawan ketika mengunjungi satu destinasi. Pekerjaan influencer hanya sia-sia saat memuji dan mengunggah foto-foto menarik tentang destinasi bila wisatawan justru dikecewakan dan dibuat kapok mengunjungi destinasi itu.
Bukan hanya di Indonesia, destinasi bermasalah juga dijumpai di beberapa negara. Venesia di Italia, Menara Eiffel di Prancis, Grand Canyon Amerika Serikat, Times Square di New York, Tembok Besar Cina, Santorini di Yunani, dan masih banyak destinasi lain yang bikin wisatawan kapok untuk berkunjung kembali lantaran padat, macet, kumuh, kerusakan lingkungan, dan tak lagi nyaman.
Destinasi yang bikin kapok adalah persoalan besar dalam pariwisata, alarm serius dalam industri pariwisata. Destinasi bikin kapok bukan hanya di kota-kota besar di Tanah Air. Banyak pula wisatawan yang kapok mengunjungi destinasi wisata di daerah karena masalah yang dianggap sepele, seperti parkir liar, toilet jorok, serta objek wisata yang tidak ramah anak dan penyandang disabilitas. Saatnya wisatawan diutamakan, waktunya alarm tanda bahaya diperhatikan. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU


























