2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WikiTok vs TikTok: Mungkinkah Media Sosial Berpihak pada Akal Sehat?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, saat ini, TikTok adalah raja tanpa tandingan di dunia persilatan media sosial. Algoritmanya yang cerdas dan kontennya yang serba cepat menjadikannya magnet bagi generasi muda kita. Dari banyak ulasan dan analisa para pemerhati, memang TikTok ini agak mengkhawatirkan.
Nah, ini ada kabar yang meski agak mengherankan, namun bagaimana pun tetap menggembirakan. Jadi baru-baru ini muncul gagasan baru bernama WikiTok, yang dalam bayangan idealnya ingin menjadi alternatif yang lebih sehat, lebih berisi, dan lebih berpihak pada edukasi.

Asyik juga sebenarnya. Boleh kita bertanya-tanya, apakah WikiTok ini nanti, benar-benar bisa menjadi harapan baru? Atau justru ia akan berakhir sebagai proyek utopis yang gagal memahami realitas generasi digital?

Kenikmatan Instan TikTok, Ketergantungan Tak Terbantahkan

Fenomena medsos TikTok ini hebat. Platfom ini sukses karena ia memahami psikologi manusia lebih baik dari kita sendiri. Dengan video pendek yang terus diproduksi dan dikonsumsi tanpa henti, TikTok menciptakan dopamine loop yaitu sebuah mekanisme otak yang membuat kita terus ingin “sedikit lagi”.  Begitu terus tak henti-henti.

 Akibatnya, pengguna fanatik TikTok terjebak dalam konsumsi pasif, menikmati aliran informasi yangn diberikan tanpa benar-benar berpikir, atau memang tidak punya kesempatan berpikir. TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan; ia adalah mesin manipulasi pikiran dan penggerus waktu yang sangat efektif.

Kaitannya dengan ini yang perlu kita perhatikan adalah pendapat Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows (2010). Dia pernah memperingatkan bahwa internet, dengan cara kerjanya yang serba cepat, bisa menurunkan kemampuan kita untuk berpikir mendalam. Sama saja dengan membuat kita berpikir dangkal.

Nah, TikTok adalah puncak dari fenomena ini. Dengan rentang perhatian yang semakin pendek, generasi muda lebih tertarik pada hal yang instan, ringan, dan menghibur, dibanding sesuatu yang memerlukan usaha kognitif lebih besar. Dalam konteks ini, gagasan tentang WikiTok yang lebih edukatif, kok rasa-rasanya terdengar seperti mimpi yang terlalu muluk.

WikiTok: Bisakah Kita Menyulap Edukasi Jadi Menarik?

Gagasan WikiTok ini memang berangkat dari keresahan bahwa media sosial saat ini lebih banyak merugikan akal sehat ketimbang membantunya berkembang. Jika menengok Wikipedia adalah ensiklopedia daring berbasis teks, maka WikiTok ingin menjadi media sosial berbasis video pendek yang informatif dan berbobot. Gagasan yang cukup mulia saya rasa. Masalahnya, apakah ini bisa menarik bagi anak muda yang sudah terbiasa dengan kepuasan instan ala TikTok?

Secara filosofis, proyek semacam WikiTok sejalan dengan pemikiran filsuf seperti Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan sekadar mengisi kepala mereka dengan informasi pasif. Tapi mari kita bermain jujur-jujuran saja, bagaimana cara kita menyajikan “pembebasan intelektual” dalam format yang cukup menggoda agar anak-anak muda rela meninggalkan TikTok? Susah loh, itu.

Bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan, pastilah menghela nafas. Kita kembali lagi menghadapi dilema klasik, apakah kita harus membuat edukasi jadi lebih “menghibur”, ataukah kita mengharapkan generasi muda secara ajaib menyukai sesuatu yang lebih serius?

Nah, itulah mengapa ada kata menyulap di atas. Dalam dunia di mana anak-anak lebih suka menonton video tentang prank dibanding sejarah peradaban manusia, harapan agar mereka berbondong-bondong ke WikiTok berasa seperti bermain judi online yang rasa-rasanya sudah jelas pasti kalah.

Boleh saja lontaran ini dianggap pesimis dan membuat kita merasa bagai menegakkan benang basah. Pesimisme ini bukannya tanpa alasan. Kita kembali ke pemikiran Jean Baudrillard, dalam konsep Simulacra and Simulation (1981), dia berbicara tentang bagaimana masyarakat modern semakin terjebak dalam dunia yang penuh dengan citra semu (hyperreality).

TikTok,celakanya adalah contoh nyata dari ini. Di dalamnya, kehidupan menjadi sekadar estetika, bukan lagi pengalaman nyata. Anak muda tidak hanya mengkonsumsi media sosial, tetapi juga menciptakan realitas baru yang mereka yakini sebagai kebenaran.  Wajar jika dalam konteks ini, upaya seperti WikiTok menjadi semakin sulit. Jika anak-anak muda sudah merasa nyaman mengapung dalam dunia hiperrealitas TikTok, mengapa mereka harus pindah ke sesuatu yang lebih membumi dan sarat dengan bobot edukasi?

Peran Orang Tua dan Guru Masihkah Bisa Diharapkan?

Banyak yang mencoba optimis dengan berargumen bahwa peran orang tua dan guru masih bisa menyelamatkan keadaan. Namun, mari kita realistis: banyak orang tua bahkan lebih kecanduan media sosial dibanding anak-anak mereka sendiri. Mereka sendiri banyak yang tak memahami bagaimana algoritma bekerja, apalagi mengajarkan anak-anak mereka cara menggunakan media sosial dengan sehat.

Di sisi lain, sekolah juga belum cukup serius atau sudah serius tapi belum lihai dalam membangun literasi digital. Pendidikan kita masih terpaku pada konsep lama: menghafal, mengerjakan soal, dan mengejar nilai. Padahal, tantangan abad ini adalah bagaimana memahami informasi dengan kritis.

Jika sekolah gagal memberikan alat berpikir kritis kepada siswa, bagaimana mungkin juga mereka bisa membedakan mana konten yang bernilai dan mana yang hanya clikbait? Jadi, apakah orang tua dan guru bisa menjadi benteng pertahanan? Bisa saja. Tapi hanya jika mereka sendiri melek digital dan paham bagaimana media sosial bekerja.

Apa pun itu, jika WikiTok ingin menjadi alternatif yang berhasil, ia harus memahami realitas psikologi generasi muda. Beberapa strategi bisa dilakukan. Yang pertama tentu format yang menarik, bukan sekadar “bermutu”, karena edukasi tidak harus membosankan. Jika WikiTok ingin sukses, ia harus tetap menyajikan informasi dalam format video pendek, tetapi dengan storytelling yang menggugah rasa ingin tahu, bukan sekadar menyodorkan fakta secara kaku.

Selanjutnya adalah gamifikasi dan interaksi sosial. Kita lihat TikTok berhasil karena ia memberikan sensasi keterlibatan yang tinggi. Jika WikiTok ingin menyaingi itu, ia harus menemukan cara agar pengguna tetap merasa terlibat dan dihargai.

Strategi lain adalah kolaborasi dengan influencer, karena suka atau tidak suka, generasi muda lebih mendengar influencer dibanding dosen atau guru. Jika ada figur publik yang bisa menyampaikan edukasi dengan cara yang menarik, itu bisa menjadi jalan masuk bagi WikiTok. Namun catatan pentingnya adalah jika ada.

Yang terakhir tentu saja adalah mengedukasi orang tua dan guru. Titik kuncinya tentu adalah literasi digital. Agar perubahan terjadi, literasi digital harus diajarkan tidak hanya kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua dan pendidik. Mereka harus memahami bagaimana algoritma bekerja, dengan demikian baru bisa membimbing generasi muda kita dalam menggunakan media sosial secara sehat.

Harapan atau Ilusi?

WikiTok bisa menjadi harapan, tetapi hanya jika ia memakai strategi yang benar-benar bisa bekerja. Jika ia sekadar menjadi “Wikipedia dalam bentuk video pendek” tanpa strategi yang kuat, maka ia hanya akan menjadi proyek gagal yang tidak mampu bersaing dengan TikTok yang menggoda.

Di sisi lain, menyerah bukanlah pilihan. Jelas itu suatu olok-olok bagi nilai kemanusiaan kita.  Jika kita tidak mencoba secara kritis dan mandiri melawan dominasi algoritma yang mengeksploitasi kebiasaan dan kecenderungan kita, maka kita hanya akan menjadi generasi yang tenggelam, menjadi bulan-bulanan simulasi tanpa akhir.

WikiTok mungkin bukan jawaban yang sempurna, tetapi setidaknya ia membuka ruang refleksi kita bersama: mungkinkah media sosial berpihak pada akal sehat? Saya yakin jawabannya tergantung pada saya dan Anda, para pembaca yang budiman. Apakah kita hanya puas dan rela menjadi konsumen pasif, atau mau mulai berpikir tentang bagaimana masa depan informasi seharusnya dibentuk. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Awas Zombie Medsos!
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital

Tags: media sosialtiktokwikitok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fakta-fakta Unik tentang Lovina Festival yang Masuk dalam Karisma Event Nusantara 2025

Next Post

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co