2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moral Outrage & Social Contagion: Mental Lapar Pejabat Korup dan Eksodus Publik dari Pertamina

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
February 28, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Kepercayaan itu seperti bensin. Sekali tercampur kotoran, mesin bisa mogok selamanya.”—Geofakta Razali

ADA yang lebih rakus dari orang kelaparan: pejabat korup dengan mental yang tak pernah kenyang. Saat masyarakat sibuk memikirkan cara bertahan hidup di tengah harga yang semakin mencekik, mereka yang sudah punya segalanya justru sibuk merancang cara untuk mengambil lebih banyak lagi. Gaji, tunjangan, fasilitas negara—semua itu ternyata belum cukup. Mereka tetap lapar, haus akan kekayaan yang bukan haknya.

Kasus dugaan korupsi minyak mentah Pertamina yang mencuat baru-baru ini adalah contoh sempurna dari kerakusan yang tak berbatas. Ratusan triliun rupiah diduga lenyap di tangan segelintir orang yang berpikir mereka bisa lolos dari pengawasan. Yang paling menyakitkan? Korupsi ini terjadi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Masyarakat yang selama ini percaya bahwa Pertamax adalah pilihan terbaik—lebih berkualitas, lebih awet untuk mesin, lebih nasionalis karena mendukung BUMN—tiba-tiba harus menelan kenyataan pahit.

Publik tidak hanya kecewa, mereka marah. Mereka merasa telah membayar lebih mahal untuk sesuatu yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Ini bukan sekadar soal uang, ini soal kepercayaan yang dikhianati.

Maka, tak heran jika efek domino mulai terjadi. Antrean Pertamax mulai sepi. Orang-orang berbondong-bondong pindah ke BBM non-Pertamina. Di media sosial, kemarahan semakin meluas, memperkuat narasi bahwa Pertamina sudah tidak bisa dipercaya.

Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai moral outrage—kemarahan moral yang muncul ketika publik merasa ada ketidakadilan yang sangat besar. Mereka bukan hanya marah karena merasa dirugikan, tetapi juga karena merasa ada prinsip moral yang telah dilanggar.

Dan seperti api yang ditiup angin, kemarahan ini menyebar dengan cepat. Inilah fenomena social contagion, ketika emosi dan tindakan menyebar melalui lingkungan sosial. Satu orang berbagi pengalaman buruk di Twitter, ribuan orang lainnya ikut merespons, membagikan pengalaman serupa, dan pada akhirnya membuat gelombang opini publik yang tak terbendung.

Siklus ini menciptakan efek nyata di dunia fisik. Orang-orang mulai meninggalkan Pertamax dan mencari alternatif lain. Mereka rela membayar lebih mahal di SPBU lain, bukan hanya karena mereka yakin kualitasnya lebih baik, tetapi karena mereka ingin merasa aman. Tidak ada yang mau mengisi tangki mereka dengan sesuatu yang penuh ketidakpastian.

Bagi mereka yang selama ini setia menggunakan Pertamax, kasus ini menimbulkan konflik batin. Mereka mengalami cognitive dissonance, atau ketidaknyamanan psikologis akibat bentroknya dua keyakinan yang bertolak belakang.

Selama bertahun-tahun, mereka percaya bahwa Pertamax adalah pilihan paling masuk akal. Tapi setelah kasus ini mencuat, kepercayaan itu mulai goyah. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah tertipu selama ini? Apakah BBM yang saya gunakan benar-benar berkualitas? Jika saya tetap menggunakan Pertamax, apakah saya sedang mendukung sistem yang korup?

Otak manusia tidak suka berada dalam kondisi yang kontradiktif seperti ini. Maka, ada tiga kemungkinan respons: tetap menggunakan Pertamax dengan perasaan ragu, mencari pembenaran bahwa semua BBM sama saja, atau—pilihan yang paling banyak diambil—mengubah perilaku dengan beralih ke BBM lain.

Dalam situasi seperti ini, tak ada yang lebih penting dari kepercayaan publik. Dan sayangnya, kepercayaan adalah sesuatu yang paling sulit untuk dikembalikan.

Namun, di balik hiruk-pikuk boikot dan eksodus massal dari Pertamina, ada satu pertanyaan besar yang harus kita pikirkan: apakah berpindah ke BBM lain benar-benar solusi jangka panjang, atau hanya bentuk pelarian emosional sesaat? Kita sudah sering melihat bagaimana isu korupsi meledak, memicu kemarahan, lalu akhirnya tenggelam begitu saja tanpa ada perubahan struktural yang berarti. Jika ini hanya berakhir sebagai siklus berulang, maka masyarakat sekadar berpindah tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.

Lebih jauh lagi, fenomena moral outrage & social contagion ini menyoroti satu realitas pahit: seberapa rapuh kepercayaan kita terhadap institusi negara. Hari ini Pertamina, besok siapa? Fenomena ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi memiliki toleransi terhadap skandal semacam ini, tapi juga membuka pertanyaan yang lebih luas: seberapa dalam sistem korupsi ini tertanam, dan apakah ada sektor lain yang sedang menunggu giliran untuk terbongkar? Jika kepercayaan terhadap BUMN saja bisa runtuh secepat ini, bagaimana dengan sektor lain yang lebih tertutup?

Pada akhirnya, masalah ini lebih besar dari sekadar boikot atau migrasi BBM. Yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan terhadap Pertamina, tetapi kepercayaan terhadap sistem itu sendiri. Jika kita benar-benar ingin perubahan, maka moral outrage ini tidak boleh berhenti pada sekadar kemarahan sesaat. Harus ada dorongan untuk transparansi, reformasi yang nyata, dan akuntabilitas yang serius. Jika tidak, kita akan terus berada dalam siklus yang sama—marah, berpindah, lalu kembali lagi ketika lupa. Saat ini, banyak orang sudah memilih untuk move on. Tapi pertanyaannya, apakah kita hanya ingin lari dari masalah, atau benar-benar menuntut perubahan?[T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Jaswanto

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Korupsikoruptormoral outragePertaminaPsikologisocial contagion
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Next Post

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co