12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mimpi Aja Dulu, Tafsir Kemudian

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
March 2, 2025
in Esai
Mimpi Aja Dulu, Tafsir Kemudian

Ilustrasi diolah dari gambar sampul buku 1000 Tafsir Mimpi

LELAKI tua berjubah putih yang pertama menatapku tajam. Sorot matanya seolah memintaku membaca lembaran-lembaran kertas yang dibawanya. Sebelumnya aku hanya terdiam membisu, seperti terhipnotis. Kemudian kuberanikan maju menuju arahnya. Diletakkannya lembaran itu di atas batu yang mirip sabak, di samping batu penanda. Telunjuk tangannya mengisyaratkanku untuk duduk di depan batu datar itu. Langkahku terhenti. Lelaki berjubah putih yang kedua menepuk pundakku. Lelaki itu berjalan memutar mengelilingiku. Tanpa sepatah kata pun terucap. Setelah tiga kali mengelilingiku, kuperhatikan tangan kanannya membuat gerakan memutar tepat di depan dadaku. Gerakan itu diulang-ulang seperti gerakan ruqyah pada umumnya. Gerakan berikutnya seperti menarik telapak tangannya menjauh-mendekat dari dadaku. Kuhitung kurang lebih tujuh kali diulang.

Lelaki berjubah putih yang kedua mempersilahkanku melangkah menuju lelaki berjubah putih yang pertama. Kemudian aku duduk, bersiap membaca lembaran yang ditunjukkan. Suasana kembali hening, lelaki itu menyuruhku mulai membaca. Tetapi aku tidak bisa membacanya. Akhirnya lelaki itu membacakannya untukku. Baris terakhir yang kudengar diulangnya tiga kali.

Dibisikkan lirih ke telinga kananku, “Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.”

Dan aku terguncang.

***

Demikian sebuah penggalan cerita pendek yang berjudul “Dua Lelaki Berserban Putih dan Seekor Naga”, cerpen yang saya tulis dan terbit di Kaltim Post (15/10/2023). Cerpen tersebut menarasikan mimpi yang dialami seorang remaja bernama Jagatsena. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan dua lelaki berserban putih yang misterius di sebuah cungkup tua yang terkesan wingit, sepi, dan bahkan sakral. Sesaat setelah bangun dari tidurnya, ia bercerita tentang mimpinya itu kepada pamannya, Rahman atau sering disebut Paman Berjanggut dan Mbah Karto, pemilik warung wedangan. Dalam obrolan itu, Paman Berjanggut dan Mbah Karto menafsirkan simbol atas ritual-ritual yang dilakukan dua lelaki berserban putih kepada Jagatsena. Mereka mengkaitkan segala hal yang dialaminya dalam mimpi dengan  tetirah yang sering dilakukannya di komplek pemakaman Mangkunegara I. Ia selalu membaca surat Yasin dan tahlil saat berziarah, hal ini ia lakukan terus-menerus setiap tujuh kali malam Jumat.

Mereka berdua mencoba menafsirkan mimpi Jagatsena dengan seksama. Di dalam tafsirnya, mereka menyampaikan bahwa sebuah perjalanan untuk membersihkan dan memurnikan jiwa diperlukan pembimbing batin. Seorang pemula belum atau sama sekali tidak memiliki keserasian dengan Allah swt. dan Rasullullah, sehingga tidak bisa tidak, ia harus mempunyai seorang pembimbing. Karena pembimbing mempunyai kesetaraan dengan pemula dari sisi kemanusiaannya, sebagaimana dua lelaki berserban putih yang ada di dalam mimpi itu ditafsirkan sebagai pembimbing batin. Keduanya mengajarkan ritual membersihkan batin dari keduniawian yang menghijab dan menundukkan keakuan dari tuhan-tuhan ego yang selama ini disembah.

Pemula bisa meraih pemahaman itu melalui  latihan rohani yang bisa mengalahkan nafsu yang menjadi sumber kegelapan. Karena pemahaman hanya dapat dicapai dengan cahaya, bukan kegelapan. Jalan menuju cahaya hanya bisa ditempuh dengan dibukakannya pengetahuan hakikat kebenaran sejati. Cahaya tidak mungkin datang ke suatu tempat, kecuali tempat itu memang dekat dan berpendar. Itulah sebabnya seorang pemula belum memiliki keselarasan dengan cahaya itu. Bisa jadi mimpi adalah pendar cahaya yang Allah swt. kirimkan ke seseorang yang hati, jiwa, dan pikirannya tenggelam di lautan keheningan terdalam. Dan sesungguhnya di balik semua itu terdapat rahasia besar yang hanya diketahui seorang ahli hikmah.

Umar Khayyam (1048-1131 M) adalah salah satu di antara ahli hikmah. Nama lengkapnya adalah Ghiyats ad-Din Abulfatah ‘Umar bin Ibrahim Khayyami an-Naisaburi. Ia mencapai pengetahuan metafisiknya dengan cara mempelajari hikmah dari berbagai sumber pada masanya dan mewariskan metode ilmiah dan sastra yang berpengaruh besar di dunia, sehingga diberi julukan “Hujjatul Haq” (pembela kebenaran). Ia sejatinya adalah seorang penyair besar dan ilmuwan muslim yang menguasai matematika, filsafat, dan astronomi.

Di dalam kata pengantar buku “Kitab Tafsir Mimpi” yang merupakan terjemahan dari kitab Ta’bir al-Manam, DR. Abdul Mun’im al-Hifni, seorang penulis dan akademisi Mesir yang bergelar doktor dalam bidang filsafat, dan sekaligus penyalin kitab tersebut, menuliskan pandangan Umar Khayyam tentang mimpi. Mimpi merupakan perekam kepribadian seseorang , sehingga tafsir mimpi bisa digunakan sebagai alat untuk menyingkap kepribadian tersebut. Jadi mimpi bisa dijadikan alat penelitian diri manusia lebih mendalam.

Dengan perhatian besarnya pada bahasa mimpi, maka tidak mengherankan jika ia selalu berbicara menggunakan simbol-simbol dalam tafsir mimpinya. Umar Khayyam merupakan salah satu ilmuwan di masa itu yang selalu melihat mimpi sebagain penegasan keberadaan ruh, karena mimpi tidak akan terjadi, kecuali saat seseorang sedang tidur. Saat kesadaran seseorang nyaris hilang sama sekali, jiwanya mengembara ke luasnya alam semesta – alam non fisik, tempat ruh-ruh menyampaikan rahasia sesuatu yang berada dalam kegaiban. Berdasarkan hal itu, Umar Khayyam menyatakan dalam syairnya:

Sebelum pasukan gelap terkalahkan
Suara gaib panggil para penyesal yang tidur
Wahai orang-orang lalai lekaslah bangun!
Reguk lalu ucapkan perpisahan pada hari-hari

Jika filsafat adalah ilmu yang mendeskripsikan sebuah jawaban tentang begitu banyak alasan, tujuan, dan maksud sebuah penciptaan, studi tentang mimpi adalah bagian dari ilmu-ilmu hikmah yang berkelindan dengan temuan tentang hakikat sesuatu. Sisi terpenting dari kitab Ta’bir al-Manam adalah perhatian besar Umar Khayyam pada hal-hal gaib, khususnya tentang kematian. Tidur menurutnya adalah “kematian kedua”. Hal ini mempunyai makna yang penting dalam hidup seseorang jika digali dengan benar. Pemikirannya mengeksplorasi jiwa manusia dengan merujuk pada mimpi-mimpinya dan menjelajahi kehidupan batinnya untuk lebih memahami perilaku, ketuhanan, tujuan hidup, dan hal yang terkait dengan akhirat. Pemikiran-pemikiran itu merupakan kajiannya pada sisi tersembunyi batiniah.

Pembahasan-pembahasan di atas merujuk pada mimpi yang dialami seseorang saat sedang tidur, seseorang yang hidup di alam mimpi, bukan di alam kehidupan dunia. Itulah kondisi kematian kecil. Sebagian filsuf mengatakan bahwa orang tidur sama sekali berbeda dari orang terjaga. Orang yang tidur terhubung dengan alam semesta, sedangkan orang yang terjaga terhubung dengan dunia ini. Lalu apakah ada definisi mengenai mimpi dan tafsirnya bagi seseorang yang terjaga? Yaitu saat seseorang merasakan dimensi waktu di mana ia berada dan dimensi waktu yang berjalan di sekitarnya. Waktu seseorang berada adalah waktu biologis, sedangkan waktu yang berjalan di dekatnya adalah waktu geografis. Ia merasakan dimensi tempat di berada.

Kita tentu mencermati tagar yang paling viral di berbagai media pada sebulan terakhir ini. #KaburAjaDulu. Ya, sebuah tagar yang bisa merepresentasikan sebuah mimpi yang ditafsirkan sebagai simbol keputusasaan warga atas kondisi ideal sosial, ekonomi, dan hukum di sekitarnya. Mimpi-mimpi itu seolah kabur begitu saja di tengah ketidakpedulian kaum elit politik terhadap kesulitan warga negara. Mereka sibuk tawar-menawar dan berbagi peran di dalam kekuasaan. Lagi-lagi ini adalah tentang harta dengan segala bentuk manifestasinya.

Seperti yang disampaikan oleh Ariel Heryanto, Profesor Emeritus dari Universitas Monash, Australia di Kompas (22/2/2025), dengan kondisi itulah sebagian warga negara – lebih tepatnya kelas menengah yang bangkit kesadaran dan kepercayaan dirinya di lingkungan global. Kelas menengah ini juga mempunyai keyakinan mampu berprestasi dengan standar internasional dan bisa memperoleh kesetaraan dalam hal kesejahteraan seperti teman-teman seprofesinya di negara-negara lain. Adapun tafsir lain atas #KaburAjaDulu adalah keberhasilan pendidikan yang diimpikan oleh warga negara tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan negara terhadap warga negaranya.

Mungkin mimpi-mimpinya itu bisa diwujudkan dengan berpindah negara, berganti kewarganegaraan. Meskipun bekerja ke negara lain tidak mudah dalam hal finansial, birokratis ataupun kultural. Jika mayorita kelas menengah tidak kabur, mungkin karena kondisi mereka yang tidak sejelek yang dialami kaum jelata. Jika tidak kabur dari negaranya, mereka bisa pasrah pada kondisi, atau berjuang memperbaiki kondisi itu. Jika dipaksa keadaan, manusia sering memperlihatkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi masalahnya. Benarkah negara memperhatikan segala bakat, dedikasi, dan segala kebutuhan untuk mewujudkan mimpi tersebut? Kita tentu akan menafsirkannya sesuai dengan perspektif masing-masing. Mimpi aja dulu tafsir kemudian. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHRIS TRIWARSENO
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa
Tags: gaya hidupmimpi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betapa Humanis Simulasi Bencana di SLB ABCD Tunas Kasih Donoharjo Kapanewon Sleman DIY

Next Post

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co