15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Peluang Ruang: Sawah dan Laboratorium Pertunjukan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
August 25, 2024
in Esai
Melihat Peluang Ruang: Sawah dan Laboratorium Pertunjukan
  • Artikel adalah materi dalam panel diskusi “Membaca Dharma Pemaculan dari Perspektif Pegiat Teater Bali”, Minggu, 2s Agustus 2024 di Museum Buleleng, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024.

BEBERAPA waktu lalu saya mendapat mandat untuk membahas teater—sesungguhnya membaca Dharma Pemaculan (sebuah lontar yang membahas pernak-pernik pertanian) dari perspektif teater. Dalam konteks ini saya hendak meletakan teater dalam spektrum yang lebih luas, yaitu pertunjukan.

Tentu saja teater sebagai pertunjukan bisa menjadi kaca mata untuk menatap realitas pertanian, atau justru pertanian dan irisannya dengan pertunjukan, sebab pertanian membidani banyak kelahiran estetika pertunjukan di Bali. Saya adalah bagian dari realitas pertanian dan sawah adalah tempat saya menghabiskan masa kecil, tapi umur pertemuan saya dengan pertunjukan masih tergolong belia.

Saya berasal dari sebuah desa yang menjorok ke timur dari perut wilayah kecamatan Tampaksiring—yang karena berjarak tidak terlalu jauh dengan Ubud—kini pelahan terciprat sesaknya pariwisata Ubud. Isu mengenai kehadiran proyek kampung Cina, lalu beralih ke kampung Rusia, kemudian villa-villa, dan proyek resort terus bergulir seperti secercah cahaya yang membawa kemakmuran bagi orang-orang di kampung saya: bukaan lapangan kerja yang memadai, industri kerajinan berkembang, dan sebagainya. Banyak imajinasi yang baik-baik. Mudah-mudahan kami tidak menunggu Godot.

Tanah yang berkhektar-hektar tak lagi dilekatkan pada harapan panen yang melimpah, kesuburan padi, yang sesungguhnya sudah menghidupi kami entah dari kapan. Kami tak lagi bisa berharap pada kacang panjang yang tumbuh menjulang ditopang tiang bambu di pematang sawah.

Tapi, padi, kacang panjang, jagung, kedelai, singkong, dan sebagainya, hari ini, tak mampu menjawab persoalan listrik yang melengking ketika token habis, Internet yang paling tidak mesti dibayar per bulan, persoalan anak-anak yang ingin melanjutkan karir di kapal pesiar, atau semata-mata membayar biaya pendidikan anak-anak yang ingin kuliah di kampus-kampus tertentu. Dan, kompleksitas persoalan hari ini banyak yang tidak mampu dijawab oleh pertanian kita.

Dengan satir yang sedikit ekstrem, beberapa orang bahkan berkata, “Lebih baik memelihara sapi putih daripada mengurus padi yang belum tentu hasilnya.” Tentu kita paham, apa yang dimaksud dengan “sapi putih”, sapi dengan kandang berupa villa kelas elit yang mengubah satu petak sawah menjadi sangat asing, dibatasi tembok megah, memotong alir air sawah, dan dilarang masuk bagi sembarang orang.

Tapi saya harus mengakui keterbatasan saya dalam membaca lontar. Pengetahuan saya mengenai Darma Pemaculan pun tumbuh begitu pelan karena gesekan dengan beberapa teman pegiat lontar yang kini tumbuh subur di Bali. Saya mesti berterima kasih pada mereka karena telah mendistribusikan pengetahuan tersebut. Meskipun tidak sempurna, saya harap obrolan itu turut menjadi kompas obrolan saya hari ini.

Pertunjukan dan Sawah

Saya tidak tahu, harus mensyukuri atau menyesali pertemuan saya dengan seni pertunjukan. Saya bersyukur, sebab saya yang bersentuhan langsung dengan sawah pelahan dibukakan akses pada produk intelektual yang terarsipkan dalam gerakan-gerakan tari. Namun, saya menyesal, baru pada tahun 2022 saya mulai mengikuti proses Igel Jongkok atau yang lebih akrab dikenal sebagai Kebyar Duduk, sebuah karya tari ciptaan I Marya.

Proses yang digagas oleh Wayan Sumahardika bersama Mulawali Performance Forum ini sesungguhnya membuat saya merasa seperti anak sapi yang baru lepas dari tali pengikat. Segala hal dalam tarian itu tampak sebagai sesuatu yang menakjubkan. Sayangnya, peristiwa tubuh rasanya begitu kompleks untuk diikat dalam satuan bahasa—tubuh itu sendiri, energi, perasaan, keterpesonaan, ketegangan tafsir atas tubuh, dan lain sebagainya.

Entah pengalaman masa kecil yang menggiring penafsiran saya atas gerak dalam tarian, atau memang demikian adanya. Saya hanya semakin yakin bahwa sebagian besar tari Bali adalah anak kandung kultur agraris, dan yang tidak henti membuat saya kagum adalah situasi zaman yang tampaknya begitu terang menghasilkan kesenian yang kini dianggap sebagai capaian zaman.

Belajar tari bagi saya seperti berusaha melekatkan baju baru pada tubuh. Kadang ia terasa begitu ketat, kadang terlalu longgar, tapi ketika sudah berkali-kali dipakai, baju itu seperti luluh menjadi bagian tubuh. Dalam proses itulah kita mulai pelahan memahami bahwa baju itu terbuat dari benang kelas satu atau perca yang disulap seolah itu produk kelas tinggi atau justru baju itu terbuat dari benang murahan. Tapi, begitulah tafsir. Ia sering kali lekat dengan pengalaman dan proyeksi subjektif.

Beberapa bentuk posisi tangan dalam Igel Jongkok membuat saya ingat dengan cara paman saya memanggul kelapa atau rumput atau padi: bahu rileks, namun bertenaga. Beberapa gerakan kaki (misal malpal) mengingatkan saya pada orang-orang yang menginjak-nginjak tanah berlumpur di sawah. Begitu pula dengan tanjek (posisi telapak kaki membentuk point).

Tentu saja hal ini bisa jadi tidak sesuai dengan niatan si pencipta tarian. Sebagai sebuah teks, tarian terikat pada fitrah alamiah subjektif pengakses yang kita sebut tafsir itu. Di sinilah menariknya. Tarian akan berkembang dan bernegosiasi dengan si pengakses. Rasanya, kita cukup akrab dengan Kebyar Duduk gaya Peliatan, Kebyar Duduk gaya Belangsinga, atau Kebyar Duduk gaya Belaluan. Dan semua gaya itu memiliki ciri khasnya masing-masing. Kesenian tidak jatuh dari langit, karena itu konteks sosial merupakan saudara kandung kesenian.

Dalam proses itu, saya juga sempat beranjak pada foto-foto orang dulu, yang nyatanya mirip dengan tubuh paman-paman saya yang tiap hari bekerja di sawah. Saya yakin, inilah tubuh-tubuh terlatih yang bila mengalami proses penciptaan pertunjukan yang sedikit lebih panjang, akan siap berada di panggung—sebagaimana tubuh I Marya dalam arsip-arsip yang bertebaran di internet dan yang disimpan oleh teman-teman pegiat Arsip Bali 1928.

Sebagai sebuah ruang dengan satu paket ekosistemnya, mungkin tidak keliru jika saya sebut bahwa sawah bisa menjadi tempat untuk menempa seseorang dalam berbagai urusan penciptaan, tentu tidak terbatas hanya pada pertunjukan.

***

Pada tahun 2022, saya sempat bertemu dengan Ketut Rina—seorang maestro tari kecak asal teges kanginan, Ubud—dan dengan semangat dia bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seseorang yang ingin melihat proses kreatif Ketut Rina. Orang tersebut ingin berkunjung ke studio I Ketut Rina, tapi yang dijumpainya di rumah Rina hanyalah rumah bergaya khas Bali.

“Di mana studio anda?” kata I Ketut Rina mencoba menirukan gaya orang itu.

pada bagian ini, Ketut Rina hanya tertawa dan berkata, “Saya petani, dan sawah adalah studio saya,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Ketut Rina yang telah bergesekan dengan cara berpikir modern—tumbuh bersamaan dengan modernitas di Bali, bersentuhan secara kreatif dengan Sardono W. Kusumo, bersentuhan dengan para pegiat Butoh Jepang, dan lain sebagainya—telah meletakkan secara sadar sawah sebagai studio.

Pertalian antara pertunjukan dengan sawah tidak bisa disempitkan “hanya terjadi di Bali” karena salah satu metode yang cukup menarik perhatian dunia, yaitu metode Suzuki yang diciptakan oleh Tadashi Suzuki asal Jepang ini pun memiliki benang merah yang tegas antara metode pembentukan keaktoran dalam pertunjukan dan pertanian. Sawah sebagai sebuah ruang sesungguhnya adalah ekosistem sekaligus pemantik tumbuhnya banyak hal—ritus, kesenian, dan lain-lain.

Menyemai Tanah Tubuh

Entah bagaimana misteri jejaring teks dalam kepala kita, tapi ketika membahas pertanian, kutipan termasyhur dari Ida Pendanda Made Sidemen selalu berkelindan dalam kepala saya: “Nandurin Karang Awak”. Secara serampangan, saya memaknainya sebagai berikut:

Jika tidak punya sawah, maka semailah pada tanah tubuh. Ida Pedanda Made Sidemen seolah mengingatkan saya untuk meletakkan tubuh sebagai ruang, sebagai medium, dan barangkali juga tepat diletakan sebagai instrumen.

Dalam konteks obrolan saya dengan teman-teman pegiat lontar, sekilas, saya menangkap pembahasan mengenai dewa-dewi, hama, dan tentu saja tanah ketika bicara soal Dharma Pemaculan. Barangkali dan mudah-mudahan tidak keliru jika saya berpegang pada kata kunci “sawah sebagai sebuah ruang produksi” dalam artian luas, dan inilah yang saya jadikan pegangan dalam percakapan ini.

Sebelum melanjutkan pembicaraan, saya ingin kita bersama-sama menyaksikan video yang telah saya siapkan sebagai pemantik diskusi kita hari ini—video rekaman Google Maps yang menunjukkan perubahan suatu daerah dari tahun ke tahun.

***

Berdasarkan video itu, saya berharap kita bisa membayangkan perubahan situasi ekologis kita hari ini. Kita, saya harap, sudah sepakat bahwa pertanian dengan segala perniknya telah membidani lahirnya berbagai produk karya pertunjukan yang penting. Dan kita dengan jelas juga melihat bahwa tidak butuh waktu 10 tahun untuk merobohkan laboratorium para seniman yang kita sebut sawah itu.

Hari ini, kita berada pada situasi sulit, di mana di satu sisi kita ingin mempertahankan sawah, tapi di sisi lain, sawah bukanlah jawaban atas kebutuhan ekonomi kita hari ini, tidak seperti beberapa puluh tahun lalu, di mana kita tidak peduli dengan token listrik, tidak peduli dengan kuota internet, bahkan mencari air minum pun kita tidak perlu berpikir panjang.

Naasnya, perubahan ini mengingatkan saya pada kemandegan kebudayaan kita—Bali khususnya. Bayangkan, alat-alat pertanian yang dipakai untuk menggarap sawah, yang dulu dibuat oleh petani sendiri, atau anggota komunitasnya, kini harus kita impor dari Cina atau Jepang. Situasi ini sama persis dengan teknologi pengolah sampah yang orang Bali sebut Teba, yang kini sudah tidak berfungsi ketika bertemu dengan sampah-sampah modern.

Jika kita yakini bahwa sawah “sempat” menjadi laboratorium produksi kesenian, pertanyaan pesimis saya adalah, apa yang mampu kita produksi dengan situasi pertanian yang seperti saat ini? atau pertanyaan yang lebih spesifik, pertunjukan yang seperti apakah yang akan lahir dari konteks keruangan seperti saat ini?

Di satu sisi kita berhak bernostalgia, bahkan sedikit melodramatik menghadapi situasi mutakhir Bali, sambil mengenang segala hal heroik mengenai persawahan. Tapi di sisi lain, saya mesti mengingat bahwa ketika saya membuat video rekaman itu, saya duduk di meja kos sambil menjelajah ruang virtual yang membawa saya pada situasi di Canggu, Gianyar, Ubud. Dan, hal itu cukup tegas mengingatkan kita bahwa kita juga bisa mengintip situasi keruangan di belahan dunia lain dari balik layar laptop.

Pandemi rupanya cukup praktis membuat kita akrab dengan dunia virtual. Saya yang sebelum pandemi cukup canggung dengan internet, pelahan-lahan dibuat melipir pada pemahaman bahwa internet menyediakan  akses ruang yang lebih luas dengan piranti berupa kamera dan jaringan. Perkenalan kita dengan zoom meeting telah memangkas sebagian biaya operasional rapat, dan mesti diakui, benda yang tak bisa disentuh ini cukup efisien dalam berbagai hal.

Arena produksi kultural kita hari ini bukan semata-mata bersifat fisik geografis yang kita bayangkan saja, tetapi bisa juga dalam bentuk virtual yang sulit kita lacak batas-batasnya. Menyadari situasi ini, Teater Kalangan sempat mencoba merespon ruang virtual itu, sembari mempertanyakan dan mencari pemaknaan antara pertunjukan dalam ruang virtual dan dokumentasi yang diputar di ruang tersebut.

Ketika itu, kami mencoba untuk memanfaatkan media kamera yang membuat kita melihat sesuatu secara lebih dekat, semisal hidung, mata, bulu tangan, yang sulit untuk diwujudkan di panggung pertunjukan konvensional, dengan catatan peristiwa itu ditonton dan terjadi secara bersamaan. Kami mencoba membuat peristiwa digital. Salah satu hal yang kami harapkan adalah interaksi secara virtual itu terjadi karena kami berpegang bahwa pertunjukan adalah peristiwa. Ketika itu, penonton yang masuk ke ruang pertunjukan berasal dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Bali.

Sebagai sebuah percobaan, saya meyakini ada berbagai hal yang mesti kami baca ulang. Semisal, sebagaimana dokumentasi, ia tetaplah sebuah peristiwa ketika diakses oleh penonton. Dalam kasus yang sedikit lebih ekstrem, novel yang ditulis pada tahun 90 pun tetap menjadi peristiwa bahasa ketika diakses oleh pembaca hari ini.

Tanpa menyempitkan pembahasan, sesungguhnya banyak lembaga atau komunitas yang mencoba ruang virtual ini sebagai ruang pertunjukan. Tentu dengan berbagai catatan mengenai ruang peristiwa itu sendiri. Barangkali peristiwa virtual memiliki aturan main yang mesti kita selidiki lebih lanjut.

Di balik jarak pertemuan yang cukup banyak diretas oleh kehadiran internet, sesungguhnya semakin dapat dipahami pula bahwa pertunjukan tidak bisa lepas dari interaksi langsung. Dan, interaksi langsung memang sulit untuk digantikan. Meskipun demikian, hari ini kita mesti menyadari bahwa sesungguhnya medan produksi kultural kita tidak terbatas pada geografi yang sudah dijangkau oleh fisik saja.

Maka, dalam konteks produksi pertunjukan pun kita dibuat lebih awas karena apa yang kita pikirkan saat ini, belum tentu tidak dipikirkan oleh orang di belahan dunia lain. Cara melacaknya sederhana, cukup ketik ide atau persoalan tersebut di google. Tidak hanya arena kultural yang meluas, berbagai referensi pun kita begitu terbuka. Memang agak bertentangan, di mana keterbukaan ini, dengan mudah membawa kita pada ruang sesat. Tapi, bukankah masing-masing ruang memiliki sifat yang menggandeng resikonya sendiri?

***

Tampaknya ruang dan tubuh mesti dipertanyakan ulang di tengah-tengah terbukanya akses jejaring pertemuan hari ini. Apakah tubuh terbatas pada yang fisik, yang telah kita maknai sebagaimana definisi tubuh dalam biologi, psikologi, atau bahkan agama-agama?

Apakah ruang sebatas fisik bisa menjangkau? Jangan-jangan, kita layak menyebut akun instagram, Facebook, dan lain sebagainya adalah kita? Jangan-jangan, sebagai laboratorium pertunjukan, tugas sawah sudah usai, dan kita membutuhkan Dharma Virtual untuk memantik lahirnya kesenian adilihung lainnya? Jangan-jangan kita perlu Nandurin karang Virtual.[T]

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Warna Bali: Dari Material hingga Penerapannya dalam Karya  Seni Rupa Tradisi dan Kontemporer
Petani dalam Tatapan Sastrawan Kita: Dulu dan Kini
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Tags: pertanianSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024Teater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Bali: Dari Material hingga Penerapannya dalam Karya  Seni Rupa Tradisi dan Kontemporer

Next Post

Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co