17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Satria Aditya by Satria Aditya
July 14, 2024
in Esai
Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI guru adalah sebuah pilihan yang rumit. Satu tahun ingin resign, tahun berikutnya akan resign, tahun berikutnya sudah menyiapkan surat namun tak berani ngomong, walhasil sampai sekarang tetap terlanjur jadi guru.

Kalau dikata menyayangi perkerjaan, tidak. Menyesali juga tidak. Begitulah jadi guru. Penuh dilema.

Saya adalah lulusan juruan pendidikan yang tidak terlalu kompeten. Kenapa saya bilang tidak? Karena saya tidak ada pekerjaan sambilan yang menguntungkan. Jadi pengajar les sangat jarang dibutuhkan, jadi jurnalis bingung nyari berita, jadi pengajar teater apalagi. Walhasil, saya mengadu nasib di kota. Ya, menjadi guru. Apalagi?

Ini juga dilema. Balik ke kampung, sangat sedikit side job yang menguntungkan. Di kota, saya dikoyak-koyak realita. Bingung.

Saya pernah berpikir kembali ke tempat saya dilahirkan. Kembali ke kehidupan saat menjadi mahasiswa. Untuk menjadi penulis, pegiat teater, menjadi orang yang berpikir dan orang yang riang gembira. Namun usaha itu sia-sia. Kendala izin dari orang tua adalah suatu hal yang rumit. Lebih rumit dari syarat administrasi birokrat.

Di kota, saya sering bertemu teman-teman lama saya di kampus. Tentunya seangkatan. Mereka juga jadi guru. Kami sering bercerita banyak hal, sampai ingin menjadi menteri dan mengubah sistematika pendidikan negara ini. Tapi hal itu mustahil terjadi.

Pembicaraan kami bermula ketika membahas kejenuhan di sekolah masing-masing. Untuk para pembaca ketahui, kami adalah guru swasta yang berharap bahwa kehidupan kami sejalan dengan guru PNS atau P3K. Namun itu berbanding terbalik. Kembali lagi ke topik awal.

Kami saling menyampaikan aspirasi dan kegelisahan. Bahwa menjadi guru bla, bla, bla dan wek, wek, wek. Tapi kami selalu menjalaninya. Berusaha terlihat tegar.

Berlanjut ke obrolan Kurikulum Merdeka yang membuat kami pusing 9 keliling. Kami saling meberikan tips and trik untuk cepat menyelesaikan administrasi kelas itu. Hasilnya, tidak ada. Memang kami harus pusing 10 keliling agar bisa menyelesaikannya dengan baik.

Obrolan kami berlanjut. Sampai ke side job yang harus kami kerjakan. Teman saya bilang menjadi tukang ojek online sekarang bisa menambah penghasilan yang lumayan walau tidak banyak. Setidaknya cukup untuk membayar biaya indekost saya di kota ini. Saya pikir itu menarik.

Namun, saya sudah punya side job lain. Mentalitas seni dan sastra saya masih tidak goyah. Kadang teman saya menawarkan untuk melatih siswanya dalam ekstra teater. Ya, saya terima. Agar saya tidak diam saja.

Namun, kembali lagi. Saya senang, namun realita berkata lain. setelah berpikir sedemikian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai ojek online alias ojol. Namun jangan khawatir, mentalitas sastra dan seni saya masih tidak goyah lo ya.

Menjadi ojek online pikir saya sangat melelahkan. Namun kenyataan ternyata sangat berbeda. Walau kadang saya merasa hidup ini tidak adil, tapi setidak-adilnya hidup saya, masih ada hidup orang yang lebih tidak adil.

Saya bertemu dengan teman baru. Sesama ojek online. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah minimarket saat sedang menunggu orderan. Saya samarkan namanya. Ia adalah bapak Kayan –sebut saja begitu—ia adalah bapak rumah tangga yang tidak punya pekerjaan sama sekali setelah pandemi.

Terpaksa, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ia mendaftarkan diri sebagai ojek online. Rumah kontrakan, kebutuhan makan, kebutuhan sekolah dan lain-lain ia sendiri yang menanggung. Apalagi saya tahu, penghasilan sebagai ojek online ini kadang ramai dan kadang tidak.

Kami seperti main judi, kalua untung ya sangat untung, kalua tidak, kami bisa hanya membawa tangan hampa ke rumah.

Bapak Kayan banyak bercerita. Malam itu, saya matikan sekejap aplikasi saya sengaja untuk mengobrol lebih lama dengan dia. Bapak Kayan ini sangat sering mendapatkan orderan fiktif—begitu istilah kami saat mendapatkan orderan palsu yang pemesannya entah di mana. Sering sekali ia membawa pulang makanan yang tidak tahu siapa pemiliknya itu.

Ia juga bercerita bahwa sering mendapatkan hanya satu bintang padahal tak salah apa-apa. Penumpang yang paling menyebalkan seperti itu biasanya adalah bule-bule mabuk yang tindak-tanduk mereka tidak masuk akal. Sampai Bapak Kayan pernah kena muntah dan seluruh tubuhnya sampai basah oleh muntahan itu. Saya yang mendengarnya hanya bisa membelalakkan mata tak percaya.

“Saya tidak ingin pulang tanpa membawa apa-apa, Dik. Terpaksa saya ambil.” Begitu katanya.

Kadang menjadi tukang ojek online seperti ini, apalagi di daerah yang banyak beach club, seperti menghindari daerah yang sangat berbahaya. Namun kalau tidak diambil, mereka adalah sumber tips terbesar kami para ojek online.

Beberapa kali saya seperti tertampar oleh Pak Kayan. Ia ngojek dari pagi hingga pagi hari. Tak seperti saya yang hanya ngojek tepat pukul 6 sore dan berhenti ketika sudah mengantuk. Paling lama adalah jam 11 malam.

Saya menghidupkan aplikasi kembali. Malam juga saya lihat sudah sangat larut, tapi Pak Kayan seperti tak ingin menyelesaikan obrolannya. Ia saya pikir hanya butuh teman untuk diajak bercerita.

Sebatang rokok kretek dihidupkannya, saya ditawari, namun tak hayal, saya juga butuh rokok untuk menenangkan pikiran. Dibakarlah satu batang rokok kretek yang saya minta dari Pak Kayan. Kami lanjut mengobrol, sampai akhirnya ponsel Pak Kayan berbunyi.

“Saya ada penjemputan di Bandara. Besok kalua ketemu kita ngobrol lagi,” kata Pak Kayan sembari mematikan rokoknya.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum. Rokok saya masih banyak dan belum banyak cerita juga yang saya dengar.

“Hati-hati, Pak”, kata saya sembari berjabat tangan.

Setelah kepergian Pak Kayan dari minimarket itu, saya kembali mengecek ponsel saya. Ternyata tak ada orderan sama sekali. Waktu juga sudah menunjukkan jam 11 lewat. Saya akhirnya mematikan ponsel dan rokok yang diberi Pak Kayan tadi.

Sembari menghidupkan mesin motor dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, saya terbesit sesuatu. Saya berpikir agak lama tentang itu, jalanan juga sangat sepi namun pikiran saya terlalu riuh untuk itu.

Ternyata Prota, Promes dan Modul Ajar saya belum selesai dibuat.

Saya langsung tancap gas dan bergegas membuat sesuatu yang menyusahkan itu. Ini lebih susah dari menanggapi orderan makanan yang sudah dingin. Sial! [T]

Catatan Kecil Pelaksanaan Kemitraan antara Dosen dan Guru di  Sekolah
Bukan Guru Abal-Abal
Serdik: Senjata Sakti dan Tajam bagi Guru dalam Peperangan
Tags: guruojek online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rasa Tahun Ketiga, Konsistensi Memperkaya Jiwa dan Pengetahuan Komunitas

Next Post

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co