24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mimpi Aja Dulu, Tafsir Kemudian

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
March 2, 2025
in Esai
Mimpi Aja Dulu, Tafsir Kemudian

Ilustrasi diolah dari gambar sampul buku 1000 Tafsir Mimpi

LELAKI tua berjubah putih yang pertama menatapku tajam. Sorot matanya seolah memintaku membaca lembaran-lembaran kertas yang dibawanya. Sebelumnya aku hanya terdiam membisu, seperti terhipnotis. Kemudian kuberanikan maju menuju arahnya. Diletakkannya lembaran itu di atas batu yang mirip sabak, di samping batu penanda. Telunjuk tangannya mengisyaratkanku untuk duduk di depan batu datar itu. Langkahku terhenti. Lelaki berjubah putih yang kedua menepuk pundakku. Lelaki itu berjalan memutar mengelilingiku. Tanpa sepatah kata pun terucap. Setelah tiga kali mengelilingiku, kuperhatikan tangan kanannya membuat gerakan memutar tepat di depan dadaku. Gerakan itu diulang-ulang seperti gerakan ruqyah pada umumnya. Gerakan berikutnya seperti menarik telapak tangannya menjauh-mendekat dari dadaku. Kuhitung kurang lebih tujuh kali diulang.

Lelaki berjubah putih yang kedua mempersilahkanku melangkah menuju lelaki berjubah putih yang pertama. Kemudian aku duduk, bersiap membaca lembaran yang ditunjukkan. Suasana kembali hening, lelaki itu menyuruhku mulai membaca. Tetapi aku tidak bisa membacanya. Akhirnya lelaki itu membacakannya untukku. Baris terakhir yang kudengar diulangnya tiga kali.

Dibisikkan lirih ke telinga kananku, “Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.”

Dan aku terguncang.

***

Demikian sebuah penggalan cerita pendek yang berjudul “Dua Lelaki Berserban Putih dan Seekor Naga”, cerpen yang saya tulis dan terbit di Kaltim Post (15/10/2023). Cerpen tersebut menarasikan mimpi yang dialami seorang remaja bernama Jagatsena. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan dua lelaki berserban putih yang misterius di sebuah cungkup tua yang terkesan wingit, sepi, dan bahkan sakral. Sesaat setelah bangun dari tidurnya, ia bercerita tentang mimpinya itu kepada pamannya, Rahman atau sering disebut Paman Berjanggut dan Mbah Karto, pemilik warung wedangan. Dalam obrolan itu, Paman Berjanggut dan Mbah Karto menafsirkan simbol atas ritual-ritual yang dilakukan dua lelaki berserban putih kepada Jagatsena. Mereka mengkaitkan segala hal yang dialaminya dalam mimpi dengan  tetirah yang sering dilakukannya di komplek pemakaman Mangkunegara I. Ia selalu membaca surat Yasin dan tahlil saat berziarah, hal ini ia lakukan terus-menerus setiap tujuh kali malam Jumat.

Mereka berdua mencoba menafsirkan mimpi Jagatsena dengan seksama. Di dalam tafsirnya, mereka menyampaikan bahwa sebuah perjalanan untuk membersihkan dan memurnikan jiwa diperlukan pembimbing batin. Seorang pemula belum atau sama sekali tidak memiliki keserasian dengan Allah swt. dan Rasullullah, sehingga tidak bisa tidak, ia harus mempunyai seorang pembimbing. Karena pembimbing mempunyai kesetaraan dengan pemula dari sisi kemanusiaannya, sebagaimana dua lelaki berserban putih yang ada di dalam mimpi itu ditafsirkan sebagai pembimbing batin. Keduanya mengajarkan ritual membersihkan batin dari keduniawian yang menghijab dan menundukkan keakuan dari tuhan-tuhan ego yang selama ini disembah.

Pemula bisa meraih pemahaman itu melalui  latihan rohani yang bisa mengalahkan nafsu yang menjadi sumber kegelapan. Karena pemahaman hanya dapat dicapai dengan cahaya, bukan kegelapan. Jalan menuju cahaya hanya bisa ditempuh dengan dibukakannya pengetahuan hakikat kebenaran sejati. Cahaya tidak mungkin datang ke suatu tempat, kecuali tempat itu memang dekat dan berpendar. Itulah sebabnya seorang pemula belum memiliki keselarasan dengan cahaya itu. Bisa jadi mimpi adalah pendar cahaya yang Allah swt. kirimkan ke seseorang yang hati, jiwa, dan pikirannya tenggelam di lautan keheningan terdalam. Dan sesungguhnya di balik semua itu terdapat rahasia besar yang hanya diketahui seorang ahli hikmah.

Umar Khayyam (1048-1131 M) adalah salah satu di antara ahli hikmah. Nama lengkapnya adalah Ghiyats ad-Din Abulfatah ‘Umar bin Ibrahim Khayyami an-Naisaburi. Ia mencapai pengetahuan metafisiknya dengan cara mempelajari hikmah dari berbagai sumber pada masanya dan mewariskan metode ilmiah dan sastra yang berpengaruh besar di dunia, sehingga diberi julukan “Hujjatul Haq” (pembela kebenaran). Ia sejatinya adalah seorang penyair besar dan ilmuwan muslim yang menguasai matematika, filsafat, dan astronomi.

Di dalam kata pengantar buku “Kitab Tafsir Mimpi” yang merupakan terjemahan dari kitab Ta’bir al-Manam, DR. Abdul Mun’im al-Hifni, seorang penulis dan akademisi Mesir yang bergelar doktor dalam bidang filsafat, dan sekaligus penyalin kitab tersebut, menuliskan pandangan Umar Khayyam tentang mimpi. Mimpi merupakan perekam kepribadian seseorang , sehingga tafsir mimpi bisa digunakan sebagai alat untuk menyingkap kepribadian tersebut. Jadi mimpi bisa dijadikan alat penelitian diri manusia lebih mendalam.

Dengan perhatian besarnya pada bahasa mimpi, maka tidak mengherankan jika ia selalu berbicara menggunakan simbol-simbol dalam tafsir mimpinya. Umar Khayyam merupakan salah satu ilmuwan di masa itu yang selalu melihat mimpi sebagain penegasan keberadaan ruh, karena mimpi tidak akan terjadi, kecuali saat seseorang sedang tidur. Saat kesadaran seseorang nyaris hilang sama sekali, jiwanya mengembara ke luasnya alam semesta – alam non fisik, tempat ruh-ruh menyampaikan rahasia sesuatu yang berada dalam kegaiban. Berdasarkan hal itu, Umar Khayyam menyatakan dalam syairnya:

Sebelum pasukan gelap terkalahkan
Suara gaib panggil para penyesal yang tidur
Wahai orang-orang lalai lekaslah bangun!
Reguk lalu ucapkan perpisahan pada hari-hari

Jika filsafat adalah ilmu yang mendeskripsikan sebuah jawaban tentang begitu banyak alasan, tujuan, dan maksud sebuah penciptaan, studi tentang mimpi adalah bagian dari ilmu-ilmu hikmah yang berkelindan dengan temuan tentang hakikat sesuatu. Sisi terpenting dari kitab Ta’bir al-Manam adalah perhatian besar Umar Khayyam pada hal-hal gaib, khususnya tentang kematian. Tidur menurutnya adalah “kematian kedua”. Hal ini mempunyai makna yang penting dalam hidup seseorang jika digali dengan benar. Pemikirannya mengeksplorasi jiwa manusia dengan merujuk pada mimpi-mimpinya dan menjelajahi kehidupan batinnya untuk lebih memahami perilaku, ketuhanan, tujuan hidup, dan hal yang terkait dengan akhirat. Pemikiran-pemikiran itu merupakan kajiannya pada sisi tersembunyi batiniah.

Pembahasan-pembahasan di atas merujuk pada mimpi yang dialami seseorang saat sedang tidur, seseorang yang hidup di alam mimpi, bukan di alam kehidupan dunia. Itulah kondisi kematian kecil. Sebagian filsuf mengatakan bahwa orang tidur sama sekali berbeda dari orang terjaga. Orang yang tidur terhubung dengan alam semesta, sedangkan orang yang terjaga terhubung dengan dunia ini. Lalu apakah ada definisi mengenai mimpi dan tafsirnya bagi seseorang yang terjaga? Yaitu saat seseorang merasakan dimensi waktu di mana ia berada dan dimensi waktu yang berjalan di sekitarnya. Waktu seseorang berada adalah waktu biologis, sedangkan waktu yang berjalan di dekatnya adalah waktu geografis. Ia merasakan dimensi tempat di berada.

Kita tentu mencermati tagar yang paling viral di berbagai media pada sebulan terakhir ini. #KaburAjaDulu. Ya, sebuah tagar yang bisa merepresentasikan sebuah mimpi yang ditafsirkan sebagai simbol keputusasaan warga atas kondisi ideal sosial, ekonomi, dan hukum di sekitarnya. Mimpi-mimpi itu seolah kabur begitu saja di tengah ketidakpedulian kaum elit politik terhadap kesulitan warga negara. Mereka sibuk tawar-menawar dan berbagi peran di dalam kekuasaan. Lagi-lagi ini adalah tentang harta dengan segala bentuk manifestasinya.

Seperti yang disampaikan oleh Ariel Heryanto, Profesor Emeritus dari Universitas Monash, Australia di Kompas (22/2/2025), dengan kondisi itulah sebagian warga negara – lebih tepatnya kelas menengah yang bangkit kesadaran dan kepercayaan dirinya di lingkungan global. Kelas menengah ini juga mempunyai keyakinan mampu berprestasi dengan standar internasional dan bisa memperoleh kesetaraan dalam hal kesejahteraan seperti teman-teman seprofesinya di negara-negara lain. Adapun tafsir lain atas #KaburAjaDulu adalah keberhasilan pendidikan yang diimpikan oleh warga negara tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan negara terhadap warga negaranya.

Mungkin mimpi-mimpinya itu bisa diwujudkan dengan berpindah negara, berganti kewarganegaraan. Meskipun bekerja ke negara lain tidak mudah dalam hal finansial, birokratis ataupun kultural. Jika mayorita kelas menengah tidak kabur, mungkin karena kondisi mereka yang tidak sejelek yang dialami kaum jelata. Jika tidak kabur dari negaranya, mereka bisa pasrah pada kondisi, atau berjuang memperbaiki kondisi itu. Jika dipaksa keadaan, manusia sering memperlihatkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi masalahnya. Benarkah negara memperhatikan segala bakat, dedikasi, dan segala kebutuhan untuk mewujudkan mimpi tersebut? Kita tentu akan menafsirkannya sesuai dengan perspektif masing-masing. Mimpi aja dulu tafsir kemudian. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHRIS TRIWARSENO
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa
Tags: gaya hidupmimpi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betapa Humanis Simulasi Bencana di SLB ABCD Tunas Kasih Donoharjo Kapanewon Sleman DIY

Next Post

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co