2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Pariwisata, dan Sampah Kiriman   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
January 22, 2025
in Esai
Hujan, Pariwisata, dan Sampah Kiriman   

Aksi bersih pantai di kawasan Gumi Delod Ceking | Foto: Nyoman Tingkat

MUSIM hujan tiba. Banjir mengejar ke mana-mana. Bahkan di Gumi Delod Ceking di kaki Pulau Bali, tidak pernah terbayangkan akan banjir. Paling tidak keyakinan itu bertahan sampai 1990-an. Pada 1996, saya menulis kolom berjudul, “Berlangganan Banjir” di Bali Post untuk merespon banjir di kota Metropolitan Jakarta dan banjir di Kawasan Pariwisata Kuta.  Tidak sedikit pun terlintas di pikiran saya kala itu, bila di Gumi Delod Ceking di Kuta Selatan, yang biasa disebut bukit itu sampai kebanjiran. Yang terlintas di benak saya kala itu adalah banjir urban yang tanda-tandanya dimulai dari pemblokiran tanah dan masifnya pembangunan perumahan yang melambungkan harga tanah sampai ke leke-leke.

Dampak lain dari banjirnya urban ke Delod Ceking yang juga terlintas di pikiran saya kala itu adalah banjirnya sampah yang kian tidak terkendali, seiring dengan makin banyak penduduk pendatang yang membawa budayanya sendiri dan kadang-kadang lupa dengan petuah, “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”.

Banjirnya pendatang ke Kuta Selatan seiring dengan bergulirnya reformasi dengan produk Pemilu Langsung sejak 2004. Data pemilih 2024, melahirkan 10 legislator di Kecamatan Kuta Selatan, yang sebelumnya hanya 8 orang. Itu artinya banjirnya pendatang ke Kuta Selatan bisa menyumbang suara bagi petualang politik  dan mengundang persoalan sampah yang hingga kini belum tertangani maksimal.

Begitulah musim hujan, selain menyebabkan banjir dan  menyumbang banjir sampah kiriman dari berbagai daerah di hulu menuju objek wisata Pantai Kuta, Legian, Kedonganan, Jimbaran, termasuk Melasti dan Pandawa. Sebagai anak seorang nelayan amatir yang sejak kecil dibesarkan dari laut, saya ingat betul musim hujan selalu banjir sampah aneka rupa. Hal itu juga membuat saya jengkel bila memasang jaring, yang terjaring bukannya ikan, tetapi sampah yang melilit jaring bikin kusut, susah dibersihkan. Cuma saja, kala itu sebanyak-banyak sampah kiriman tidak sampai melibatkan pejabat turun tangan mencari solusi karena memang volume sampahnya masih normal dan umumnya potongan kayu atau bambu dan hanya beberapa botol plastik minuman.

Sampah sehabis hujan di kawasan pariwisata | Foto: Nyoman Tingkat

Banjir sampah ke objek-objek wisata pantai telah membuat sampah Pantai Kuta viral di media sosial yang tampaknya  membuat Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq  bersama Wamen Pariwisata Luh Puspa hadir pada aksi bersih pantai di Pantai Kelan, Kedonganan, dan Jimbaran pada Minggu, 19 Januari 2024.  

Saat itu, masyarakat dari berbagai kalangan umumnya dari birokrat di bawah OPD terkait, termasuk warga sekolah, membanjiri pantai melakukan aksi bersih pantai bersama. Aksi ini tentu tidak berarti secara berkesinambungan, bila kesadaran masyarakat akan budaya hidup bersih belum terbangun terutama dalam membuang sampah. Di sinilah pentingnya pemerintah sebagai guru wisesa hadir dengan kesadaran dan kesabaran mendidik masyarakat yang kian kritis tetapi terkadang cuek dengan masalah di sekitarnya.

Penting direnungkan ajakan WS Rendra oleh guru wisesa sebagai pendidik masyarakat. “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

Ajakan WS Rendra itu menjadi bermakna di tengah masyarakat yang makin  materialistik, hedonis, instan dan makin tunaetika dengan  pola didikan yang masih  paternalistik. Di sinilah pemimpin teladan diperlukan sehingga mengalirkan pikiran jernih sampai  ke hilir. Ibarat air hujan, bila di hulu airnya jernih maka sampai hilir pun juga jernih asalkan tidak ada residu dalam perjalanan air menuju laut. Hulu yang bersih bertemu dengan muara laut yang jernih. Dalam konteks ini, pemimpin  politik  yang dihasilkan melalui pemungutan suara, tidak cukup dengan jaya suara tanpa kekuatan jaya laksana. Satunya pikiran perkataan, dan perbuatan, sesuai dengan ajaran trikaya parisuda. Semesta mendukung.

Aksi bersih pantai di kawasan Gumi Delod Ceking | Foto: Nyoman Tingkat

Begitulah kawasan pantai pariwisata terkenal ketika musim hujan tiba selalu membawa kabar tidak baik akibat sampah kiriman yang menodai citra pariwisata, lebih-lebih dengan adanya video viral tentang kotornya pantai di Kuta Bali. Di satu sisi, hujan menjanjikan kesejukan dan kesuburan bagi pertanian, di sisi lain mengirimi kabar buruk yang tidak terkendali. Mengapa?

Produk sampah rumah tangga dan perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata saja sulit dikelola, apalagi sampah kiriman yang jumlahnya dari tahun ke tahun selalu meningkat. Jasa angkutan sampah di sebuah desa adat di bawah payung Baga Utsaha Padruen Desa Adat (BUPDA) pun merasa kewalahan menangani sampah, seperti dikeluhkan Ketua BUPDA Bualu I Wayan Arya yang menangani sampah di Kawasan Nusa Dua dan sekitarnya. “Tempat pembuangan sampah di TPA Suwung tidak memadai lagi, sedangkan produk sampah makin banyak. Lebih-lebih pada musim hujan, sampah kiriman makin tidak terkendali,”  kata I Wayan Arya.

Darurat sampah sesungguhnya tidak hanya terjadi karena musim hujan dengan sampah kiriman, tetapi sudah menjadi keluhan sehari-hari di daerah pariwisata. Ditambah lagi kurangnya kesadaran masyarakat akan arti kebersihan dan kesehatan, maka makin tidak terkendalilah penumpukan sampah. Hal demikian jelas terlihat dan terpotret ketika berbagai hajatan dilaksanakan secara masal dan ramai, setelahnya sampah berserakan. Petugas kewalahan. 

Hujan, pariwisata, dan sampah kiriman saling berkelindan saling menguatkan sekaligus saling melemahkan. Disebut saling menguatkan, karena musim hujan membawa sampah kiriman makin menggunung berkoloni menyatu membuat persatuan sampah ibarat wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai secara komunal.

Bersatunya sampah-sampah itu telah mengundang petinggi negeri untuk turun bersama masyarakat merapatkan barisan memperlakukan sampah dengan perikesampahan sebagaimana manusia dengan perikemanusiaannya. Walaupun sampah itu benda mati, ia pun  perlu disampahkan dengan baik dan benar sehingga tidak menimbulkan disharmonis yang mengundang berbagai jenis penyakit. Waspadalah !

Disebut melemahkan karena kehadiran sampah-sampah itu menodai keindahan kawasan yang membuat wisatawan tidak nyaman. Jika wisatawan tidak datang, kekhawatiran pun menghantui. Pendapatan Asli Daerah (PAD) turun. Kesejahteraan makin utopis. Begitulah, pariwisata ibarat pedang bermata dua dan rentan dengan pencitraan. 

Aksi bersih pantai di kawasan Gumi Delod Ceking | Foto: Nyoman Tingkat

Diperlukan kesadaran dan kesabaran bersama mengedukasi masyarakat dari atas ke bawah secara bersama-sama. Soal sampah tidak perlu teori dan diskusi sampai berbuih-buih seperti ombak yang buihnya tidak akan pernah hilang. Yang diperlukan adalah tindakan nyata, bukan serimonial yang formalitas. Budaya formalitas sebagai bagian dari budaya ABS (Asal Bapak Senang) bukan solusi di tengah masipnya aneka persoalan : sampah, banjir, kemacetan, kerusakan lingkungan, robohnya langit akhlak.

Sekali lagi diperlukan matahari kesadaran dan bumi kesabaran sebagaimana WS Rendra mengingatkan. Kuncinya bergantung pada pendidikan. Bukankah hujan adalah materi pelajaran untuk melihat fenomena alam yang bersiklus? Bukankah pariwisata adalah kajian dalam pendidikan untuk melihat perjalanan healing yang mestinya membuat makin eling? Bukankah sampah kiriman adalah materi pelajaran yang mengasyikkan bagi siswa yang kreatif inovatif mencari solusi? Bukankah pendidikan adalah solusi terhadap persoalan masyarakat dan lingkungannya?

Pertanyaan reflektif itu memerlukan  jawaban para pembelajar yang berkecerdasan. Cerdas memahami hujan, pariwisata, dan sampah kiriman. Tanpa demikian, yang tersisa hanya sampah masyarakat. Jangan sampai! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain tentang JATILUWIH
  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Segitiga Emas Pariwisata Bali Era Baru 
“Matirtayatra” ke Kawasan Pariwisata Religius Agraris: Pura Batukaru dan  Jatiluwih  
Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan
Tags: banjirPariwisatapariwisata baliSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelukan Orang Tua kepada Anaknya, Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Next Post

Mengenal Politik Uang Dalam Demokrasi Elektoral di Indonesia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Politik Uang Dalam Demokrasi Elektoral di Indonesia

Mengenal Politik Uang Dalam Demokrasi Elektoral di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co