6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
November 5, 2024
in Tualang
Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Foto-foto by Made Wahyu Mahendra

14 Oktober 2024, sudah keempat kalinya saya menginjakkan kaki di negeri Gajah Putih. Berbeda dengan saat saya pertama ke tempat ini. Saat itu, sebagai seorang yang saat itu lebih muda, gemerlap kota, riuhnya suasana, nikmat perjamuan merupakan sesuatu yang saya cari. Bangkok dan area sekitarnya selalu menjadi tujuan.

Herannya, baru pada kedatangan ketiga dan keempat kali ini saya merasakan damai hati. Entah memang karena saya saat ini lebih berumur ataukah memang jalannya yang baru ketemu. Adalah Kota Khonkaen yang nun jauh di Tenggara yang menjadi jodoh tempat saya untuk belajar.

Saya tahu sejak lama bahwa lebih dari 90% warga Thailand penganut Buddha yang taat. Kondisi ini memancing rasa ingin tahu saya akan perspektif hidup dari agama Buddha.

Sebagai pribadi, saya selalu senang mempelajari perspektif agama lain dengan berinteraksi dan melebur di komunitasnya, dan karenanya saya cukup diterima oleh masyarakat yang saya tuju.

Saya pernah melebur diri dalam komunitas Muslim. Itu ketika saya kuliah di Kota Malang dan merasakan indahnya makna puasa. Begitupula ketika dua tahun saya habiskan untuk berada di dalam komunitas mayoritas beragama Katolik yang senandung bhineka-nya pernah saya tulis di platform tatkala.co ini.

Bukannya apa-apa, kendati ada beberapa tempat ibadahnya di sekitar tempat saya tinggal, namun saya belum pernah benar-benar berbaur dengan komunitasnya, bertemu pemuka agamanya, dan menggali esensi esensi ajarannya dari komunitasnya langsung.

Kembali ke Kota KhonKaen, Saya berkesempatan menemui para Bikkhu yang dihormati yang mau berbagi prinsip-prinsip Buddhisme kepada saya. Salah satunya adalah ajaran untuk hidup dalam saat ini.

Dalam Buddhisme, diajarkan bahwa masa kini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki. Kita diminta untuk tidak membiarkan pikiran terus berlarian ke masa depan atau terjebak dalam penyesalan masa lalu.

Awalnya, ini terasa seperti konsep yang sederhana, tetapi saat saya benar-benar mencobanya, baru saya sadari betapa sulitnya melepaskan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok hari atau rasa bersalah yang terkadang hinggap dari kejadian-kejadian di masa lalu.

Selain itu, sebuah pengalaman yang mengubah perspektif saya terjadi ketika saya diajak menuju sebuah provinsi bernama Loei, distrik terakhir perbatasan Thailand dengan Laos.

Di sana, di tengah gunung yang terselimuti kabut, saya tinggal di sebuah asrama Bikkhu, tempat yang seolah jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Hidup di lingkungan yang tenang dan dikelilingi oleh alam, tidak ada ponsel atau gangguan modern lainnya, dan setiap aktivitas sangat sederhana, mulai dari melayani para Bikkhu muda saat makan, meditasi, belajar, begitu seterusnya.

Momen itu tiba ketika seusai saya memberi pelayanan untuk persiapan sarapan pagi Bikkhu muda, saya pertama kali diajak berdoa sebelum makan. Di dalam doa Buddhis sebelum makan, saya menemukan sesuatu yang begitu berbeda, begitu jauh dari apa yang biasa saya lakukan.

Doa ini mengajak kita merenungkan alasan dan tujuan mengapa kita makan. Kita diingatkan untuk tidak makan hanya untuk kesenangan atau kepuasan semata, bukan untuk memabukkan diri atau memperindah tubuh, melainkan untuk menopang kehidupan secara sederhana.

Begitu dalamnya makna doa ini mengejutkan saya. Saya diingatkan untuk makan secukupnya, tidak berlebihan, hanya untuk menjaga tubuh ini tetap sehat dan kuat.

Doa ini mendorong kesadaran bahwa makan bukanlah semata-mata pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari latihan spiritual, agar tubuh bisa bebas dari gangguan dan pikiran bisa tetap jernih.

Sungguh, pengalaman ini membuka mata saya akan bagaimana kita sering kali lupa pada esensi dari tindakan yang kita lakukan setiap hari.

Perjalanan saya di Thailand juga memperkenalkan saya pada norma kesopanan yang dalam dan sarat makna. Budaya Thailand memiliki etika yang begitu halus, terutama saat berada di tempat-tempat suci seperti kuil dan dalam interaksi dengan para Bikkhu.

Setiap gerakan, termasuk cara duduk, diatur dengan penuh rasa hormat dan ketenangan. Duduk di lantai kuil, misalnya, harus dilakukan dengan hati-hati, lutut sedikit menekuk, dan kaki tidak menghadap langsung ke arah altar atau patung Buddha, karena dianggap kurang sopan.

Saat bercengkerama dengan Bikkhu, saya diajarkan untuk menjaga sikap, menundukkan pandangan sebagai bentuk penghormatan. Gestur-gestur kecil ini ternyata menyimpan arti mendalam tentang rasa hormat yang tidak sekadar ditunjukkan lewat kata-kata, tetapi juga lewat tindakan yang mencerminkan kesadaran dan penghargaan.

Salah satu momen yang menguatkan rasa kagum saya pada budaya Thailand adalah saat saya diundang mengikuti candlelight ceremony. Upacara ini, yang dilakukan pada malam hari di kuil, begitu syahdu dan menggetarkan hati.

Setiap peserta membawa lilin yang dinyalakan dan berjalan perlahan dalam diam mengelilingi kuil. Di bawah cahaya lilin yang temaram, langkah-langkah kami terasa seperti simbol penghormatan, bukan hanya kepada ajaran Buddha, tetapi juga kepada nilai-nilai kehidupan.

Malam itu, dalam kebersamaan yang penuh makna, saya merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah kesatuan rasa yang membawa kedamaian.

Melalui pengalaman-pengalaman ini, saya belajar bahwa kesopanan bukan hanya norma sosial, tetapi juga cermin dari rasa hormat yang mendalam terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Semua ini memperkaya pandangan saya akan kehidupan dan membuat saya semakin menghargai keberagaman yang ada di dunia. [T]

BACA artikel lain dari penulis MADE WAHYU MAHENDRA

Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya
Kabar dari Flores# Tentang Saya, Godoh & Muku Ego
Kabar dari Flores# “Bersembunyi & Relaksasi” di Air Panas Alami Ae Sale
Tags: BuddhismeBudhacatatan perjalananThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Next Post

Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co