6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 5, 2025
in Persona
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa

dr. Krisna Aji | Foto: Angga Wijaya

DI tengah riuh rendah dunia medis yang kerap identik dengan angka, diagnosa, dan prosedur yang kaku, nama dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ mencuat sebagai sosok yang berbeda. Ia bukan hanya seorang psikiater, tetapi juga seorang pemikir, pembaca filsafat, dan penulis yang setia menyusun gagasan dari ruang-ruang sunyi manusia.

Percakapan kami pada Jumat, 4 Juli 2025, berlangsung santai namun penuh makna, di sebuah kedai kopi di bilangan Panjer, Denpasar Selatan.

Bersahaja dan tenang dalam bertutur, dr. Krisna bukan tipikal dokter yang bicara dari balik meja praktik semata. Ia lebih senang melihat manusia dari sisi yang lebih utuh—sebagai makhluk pencari makna, bukan sekadar penerima resep.

“Psikiatri itu setengahnya adalah filsafat,” ujarnya membuka obrolan. “Setengahnya lagi memang soal otak dan tubuh, tapi cara pandang terhadap manusia, terhadap realitas, itu penuh dengan filsafat,” imbuh lelaki yang lahir dan besar di Yogyakarta ini.

Kecintaannya pada pemikiran mendalam itu sudah tumbuh sejak masa kuliah. Lulus dari SMA Taruna Nusantara pada 2006,  ia melanjutkan pendidikan kedokteran hingga spesialis kejiwaan di Universitas Udayana. Namun di balik kesibukan sebagai dokter, ia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki cara berpikir yang “menyimpang” dari arus utama. “Suka berpikir aneh,” katanya sambil tertawa kecil.

Kebiasaan menyelami pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu lambat laun membawanya pada dunia filsafat dan menulis. “Aku awalnya bukan baca Sartre atau Heidegger, tapi lebih ke arah pertanyaan: apa sih sebenarnya yang membuat manusia tetap hidup ketika semuanya sudah ada?”

Pertanyaan demi pertanyaan itu kini telah mengkristal dalam empat buku yang ia tulis. Buku pertamanya, Mindfulness; Therapy untuk Terapis, lahir dari tesisnya dan ditujukan untuk para terapis agar bisa menyadari emosi mereka sendiri saat menghadapi pasien. Buku kedua membahas psikoterapi suportif dan dikemas dalam gaya populer agar mudah diakses masyarakat luas.

Buku ketiganya, Mencari Manusia dan Jiwa merupakan kumpulan tulisan dari media daring Gema Bali—berisi artikel yang menyinggung berbagai tema, mulai dari psikiatri, filsafat, hingga spiritualitas. Namun buku keempatlah yang kini paling menyita perhatian: Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh?

Buku ini, kata dr. Krisna, mengajak pembaca menyelami lebih dalam pertanyaan tentang luka batin, trauma masa kecil, kecemasan, dan ketakutan akan kematian. “Saya tidak menawarkan jawaban pasti. Justru saya ingin mengajak pembaca untuk bertanya. Apakah kesembuhan itu benar-benar ada? Kalau hari ini saya lebih baik dari kemarin, bukankah kemarin saya sedang ‘sakit’? Kalau besok saya lebih baik dari hari ini, apakah saya hari ini belum sembuh?,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut tidak bicara tentang psikotik atau gangguan jiwa berat, tapi lebih ke persoalan-persoalan umum seperti kecemasan dan depresi yang kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga menggugat persepsi umum bahwa seseorang dianggap “sembuh” hanya ketika ia berhenti minum obat. “Saya lebih melihatnya sebagai proses. Seperti kita makan tiap hari, minum obat bisa jadi bagian dari hidup, bukan semata indikator sembuh atau sakit,” ungkapnya.

Menulis, baginya, juga adalah proses katarsis. Setiap hari menyerap keluhan, trauma, dan luka jiwa pasien, membuat ia merasa perlu menyalurkan kembali energi itu. “Sampah-sampah batin itu harus didaur ulang. Kalau tidak, ya bisa menumpuk di diri sendiri,” tuturnya. Tapi, ia menegaskan, tulisan-tulisannya tidak pernah menyalin kisah pasien secara mentah. Semua sudah melalui proses adaptasi dan sublimasi ide.

Dalam karyanya, dr. Krisna menggabungkan pendekatan medis, psikologis, dan pemikiran filosofis. Ia tidak hanya menulis sebagai bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan penyadaran. “Kadang aku heran, kok masih sedikit ya psikiater yang menulis buku? Padahal banyak hal dari praktik klinis yang bisa dibagikan ke masyarakat dalam bentuk narasi populer,” katanya.

Baginya, tulisan bukan hanya media komunikasi, tetapi bentuk keberpihakan kepada jiwa-jiwa yang terluka—baik yang ia temui di ruang praktik maupun dalam dirinya sendiri. Ia percaya, setiap orang punya “sampah batin” yang harus didaur ulang agar tidak menjadi limbah yang merusak.

dr. Krisna Aji | Foto: Angga Wijaya

Tulisan-tulisannya tidak frontal menyalahkan siapa pun. Ia lebih memilih pendekatan reflektif dan mengajak pembaca bertanya. Dalam bukunya Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh?, ia menyodorkan banyak pertanyaan yang menggugah, seperti: “Apakah trauma orang tua bisa diwariskan?”, “Apakah kesembuhan itu bisa hadir jika manusia terus bertumbuh?”, atau “Apakah benar, orang tua selalu tahu yang terbaik untuk anak?”

Pertanyaan-pertanyaan ini menurutnya lebih penting daripada jawaban. “Kalau kamu terus tumbuh, berarti kamu terus berubah. Kalau kamu berubah, berarti kamu belum selesai. Kalau belum selesai, mungkin kamu belum sembuh. Tapi bisa juga, justru itulah proses kesembuhan itu sendiri,” katanya perlahan.

Sebagai psikiater, ia sadar betul bahwa stigma masih menjadi tantangan terbesar di Indonesia. Bahkan, ia pernah menyaksikan langsung sesama dokter yang meremehkan pasien dengan gangguan jiwa. “Stigma itu tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari orang-orang berpendidikan yang seharusnya tahu lebih baik,” ujarnya prihatin.

Karena itu, ia menaruh harapan besar pada generasi muda, terutama Gen-Z yang menurutnya lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental. Namun sayangnya, masih banyak dari mereka yang harus berjuang sendirian, karena orang tua mereka menolak untuk menyadari bahwa trauma bisa diwariskan. “Banyak anak datang ke saya, terapi sendiri, tanpa sepengetahuan orang tua. Lalu ketika saya minta orang tuanya ikut, mereka menolak. Padahal akarnya justru di sana,” katanya.

Tak hanya menjadi psikiater dan penulis, dr. Krisna juga menjadi semacam pengamat jiwa kolektif. Ia tidak menulis dari ruang steril rumah sakit, melainkan dari kedalaman pengalaman sehari-hari sebagai manusia. Ia menyerap cerita pasien seperti membaca novel misteri yang tak berkesudahan, dan menyusun ulang fragmen-fragmen luka itu menjadi tulisan.

Di ujung perbincangan, dr. Krisna kembali menegaskan bahwa menjadi manusia adalah proses yang kompleks dan terus bergerak. “Kita bukan robot yang bisa dikategorikan ‘sakit’ atau ‘sembuh’. Jiwa manusia itu dinamis, dan justru di situlah keindahannya,” ucapnya serius.

Mungkin karena itu pula, Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh? bukanlah buku yang menawarkan resep. Ia adalah cermin, tempat pembaca bisa bercakap dengan dirinya sendiri, pelan-pelan, dengan jujur.

Dan di kedai kopi kecil di Panjer sore itu, dr. Krisna Aji—seorang psikiater yang membaca filsafat dan menulis dari ruang sunyi jiwa—mengingatkan kita, bahwa kesehatan mental bukanlah soal pulih atau tidak. Tapi soal berani melihat diri apa adanya, dan tumbuh dari sana. *

Tulisan-tulisan dr. Krisna Aji, Sp.KJ di Tatkala.co dapat dibaca pada tautan berikut: https://tatkala.co/author/krisna-aji/

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

  • BACA JUGA:
“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional
Windari dan Sepuluh Cerpen untuk Satu Gelar
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: dokterdr. Krisna Ajikesehatankesehatan jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Next Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co