APAKAH itu karena seni? Pagi itu, ratusan anak tengah bergegas menuju depan Gedung MMBG, Art Center Taman Budaya Provinsi Bali. Mereka, seakan tidak mau ketinggalan atau mungkin takut tidak mendapatkan tempat duduk, sehingga berjalan dengan langkah sedikit cepat menuju suatu lokasi. Tangannya penuh membawa berbagai alat dan perlengkapannya alat tulis. Meski demikian, mereka tak meresa beban, bahkan tampak percaya diri dan mandiri.
Begitulah anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) Mulai saat mengikuti wimbakara (lomba) mewarnai serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 pada, Minggu 22 Juni 2025. Mereka betul-betul mandiri, seakan sudah menjadi kebiasaannya. Kalaupun diantar ibu, bapak atau kakaknya, itu hanya sampai di depan saja, selanjutnya mereka lakukan sendiri. Ini mungkin benar kata orang bijak, bahwa seni itu merupakan sebuah pendidikan karaketer.
Sebanyak 145 peserta meriahkan lomba mewarnai dengan tema budaya Bali itu. Ajang lomba ini bernuansa heterogen. Sebab, peserta tak hanya menggunakan busana adat Bali, tetapi ada juga yang menggunakan busana nasional, bahkan berbusana Muslim yang menciptakan kebersamaan, bukannya terkotak-kotak. Meski mereka duduk berdekatan, namun persaingan kentara sekali karena ini memang ajang lomba.
Satu-satu persatu perlengkapannya disiapkan dengan baik, seperti pensil, penghapus, krayon, kuwas, saputangan dan tisu. Panitia, kemudian membagikan kertas yang sudah berisi gambar yang sama. Anak-anak belum melakukan aktivitasnya. Setelah panitia mengumumkan lomba di mulai, anak-anak lalu mulai mewarnai gambar. Mereka tampak focus. Mungkin karena sudah biasa, mereka tak tampak kebingungan.
“Mereka, sudah mendapatkan gambar dengan motif yang sama. Dengam demikian mereka tinggal memilih warna yang tepat sesuai dengan kemampuan, juga sesuai tema. Goresnnya tegas dan lugas, membuktikan kalau mereka memang sudah biasa menggambar. Dalam pemilihan warna, mereka tak canggung, tinggal ambil krayon lalu menggores kemudian jadi.

Anak-anak dalam lomba mewarnai gambar di PKB 2015
“Semua peserta memiliki teknik mewarnai yang sangat bagus. Mereka tampak sudah biasa melakukan kegatan menggambar ataupun mewarnai gambar. Hal itu bisa dilihat dari cara menggores. Namun, dewan juri memiliki kreteria untuk memilih yang terbaik dari semua yang baik-baik itu. Kreativitas, teknik dan pewarnaan yang menjadi penilaian nantinya,” kata Dewan Juri Dr. Drs. I Made Ruta, M. Si. bersama Juri Dewa Putu Gede Budiarta, S.SN.,M.Sn dan Dra. Ni Made Purnama Utami.
Untuk melihat kreatifitas anak-anak ini, bisa diambil dari cara mereka dalam memberi pariasi dalam mewarnai. Kalau kreativitas gambar, mereka tampak menponjol walau umur mereka masih belia. Kalau dari segi umur, anak-anak ini rata-rata memiliki kreativitas yang bagus dan boleh dikatakan tinggi. Mereka mungkin sudah mendapatkan pendidikan melukis seni rupa di sanggar-sanggar atau komunmitas. “Kalau tanpa melalui pelatihan, mereka mungkin biasa-biasa saja. Tetapi, anak anak yang tampil ini luar biasa,” tegasnya.
Anak-anak yang tampil sebagai peserta lomba mewarnai ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Ada yang sydaj memakai teknik cukil, dan teknik dusel. Dengan teknik dusel, mewarnai dengan cara menggosok atau mengusap goresan pensil, krayon, atau bahan pewarna lain untuk menciptakan efek gradasi warna yang halus dan kesan gelap terang pada objek gambar. Teknik dusel ini diberikan agar merata dan terkesan empuk. Lalu, teknik cukil setelah warna dikerik lalu biasa muncul warna yang dibawahnya, sehingga tampak berparisi.


Anak-anak dalam lomba mewarnai gambar di PKB 2015
Melihat aktivitas dalam mewarnai gambar, lanjut Made Ruta, ini menunjukan para peserta kebanyakan sudah mendapatkan dasar-dasar teknik seni rupa. Kalau tidak, mereka tidak akan bisa sampai di sana. Warna yang mereka pilih cukup berani. Goresannya, mereka sangat berani memilih warna-warna yang beda, namun menarik. “Warna meraka ada yang mengarah realis dan ada pula naif. Artinya dunia anak-anak muncul apa adanya adanya atau apa yang dipikirkan dibenaknya itu yang dituangkan, sehingga polos dan bebas berekpresi.
Salah satu peserta asal Kota Denpasar, Putu Baskara Raynatta mengaku serius mengikuti lomba mewarnai ini. Sebelum turun dalam ajang lomba, dirinya melakukan latihan secara rutun, sehingga tidak gagap dalam memberi warna. Siswa kelas IV SD Tulang Ampiang ini membawa pensil, penghapus dan krayosn untuk memberi warna. “Saya juga membawa kuas untuk membersihkan bekas krayon, saputangan agar gambar tidak kotor serta tisu untuk menjaga alat krayon tidak terkena warna lain,” ucapnya.
Wlaua dewan juri sangat sulit memilih yang terbaik, namun karena ini lomba maka tetap memilih pemenang. Untu Juara 1 diraih oleh I Made Rai Wira Dharmaputra (Denpasar), Juara II diraih I Putu Gede Mahardika Pranata (Gianyar), Juara III diraih Ni Made Krisha Pradnya Sachi Mahayoni (Gianyar), serta untuk Juara Harapan I, II dan Harapan III masing-masing dirah oleh I Made Karonito (Tabanan), Putu Kayla Anindita Puriandari (Buleleng) dan Putu Bhaskara Raynatta (Denpasar) [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























