2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Destar Raja Dikenakan, Apa Selanjutnya?—Renungan tentang Raja-raja Bali di Abad 21

Agung Bawantara by Agung Bawantara
July 8, 2025
in Esai
Setelah Destar Raja Dikenakan, Apa Selanjutnya?—Renungan tentang Raja-raja Bali di Abad 21

Foto ilustrasi diolah dengan AI

SENIN pagi yang cerah di Kabupaten Badung, Bali, diiringi bunyi gamelan dan derap langkah iring-iringan Peed Agung. Prosesi itu membawa Ida Cokorda Gde Agung dari Puri Ageng Mengwi menuju Pura Taman Ayun—situs warisan budaya dunia dari UNESCO. Di sana, dengan kehadiran Bupati Badung, Wakil Bupati, Gubernur Bali, serta 11 sulinggih, berlangsung sebuah upacara sakral: Abhiseka—penobatan Ida Cokorda Mengwi XIII.

Prosesi itu penuh makna simbolik. Ada upacara mejaya-jaya dan metapak kebo, pemasangan pin Bhiseka dan destar, tongkat kerajaan diserahkan sebagai penanda sahnya gelar baru. Pemerintah daerah menyebutnya sebagai bentuk pelestarian budaya. Media menuliskannya dengan santun dan cepat—seperti sebuah upacara formal yang selesai tepat waktu.

Tapi sesungguhnya, apakah semuanya benar-benar selesai? Ataukah penobatan ini justru menyisakan banyak pertanyaan mendalam tentang apa arti menjadi raja di abad ke-21 ini?

Raja di Era Tanpa Rakyat

Hari ini, banyak raja di Bali hadir sebagai figur adat dan simbol spiritual, namun minim fungsi sosial yang nyata. Dalam struktur pemerintahan republik, mereka tak lagi memiliki kekuasaan administratif. Peran mereka nyaris hanya sebagai “vote getter” saat pemilu, bukan penggerak nilai atau penjaga lingkungan dan etika.

Yang menyedihkan, ketika kehancuran ekologi terjadi di depan mata—seperti proyek properti raksasa yang menggerus Ubud dan daerah lain di Bali—para raja tak bersuara. Mereka tidak mampu menghimpun kekuatan sosial, tak mampu menjadi suara bagi rakyat, dan lebih sering hadir dalam balutan busana upacara dibanding menyampaikan gagasan.

Upacara penobatan raja masih berlangsung mewah dan spektakuler, tetapi pertanyaannya: untuk siapa dan untuk apa? Biaya besar dihabiskan, jalan ditutup, orang-orang dibayar. Namun tidak ada narasi tentang visi masa depan, apalagi program pemberdayaan yang menyertai pelantikan tersebut.

Sebagian raja memang telah mandiri secara ekonomi, berkat pengelolaan aset puri atau keterlibatan di dunia pariwisata. Namun sebagian lainnya hidup dari fasilitas pemerintah daerah—termasuk mobil dinas dan dana hibah. Ketika keberlangsungan peran seorang raja tergantung pada anggaran pemerintah, maka sulit baginya menjadi pemimpin moral atau suara kritis terhadap kebijakan publik yang merusak nilai leluhur.

Yang lebih menyedihkan lagi, kesetiaan rakyat telah berubah menjadi transaksi. Raja hanya “memiliki” pengikut saat mampu membayar. Tidak ada lagi ikatan spiritual antara pemimpin dan masyarakat. Puri berubah menjadi tempat proyek, bukan pusat nilai.

Di mana Bagawanta dan Dewan Penasehat Raja?

Yang mengejutkan dari rangkaian penobatan ini adalah ketiadaan pengumuman atau simbolisasi peran Bagawanta, yakni pendeta istana yang dalam tradisi dahulu mendampingi raja sebagai penasihat spiritual dan penjaga keseimbangan batin pemimpin.

Dahulu, Bagawanta bukan hanya rohaniwan, tapi juga penafsir dharma, pembaca lontar, dan penyambung suara semesta. Tanpa Bagawanta, seorang raja hanya mengandalkan logika dan kebijakan duniawi—yang kerap tergoda pada kekuasaan atau keuntungan sesaat.

Begitu pula, tak ada penyebutan tentang Dewan Penasehat Raja. Dalam struktur lama, mereka hadir dalam berbagai bentuk: Mantri Agung sebagai penasihat utama; Juru Arahan yang menyampaikan dan menafsirkan Keputusan; dan Prajuru Puri yang mewakili kelompok masyarakat dan fungsi adat.

Mereka bukan hanya pengiring atau panitia upacara, tetapi penjaga suara rakyat dan nurani raja. Ketiadaan mereka menandakan bahwa puri hari ini tak lagi menjadi ruang kolektif berpikir, tetapi ruang pribadi yang sunyi dari musyawarah.

Protokoler Raja: Tata Laku, Bukan Tata Panggung

Raja yang sungguh-sungguh di masa kini tidak lagi diukur dari siapa yang hadir di penobatannya, melainkan dari bagaimana ia hadir setelah itu. Protokoler raja masa kini mestinya mencakup: (1) Disiplin spiritual pribadi: japa, tapa, meditasi setiap hari; (2) Teladan hidup sederhana dan bersih dari pamrih; (3) Keterlibatan aktif dalam pendidikan, pertanian, dan lingkungan; (4) Keberanian bicara atas nama rakyat dan warisan leluhur; (5) Kepemimpinan berbasis nilai, bukan seremoni.

Seharusnya, para raja hari ini memilih jalan lain: menjadi raja dalam pemikiran. Raja yang tidak hanya duduk di singgasana upacara, tapi berdiri tegak di tengah gelombang zaman.

Raja yang memelihara nilai, bukan sekadar pusaka. Raja yang membangun masa depan, bukan mengulang kejayaan masa lalu. Bayangkan jika raja mendirikan: (1) Sekolah budaya dan agama berbasis nilai-nilai luhur puri; (2) Sanggar lontar dan pelatihan aksara Bali untuk anak muda; (3) Program konservasi tanah adat dan pertanian tradisional; dan (4) Pusat pengkajian dharma dan kearifan lokal. Rakyat niscaya akan kembali mencintai dan memerlukan raja, bukan (hanya) karena garis keturunan, tapi karena kehadiran manfaat.

Penobatan Adalah Titik Awal

Penobatan raja Mengwi XIII semestinya menjadi momen permulaan. Sebuah pengingat bahwa waktu telah berubah, dan Bali tak butuh nostalgia yang mahal. Bali butuh pemimpin yang berakar dan berpucuk: menghormati masa lalu, namun menumbuhkan masa depan.

Karena jika raja hanya hadir dalam upacara, maka sejarah akan mencatatnya sebagai hiasan zaman, bukan penunjuk jalan.

Bhiseka telah selesai.

Destar telah dikenakan.

Tugas sejati telah menanti.

Dan rakyat menunggu bukan raja yang duduk di atas takhta, tetapi raja yang berjalan bersama mereka.[T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Raja Airlangga Pemimpin Tanah Jawa Berdarah Bali
Perjalanan Dari Jantung Ubud Menuju Setra Dalem Puri Pada Puncak Pelebon Puri Agung Ubud
Nyanyian Jagat Hancur – Catatan Kecil Rembug Sastra di Puri Gede Blayu Tabanan
Tags: balikerajaan baliPolitikpuri baliRaja Balirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan tentang Kebebasan Dalam Lirik “Bohemian Rhapsody”

Next Post

Drama Gong Kanti Budaya Bangli Berkisah Tentang Cinta dan Intrik Kerajaan di Pesta Kesenian Bali 2025

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Drama Gong Kanti Budaya Bangli Berkisah Tentang Cinta dan Intrik Kerajaan di Pesta Kesenian Bali 2025

Drama Gong Kanti Budaya Bangli Berkisah Tentang Cinta dan Intrik Kerajaan di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co