14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moral Outrage & Social Contagion: Mental Lapar Pejabat Korup dan Eksodus Publik dari Pertamina

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
February 28, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Kepercayaan itu seperti bensin. Sekali tercampur kotoran, mesin bisa mogok selamanya.”—Geofakta Razali

ADA yang lebih rakus dari orang kelaparan: pejabat korup dengan mental yang tak pernah kenyang. Saat masyarakat sibuk memikirkan cara bertahan hidup di tengah harga yang semakin mencekik, mereka yang sudah punya segalanya justru sibuk merancang cara untuk mengambil lebih banyak lagi. Gaji, tunjangan, fasilitas negara—semua itu ternyata belum cukup. Mereka tetap lapar, haus akan kekayaan yang bukan haknya.

Kasus dugaan korupsi minyak mentah Pertamina yang mencuat baru-baru ini adalah contoh sempurna dari kerakusan yang tak berbatas. Ratusan triliun rupiah diduga lenyap di tangan segelintir orang yang berpikir mereka bisa lolos dari pengawasan. Yang paling menyakitkan? Korupsi ini terjadi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Masyarakat yang selama ini percaya bahwa Pertamax adalah pilihan terbaik—lebih berkualitas, lebih awet untuk mesin, lebih nasionalis karena mendukung BUMN—tiba-tiba harus menelan kenyataan pahit.

Publik tidak hanya kecewa, mereka marah. Mereka merasa telah membayar lebih mahal untuk sesuatu yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Ini bukan sekadar soal uang, ini soal kepercayaan yang dikhianati.

Maka, tak heran jika efek domino mulai terjadi. Antrean Pertamax mulai sepi. Orang-orang berbondong-bondong pindah ke BBM non-Pertamina. Di media sosial, kemarahan semakin meluas, memperkuat narasi bahwa Pertamina sudah tidak bisa dipercaya.

Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai moral outrage—kemarahan moral yang muncul ketika publik merasa ada ketidakadilan yang sangat besar. Mereka bukan hanya marah karena merasa dirugikan, tetapi juga karena merasa ada prinsip moral yang telah dilanggar.

Dan seperti api yang ditiup angin, kemarahan ini menyebar dengan cepat. Inilah fenomena social contagion, ketika emosi dan tindakan menyebar melalui lingkungan sosial. Satu orang berbagi pengalaman buruk di Twitter, ribuan orang lainnya ikut merespons, membagikan pengalaman serupa, dan pada akhirnya membuat gelombang opini publik yang tak terbendung.

Siklus ini menciptakan efek nyata di dunia fisik. Orang-orang mulai meninggalkan Pertamax dan mencari alternatif lain. Mereka rela membayar lebih mahal di SPBU lain, bukan hanya karena mereka yakin kualitasnya lebih baik, tetapi karena mereka ingin merasa aman. Tidak ada yang mau mengisi tangki mereka dengan sesuatu yang penuh ketidakpastian.

Bagi mereka yang selama ini setia menggunakan Pertamax, kasus ini menimbulkan konflik batin. Mereka mengalami cognitive dissonance, atau ketidaknyamanan psikologis akibat bentroknya dua keyakinan yang bertolak belakang.

Selama bertahun-tahun, mereka percaya bahwa Pertamax adalah pilihan paling masuk akal. Tapi setelah kasus ini mencuat, kepercayaan itu mulai goyah. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah tertipu selama ini? Apakah BBM yang saya gunakan benar-benar berkualitas? Jika saya tetap menggunakan Pertamax, apakah saya sedang mendukung sistem yang korup?

Otak manusia tidak suka berada dalam kondisi yang kontradiktif seperti ini. Maka, ada tiga kemungkinan respons: tetap menggunakan Pertamax dengan perasaan ragu, mencari pembenaran bahwa semua BBM sama saja, atau—pilihan yang paling banyak diambil—mengubah perilaku dengan beralih ke BBM lain.

Dalam situasi seperti ini, tak ada yang lebih penting dari kepercayaan publik. Dan sayangnya, kepercayaan adalah sesuatu yang paling sulit untuk dikembalikan.

Namun, di balik hiruk-pikuk boikot dan eksodus massal dari Pertamina, ada satu pertanyaan besar yang harus kita pikirkan: apakah berpindah ke BBM lain benar-benar solusi jangka panjang, atau hanya bentuk pelarian emosional sesaat? Kita sudah sering melihat bagaimana isu korupsi meledak, memicu kemarahan, lalu akhirnya tenggelam begitu saja tanpa ada perubahan struktural yang berarti. Jika ini hanya berakhir sebagai siklus berulang, maka masyarakat sekadar berpindah tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.

Lebih jauh lagi, fenomena moral outrage & social contagion ini menyoroti satu realitas pahit: seberapa rapuh kepercayaan kita terhadap institusi negara. Hari ini Pertamina, besok siapa? Fenomena ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi memiliki toleransi terhadap skandal semacam ini, tapi juga membuka pertanyaan yang lebih luas: seberapa dalam sistem korupsi ini tertanam, dan apakah ada sektor lain yang sedang menunggu giliran untuk terbongkar? Jika kepercayaan terhadap BUMN saja bisa runtuh secepat ini, bagaimana dengan sektor lain yang lebih tertutup?

Pada akhirnya, masalah ini lebih besar dari sekadar boikot atau migrasi BBM. Yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan terhadap Pertamina, tetapi kepercayaan terhadap sistem itu sendiri. Jika kita benar-benar ingin perubahan, maka moral outrage ini tidak boleh berhenti pada sekadar kemarahan sesaat. Harus ada dorongan untuk transparansi, reformasi yang nyata, dan akuntabilitas yang serius. Jika tidak, kita akan terus berada dalam siklus yang sama—marah, berpindah, lalu kembali lagi ketika lupa. Saat ini, banyak orang sudah memilih untuk move on. Tapi pertanyaannya, apakah kita hanya ingin lari dari masalah, atau benar-benar menuntut perubahan?[T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Jaswanto

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Korupsikoruptormoral outragePertaminaPsikologisocial contagion
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Next Post

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co