23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WikiTok vs TikTok: Mungkinkah Media Sosial Berpihak pada Akal Sehat?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, saat ini, TikTok adalah raja tanpa tandingan di dunia persilatan media sosial. Algoritmanya yang cerdas dan kontennya yang serba cepat menjadikannya magnet bagi generasi muda kita. Dari banyak ulasan dan analisa para pemerhati, memang TikTok ini agak mengkhawatirkan.
Nah, ini ada kabar yang meski agak mengherankan, namun bagaimana pun tetap menggembirakan. Jadi baru-baru ini muncul gagasan baru bernama WikiTok, yang dalam bayangan idealnya ingin menjadi alternatif yang lebih sehat, lebih berisi, dan lebih berpihak pada edukasi.

Asyik juga sebenarnya. Boleh kita bertanya-tanya, apakah WikiTok ini nanti, benar-benar bisa menjadi harapan baru? Atau justru ia akan berakhir sebagai proyek utopis yang gagal memahami realitas generasi digital?

Kenikmatan Instan TikTok, Ketergantungan Tak Terbantahkan

Fenomena medsos TikTok ini hebat. Platfom ini sukses karena ia memahami psikologi manusia lebih baik dari kita sendiri. Dengan video pendek yang terus diproduksi dan dikonsumsi tanpa henti, TikTok menciptakan dopamine loop yaitu sebuah mekanisme otak yang membuat kita terus ingin “sedikit lagi”.  Begitu terus tak henti-henti.

 Akibatnya, pengguna fanatik TikTok terjebak dalam konsumsi pasif, menikmati aliran informasi yangn diberikan tanpa benar-benar berpikir, atau memang tidak punya kesempatan berpikir. TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan; ia adalah mesin manipulasi pikiran dan penggerus waktu yang sangat efektif.

Kaitannya dengan ini yang perlu kita perhatikan adalah pendapat Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows (2010). Dia pernah memperingatkan bahwa internet, dengan cara kerjanya yang serba cepat, bisa menurunkan kemampuan kita untuk berpikir mendalam. Sama saja dengan membuat kita berpikir dangkal.

Nah, TikTok adalah puncak dari fenomena ini. Dengan rentang perhatian yang semakin pendek, generasi muda lebih tertarik pada hal yang instan, ringan, dan menghibur, dibanding sesuatu yang memerlukan usaha kognitif lebih besar. Dalam konteks ini, gagasan tentang WikiTok yang lebih edukatif, kok rasa-rasanya terdengar seperti mimpi yang terlalu muluk.

WikiTok: Bisakah Kita Menyulap Edukasi Jadi Menarik?

Gagasan WikiTok ini memang berangkat dari keresahan bahwa media sosial saat ini lebih banyak merugikan akal sehat ketimbang membantunya berkembang. Jika menengok Wikipedia adalah ensiklopedia daring berbasis teks, maka WikiTok ingin menjadi media sosial berbasis video pendek yang informatif dan berbobot. Gagasan yang cukup mulia saya rasa. Masalahnya, apakah ini bisa menarik bagi anak muda yang sudah terbiasa dengan kepuasan instan ala TikTok?

Secara filosofis, proyek semacam WikiTok sejalan dengan pemikiran filsuf seperti Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan sekadar mengisi kepala mereka dengan informasi pasif. Tapi mari kita bermain jujur-jujuran saja, bagaimana cara kita menyajikan “pembebasan intelektual” dalam format yang cukup menggoda agar anak-anak muda rela meninggalkan TikTok? Susah loh, itu.

Bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan, pastilah menghela nafas. Kita kembali lagi menghadapi dilema klasik, apakah kita harus membuat edukasi jadi lebih “menghibur”, ataukah kita mengharapkan generasi muda secara ajaib menyukai sesuatu yang lebih serius?

Nah, itulah mengapa ada kata menyulap di atas. Dalam dunia di mana anak-anak lebih suka menonton video tentang prank dibanding sejarah peradaban manusia, harapan agar mereka berbondong-bondong ke WikiTok berasa seperti bermain judi online yang rasa-rasanya sudah jelas pasti kalah.

Boleh saja lontaran ini dianggap pesimis dan membuat kita merasa bagai menegakkan benang basah. Pesimisme ini bukannya tanpa alasan. Kita kembali ke pemikiran Jean Baudrillard, dalam konsep Simulacra and Simulation (1981), dia berbicara tentang bagaimana masyarakat modern semakin terjebak dalam dunia yang penuh dengan citra semu (hyperreality).

TikTok,celakanya adalah contoh nyata dari ini. Di dalamnya, kehidupan menjadi sekadar estetika, bukan lagi pengalaman nyata. Anak muda tidak hanya mengkonsumsi media sosial, tetapi juga menciptakan realitas baru yang mereka yakini sebagai kebenaran.  Wajar jika dalam konteks ini, upaya seperti WikiTok menjadi semakin sulit. Jika anak-anak muda sudah merasa nyaman mengapung dalam dunia hiperrealitas TikTok, mengapa mereka harus pindah ke sesuatu yang lebih membumi dan sarat dengan bobot edukasi?

Peran Orang Tua dan Guru Masihkah Bisa Diharapkan?

Banyak yang mencoba optimis dengan berargumen bahwa peran orang tua dan guru masih bisa menyelamatkan keadaan. Namun, mari kita realistis: banyak orang tua bahkan lebih kecanduan media sosial dibanding anak-anak mereka sendiri. Mereka sendiri banyak yang tak memahami bagaimana algoritma bekerja, apalagi mengajarkan anak-anak mereka cara menggunakan media sosial dengan sehat.

Di sisi lain, sekolah juga belum cukup serius atau sudah serius tapi belum lihai dalam membangun literasi digital. Pendidikan kita masih terpaku pada konsep lama: menghafal, mengerjakan soal, dan mengejar nilai. Padahal, tantangan abad ini adalah bagaimana memahami informasi dengan kritis.

Jika sekolah gagal memberikan alat berpikir kritis kepada siswa, bagaimana mungkin juga mereka bisa membedakan mana konten yang bernilai dan mana yang hanya clikbait? Jadi, apakah orang tua dan guru bisa menjadi benteng pertahanan? Bisa saja. Tapi hanya jika mereka sendiri melek digital dan paham bagaimana media sosial bekerja.

Apa pun itu, jika WikiTok ingin menjadi alternatif yang berhasil, ia harus memahami realitas psikologi generasi muda. Beberapa strategi bisa dilakukan. Yang pertama tentu format yang menarik, bukan sekadar “bermutu”, karena edukasi tidak harus membosankan. Jika WikiTok ingin sukses, ia harus tetap menyajikan informasi dalam format video pendek, tetapi dengan storytelling yang menggugah rasa ingin tahu, bukan sekadar menyodorkan fakta secara kaku.

Selanjutnya adalah gamifikasi dan interaksi sosial. Kita lihat TikTok berhasil karena ia memberikan sensasi keterlibatan yang tinggi. Jika WikiTok ingin menyaingi itu, ia harus menemukan cara agar pengguna tetap merasa terlibat dan dihargai.

Strategi lain adalah kolaborasi dengan influencer, karena suka atau tidak suka, generasi muda lebih mendengar influencer dibanding dosen atau guru. Jika ada figur publik yang bisa menyampaikan edukasi dengan cara yang menarik, itu bisa menjadi jalan masuk bagi WikiTok. Namun catatan pentingnya adalah jika ada.

Yang terakhir tentu saja adalah mengedukasi orang tua dan guru. Titik kuncinya tentu adalah literasi digital. Agar perubahan terjadi, literasi digital harus diajarkan tidak hanya kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua dan pendidik. Mereka harus memahami bagaimana algoritma bekerja, dengan demikian baru bisa membimbing generasi muda kita dalam menggunakan media sosial secara sehat.

Harapan atau Ilusi?

WikiTok bisa menjadi harapan, tetapi hanya jika ia memakai strategi yang benar-benar bisa bekerja. Jika ia sekadar menjadi “Wikipedia dalam bentuk video pendek” tanpa strategi yang kuat, maka ia hanya akan menjadi proyek gagal yang tidak mampu bersaing dengan TikTok yang menggoda.

Di sisi lain, menyerah bukanlah pilihan. Jelas itu suatu olok-olok bagi nilai kemanusiaan kita.  Jika kita tidak mencoba secara kritis dan mandiri melawan dominasi algoritma yang mengeksploitasi kebiasaan dan kecenderungan kita, maka kita hanya akan menjadi generasi yang tenggelam, menjadi bulan-bulanan simulasi tanpa akhir.

WikiTok mungkin bukan jawaban yang sempurna, tetapi setidaknya ia membuka ruang refleksi kita bersama: mungkinkah media sosial berpihak pada akal sehat? Saya yakin jawabannya tergantung pada saya dan Anda, para pembaca yang budiman. Apakah kita hanya puas dan rela menjadi konsumen pasif, atau mau mulai berpikir tentang bagaimana masa depan informasi seharusnya dibentuk. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Awas Zombie Medsos!
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital

Tags: media sosialtiktokwikitok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fakta-fakta Unik tentang Lovina Festival yang Masuk dalam Karisma Event Nusantara 2025

Next Post

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Proyek Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co