24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moral Outrage & Social Contagion: Mental Lapar Pejabat Korup dan Eksodus Publik dari Pertamina

Dr. Geofakta Razali by Dr. Geofakta Razali
February 28, 2025
in Esai
Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia

Dr. Geofakta Razali

“Kepercayaan itu seperti bensin. Sekali tercampur kotoran, mesin bisa mogok selamanya.”—Geofakta Razali

ADA yang lebih rakus dari orang kelaparan: pejabat korup dengan mental yang tak pernah kenyang. Saat masyarakat sibuk memikirkan cara bertahan hidup di tengah harga yang semakin mencekik, mereka yang sudah punya segalanya justru sibuk merancang cara untuk mengambil lebih banyak lagi. Gaji, tunjangan, fasilitas negara—semua itu ternyata belum cukup. Mereka tetap lapar, haus akan kekayaan yang bukan haknya.

Kasus dugaan korupsi minyak mentah Pertamina yang mencuat baru-baru ini adalah contoh sempurna dari kerakusan yang tak berbatas. Ratusan triliun rupiah diduga lenyap di tangan segelintir orang yang berpikir mereka bisa lolos dari pengawasan. Yang paling menyakitkan? Korupsi ini terjadi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Masyarakat yang selama ini percaya bahwa Pertamax adalah pilihan terbaik—lebih berkualitas, lebih awet untuk mesin, lebih nasionalis karena mendukung BUMN—tiba-tiba harus menelan kenyataan pahit.

Publik tidak hanya kecewa, mereka marah. Mereka merasa telah membayar lebih mahal untuk sesuatu yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Ini bukan sekadar soal uang, ini soal kepercayaan yang dikhianati.

Maka, tak heran jika efek domino mulai terjadi. Antrean Pertamax mulai sepi. Orang-orang berbondong-bondong pindah ke BBM non-Pertamina. Di media sosial, kemarahan semakin meluas, memperkuat narasi bahwa Pertamina sudah tidak bisa dipercaya.

Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai moral outrage—kemarahan moral yang muncul ketika publik merasa ada ketidakadilan yang sangat besar. Mereka bukan hanya marah karena merasa dirugikan, tetapi juga karena merasa ada prinsip moral yang telah dilanggar.

Dan seperti api yang ditiup angin, kemarahan ini menyebar dengan cepat. Inilah fenomena social contagion, ketika emosi dan tindakan menyebar melalui lingkungan sosial. Satu orang berbagi pengalaman buruk di Twitter, ribuan orang lainnya ikut merespons, membagikan pengalaman serupa, dan pada akhirnya membuat gelombang opini publik yang tak terbendung.

Siklus ini menciptakan efek nyata di dunia fisik. Orang-orang mulai meninggalkan Pertamax dan mencari alternatif lain. Mereka rela membayar lebih mahal di SPBU lain, bukan hanya karena mereka yakin kualitasnya lebih baik, tetapi karena mereka ingin merasa aman. Tidak ada yang mau mengisi tangki mereka dengan sesuatu yang penuh ketidakpastian.

Bagi mereka yang selama ini setia menggunakan Pertamax, kasus ini menimbulkan konflik batin. Mereka mengalami cognitive dissonance, atau ketidaknyamanan psikologis akibat bentroknya dua keyakinan yang bertolak belakang.

Selama bertahun-tahun, mereka percaya bahwa Pertamax adalah pilihan paling masuk akal. Tapi setelah kasus ini mencuat, kepercayaan itu mulai goyah. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah tertipu selama ini? Apakah BBM yang saya gunakan benar-benar berkualitas? Jika saya tetap menggunakan Pertamax, apakah saya sedang mendukung sistem yang korup?

Otak manusia tidak suka berada dalam kondisi yang kontradiktif seperti ini. Maka, ada tiga kemungkinan respons: tetap menggunakan Pertamax dengan perasaan ragu, mencari pembenaran bahwa semua BBM sama saja, atau—pilihan yang paling banyak diambil—mengubah perilaku dengan beralih ke BBM lain.

Dalam situasi seperti ini, tak ada yang lebih penting dari kepercayaan publik. Dan sayangnya, kepercayaan adalah sesuatu yang paling sulit untuk dikembalikan.

Namun, di balik hiruk-pikuk boikot dan eksodus massal dari Pertamina, ada satu pertanyaan besar yang harus kita pikirkan: apakah berpindah ke BBM lain benar-benar solusi jangka panjang, atau hanya bentuk pelarian emosional sesaat? Kita sudah sering melihat bagaimana isu korupsi meledak, memicu kemarahan, lalu akhirnya tenggelam begitu saja tanpa ada perubahan struktural yang berarti. Jika ini hanya berakhir sebagai siklus berulang, maka masyarakat sekadar berpindah tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.

Lebih jauh lagi, fenomena moral outrage & social contagion ini menyoroti satu realitas pahit: seberapa rapuh kepercayaan kita terhadap institusi negara. Hari ini Pertamina, besok siapa? Fenomena ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi memiliki toleransi terhadap skandal semacam ini, tapi juga membuka pertanyaan yang lebih luas: seberapa dalam sistem korupsi ini tertanam, dan apakah ada sektor lain yang sedang menunggu giliran untuk terbongkar? Jika kepercayaan terhadap BUMN saja bisa runtuh secepat ini, bagaimana dengan sektor lain yang lebih tertutup?

Pada akhirnya, masalah ini lebih besar dari sekadar boikot atau migrasi BBM. Yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan terhadap Pertamina, tetapi kepercayaan terhadap sistem itu sendiri. Jika kita benar-benar ingin perubahan, maka moral outrage ini tidak boleh berhenti pada sekadar kemarahan sesaat. Harus ada dorongan untuk transparansi, reformasi yang nyata, dan akuntabilitas yang serius. Jika tidak, kita akan terus berada dalam siklus yang sama—marah, berpindah, lalu kembali lagi ketika lupa. Saat ini, banyak orang sudah memilih untuk move on. Tapi pertanyaannya, apakah kita hanya ingin lari dari masalah, atau benar-benar menuntut perubahan?[T]

Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Jaswanto

Tat Twam Asi: Pelajaran Empati untuk Memahami Fenomenologi Depresi Manusia
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Tags: Korupsikoruptormoral outragePertaminaPsikologisocial contagion
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kunjungan Kolaborasi Sekber SPAB Bali ke DIY: Jogja-Bali Sama-Sama Rawan Bencana

Next Post

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Dr. Geofakta Razali

Dr. Geofakta Razali

adalah pakar komunikasi di bidang psikologi komunikasi London School of Public Relation yang punya pandangan tajam soal perilaku masyarakat urban, media, dan pemasaran. Dengan latar belakang double degree di komunikasi dan psikologi, ia memulai karier sebagai praktisi Public Relations hingga menjadi Direktur Marketing, sebelum akhirnya melangkah sebagai Associate Professor di bidang komunikasi. Berbekal sertifikasi di bidang produser TV, digital marketing, dan hipnoterapi, ia juga aktif sebagai pembicara dan terapis well-being, mengemas ilmu komunikasi dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar: Usaha Menjaga dan Merawat Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co