23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raja Airlangga Pemimpin Tanah Jawa Berdarah Bali

Kadek Edi Palguna by Kadek Edi Palguna
June 20, 2023
in Esai
Raja Airlangga Pemimpin Tanah Jawa Berdarah Bali

Airlangga diarcakan sebagai Wisnu | Foto: internet

BELUM LAMA INI masyarakat begitu sering mendengar istilah cawe-cawe. Istilah yang sempat dilontarkan orang nomor satu di Indonesia itu mungkin istilah baru bagi masyarakat Bali. Ya, istilah itu tentu saja berhubungan dengan isu-isu yang berkembang terkait dengan masalah politik, terutama masalah calon pemimpin negeri pada Pemilu 2024.

Cawe-cawe adalah kata yang diambilk dari bahasa Jawa. Jika ingin tahu artinya, bukalah KBBI. Dan, ngomong-ngomong tentang Jawa, barangkali banyak yang memaklumi bahwa salah satu syarat yang tak tertulis, tapi sepertinya bersifat mutlak, bahwa calon dan atau pemimpin Indonesia  semestinya berasal dari tanah Jawa. Hal ini tentunya dikuatkan dengan berbagai fasilitas dan pusat pemerintahan yang berada di Pulau Jawa, dan penduduk negeri ini juga basisnya ada di Jawa.

Barangkali karena itu pula, cawe-cawe, yang merupakan kata dari bahasa Jawa juga dengan gampang bisa populer dan memicu polemik, bukan hanya di Jawa, melainkan juga di Indonesia. Jangan-jangan, cawe-cawe, sebentar lagi akan menjadi istilah yang jamak juga digunakan untuk membicarakan hal lain selain politik.

***

Bicara soal calon presiden, atau presiden, harus diingat juga bahwa presiden pertama negeri ini, Soekarno, ternyata separuh berdarah Bali, dan separuhnya berdarah Jawa yang dikuatkan dengan domisili beserta kultur yang membesarkan tokoh itu.

Penyebutan “darah” (bukan asal atau domisili) tentunya bukan mengarah pada keyakinan bahwa darah Si A atau darah Si B paling kuat di Indonesia. Namun penyebutan “darah” ini sesungguhnya untuk mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia sudah sejak dulu menerima keberagaman suku, termasuk dalam proses perkawinan.

Mari kita melompat sebentar ke masa lalu. Ada tokoh yang memiliki kesamaan cerita dengan Soekarno, yakni Raja Airlangga, yang lahir dan eksis pada 1000 tahun sebelum Soekarno memimpin.

Uniknya rekam jejak kelahirannya hampir sama persis, yakni sama-sama memiliki separuh darah Jawa dan separuhnya darah Bali. Namun yang membedakan adalah domisili dan kultur Raja Airlangga muda berasal dari Bali.

Catatan tentang Raja Airlangga berdasarkan data arkeologis sebenarnya sudah dikupas banyak oleh Ninie Susanti, Arkeolog Universitas Indonesia dalam buku Airlangga,Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI tahun 2010.

Dalam buku tersebut, salah satunya menyebutkan bahwa berdasarkan data Prasasti Pucangan berangka taun 1037 Masehi, Raja Airlangga menuliskan silsilahnya yang mengaku sebagai keturunan Raja Mpu Sindok pemimpin Kerajaan Mataram di Jawa Timur pada tahun 929-948 Masehi. Klaim tersebut diambil dari garis ibu Airlangga, yakni sebagai anak pertama dari Mahendradatta yang merupakan cicit dari Mpu Sindok.

Mahendradatta adalah istri dari Raja Udayana yang merupakan keturunan Dinasti Warmadewa yang memerintah Bali pada tahun 989-1011 Masehi. Dalam buku Sejarah Bali, Dari Prasejarah Hingga Modern, yang ditulis tahun 2018 oleh para pakar sejarah Bali (Ardika, dkk.), disebutkan bahwa Raja suami istri tersebut memiliki tiga putra yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu.

Airlangga pada umur 16 tahun kemudian diutus ke Jawa untuk menikahi putri Raja Dharmawangsa Teguh dan menlanjutkan tahta kerajaan Jawa saat itu. Sedangkan adik-adiknya Marakata dan Anak Wungsu, setelah cukup umur, secara bergilir kemudian menggantikan ayahnya dan meneruskan dinasti Warmadewa sebagai pemegang pemerintahan di Bali kala itu.

Dinasti Warmadewa dimulai pada tahun 913 Masehi dengan nama raja pertama yang muncul adalah Sri Kesari berdasarkan catatan Prasasti Blanjong, Prasasti Penempahan dan Malet Gede.  

Jika kita bandingkan pada saat mulainya dinasti Warmadewa tampaknya Mpu Sindok di Jawa belum memerintah sebagai raja, dan 16 tahun kemudian barulah ia memegang pemerintahan Mataram Jawa Timur. Ini memperkuat bahwa ia mungkin sudah mengetahui pada saat memerintah, bahwa di seberang timur Jawa tampaknya sudah ada kerajaan yang besar dipegang oleh dinasti Warmadewa.

Perkawinan antar keluarga kerajaan bisa saja sebagai langkah politik suatu kerajaan untuk melebarkan kekuasaan. Di sisi lain perkawinan tersebut justru mengisyaratkan pada saat itu terjadi hubungan yang sangat baik antara kerajaan Jawa dengan Bali, dan tidak ada catatan yang mengarah pada proses penaklukan antara kerajaan di Bali dan Jawa saat itu.

Langkah perkawinan yang dilakukan dalam hal ini juga bisa diketahui bahwa Kerajaan Bali saat itu tampaknya patut diperhitungkan oleh kerajaan lain, terkesan tidak mudah ditaklukkan. Penaklukan secara langsung memang tidak dilakukan dengan praktis, namun dari segi sosial budaya tampaknya semenjak kedatangan Mahendradatta ke Bali, beberapa unsur kehidupan masyarakat tampaknya mengadopsi unsur sosial budaya masyarakat Jawa.

Hal tersebut dapat diketahui dari beberapa catatan prasasti masa Mahendradatta-Udayana mulai menggunakan bahawa Jawa Kuno, sistem birokrasi dengan nama-nama jabatan seperti di Jawa, dan istilah karaman untuk penyebutan desa.

Airlangga menyadari dirinya sebagai keturunan dari dua dinasti besar kala itu, dan tampaknya ia percaya diri untuk melanjutkan tahta pemerintahan Mataram Kuno yang pindah ke Jawa Timur. Hal itu juga diperkuat dengan menikahi anak dari keturuan dinasti Isana sendiri. Awal pemerintahan yang ia terima tampaknya tidak dalam keadaan baik, justru sedang mengalami kehancuran atau disebut Pralaya.

Dalam buku Ninie Susanti disebutkan bahwa pada awal masa pemerintahan, Airlangga harus menghadapi tahap konsolidasi. Kerajaan-kerajaan kecil yang dahulunya di bawah kekuasaan Dharmmawangsa Teguh (sebelum Airlangga) tampaknya banyak yang membelot melakukan perlawanan-perlawanan hingga penyerangan yang menewaskan Raja.

Serangan demi serangan terhadap kerajaan yang membelot terus dilakukan oleh Airlangga, hal tersebut telah dicatatkan dalam beberapa prasastinya seperti Prasasti Cane dan Prasasti Pucangan. Dalam Prasasti tersebut dinyatakan bahwa dalam rentang tahun 1029-1037 Masehi, Raja Airlangga telah mendapatkan kemenangan dengan mengalahkan musuh-musuhnya.

Adapun beberapa kerajaan yang disebutkan telah dimusnahkan yakni Wuratan, Haji Wengker, Haji Wurawari dan juga telah menaklukan kerajaan yang dipimpin Raja Wanita yang tidak disebutkan wilayah keerajaannya.

Selama masa konsolidasi usai dilakukan Raja Airlangga kemudian menata kembali wilayahnya dengan baik, mulai dari memperhatikan ekonomi, sosial budaya dan agama. Pada masa ini juga Raja Airlangga telah memberikan hadiah berupa sima kepada penduduk atau desa-desa yang telah membantu raja untuk mengalahkan musuhnya.

Sima adalah status bebas pajak atau kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh raja untuk sebidang tanah tertentu. Pemberian sima tersebut diresmikan melalui pemberian prasasti yang salah satunya menyebutkan pemberian status tersebut.

Dalam prasasti-prasastinya juga disampaikan bahwa Raja Airlangga bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawansa Airlangga Anantawikramotunggadewa. Nama tersebut tampaknya mengarah pada betapa besarnya kekuasaan beliau sebagai seorang raja yang menjadi penguasa wilayah dengan kekuatan-kekuatan sang Buda sebagai salah satu awatara Wisnu.

Pada masa akhir pemerintahannya,  Raja Airlangga  kemudian menjalani masa pensiunnya dengan menjalani tahapan hidup wanaprasta sebagai pendeta dengan gelar Aji Paduka Mpungku Sang Pinakacatra ning Bhuwana.

Alih-alih mencari ketenangan dengan menjalani kehidupan wanaprasta, Raja Airlangga pada masa ini merasakan kegalauan karena terjadi perebutan kekuasaan oleh para penerusnya, dan keturunan Dharmawangsa Teguh lainnya tampaknya juga ikut menuntut haknya. Pada akhirnya Raja Airlangga membagi wilayah kerajaannya menjadi dua yakni Janggala dan Panjalu. Meskipun demikian perang saudara antara kerajaan itu tetap tidak bisa dihindari dan terus terjadi. 

***

Rekam jejak Airlangga sebagai raja jika dilcermati dari ulasan di atas sungguh mengangumkan dan patut dijadikan inspirasi bagi pemuda atau masyarakat Bali khususnya. Bagaimana tidak. Ia yang mengembara meninggalkan tanah kelahirannya dan jauh dari orang tua, di usia akhir remaja harus mampu menghadapi masa-masa pralaya sebuah kerajaan yang ia tuju saat itu.

Dalam situasi seperti itu, sebagai seorang pemuda yang harusnya masih banyak belajar, ia  ternyata bisa melewati masa konsolidasi dengan mengalahkan musuh-musuh yang menyerang kerajaannya pada masa pralaya.

Pada masa keberhasilannya ia ternyata bisa menghargai pada para pendukungnya yang telah membantu kemenangan dengan memberikan hak-hak spesial untuk mengikat kesetiannya juga. Namun di masa akhir, beliau yang berniat mencari ketenangan sebagai pendeta menjauhkan diri dengan istana harus merasakan pahit ketika mendengar para penerusnya yang haus kekuasaan dan perang saudara yang tak terhidarkan.

Dan mungkin inilah salah satu kelemahan Airlangga. Ketika sibuk mencari kemenangan untuk wilayah kerajaan saat masih aktif, ia mungkin belum menentukan jalan atau sistem yang tepat untuk generasinya sebagai pewarisnya nanti agar tidak terjadi perpecahan.

Hal itu pastinya bisa kita gunakan sebagai catatan bagaimana sikap kita sebagai penerus harus bisa menghargai para pendahulu kita agar bisa mencapai keharmonisan sesuai keahlian masing-masing, tanpa harus saling mencederai ataupun sampai perang saudara. Alih-alih mengikuti hawa nafsu kekuasaan, kita malah lupa pada perjuangan para pendahulu yang merebut kemenangan nantinya diwariskan untuk generasinya.

Satu lagi, harus diingat, pemimpin itu bisa berasal dari mana saja, bisa memiliki “darah” dari keluarga suku apa saja atau etnis apa saja. Masalah di mana mereka tinggal, itu masalah domisili saja. [T] 

HINDU BALI MURNI DARI BALI?
Panji Semirang: Tokoh Imajiner dalam Merajut Manusia Androgyni
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?
Sesolahan Ratu Paksi dalam Calonarang Bahula Duta di Catus Pata Ubud | Sebuah Sajian Tari Paksi Tunggal
Tags: baliCalon PresidenjawakerajaanPolitikRaja Airlangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bima Muda dari Yogyakarta Menari di Ardha Candra Taman Budaya Bali

Next Post

Lihadnyana Harapkan Kontingen Buleleng Naik Peringkat Pada Porsenijar Bali 2023

Kadek Edi Palguna

Kadek Edi Palguna

I Kadek Edi Palguna, kelahiran Tampaksiring, Gianyar, Bali. Lulusan Arkeologi Udayana dan Kajian Budaya Udayana, sekarang aktif sebagai Dosen Ilmu Budaya di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Aktif sebagai anggota dalam organisasi PAEI (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Komda Bali).

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Lihadnyana Harapkan Kontingen Buleleng Naik Peringkat Pada Porsenijar Bali 2023

Lihadnyana Harapkan Kontingen Buleleng Naik Peringkat Pada Porsenijar Bali 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co