13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WikiTok vs TikTok: Mungkinkah Media Sosial Berpihak pada Akal Sehat?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, saat ini, TikTok adalah raja tanpa tandingan di dunia persilatan media sosial. Algoritmanya yang cerdas dan kontennya yang serba cepat menjadikannya magnet bagi generasi muda kita. Dari banyak ulasan dan analisa para pemerhati, memang TikTok ini agak mengkhawatirkan.
Nah, ini ada kabar yang meski agak mengherankan, namun bagaimana pun tetap menggembirakan. Jadi baru-baru ini muncul gagasan baru bernama WikiTok, yang dalam bayangan idealnya ingin menjadi alternatif yang lebih sehat, lebih berisi, dan lebih berpihak pada edukasi.

Asyik juga sebenarnya. Boleh kita bertanya-tanya, apakah WikiTok ini nanti, benar-benar bisa menjadi harapan baru? Atau justru ia akan berakhir sebagai proyek utopis yang gagal memahami realitas generasi digital?

Kenikmatan Instan TikTok, Ketergantungan Tak Terbantahkan

Fenomena medsos TikTok ini hebat. Platfom ini sukses karena ia memahami psikologi manusia lebih baik dari kita sendiri. Dengan video pendek yang terus diproduksi dan dikonsumsi tanpa henti, TikTok menciptakan dopamine loop yaitu sebuah mekanisme otak yang membuat kita terus ingin “sedikit lagi”.  Begitu terus tak henti-henti.

 Akibatnya, pengguna fanatik TikTok terjebak dalam konsumsi pasif, menikmati aliran informasi yangn diberikan tanpa benar-benar berpikir, atau memang tidak punya kesempatan berpikir. TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan; ia adalah mesin manipulasi pikiran dan penggerus waktu yang sangat efektif.

Kaitannya dengan ini yang perlu kita perhatikan adalah pendapat Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows (2010). Dia pernah memperingatkan bahwa internet, dengan cara kerjanya yang serba cepat, bisa menurunkan kemampuan kita untuk berpikir mendalam. Sama saja dengan membuat kita berpikir dangkal.

Nah, TikTok adalah puncak dari fenomena ini. Dengan rentang perhatian yang semakin pendek, generasi muda lebih tertarik pada hal yang instan, ringan, dan menghibur, dibanding sesuatu yang memerlukan usaha kognitif lebih besar. Dalam konteks ini, gagasan tentang WikiTok yang lebih edukatif, kok rasa-rasanya terdengar seperti mimpi yang terlalu muluk.

WikiTok: Bisakah Kita Menyulap Edukasi Jadi Menarik?

Gagasan WikiTok ini memang berangkat dari keresahan bahwa media sosial saat ini lebih banyak merugikan akal sehat ketimbang membantunya berkembang. Jika menengok Wikipedia adalah ensiklopedia daring berbasis teks, maka WikiTok ingin menjadi media sosial berbasis video pendek yang informatif dan berbobot. Gagasan yang cukup mulia saya rasa. Masalahnya, apakah ini bisa menarik bagi anak muda yang sudah terbiasa dengan kepuasan instan ala TikTok?

Secara filosofis, proyek semacam WikiTok sejalan dengan pemikiran filsuf seperti Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan sekadar mengisi kepala mereka dengan informasi pasif. Tapi mari kita bermain jujur-jujuran saja, bagaimana cara kita menyajikan “pembebasan intelektual” dalam format yang cukup menggoda agar anak-anak muda rela meninggalkan TikTok? Susah loh, itu.

Bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan, pastilah menghela nafas. Kita kembali lagi menghadapi dilema klasik, apakah kita harus membuat edukasi jadi lebih “menghibur”, ataukah kita mengharapkan generasi muda secara ajaib menyukai sesuatu yang lebih serius?

Nah, itulah mengapa ada kata menyulap di atas. Dalam dunia di mana anak-anak lebih suka menonton video tentang prank dibanding sejarah peradaban manusia, harapan agar mereka berbondong-bondong ke WikiTok berasa seperti bermain judi online yang rasa-rasanya sudah jelas pasti kalah.

Boleh saja lontaran ini dianggap pesimis dan membuat kita merasa bagai menegakkan benang basah. Pesimisme ini bukannya tanpa alasan. Kita kembali ke pemikiran Jean Baudrillard, dalam konsep Simulacra and Simulation (1981), dia berbicara tentang bagaimana masyarakat modern semakin terjebak dalam dunia yang penuh dengan citra semu (hyperreality).

TikTok,celakanya adalah contoh nyata dari ini. Di dalamnya, kehidupan menjadi sekadar estetika, bukan lagi pengalaman nyata. Anak muda tidak hanya mengkonsumsi media sosial, tetapi juga menciptakan realitas baru yang mereka yakini sebagai kebenaran.  Wajar jika dalam konteks ini, upaya seperti WikiTok menjadi semakin sulit. Jika anak-anak muda sudah merasa nyaman mengapung dalam dunia hiperrealitas TikTok, mengapa mereka harus pindah ke sesuatu yang lebih membumi dan sarat dengan bobot edukasi?

Peran Orang Tua dan Guru Masihkah Bisa Diharapkan?

Banyak yang mencoba optimis dengan berargumen bahwa peran orang tua dan guru masih bisa menyelamatkan keadaan. Namun, mari kita realistis: banyak orang tua bahkan lebih kecanduan media sosial dibanding anak-anak mereka sendiri. Mereka sendiri banyak yang tak memahami bagaimana algoritma bekerja, apalagi mengajarkan anak-anak mereka cara menggunakan media sosial dengan sehat.

Di sisi lain, sekolah juga belum cukup serius atau sudah serius tapi belum lihai dalam membangun literasi digital. Pendidikan kita masih terpaku pada konsep lama: menghafal, mengerjakan soal, dan mengejar nilai. Padahal, tantangan abad ini adalah bagaimana memahami informasi dengan kritis.

Jika sekolah gagal memberikan alat berpikir kritis kepada siswa, bagaimana mungkin juga mereka bisa membedakan mana konten yang bernilai dan mana yang hanya clikbait? Jadi, apakah orang tua dan guru bisa menjadi benteng pertahanan? Bisa saja. Tapi hanya jika mereka sendiri melek digital dan paham bagaimana media sosial bekerja.

Apa pun itu, jika WikiTok ingin menjadi alternatif yang berhasil, ia harus memahami realitas psikologi generasi muda. Beberapa strategi bisa dilakukan. Yang pertama tentu format yang menarik, bukan sekadar “bermutu”, karena edukasi tidak harus membosankan. Jika WikiTok ingin sukses, ia harus tetap menyajikan informasi dalam format video pendek, tetapi dengan storytelling yang menggugah rasa ingin tahu, bukan sekadar menyodorkan fakta secara kaku.

Selanjutnya adalah gamifikasi dan interaksi sosial. Kita lihat TikTok berhasil karena ia memberikan sensasi keterlibatan yang tinggi. Jika WikiTok ingin menyaingi itu, ia harus menemukan cara agar pengguna tetap merasa terlibat dan dihargai.

Strategi lain adalah kolaborasi dengan influencer, karena suka atau tidak suka, generasi muda lebih mendengar influencer dibanding dosen atau guru. Jika ada figur publik yang bisa menyampaikan edukasi dengan cara yang menarik, itu bisa menjadi jalan masuk bagi WikiTok. Namun catatan pentingnya adalah jika ada.

Yang terakhir tentu saja adalah mengedukasi orang tua dan guru. Titik kuncinya tentu adalah literasi digital. Agar perubahan terjadi, literasi digital harus diajarkan tidak hanya kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua dan pendidik. Mereka harus memahami bagaimana algoritma bekerja, dengan demikian baru bisa membimbing generasi muda kita dalam menggunakan media sosial secara sehat.

Harapan atau Ilusi?

WikiTok bisa menjadi harapan, tetapi hanya jika ia memakai strategi yang benar-benar bisa bekerja. Jika ia sekadar menjadi “Wikipedia dalam bentuk video pendek” tanpa strategi yang kuat, maka ia hanya akan menjadi proyek gagal yang tidak mampu bersaing dengan TikTok yang menggoda.

Di sisi lain, menyerah bukanlah pilihan. Jelas itu suatu olok-olok bagi nilai kemanusiaan kita.  Jika kita tidak mencoba secara kritis dan mandiri melawan dominasi algoritma yang mengeksploitasi kebiasaan dan kecenderungan kita, maka kita hanya akan menjadi generasi yang tenggelam, menjadi bulan-bulanan simulasi tanpa akhir.

WikiTok mungkin bukan jawaban yang sempurna, tetapi setidaknya ia membuka ruang refleksi kita bersama: mungkinkah media sosial berpihak pada akal sehat? Saya yakin jawabannya tergantung pada saya dan Anda, para pembaca yang budiman. Apakah kita hanya puas dan rela menjadi konsumen pasif, atau mau mulai berpikir tentang bagaimana masa depan informasi seharusnya dibentuk. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Awas Zombie Medsos!
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital

Tags: media sosialtiktokwikitok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fakta-fakta Unik tentang Lovina Festival yang Masuk dalam Karisma Event Nusantara 2025

Next Post

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co