23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moral Outrage & Social Contagion: Mental Lapar Pejabat Korup dan Eksodus Publik dari Pertamina

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
February 28, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Kepercayaan itu seperti bensin. Sekali tercampur kotoran, mesin bisa mogok selamanya.”—Geofakta Razali

ADA yang lebih rakus dari orang kelaparan: pejabat korup dengan mental yang tak pernah kenyang. Saat masyarakat sibuk memikirkan cara bertahan hidup di tengah harga yang semakin mencekik, mereka yang sudah punya segalanya justru sibuk merancang cara untuk mengambil lebih banyak lagi. Gaji, tunjangan, fasilitas negara—semua itu ternyata belum cukup. Mereka tetap lapar, haus akan kekayaan yang bukan haknya.

Kasus dugaan korupsi minyak mentah Pertamina yang mencuat baru-baru ini adalah contoh sempurna dari kerakusan yang tak berbatas. Ratusan triliun rupiah diduga lenyap di tangan segelintir orang yang berpikir mereka bisa lolos dari pengawasan. Yang paling menyakitkan? Korupsi ini terjadi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Masyarakat yang selama ini percaya bahwa Pertamax adalah pilihan terbaik—lebih berkualitas, lebih awet untuk mesin, lebih nasionalis karena mendukung BUMN—tiba-tiba harus menelan kenyataan pahit.

Publik tidak hanya kecewa, mereka marah. Mereka merasa telah membayar lebih mahal untuk sesuatu yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Ini bukan sekadar soal uang, ini soal kepercayaan yang dikhianati.

Maka, tak heran jika efek domino mulai terjadi. Antrean Pertamax mulai sepi. Orang-orang berbondong-bondong pindah ke BBM non-Pertamina. Di media sosial, kemarahan semakin meluas, memperkuat narasi bahwa Pertamina sudah tidak bisa dipercaya.

Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai moral outrage—kemarahan moral yang muncul ketika publik merasa ada ketidakadilan yang sangat besar. Mereka bukan hanya marah karena merasa dirugikan, tetapi juga karena merasa ada prinsip moral yang telah dilanggar.

Dan seperti api yang ditiup angin, kemarahan ini menyebar dengan cepat. Inilah fenomena social contagion, ketika emosi dan tindakan menyebar melalui lingkungan sosial. Satu orang berbagi pengalaman buruk di Twitter, ribuan orang lainnya ikut merespons, membagikan pengalaman serupa, dan pada akhirnya membuat gelombang opini publik yang tak terbendung.

Siklus ini menciptakan efek nyata di dunia fisik. Orang-orang mulai meninggalkan Pertamax dan mencari alternatif lain. Mereka rela membayar lebih mahal di SPBU lain, bukan hanya karena mereka yakin kualitasnya lebih baik, tetapi karena mereka ingin merasa aman. Tidak ada yang mau mengisi tangki mereka dengan sesuatu yang penuh ketidakpastian.

Bagi mereka yang selama ini setia menggunakan Pertamax, kasus ini menimbulkan konflik batin. Mereka mengalami cognitive dissonance, atau ketidaknyamanan psikologis akibat bentroknya dua keyakinan yang bertolak belakang.

Selama bertahun-tahun, mereka percaya bahwa Pertamax adalah pilihan paling masuk akal. Tapi setelah kasus ini mencuat, kepercayaan itu mulai goyah. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah tertipu selama ini? Apakah BBM yang saya gunakan benar-benar berkualitas? Jika saya tetap menggunakan Pertamax, apakah saya sedang mendukung sistem yang korup?

Otak manusia tidak suka berada dalam kondisi yang kontradiktif seperti ini. Maka, ada tiga kemungkinan respons: tetap menggunakan Pertamax dengan perasaan ragu, mencari pembenaran bahwa semua BBM sama saja, atau—pilihan yang paling banyak diambil—mengubah perilaku dengan beralih ke BBM lain.

Dalam situasi seperti ini, tak ada yang lebih penting dari kepercayaan publik. Dan sayangnya, kepercayaan adalah sesuatu yang paling sulit untuk dikembalikan.

Namun, di balik hiruk-pikuk boikot dan eksodus massal dari Pertamina, ada satu pertanyaan besar yang harus kita pikirkan: apakah berpindah ke BBM lain benar-benar solusi jangka panjang, atau hanya bentuk pelarian emosional sesaat? Kita sudah sering melihat bagaimana isu korupsi meledak, memicu kemarahan, lalu akhirnya tenggelam begitu saja tanpa ada perubahan struktural yang berarti. Jika ini hanya berakhir sebagai siklus berulang, maka masyarakat sekadar berpindah tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.

Lebih jauh lagi, fenomena moral outrage & social contagion ini menyoroti satu realitas pahit: seberapa rapuh kepercayaan kita terhadap institusi negara. Hari ini Pertamina, besok siapa? Fenomena ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi memiliki toleransi terhadap skandal semacam ini, tapi juga membuka pertanyaan yang lebih luas: seberapa dalam sistem korupsi ini tertanam, dan apakah ada sektor lain yang sedang menunggu giliran untuk terbongkar? Jika kepercayaan terhadap BUMN saja bisa runtuh secepat ini, bagaimana dengan sektor lain yang lebih tertutup?

Pada akhirnya, masalah ini lebih besar dari sekadar boikot atau migrasi BBM. Yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan terhadap Pertamina, tetapi kepercayaan terhadap sistem itu sendiri. Jika kita benar-benar ingin perubahan, maka moral outrage ini tidak boleh berhenti pada sekadar kemarahan sesaat. Harus ada dorongan untuk transparansi, reformasi yang nyata, dan akuntabilitas yang serius. Jika tidak, kita akan terus berada dalam siklus yang sama—marah, berpindah, lalu kembali lagi ketika lupa. Saat ini, banyak orang sudah memilih untuk move on. Tapi pertanyaannya, apakah kita hanya ingin lari dari masalah, atau benar-benar menuntut perubahan?[T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Jaswanto

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Korupsikoruptormoral outragePertaminaPsikologisocial contagion
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Next Post

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co