22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Agent of Change” Dinamisasi Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
March 3, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

AGENT of change adalah orang atau kelompok yang menjadi pemicu terjadinya perubahan, baik yang berdampak positif maupun negatif. Mereka biasanya muncul sebagai reaksi akibat  adanya tekanan situasi  atau problematika yang mengerumuni kelompoknya. 

Mereka bisa saja menjadi contoh dan inspirasi atau panutan dalam berperilaku yang mencerminkan integritas dan kinerja yang tinggi. Tetapi di sisi lain bisa saja menjadi penyebab kerusakan lingkungan atau kehancuran peradaban.

Kebermanfaatan agent of change ini tergantung dari sisi sudut pandang mana kita melihatnya. “Perubahan tidak selamanya membawa kebaikan, tetapi kebaikan pasti akan membawa perubahan yang signifikan. Seorang agen perubahan wajib mewaspadai  kalimat dan kata kunci itu”. (Asep Kurnia, Februari 2025).

Agent of change atau agen perubahan adalah istilah dalam sosiologi mengenai seseorang yang dapat memberikan perubahan di masyarakat sekitarnya. Istilah ini sangat umum di lingkungan suatu organisasi atau komunitas. Seorang agen perubahan juga diharapkan dapat menjadi pendorong atau pendukung perubahan pada organisasi atau lingkungan masyarakat tersebut untuk kemajuan mereka.

Artinya agen perubahan cenderung datang, muncul, dan tercipta dari personal di internal kelompok yang berupaya mewujudkan perubahan positif di lingkungan masyarakatnya dan berpikir tentang bagaimana menciptakan kemajuan dan kebermartabatan agar dapat mengimbangi berbagai tantangan masa depan kelompok atau kesukuannya.  Itulah tugas dan fungsi agent of change.

Oleh karenanya, untuk memperkuat dan memperlancar tugas serta fungsi, maka seorang agen bisa dan harus : menjadi seorang pemimpin, menumbuhkan dorongan untuk perubahan di dalam sebuah kelompok, mengenali tantangan yang dihadapi oleh kelompok dan individunya,  mempertahankan stabilitas dalam proses perubahan dan melakukan langkah konkret untuk mewujudkan perubahan. Agent of change juga harus mengupayakan agar proses perubahan yang sedang berlangsung tetap terkendali dan tidak menimbulkan ketidakstabilan yang merugikan bagi lingkungan atau individu yang terlibat.

Siapa saja yang termasuk dan contoh agent of change di masyarakat? Yah bisa dari kalangan pejabat, pemimpin, tokoh, aktivis, relawan, Chief Executive Officer (CEO), dan yang lebih banyak dari profesi guru atau pendidik. Contoh sosok agent of change kelas dunia (international) : Nelson Mandela, penghapus sistem apartheid yang berjuang untuk kesetaraan rasial dan politik serta membawa perdamaian antara ras kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan.

Martin Luther King Jr. adalah pemimpin yang terkemuka dalam gerakan hak sipil di Amerika Serikat untuk mengakhiri diskriminasi rasial dan memperjuangkan kesetaraan hak. Ada Elon Musk dan tokoh-tokoh hebat lainnya termasuk tokoh di tingkat nasional maupun lokal. Pembaca lebih tahu dan hafal bukan?  

Agent Of Change Lokal

Menjadi agen perubahan tidaklah harus idealis tinggi dengan capaian yang luas, karena prinsip pokok dan tugas utama atau fungsi intinya adalah menciptakan perubahan untuk mewujudkan hal yang positif dan bermanfaat bagi kemajuan masyarakat. Ruang lingkupnya menjadi ringan dan sederhana bukan?

Penunjukan atau menentukan sosok yang dipantaskan atau digelari sebagai agen pembaharu pun menjadi tidak berat dengan berbagai syarat dan prasyaratnya. Akhirnya, kepantasan penobatan sebagai agen pun bisa di lakukan oleh siapa pun dan dilevel mana pun, yang penting memiliki bukti yang konkret sebagai perwujudan kekaryaannya.

Baduy sebagai komunitas adat atau etnis yang memiliki serta menerapkan aturan hukum adat dan sangat mengikat bagi masyarakatnya juga bagi pihak luar adalah komunitas lokal yang secara faktual telah dan terus mengalami perubahan di berbagai aspek kehidupan. Baduy merupakan contoh kelompok masyarakat yang memiliki banyak figur dan sosok agent of change lokal (internal) berkriteria mumpuni serta handal. Begitu pula tentunya agen dari pihak luar Baduy yang memiliki kontribusi dalam menciptakan dan menghadirkan “dinamisasi perubahan”. Penulis memastikan itu.

Penulis sudah mendampingi Baduy sejak tahun 1995 sampai sekarang. Artinya 30 tahun membersamai mereka dan sudah melewati kebersamaan dengan 2 generasi mau melintas ke generasi 3 (incu /buyut). Pertama, generasi tua yang betul-betul orsinal, tidak terjamah oleh modernisasi; dan kedua generasi muda yang sejak lahir sudah terkontaminasi modernisasi.

Tiada hari tanpa berinteraksi dengan Baduy selama 30 tahun. Bisa pembaca bayangkan dan hitung secara matematika jika perhari di otak penulis disimpan dan tersimpan satu informasi saja, sudah ada berapa ribu informasi yang terekam di otak penulis?

Serderhananya saja sudah berapa banyak tokoh adat yang menjabat dan tokoh muda Baduy yang penulis kenali, ketahui dan pahami sepak terjang dan kontribusi mereka yang mengupayakan untuk terciptanya kesejahteraan, kemajuan masyarakat dan lingkungannya.

Nah, catatan itulah yang menginspirasi penulis untuk ikut berkontribusi  mendokumentasi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam menghadirkan dinamisasi perubahan Baduy sebelum mereka terlupakan dan dilupakan oleh putaran zaman.

Mohon dipahami, Baduy tidak membiasakan budaya tulis, mereka hanya menlanjutkan budaya lisan. Jadi jangan kaget, jika publik kesulitan mencari data tokoh-tokoh masa lalu Baduy yang berkiprah dalam kepemimpinnanya karena mereka tidak pernah menuliskan silsilah leluhurnya.  

Mereka sengaja disederhanakan daya ingatnya hanya mengenali 3 tingkatan leluhur mereka (bapak/ibu, kakek/nenek sampai boeyuet/oyot gede ), dan setelah itu mereka melupakan hingga lapuk dimakan usia. “Tapi, tahukah bahwa itu adalah strategi jitu dan cerdas agar Baduy tidak mudah untuk dikenali dan dibuka kerahasiannya” (Asep Kurnia, Februari 2025).

Ragam Agent of Change di Suku Baduy

Dalam catatan perjalanan kisah suku Baduy, sepengetahuan penulis  tidak menemukan data atau dokumen resmi yang dibuat secara khusus oleh mereka, karena segala macam cerita , rahasia, dan hukum adat mereka diturun-temurunkan secara lisan kepada keturunan terpilih. Sehingga ketika siapa pun kita ingin menelusuri tentang siapa, bagaimana, dan kapan tokoh adat yang memimpin suku Baduy di ratusan tahun silam tidak mudah untuk ditemukan biodata atau profilnya. Penulis mencoba berkali-kali menggali dengan menanyakan nama tokoh-tokoh adat yang memimpin sejak tahun 1900 Masehi ke belakang ke tokoh yang sedang menjabat,  hasilnya nyaris nihil.

Mereka hanya mengenali nama besarnya Puun Jandol, Puun Kite dan Puun Sadi  yang menjabat di sekitar tahun 1930-1970an. Betapa terbatasnya bukan? Atau memang mereka sengaja membatasi jawabannya, wallahu alam bissaawab. Nama-nama pemimpin adat sebelumnya di jajaran Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh mereka tidak fasih menjelaskan, karena mereka sepertinya tidak mengetahuinya.

Apalagi jika kita bertanya pada level masyarakat biasa, total kita tidak bisa menggalinya. Akhirnya, mohon maaf penulis berkesusahan untuk menuliskan secara lengkap tentang tokoh adat mereka yang berkompeten digelari sebagai agent of change-nya mereka.

Berdasarkan kajian dan catatan yang penulis miliki dan bisa dibuktikan keabsahannya dari tahun 1995 – sekarang, maka penulis hanya menemukan bukti atau fakta, ada beberapa sosok atau figur dari internal kesukuan mereka yang layak dibukukan sebagai bagian dari agent of change.

Mereka yang penulis maksudkan adalah ada dari kalangan tokoh adat atau pemangku adat, ada dari tokoh muda Baduy Luar dan Baduy Dalam, ada tokoh perempuannya, ada generasi muda yang khusus berkiprah di dunia olah raga dan pendidikan. Itulah ragam agent of change suku Baduy yang insyaallah akan penulis sejarahkan melalui artikel ini.

Inilah nama-nama yang menurut catatan dan kajian penulis bisa dikatagorikan sebagai agent of change-nya suku Baduy :

  1. Jaro Dainah  (Tokoh adat Jaro Pamarentah Desa Kanekes)
  2. Ayah Mursid (Tokoh Muda Baduy Dalam Cibeo)
  3. Sarpin  (Tokoh Muda Baduy Luar)
  4. Amir  (Tokoh Muda Baduy Luar)
  5. Ambu Alis  (Perempuan Khusus dari Baduy Luar)
  6. Narman  (Generasi Muda Baduy Luar).
  7. Rozak  (Generasi Muda Baduy Luar).

Tentunya masih banyak tokoh dan generasi lainnya yang berkiprah dalam memprakarsai perubahan-perubahan di suku Baduy, namun insyaallah akan dibukukan di lain waktu. Termasuk agent of change yang berasal dari luar Baduy, tetapi secara faktual ikut berkontribusi dalam dinamisasi perubahan di suku Baduy. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Next Post

Bulan Ramadhan, Kerangkeng “Nafsu Jahat” Melalui Rongga Lapar

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Ramadhan, Kerangkeng “Nafsu Jahat” Melalui Rongga Lapar

Bulan Ramadhan, Kerangkeng “Nafsu Jahat” Melalui Rongga Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co