22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Destar Raja Dikenakan, Apa Selanjutnya?—Renungan tentang Raja-raja Bali di Abad 21

Agung Bawantara by Agung Bawantara
July 8, 2025
in Esai
Setelah Destar Raja Dikenakan, Apa Selanjutnya?—Renungan tentang Raja-raja Bali di Abad 21

Foto ilustrasi diolah dengan AI

SENIN pagi yang cerah di Kabupaten Badung, Bali, diiringi bunyi gamelan dan derap langkah iring-iringan Peed Agung. Prosesi itu membawa Ida Cokorda Gde Agung dari Puri Ageng Mengwi menuju Pura Taman Ayun—situs warisan budaya dunia dari UNESCO. Di sana, dengan kehadiran Bupati Badung, Wakil Bupati, Gubernur Bali, serta 11 sulinggih, berlangsung sebuah upacara sakral: Abhiseka—penobatan Ida Cokorda Mengwi XIII.

Prosesi itu penuh makna simbolik. Ada upacara mejaya-jaya dan metapak kebo, pemasangan pin Bhiseka dan destar, tongkat kerajaan diserahkan sebagai penanda sahnya gelar baru. Pemerintah daerah menyebutnya sebagai bentuk pelestarian budaya. Media menuliskannya dengan santun dan cepat—seperti sebuah upacara formal yang selesai tepat waktu.

Tapi sesungguhnya, apakah semuanya benar-benar selesai? Ataukah penobatan ini justru menyisakan banyak pertanyaan mendalam tentang apa arti menjadi raja di abad ke-21 ini?

Raja di Era Tanpa Rakyat

Hari ini, banyak raja di Bali hadir sebagai figur adat dan simbol spiritual, namun minim fungsi sosial yang nyata. Dalam struktur pemerintahan republik, mereka tak lagi memiliki kekuasaan administratif. Peran mereka nyaris hanya sebagai “vote getter” saat pemilu, bukan penggerak nilai atau penjaga lingkungan dan etika.

Yang menyedihkan, ketika kehancuran ekologi terjadi di depan mata—seperti proyek properti raksasa yang menggerus Ubud dan daerah lain di Bali—para raja tak bersuara. Mereka tidak mampu menghimpun kekuatan sosial, tak mampu menjadi suara bagi rakyat, dan lebih sering hadir dalam balutan busana upacara dibanding menyampaikan gagasan.

Upacara penobatan raja masih berlangsung mewah dan spektakuler, tetapi pertanyaannya: untuk siapa dan untuk apa? Biaya besar dihabiskan, jalan ditutup, orang-orang dibayar. Namun tidak ada narasi tentang visi masa depan, apalagi program pemberdayaan yang menyertai pelantikan tersebut.

Sebagian raja memang telah mandiri secara ekonomi, berkat pengelolaan aset puri atau keterlibatan di dunia pariwisata. Namun sebagian lainnya hidup dari fasilitas pemerintah daerah—termasuk mobil dinas dan dana hibah. Ketika keberlangsungan peran seorang raja tergantung pada anggaran pemerintah, maka sulit baginya menjadi pemimpin moral atau suara kritis terhadap kebijakan publik yang merusak nilai leluhur.

Yang lebih menyedihkan lagi, kesetiaan rakyat telah berubah menjadi transaksi. Raja hanya “memiliki” pengikut saat mampu membayar. Tidak ada lagi ikatan spiritual antara pemimpin dan masyarakat. Puri berubah menjadi tempat proyek, bukan pusat nilai.

Di mana Bagawanta dan Dewan Penasehat Raja?

Yang mengejutkan dari rangkaian penobatan ini adalah ketiadaan pengumuman atau simbolisasi peran Bagawanta, yakni pendeta istana yang dalam tradisi dahulu mendampingi raja sebagai penasihat spiritual dan penjaga keseimbangan batin pemimpin.

Dahulu, Bagawanta bukan hanya rohaniwan, tapi juga penafsir dharma, pembaca lontar, dan penyambung suara semesta. Tanpa Bagawanta, seorang raja hanya mengandalkan logika dan kebijakan duniawi—yang kerap tergoda pada kekuasaan atau keuntungan sesaat.

Begitu pula, tak ada penyebutan tentang Dewan Penasehat Raja. Dalam struktur lama, mereka hadir dalam berbagai bentuk: Mantri Agung sebagai penasihat utama; Juru Arahan yang menyampaikan dan menafsirkan Keputusan; dan Prajuru Puri yang mewakili kelompok masyarakat dan fungsi adat.

Mereka bukan hanya pengiring atau panitia upacara, tetapi penjaga suara rakyat dan nurani raja. Ketiadaan mereka menandakan bahwa puri hari ini tak lagi menjadi ruang kolektif berpikir, tetapi ruang pribadi yang sunyi dari musyawarah.

Protokoler Raja: Tata Laku, Bukan Tata Panggung

Raja yang sungguh-sungguh di masa kini tidak lagi diukur dari siapa yang hadir di penobatannya, melainkan dari bagaimana ia hadir setelah itu. Protokoler raja masa kini mestinya mencakup: (1) Disiplin spiritual pribadi: japa, tapa, meditasi setiap hari; (2) Teladan hidup sederhana dan bersih dari pamrih; (3) Keterlibatan aktif dalam pendidikan, pertanian, dan lingkungan; (4) Keberanian bicara atas nama rakyat dan warisan leluhur; (5) Kepemimpinan berbasis nilai, bukan seremoni.

Seharusnya, para raja hari ini memilih jalan lain: menjadi raja dalam pemikiran. Raja yang tidak hanya duduk di singgasana upacara, tapi berdiri tegak di tengah gelombang zaman.

Raja yang memelihara nilai, bukan sekadar pusaka. Raja yang membangun masa depan, bukan mengulang kejayaan masa lalu. Bayangkan jika raja mendirikan: (1) Sekolah budaya dan agama berbasis nilai-nilai luhur puri; (2) Sanggar lontar dan pelatihan aksara Bali untuk anak muda; (3) Program konservasi tanah adat dan pertanian tradisional; dan (4) Pusat pengkajian dharma dan kearifan lokal. Rakyat niscaya akan kembali mencintai dan memerlukan raja, bukan (hanya) karena garis keturunan, tapi karena kehadiran manfaat.

Penobatan Adalah Titik Awal

Penobatan raja Mengwi XIII semestinya menjadi momen permulaan. Sebuah pengingat bahwa waktu telah berubah, dan Bali tak butuh nostalgia yang mahal. Bali butuh pemimpin yang berakar dan berpucuk: menghormati masa lalu, namun menumbuhkan masa depan.

Karena jika raja hanya hadir dalam upacara, maka sejarah akan mencatatnya sebagai hiasan zaman, bukan penunjuk jalan.

Bhiseka telah selesai.

Destar telah dikenakan.

Tugas sejati telah menanti.

Dan rakyat menunggu bukan raja yang duduk di atas takhta, tetapi raja yang berjalan bersama mereka.[T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Raja Airlangga Pemimpin Tanah Jawa Berdarah Bali
Perjalanan Dari Jantung Ubud Menuju Setra Dalem Puri Pada Puncak Pelebon Puri Agung Ubud
Nyanyian Jagat Hancur – Catatan Kecil Rembug Sastra di Puri Gede Blayu Tabanan
Tags: balikerajaan baliPolitikpuri baliRaja Balirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan tentang Kebebasan Dalam Lirik “Bohemian Rhapsody”

Next Post

Drama Gong Kanti Budaya Bangli Berkisah Tentang Cinta dan Intrik Kerajaan di Pesta Kesenian Bali 2025

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Drama Gong Kanti Budaya Bangli Berkisah Tentang Cinta dan Intrik Kerajaan di Pesta Kesenian Bali 2025

Drama Gong Kanti Budaya Bangli Berkisah Tentang Cinta dan Intrik Kerajaan di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co