6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
August 15, 2024
in Kuliner
Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Uraban/lawar nyawan di Desa Tambakan, Buleleng | Foto: tatkala.co/Hizkia

APA yang biasa dikonsumsi dari lebah? Umunya orang akan jawab: madu. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasa dari lebah itu sendiri? Apakah rasanya seperti sengatan?

Pertanyaan itu yang terlintas dibenak saya saat ditawari menu uraban nyawan atau lawar nyawan atau lawar lebah di Desa Tambakan, Kubutambahan, Buleleng, Bali, Selasa, 6 Agustus 2024.

Saat itu, di Desa Tambakan, tepatnya di areal sekitar Pura Mrajapati, sedang digelar acara pembukaan pameran seni instalasi karya perupa Nyoman “Polenk” Redi

Saat acara makan siang usai seremonial pembukaan pameran, saya ditawari uraban nyawan, atau orang lebih banyak menyebutkan lawar nyawan. Uraban, atau lawar, adalah menu makanan khas Bali, biasanya terdiri dari campuran berbagai jenis sayur, bumbu lengkap dan parutan kelapa. Juga berisi campuran daging. Jika campurannya dadging babi, maka menu itu disebut lawar babi. Jika menggunakan daging sapi, maka disebut lawar sapi.

Nah, ini lawar nyawan, atau lawar lebah.  Artinya, lawar itu berisi daging lebah. Bisa dibayangkan, bagaimana lebah menjadi makanan untuk lauk-lauk.

Ketika ditawari, saya ragu-ragu.  Saya punya pengalaman masa kecil yang membuat saya sedikit trauma dengan serangga penyengat semacam lebah. Saya pernah iseng menyentuh tawon yang sudah mati dan saya tersengat tawon mati itu. Biarpun lebah tidak dapat menyengat dalam keadaan mati seperti tawon, tetap saja hal itu membangkitkan rasa cemas dan takut untuk memcicipi hidangan uraban nyawan itu.

Saya bayangkan, sengat lebah bisa saja menusuk bagian dalam mulut saya. Rasanya pasti akan sangat tidak bisa dibanggakan.

Namun, saya penasaran juga. Melihat orang lain yang baik-baik saja saat menyantap menu makanan yang unik itu, saya pun memberanikan diri untuk mencoba hidangan eksotik itu. Makan tanpa nasi bagi saya seperti hari raya Paskah tanpa telur paskah.

Saya menyantap hidangan itu dengan nasi yang dibungkus daun. Awalnya saya hanya menyantap nasi bungkus sambil menatap hidangan dari lebah itu. Saya mengunyahnya perlahan sambil terus menatap hidangan dari lebah itu. Sesuap, dua suap nasi bungkus tertelan hingga akhirnya keberanian saya terkumpul untuk mencoba uraban nyawan itu.

Mulanya hanya seujung sendok hidangan itu saya cicipi. Dengan perlahan suapan pertama itu saya dekatkan ke mulut saya. Sedikit merinding saat menatap sendok yang berisi sedikit olahan lebah itu mengarah ke mulut saya.

Namun, bagian menariknya adalah, sesampainya makanan itu di dalam mulut saya dan menyentuh lidah saya, terasa gurih. Orang Bali biasa menyebut nyangluh.  Barangkali rasa gurih itu muncul dari bumbu-bumbu yang dipakai untuk mengolah makanan itu.

Bukan hanya itu, ketika lebah-lebah mungil itu terkunyah dan lumer di mulut, ada sedikit rasa pahit bercampur manis, ditambah dengan rasa gurih dari bumbunya, membuat olahan unik itu memiliki rasa nikmat yang istimewa.

Santapan makan siang di pameran Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe karya Nyoman “Polenk” Rediasa di Desa Tambakan | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Setelah uraban atau lawar nyawan masuk jadi suapan pertama di mulut saya,  saya tidak bisa berhenti lagi untuk terus melahapnya. Tak perlu waktu lama nasi bungkus dan uraban nyawan ituludes tanpa sisa di tangan saya.

Keunikan rasa dan tampilannya membuat saya penasaran untuk mengetahui bagaimana orang Desa Tambakan mengolah hidangan unik ini. Saya memutuskan untuk berbincang dengan Ni Komang Srinadi.  Ia adalah orang yang menawarkan menu itu kepada para pengunjung termasuk saya.

Srinadi mengatakan, hidangan ini sudah ada sejak  dulu di Desa Tambakan. Lebah-lebah yang menjadi bahan baku hidangan ini didapat saat warga mencari madu di hutan. Jika warga menjumpai sarang lebah yang berisi anak-anak lebah yang dirasa cukup untuk diolah, maka anak-anak lebah itulah yang kemudian mereka bawa kemudian diolah menjadi uraban nyawan.

Bahan utama uraban nyawan ini tentu saja nyawan atau lebah. Lebah yang masih bayi, atau lebah yang biasanya masih berada dalam gumpan sarangnya. Bukan lebah dewasa yang sudah bisa terbang dan menyengat.

Bumbu dan bahan lainnya berupa kencur, kelapa, garam, dan cabai yang dimasak selama kurang lebih 30 menit.

Ditengah perbincangan saya dengan Ni Komang Srinadi, datang seorang laki-laki berpakaian kemeja biru gelap dengan udeng di kepalanya bermaksud ikut berbincang soal uraban nyawan.

Laki-laki itu bernama Ketut Suliarta. Ia menjelaskan bahwa selain menjadi makanan konsumsi warga Desa Tambakan, uraban nyawan juga disajikan dan di-hatur-kan sebagai persembahan upacara Sakep Tilem yang dilaksanakan di Pura Dalem. Jadi, uraban nyawan ini juga dipersembahkan untuk Dewa.

Ni Komang Srinadi | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Saya bukanlah satu-satunya orang yang pertama kali mencoba uraban nyawan ini saat acara pembukaan pameran seni di Desa Tambakan itu.

Banyak pengunjung lain yang juga baru kali itu merasakan hidangan dari lebah khas Desa Tambakan itu dan menyukainya. Salah satunya, teman saya Sonhaji, salah satu tim tatkala.co yang memang ke Desa Tambakan untuk meliput pembukaan pameran.

Menurutnya hidangan ini memiliki rasa yang unik. Sama seperti saya, awalnya dia juga takut dan ngeri melihat hidangan itu, namun setelah mencobanya dia mulai menyukainya. Menurutnya keunikan dan kekayaan rasa hidangan itu membuat nafsu makannya bertambah. Rasa gurih dari bumbu, dan anak-anak lebah itu terasa pahit, manis, dan asam menciptakan sensasi makan yang menyenangkan baginya.

Pengunjung menikmati nasi bungkus dengan tambahan menu lawar nyawan | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Ni Komang Srinadi mengatakan banyak orang dari luar Desa Tambakan bahkan luar Buleleng yang gemar dengan uraban nyawan. Mereka kerap kali ke Desa Tambakan untuk membeli madu sekaligus anakan lebah yang nantinya diolah sendiri menjadi uraban nyawan. Tentu, jika tak mau repot, banyak juga yang membeli uraban nyawan yang sudah jadi. [T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Adnyana Ole

Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Subatah, Makanan Unik: Di Desa Pucaksari Subatah Biasa Digoreng, juga Bisa Di-nyatnyat
Gorengan Ores, Makanan Khas Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les
Klipes Sune Cekuh, Kumbang Air Goreng Khas Desa Kedis
Tags: Desa Tambakankulinerkuliner khas balikuliner lokalserangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja

Next Post

Merdeka, tetapi Belum!

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

by Dian Suryantini
October 5, 2025
0
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti...

Read moreDetails

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

by Nyoman Budarsana
September 15, 2025
0
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Makan di Warung Badak, serasa ada di desa tradisional yang damai. Restoran yang terletak di Jalan Badak I No.15, Desa...

Read moreDetails

Mencicipi 70 Varian Sambal Kerajaan dari 9 Puri di Bali Royal Chili Festival 2025

by Nyoman Budarsana
September 1, 2025
0
Mencicipi 70 Varian Sambal Kerajaan dari 9 Puri di Bali Royal Chili Festival 2025

ADA pemandangan menarik ketika para undangan dan pengunjung The Amazing Taman Safari Bali dipersilakan mencicipi sambal serangkaian dengan Bali Royal...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Merdeka, tetapi Belum!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co