23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Satria Aditya by Satria Aditya
July 14, 2024
in Esai
Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI guru adalah sebuah pilihan yang rumit. Satu tahun ingin resign, tahun berikutnya akan resign, tahun berikutnya sudah menyiapkan surat namun tak berani ngomong, walhasil sampai sekarang tetap terlanjur jadi guru.

Kalau dikata menyayangi perkerjaan, tidak. Menyesali juga tidak. Begitulah jadi guru. Penuh dilema.

Saya adalah lulusan juruan pendidikan yang tidak terlalu kompeten. Kenapa saya bilang tidak? Karena saya tidak ada pekerjaan sambilan yang menguntungkan. Jadi pengajar les sangat jarang dibutuhkan, jadi jurnalis bingung nyari berita, jadi pengajar teater apalagi. Walhasil, saya mengadu nasib di kota. Ya, menjadi guru. Apalagi?

Ini juga dilema. Balik ke kampung, sangat sedikit side job yang menguntungkan. Di kota, saya dikoyak-koyak realita. Bingung.

Saya pernah berpikir kembali ke tempat saya dilahirkan. Kembali ke kehidupan saat menjadi mahasiswa. Untuk menjadi penulis, pegiat teater, menjadi orang yang berpikir dan orang yang riang gembira. Namun usaha itu sia-sia. Kendala izin dari orang tua adalah suatu hal yang rumit. Lebih rumit dari syarat administrasi birokrat.

Di kota, saya sering bertemu teman-teman lama saya di kampus. Tentunya seangkatan. Mereka juga jadi guru. Kami sering bercerita banyak hal, sampai ingin menjadi menteri dan mengubah sistematika pendidikan negara ini. Tapi hal itu mustahil terjadi.

Pembicaraan kami bermula ketika membahas kejenuhan di sekolah masing-masing. Untuk para pembaca ketahui, kami adalah guru swasta yang berharap bahwa kehidupan kami sejalan dengan guru PNS atau P3K. Namun itu berbanding terbalik. Kembali lagi ke topik awal.

Kami saling menyampaikan aspirasi dan kegelisahan. Bahwa menjadi guru bla, bla, bla dan wek, wek, wek. Tapi kami selalu menjalaninya. Berusaha terlihat tegar.

Berlanjut ke obrolan Kurikulum Merdeka yang membuat kami pusing 9 keliling. Kami saling meberikan tips and trik untuk cepat menyelesaikan administrasi kelas itu. Hasilnya, tidak ada. Memang kami harus pusing 10 keliling agar bisa menyelesaikannya dengan baik.

Obrolan kami berlanjut. Sampai ke side job yang harus kami kerjakan. Teman saya bilang menjadi tukang ojek online sekarang bisa menambah penghasilan yang lumayan walau tidak banyak. Setidaknya cukup untuk membayar biaya indekost saya di kota ini. Saya pikir itu menarik.

Namun, saya sudah punya side job lain. Mentalitas seni dan sastra saya masih tidak goyah. Kadang teman saya menawarkan untuk melatih siswanya dalam ekstra teater. Ya, saya terima. Agar saya tidak diam saja.

Namun, kembali lagi. Saya senang, namun realita berkata lain. setelah berpikir sedemikian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai ojek online alias ojol. Namun jangan khawatir, mentalitas sastra dan seni saya masih tidak goyah lo ya.

Menjadi ojek online pikir saya sangat melelahkan. Namun kenyataan ternyata sangat berbeda. Walau kadang saya merasa hidup ini tidak adil, tapi setidak-adilnya hidup saya, masih ada hidup orang yang lebih tidak adil.

Saya bertemu dengan teman baru. Sesama ojek online. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah minimarket saat sedang menunggu orderan. Saya samarkan namanya. Ia adalah bapak Kayan –sebut saja begitu—ia adalah bapak rumah tangga yang tidak punya pekerjaan sama sekali setelah pandemi.

Terpaksa, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ia mendaftarkan diri sebagai ojek online. Rumah kontrakan, kebutuhan makan, kebutuhan sekolah dan lain-lain ia sendiri yang menanggung. Apalagi saya tahu, penghasilan sebagai ojek online ini kadang ramai dan kadang tidak.

Kami seperti main judi, kalua untung ya sangat untung, kalua tidak, kami bisa hanya membawa tangan hampa ke rumah.

Bapak Kayan banyak bercerita. Malam itu, saya matikan sekejap aplikasi saya sengaja untuk mengobrol lebih lama dengan dia. Bapak Kayan ini sangat sering mendapatkan orderan fiktif—begitu istilah kami saat mendapatkan orderan palsu yang pemesannya entah di mana. Sering sekali ia membawa pulang makanan yang tidak tahu siapa pemiliknya itu.

Ia juga bercerita bahwa sering mendapatkan hanya satu bintang padahal tak salah apa-apa. Penumpang yang paling menyebalkan seperti itu biasanya adalah bule-bule mabuk yang tindak-tanduk mereka tidak masuk akal. Sampai Bapak Kayan pernah kena muntah dan seluruh tubuhnya sampai basah oleh muntahan itu. Saya yang mendengarnya hanya bisa membelalakkan mata tak percaya.

“Saya tidak ingin pulang tanpa membawa apa-apa, Dik. Terpaksa saya ambil.” Begitu katanya.

Kadang menjadi tukang ojek online seperti ini, apalagi di daerah yang banyak beach club, seperti menghindari daerah yang sangat berbahaya. Namun kalau tidak diambil, mereka adalah sumber tips terbesar kami para ojek online.

Beberapa kali saya seperti tertampar oleh Pak Kayan. Ia ngojek dari pagi hingga pagi hari. Tak seperti saya yang hanya ngojek tepat pukul 6 sore dan berhenti ketika sudah mengantuk. Paling lama adalah jam 11 malam.

Saya menghidupkan aplikasi kembali. Malam juga saya lihat sudah sangat larut, tapi Pak Kayan seperti tak ingin menyelesaikan obrolannya. Ia saya pikir hanya butuh teman untuk diajak bercerita.

Sebatang rokok kretek dihidupkannya, saya ditawari, namun tak hayal, saya juga butuh rokok untuk menenangkan pikiran. Dibakarlah satu batang rokok kretek yang saya minta dari Pak Kayan. Kami lanjut mengobrol, sampai akhirnya ponsel Pak Kayan berbunyi.

“Saya ada penjemputan di Bandara. Besok kalua ketemu kita ngobrol lagi,” kata Pak Kayan sembari mematikan rokoknya.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum. Rokok saya masih banyak dan belum banyak cerita juga yang saya dengar.

“Hati-hati, Pak”, kata saya sembari berjabat tangan.

Setelah kepergian Pak Kayan dari minimarket itu, saya kembali mengecek ponsel saya. Ternyata tak ada orderan sama sekali. Waktu juga sudah menunjukkan jam 11 lewat. Saya akhirnya mematikan ponsel dan rokok yang diberi Pak Kayan tadi.

Sembari menghidupkan mesin motor dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, saya terbesit sesuatu. Saya berpikir agak lama tentang itu, jalanan juga sangat sepi namun pikiran saya terlalu riuh untuk itu.

Ternyata Prota, Promes dan Modul Ajar saya belum selesai dibuat.

Saya langsung tancap gas dan bergegas membuat sesuatu yang menyusahkan itu. Ini lebih susah dari menanggapi orderan makanan yang sudah dingin. Sial! [T]

Catatan Kecil Pelaksanaan Kemitraan antara Dosen dan Guru di  Sekolah
Bukan Guru Abal-Abal
Serdik: Senjata Sakti dan Tajam bagi Guru dalam Peperangan
Tags: guruojek online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rasa Tahun Ketiga, Konsistensi Memperkaya Jiwa dan Pengetahuan Komunitas

Next Post

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co