2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mimpi Aja Dulu, Tafsir Kemudian

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
March 2, 2025
in Esai
Mimpi Aja Dulu, Tafsir Kemudian

Ilustrasi diolah dari gambar sampul buku 1000 Tafsir Mimpi

LELAKI tua berjubah putih yang pertama menatapku tajam. Sorot matanya seolah memintaku membaca lembaran-lembaran kertas yang dibawanya. Sebelumnya aku hanya terdiam membisu, seperti terhipnotis. Kemudian kuberanikan maju menuju arahnya. Diletakkannya lembaran itu di atas batu yang mirip sabak, di samping batu penanda. Telunjuk tangannya mengisyaratkanku untuk duduk di depan batu datar itu. Langkahku terhenti. Lelaki berjubah putih yang kedua menepuk pundakku. Lelaki itu berjalan memutar mengelilingiku. Tanpa sepatah kata pun terucap. Setelah tiga kali mengelilingiku, kuperhatikan tangan kanannya membuat gerakan memutar tepat di depan dadaku. Gerakan itu diulang-ulang seperti gerakan ruqyah pada umumnya. Gerakan berikutnya seperti menarik telapak tangannya menjauh-mendekat dari dadaku. Kuhitung kurang lebih tujuh kali diulang.

Lelaki berjubah putih yang kedua mempersilahkanku melangkah menuju lelaki berjubah putih yang pertama. Kemudian aku duduk, bersiap membaca lembaran yang ditunjukkan. Suasana kembali hening, lelaki itu menyuruhku mulai membaca. Tetapi aku tidak bisa membacanya. Akhirnya lelaki itu membacakannya untukku. Baris terakhir yang kudengar diulangnya tiga kali.

Dibisikkan lirih ke telinga kananku, “Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.”

Dan aku terguncang.

***

Demikian sebuah penggalan cerita pendek yang berjudul “Dua Lelaki Berserban Putih dan Seekor Naga”, cerpen yang saya tulis dan terbit di Kaltim Post (15/10/2023). Cerpen tersebut menarasikan mimpi yang dialami seorang remaja bernama Jagatsena. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan dua lelaki berserban putih yang misterius di sebuah cungkup tua yang terkesan wingit, sepi, dan bahkan sakral. Sesaat setelah bangun dari tidurnya, ia bercerita tentang mimpinya itu kepada pamannya, Rahman atau sering disebut Paman Berjanggut dan Mbah Karto, pemilik warung wedangan. Dalam obrolan itu, Paman Berjanggut dan Mbah Karto menafsirkan simbol atas ritual-ritual yang dilakukan dua lelaki berserban putih kepada Jagatsena. Mereka mengkaitkan segala hal yang dialaminya dalam mimpi dengan  tetirah yang sering dilakukannya di komplek pemakaman Mangkunegara I. Ia selalu membaca surat Yasin dan tahlil saat berziarah, hal ini ia lakukan terus-menerus setiap tujuh kali malam Jumat.

Mereka berdua mencoba menafsirkan mimpi Jagatsena dengan seksama. Di dalam tafsirnya, mereka menyampaikan bahwa sebuah perjalanan untuk membersihkan dan memurnikan jiwa diperlukan pembimbing batin. Seorang pemula belum atau sama sekali tidak memiliki keserasian dengan Allah swt. dan Rasullullah, sehingga tidak bisa tidak, ia harus mempunyai seorang pembimbing. Karena pembimbing mempunyai kesetaraan dengan pemula dari sisi kemanusiaannya, sebagaimana dua lelaki berserban putih yang ada di dalam mimpi itu ditafsirkan sebagai pembimbing batin. Keduanya mengajarkan ritual membersihkan batin dari keduniawian yang menghijab dan menundukkan keakuan dari tuhan-tuhan ego yang selama ini disembah.

Pemula bisa meraih pemahaman itu melalui  latihan rohani yang bisa mengalahkan nafsu yang menjadi sumber kegelapan. Karena pemahaman hanya dapat dicapai dengan cahaya, bukan kegelapan. Jalan menuju cahaya hanya bisa ditempuh dengan dibukakannya pengetahuan hakikat kebenaran sejati. Cahaya tidak mungkin datang ke suatu tempat, kecuali tempat itu memang dekat dan berpendar. Itulah sebabnya seorang pemula belum memiliki keselarasan dengan cahaya itu. Bisa jadi mimpi adalah pendar cahaya yang Allah swt. kirimkan ke seseorang yang hati, jiwa, dan pikirannya tenggelam di lautan keheningan terdalam. Dan sesungguhnya di balik semua itu terdapat rahasia besar yang hanya diketahui seorang ahli hikmah.

Umar Khayyam (1048-1131 M) adalah salah satu di antara ahli hikmah. Nama lengkapnya adalah Ghiyats ad-Din Abulfatah ‘Umar bin Ibrahim Khayyami an-Naisaburi. Ia mencapai pengetahuan metafisiknya dengan cara mempelajari hikmah dari berbagai sumber pada masanya dan mewariskan metode ilmiah dan sastra yang berpengaruh besar di dunia, sehingga diberi julukan “Hujjatul Haq” (pembela kebenaran). Ia sejatinya adalah seorang penyair besar dan ilmuwan muslim yang menguasai matematika, filsafat, dan astronomi.

Di dalam kata pengantar buku “Kitab Tafsir Mimpi” yang merupakan terjemahan dari kitab Ta’bir al-Manam, DR. Abdul Mun’im al-Hifni, seorang penulis dan akademisi Mesir yang bergelar doktor dalam bidang filsafat, dan sekaligus penyalin kitab tersebut, menuliskan pandangan Umar Khayyam tentang mimpi. Mimpi merupakan perekam kepribadian seseorang , sehingga tafsir mimpi bisa digunakan sebagai alat untuk menyingkap kepribadian tersebut. Jadi mimpi bisa dijadikan alat penelitian diri manusia lebih mendalam.

Dengan perhatian besarnya pada bahasa mimpi, maka tidak mengherankan jika ia selalu berbicara menggunakan simbol-simbol dalam tafsir mimpinya. Umar Khayyam merupakan salah satu ilmuwan di masa itu yang selalu melihat mimpi sebagain penegasan keberadaan ruh, karena mimpi tidak akan terjadi, kecuali saat seseorang sedang tidur. Saat kesadaran seseorang nyaris hilang sama sekali, jiwanya mengembara ke luasnya alam semesta – alam non fisik, tempat ruh-ruh menyampaikan rahasia sesuatu yang berada dalam kegaiban. Berdasarkan hal itu, Umar Khayyam menyatakan dalam syairnya:

Sebelum pasukan gelap terkalahkan
Suara gaib panggil para penyesal yang tidur
Wahai orang-orang lalai lekaslah bangun!
Reguk lalu ucapkan perpisahan pada hari-hari

Jika filsafat adalah ilmu yang mendeskripsikan sebuah jawaban tentang begitu banyak alasan, tujuan, dan maksud sebuah penciptaan, studi tentang mimpi adalah bagian dari ilmu-ilmu hikmah yang berkelindan dengan temuan tentang hakikat sesuatu. Sisi terpenting dari kitab Ta’bir al-Manam adalah perhatian besar Umar Khayyam pada hal-hal gaib, khususnya tentang kematian. Tidur menurutnya adalah “kematian kedua”. Hal ini mempunyai makna yang penting dalam hidup seseorang jika digali dengan benar. Pemikirannya mengeksplorasi jiwa manusia dengan merujuk pada mimpi-mimpinya dan menjelajahi kehidupan batinnya untuk lebih memahami perilaku, ketuhanan, tujuan hidup, dan hal yang terkait dengan akhirat. Pemikiran-pemikiran itu merupakan kajiannya pada sisi tersembunyi batiniah.

Pembahasan-pembahasan di atas merujuk pada mimpi yang dialami seseorang saat sedang tidur, seseorang yang hidup di alam mimpi, bukan di alam kehidupan dunia. Itulah kondisi kematian kecil. Sebagian filsuf mengatakan bahwa orang tidur sama sekali berbeda dari orang terjaga. Orang yang tidur terhubung dengan alam semesta, sedangkan orang yang terjaga terhubung dengan dunia ini. Lalu apakah ada definisi mengenai mimpi dan tafsirnya bagi seseorang yang terjaga? Yaitu saat seseorang merasakan dimensi waktu di mana ia berada dan dimensi waktu yang berjalan di sekitarnya. Waktu seseorang berada adalah waktu biologis, sedangkan waktu yang berjalan di dekatnya adalah waktu geografis. Ia merasakan dimensi tempat di berada.

Kita tentu mencermati tagar yang paling viral di berbagai media pada sebulan terakhir ini. #KaburAjaDulu. Ya, sebuah tagar yang bisa merepresentasikan sebuah mimpi yang ditafsirkan sebagai simbol keputusasaan warga atas kondisi ideal sosial, ekonomi, dan hukum di sekitarnya. Mimpi-mimpi itu seolah kabur begitu saja di tengah ketidakpedulian kaum elit politik terhadap kesulitan warga negara. Mereka sibuk tawar-menawar dan berbagi peran di dalam kekuasaan. Lagi-lagi ini adalah tentang harta dengan segala bentuk manifestasinya.

Seperti yang disampaikan oleh Ariel Heryanto, Profesor Emeritus dari Universitas Monash, Australia di Kompas (22/2/2025), dengan kondisi itulah sebagian warga negara – lebih tepatnya kelas menengah yang bangkit kesadaran dan kepercayaan dirinya di lingkungan global. Kelas menengah ini juga mempunyai keyakinan mampu berprestasi dengan standar internasional dan bisa memperoleh kesetaraan dalam hal kesejahteraan seperti teman-teman seprofesinya di negara-negara lain. Adapun tafsir lain atas #KaburAjaDulu adalah keberhasilan pendidikan yang diimpikan oleh warga negara tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan negara terhadap warga negaranya.

Mungkin mimpi-mimpinya itu bisa diwujudkan dengan berpindah negara, berganti kewarganegaraan. Meskipun bekerja ke negara lain tidak mudah dalam hal finansial, birokratis ataupun kultural. Jika mayorita kelas menengah tidak kabur, mungkin karena kondisi mereka yang tidak sejelek yang dialami kaum jelata. Jika tidak kabur dari negaranya, mereka bisa pasrah pada kondisi, atau berjuang memperbaiki kondisi itu. Jika dipaksa keadaan, manusia sering memperlihatkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi masalahnya. Benarkah negara memperhatikan segala bakat, dedikasi, dan segala kebutuhan untuk mewujudkan mimpi tersebut? Kita tentu akan menafsirkannya sesuai dengan perspektif masing-masing. Mimpi aja dulu tafsir kemudian. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHRIS TRIWARSENO
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa
Tags: gaya hidupmimpi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betapa Humanis Simulasi Bencana di SLB ABCD Tunas Kasih Donoharjo Kapanewon Sleman DIY

Next Post

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co