2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Satria Aditya by Satria Aditya
July 14, 2024
in Esai
Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI guru adalah sebuah pilihan yang rumit. Satu tahun ingin resign, tahun berikutnya akan resign, tahun berikutnya sudah menyiapkan surat namun tak berani ngomong, walhasil sampai sekarang tetap terlanjur jadi guru.

Kalau dikata menyayangi perkerjaan, tidak. Menyesali juga tidak. Begitulah jadi guru. Penuh dilema.

Saya adalah lulusan juruan pendidikan yang tidak terlalu kompeten. Kenapa saya bilang tidak? Karena saya tidak ada pekerjaan sambilan yang menguntungkan. Jadi pengajar les sangat jarang dibutuhkan, jadi jurnalis bingung nyari berita, jadi pengajar teater apalagi. Walhasil, saya mengadu nasib di kota. Ya, menjadi guru. Apalagi?

Ini juga dilema. Balik ke kampung, sangat sedikit side job yang menguntungkan. Di kota, saya dikoyak-koyak realita. Bingung.

Saya pernah berpikir kembali ke tempat saya dilahirkan. Kembali ke kehidupan saat menjadi mahasiswa. Untuk menjadi penulis, pegiat teater, menjadi orang yang berpikir dan orang yang riang gembira. Namun usaha itu sia-sia. Kendala izin dari orang tua adalah suatu hal yang rumit. Lebih rumit dari syarat administrasi birokrat.

Di kota, saya sering bertemu teman-teman lama saya di kampus. Tentunya seangkatan. Mereka juga jadi guru. Kami sering bercerita banyak hal, sampai ingin menjadi menteri dan mengubah sistematika pendidikan negara ini. Tapi hal itu mustahil terjadi.

Pembicaraan kami bermula ketika membahas kejenuhan di sekolah masing-masing. Untuk para pembaca ketahui, kami adalah guru swasta yang berharap bahwa kehidupan kami sejalan dengan guru PNS atau P3K. Namun itu berbanding terbalik. Kembali lagi ke topik awal.

Kami saling menyampaikan aspirasi dan kegelisahan. Bahwa menjadi guru bla, bla, bla dan wek, wek, wek. Tapi kami selalu menjalaninya. Berusaha terlihat tegar.

Berlanjut ke obrolan Kurikulum Merdeka yang membuat kami pusing 9 keliling. Kami saling meberikan tips and trik untuk cepat menyelesaikan administrasi kelas itu. Hasilnya, tidak ada. Memang kami harus pusing 10 keliling agar bisa menyelesaikannya dengan baik.

Obrolan kami berlanjut. Sampai ke side job yang harus kami kerjakan. Teman saya bilang menjadi tukang ojek online sekarang bisa menambah penghasilan yang lumayan walau tidak banyak. Setidaknya cukup untuk membayar biaya indekost saya di kota ini. Saya pikir itu menarik.

Namun, saya sudah punya side job lain. Mentalitas seni dan sastra saya masih tidak goyah. Kadang teman saya menawarkan untuk melatih siswanya dalam ekstra teater. Ya, saya terima. Agar saya tidak diam saja.

Namun, kembali lagi. Saya senang, namun realita berkata lain. setelah berpikir sedemikian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai ojek online alias ojol. Namun jangan khawatir, mentalitas sastra dan seni saya masih tidak goyah lo ya.

Menjadi ojek online pikir saya sangat melelahkan. Namun kenyataan ternyata sangat berbeda. Walau kadang saya merasa hidup ini tidak adil, tapi setidak-adilnya hidup saya, masih ada hidup orang yang lebih tidak adil.

Saya bertemu dengan teman baru. Sesama ojek online. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah minimarket saat sedang menunggu orderan. Saya samarkan namanya. Ia adalah bapak Kayan –sebut saja begitu—ia adalah bapak rumah tangga yang tidak punya pekerjaan sama sekali setelah pandemi.

Terpaksa, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ia mendaftarkan diri sebagai ojek online. Rumah kontrakan, kebutuhan makan, kebutuhan sekolah dan lain-lain ia sendiri yang menanggung. Apalagi saya tahu, penghasilan sebagai ojek online ini kadang ramai dan kadang tidak.

Kami seperti main judi, kalua untung ya sangat untung, kalua tidak, kami bisa hanya membawa tangan hampa ke rumah.

Bapak Kayan banyak bercerita. Malam itu, saya matikan sekejap aplikasi saya sengaja untuk mengobrol lebih lama dengan dia. Bapak Kayan ini sangat sering mendapatkan orderan fiktif—begitu istilah kami saat mendapatkan orderan palsu yang pemesannya entah di mana. Sering sekali ia membawa pulang makanan yang tidak tahu siapa pemiliknya itu.

Ia juga bercerita bahwa sering mendapatkan hanya satu bintang padahal tak salah apa-apa. Penumpang yang paling menyebalkan seperti itu biasanya adalah bule-bule mabuk yang tindak-tanduk mereka tidak masuk akal. Sampai Bapak Kayan pernah kena muntah dan seluruh tubuhnya sampai basah oleh muntahan itu. Saya yang mendengarnya hanya bisa membelalakkan mata tak percaya.

“Saya tidak ingin pulang tanpa membawa apa-apa, Dik. Terpaksa saya ambil.” Begitu katanya.

Kadang menjadi tukang ojek online seperti ini, apalagi di daerah yang banyak beach club, seperti menghindari daerah yang sangat berbahaya. Namun kalau tidak diambil, mereka adalah sumber tips terbesar kami para ojek online.

Beberapa kali saya seperti tertampar oleh Pak Kayan. Ia ngojek dari pagi hingga pagi hari. Tak seperti saya yang hanya ngojek tepat pukul 6 sore dan berhenti ketika sudah mengantuk. Paling lama adalah jam 11 malam.

Saya menghidupkan aplikasi kembali. Malam juga saya lihat sudah sangat larut, tapi Pak Kayan seperti tak ingin menyelesaikan obrolannya. Ia saya pikir hanya butuh teman untuk diajak bercerita.

Sebatang rokok kretek dihidupkannya, saya ditawari, namun tak hayal, saya juga butuh rokok untuk menenangkan pikiran. Dibakarlah satu batang rokok kretek yang saya minta dari Pak Kayan. Kami lanjut mengobrol, sampai akhirnya ponsel Pak Kayan berbunyi.

“Saya ada penjemputan di Bandara. Besok kalua ketemu kita ngobrol lagi,” kata Pak Kayan sembari mematikan rokoknya.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum. Rokok saya masih banyak dan belum banyak cerita juga yang saya dengar.

“Hati-hati, Pak”, kata saya sembari berjabat tangan.

Setelah kepergian Pak Kayan dari minimarket itu, saya kembali mengecek ponsel saya. Ternyata tak ada orderan sama sekali. Waktu juga sudah menunjukkan jam 11 lewat. Saya akhirnya mematikan ponsel dan rokok yang diberi Pak Kayan tadi.

Sembari menghidupkan mesin motor dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, saya terbesit sesuatu. Saya berpikir agak lama tentang itu, jalanan juga sangat sepi namun pikiran saya terlalu riuh untuk itu.

Ternyata Prota, Promes dan Modul Ajar saya belum selesai dibuat.

Saya langsung tancap gas dan bergegas membuat sesuatu yang menyusahkan itu. Ini lebih susah dari menanggapi orderan makanan yang sudah dingin. Sial! [T]

Catatan Kecil Pelaksanaan Kemitraan antara Dosen dan Guru di  Sekolah
Bukan Guru Abal-Abal
Serdik: Senjata Sakti dan Tajam bagi Guru dalam Peperangan
Tags: guruojek online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rasa Tahun Ketiga, Konsistensi Memperkaya Jiwa dan Pengetahuan Komunitas

Next Post

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co