6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen

Chusmeru by Chusmeru
January 13, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

RINTIK gerimis belum juga reda. Pelataran kampus masih tampak basah. Ruangan dosen sudah mulai sepi. Satu per satu dosen kembali ke rumah seiring dengan datangnya senja. Namun tidak demikian dengan Elisabeth Nunce. Pekerjaan yang masih numpuk membuatnya masih bertahan di ruang kerjanya.

Berulang kali suami dan anak-anaknya menelpon. Mereka menanyakan kenapa Nunce belum juga pulang ke rumah. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Nunce. Ketika diberitahu alasannya, mereka pun maklum, dengan harapan Nunce tidak pulang terlalu malam; mengingat mendung di langit semakin tebal.

Ruang kerja Nunce tidak terlalu besar. Ada tumpukan buku literatur di atas meja. File kabinet berisi surat-surat penting. Nunce tidak begitu tertarik untuk menata ruang kerjanya. Baginya yang penting bersih, sejuk, dan nyaman untuk bekerja.

Sebetulnya Nunce bisa saja menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Namun ia tak yakin bisa melakukannya. Saat di rumah alih-alih mau mengerjakan tugas, ia justru disibukkan dengan pekerjaan domestiknya. Anak-anaknya pasti akan mengganggunya dengan berbagai permintaan yang memaksanya harus turun tangan. Sedangkan suaminya lebih asyik bermain game di ponselnya saat di rumah.

Menyelesaikan pekerjaan di kantor hingga menjelang malam sebetulnya bukan hal baru bagi Nunce. Kadang ia juga memberikan waktu sore hari kepada mahasiswanya untuk bimbingan skripsi maupun tesisnya. Alasannya sama. Membimbing mahasiswa di rumah banyak gangguan oleh anak-anaknya yang ribut bermain, berlarian di dalam rumah.

Seperti sore ini, mahasiswa bimbingan skripsi baru saja keluar dari ruang kerjanya. Mata Nunce sudah mulai terasa mengantuk diterpa dinginnya AC di ruang dosen. Nunce memutuskan membuat segelas kopi untuk mengusir kantuknya. Agak sedikit malas ia harus ke dapur sendirian. Banyak cerita dari para dosen bahwa pantry atau dapur di ruang jurusan ada hantunya. Sejenak ia hendak membatalkan membuat kopi, namun rasa capai di tubuh sepertinya harus diredakan dengan segelas kopi.

***

Kopi itu masih panas. Nunce tak segera meminumnya. Dibiarkannya beberapa saat hingga panasnya berkurang. Kebiasaan minum kopi sudah Nunce lakukan sejak ia masih kuliah dulu. Kopi dan musik sering menjadi teman belajarnya.

Nunce kembali melanjutkan pekerjaannya. Tugas mata kuliah Komunikasi Pembangunan yang dibuat mahasiswanya tinggal beberapa yang belum ia baca. Perlahan Nunce menyeruput kopi yang dibuatnya. Kopi itu merupakan oleh-oleh dari Aceh yang dibawa Mita Setiani, rekan kerjanya.

Baru saja satu teguk Nunce mencicipi kopinya, terdengar suara derap langkah di selasar ruang dosen. Nunce mengira pasti Mita Setiani yang melintas. Suara langkah orang itu semakin keras dan mendekati ruang kerjanya. Kini suara itu seperti langkah kaki yang terseret-seret di lantai. Tentu menyeramkan mendengar suara seperti itu di ruangan sepi senja hari.

“Bu Mita ya…?” tanya Nunce ke arah suara itu. Tidak ada yang menyahut. Ia penasaran, dan mencoba menengok keluar ruangan. Tak ada tanda-tanda orang melintas.

Nunce kembali masuk ruangan. Baru saja hendak duduk kembali, terdengar suara orang membuka pintu ruang sebelah. Itu adalah ruangan Sri Hastuti, rekan kerjanya yang sudah senior. Nunce agak heran, tidak seperti biasanya Sri Hastuti ke kampus senja hari.

“Ibu Sri.., tumben ke kampus…?” kata Nunce ke ruangan sebelah. Tidak ada jawaban apa pun. Namun dari dalam ruangan Sri Hastuti terdengar seperti orang sedang membuka-buka buku.

Merasa penasaran, Nunce menghampiri ruang Sri Hastuti. Ia buka pintu ruangannya. Tidak tampak seorang pun di ruangan itu. Buku-buku di atas meja Sri Hastuti juga masih tersusun rapi. Bulu kuduk Nunce mulai merinding. Jangan-jangan suara itu adalah hantu yang seperti diceritakan dosen-dosen.

Nunce tidak ambil pusing. Meski sedikit ketakutan, ia tetap kembali meneruskan pekerjaannya. Kopi di gelas sudah mulai dingin. Senja juga sudah tergantikan malam. Satu jam lagi pulang, begitu pikir Nunce saat melihat arlojinya sudah menunjukkan angka tujuh.

Tiba-tiba, braaakk…! Seperti barang yang terjatuh dari atas meja. Kali ini datang dari ruang Ketua Jurusan, Edward Santo Sonara. Tentu saja Nunce terkejut. Untuk apa Pak Edward malam-malam ke kampus? Apakah ada sesuatu yang ingin diambilnya? Ataukah mau kerja lembur malam? Belum selesai pertanyaan-pertanyaan Nunce itu, terdengar suara orang menguap di ruang Ketua Jurusan.

Nunce kembali membuka ruangannya, menengok ke ruangan Ketua Jurusan.

“Pak Edward..?” panggil Nunce ke ruangan Ketua Jurusan.

Sama seperti kejadian sebelumnya, tidak ada orang yang menjawab Nunce. Kali ini Nunce memberanikan diri membuka ruangan pak Edward yang tidak terkunci.

Betapa kaget Nunce. Barang-barang di meja Pak Edward jatuh berserakan di lantai. Dengan jelas Nunce melihat buku, map, spidol, dan beberapa vandel berjatuhan seperti habis diacak-acak. Nunce segera menutup ruangan pak Edward. Kali ini bukan hanya bulu kuduknya yang berdiri, namun keringat dingin mulai menetes dari keningnya. Bergegas ia masuk ke ruangannya sendiri.

Nunce berharap kejadian di ruangan pak Edward adalah yang terakhir kali ia saksikan. Tetapi ternyata tidak. Kali ini ia dengar suara ketukan jemari tangan di atas meja. Nunce mencoba menerka dari mana suara itu berasal. Ruangan Isnaeni, Ketua Laboratorium Komunikasi.

Suara ketukan jari di atas meja Isnaeni makin cepat dan semakin keras, seperti mengikuti irama lagu. Isnaeni memang termasuk dosen yang suka mendengarkan musik ketika bekerja di ruangan. Namun Nunce tak yakin itu suara ketukan jari Isnaeni. Nunce tahu persis, Isnaeni termasuk dosen yang lebih personal. Andai pun ia mendengarkan lagu di laptopnya, itu hanya untuk didengar sendiri dengan volume yang lirih.

Detak jantung Nunce mulai meningkat debarnya. Mengapa ia harus mengalami suara-suara misterius, mulai dari derap langkah di selasar ruang dosen hingga ke beberapa ruangan dosen. Ia segera mengambil tisu untuk mengelap keringat dingin di dahinya. Nunce memutuskan untuk tidak menghampiri ruangan Isnaeni. Nyali keberaniannya mulai surut.

Perlahan ia habiskan minum kopinya. Tumpukan tugas di mejanya segera dibereskan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Kampus telah membuatnya tidak nyaman bekerja di malam hari. Ia berpikir, kalau pun dia teruskan pekerjaannya, tentu akan muncul suara-suara misterius yang lainnya.

Sambil berjingkat pelan, ia tutup pintu ruangan. Berjalan lambat meninggalan ruangan melewati selasar ruang dosen. Suara ketukan di meja ruangan Isnaeni belum juga berhenti, meski mulai terdengar pelan. Nunce tak ingin menoleh ke belakang,  ke selasar ruang dosen. Takut ia akan melihat sosok hantu yang sering jadi bahan perbincangan di kalangan dosen.

***

Hari ini Nunce berangkat ke kampus agak siang. Semalam ia sulit memejamkan mata. Kejadian di selasar ruang dosen membuatnya sulit tidur. Masih terngiang di telinga dan terbayang di benaknya suara-suara aneh di kampus tempat kerjanya.

Nunce semalam tidur larut malam. Setiba di rumah masih banyak pekerjaan domestik yang harus ia selesaikan. Setumpuk piring bekas makan anak-anaknya masih berantakan di tempat cuci. Sebetulnya ia merasa kesal kepada suaminya yang lebih memilih asyik dengan ponselnya ketimbang membantunya mencuci piring. Tapi Nunce dengan sisa tenaganya tetap mengerjakan, karena memang ia yang mengambil keputusan untuk tidak memiliki asisten rumah tangga.

Suasana di kampus belum begitu ramai. Baru beberapa dosen yang datang. Sementara Wahyono, pegawai tata usaha di jurusan sedang mengetik sesuatu di komputer. Nunce menghampiri Wahyono untuk menanyakan siapa saja dosen yang telah hadir.

“Pak Edward sudah datang, Mas?” tanya Nunce pada Wahyono.

“Belum, Bu, baru Pak Heri dan Pak Aldo,” jawab Wahyono.

“Antar saya ke ruangan pak Edward ya mas…,” pinta Nunce kepada Wahyono. Ia penasaran dengan kejadian kemarin malam.

Ditemani Wahyono, Nunce menuju ruangan pak Edward. Ia buka pintu ruangan Pak Edward. Tidak ada barang-barang di meja Pak Edward yang berantakan. Semua tertata dengan rapi. Padahal semalam Nunce menyaksikan dengan matanya sendiri kondisi ruangan Pak Edward yang porak-poranda.

Nunce tertegun. Ia tak habis pikir, siapa yang membuat ruangan Pak Edward berantakan. Ia juga masih penasaran, siapa yang melangkah di selasar ruang dosen. Semua serba misterius. Nunce tak ceritakan semua ini kepada Wahyono. Juga tidak kepada pak Heri dan dan Aldo. Ia simpan semua untuk dirinya sendiri. (Bersambung)

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihorror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konformitas Orang Baduy dalam Penampilan

Next Post

Palebon Jero Gede Batur Alitan Dilaksanakan 24 Januari 2025

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails
Next Post
Palebon Jero Gede Batur Alitan Dilaksanakan 24 Januari 2025

Palebon Jero Gede Batur Alitan Dilaksanakan 24 Januari 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co