24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Satria Aditya by Satria Aditya
July 14, 2024
in Esai
Guru, Ojol,  dan Cerita Tentang Pekerjaan Sampingan

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI guru adalah sebuah pilihan yang rumit. Satu tahun ingin resign, tahun berikutnya akan resign, tahun berikutnya sudah menyiapkan surat namun tak berani ngomong, walhasil sampai sekarang tetap terlanjur jadi guru.

Kalau dikata menyayangi perkerjaan, tidak. Menyesali juga tidak. Begitulah jadi guru. Penuh dilema.

Saya adalah lulusan juruan pendidikan yang tidak terlalu kompeten. Kenapa saya bilang tidak? Karena saya tidak ada pekerjaan sambilan yang menguntungkan. Jadi pengajar les sangat jarang dibutuhkan, jadi jurnalis bingung nyari berita, jadi pengajar teater apalagi. Walhasil, saya mengadu nasib di kota. Ya, menjadi guru. Apalagi?

Ini juga dilema. Balik ke kampung, sangat sedikit side job yang menguntungkan. Di kota, saya dikoyak-koyak realita. Bingung.

Saya pernah berpikir kembali ke tempat saya dilahirkan. Kembali ke kehidupan saat menjadi mahasiswa. Untuk menjadi penulis, pegiat teater, menjadi orang yang berpikir dan orang yang riang gembira. Namun usaha itu sia-sia. Kendala izin dari orang tua adalah suatu hal yang rumit. Lebih rumit dari syarat administrasi birokrat.

Di kota, saya sering bertemu teman-teman lama saya di kampus. Tentunya seangkatan. Mereka juga jadi guru. Kami sering bercerita banyak hal, sampai ingin menjadi menteri dan mengubah sistematika pendidikan negara ini. Tapi hal itu mustahil terjadi.

Pembicaraan kami bermula ketika membahas kejenuhan di sekolah masing-masing. Untuk para pembaca ketahui, kami adalah guru swasta yang berharap bahwa kehidupan kami sejalan dengan guru PNS atau P3K. Namun itu berbanding terbalik. Kembali lagi ke topik awal.

Kami saling menyampaikan aspirasi dan kegelisahan. Bahwa menjadi guru bla, bla, bla dan wek, wek, wek. Tapi kami selalu menjalaninya. Berusaha terlihat tegar.

Berlanjut ke obrolan Kurikulum Merdeka yang membuat kami pusing 9 keliling. Kami saling meberikan tips and trik untuk cepat menyelesaikan administrasi kelas itu. Hasilnya, tidak ada. Memang kami harus pusing 10 keliling agar bisa menyelesaikannya dengan baik.

Obrolan kami berlanjut. Sampai ke side job yang harus kami kerjakan. Teman saya bilang menjadi tukang ojek online sekarang bisa menambah penghasilan yang lumayan walau tidak banyak. Setidaknya cukup untuk membayar biaya indekost saya di kota ini. Saya pikir itu menarik.

Namun, saya sudah punya side job lain. Mentalitas seni dan sastra saya masih tidak goyah. Kadang teman saya menawarkan untuk melatih siswanya dalam ekstra teater. Ya, saya terima. Agar saya tidak diam saja.

Namun, kembali lagi. Saya senang, namun realita berkata lain. setelah berpikir sedemikian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai ojek online alias ojol. Namun jangan khawatir, mentalitas sastra dan seni saya masih tidak goyah lo ya.

Menjadi ojek online pikir saya sangat melelahkan. Namun kenyataan ternyata sangat berbeda. Walau kadang saya merasa hidup ini tidak adil, tapi setidak-adilnya hidup saya, masih ada hidup orang yang lebih tidak adil.

Saya bertemu dengan teman baru. Sesama ojek online. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah minimarket saat sedang menunggu orderan. Saya samarkan namanya. Ia adalah bapak Kayan –sebut saja begitu—ia adalah bapak rumah tangga yang tidak punya pekerjaan sama sekali setelah pandemi.

Terpaksa, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ia mendaftarkan diri sebagai ojek online. Rumah kontrakan, kebutuhan makan, kebutuhan sekolah dan lain-lain ia sendiri yang menanggung. Apalagi saya tahu, penghasilan sebagai ojek online ini kadang ramai dan kadang tidak.

Kami seperti main judi, kalua untung ya sangat untung, kalua tidak, kami bisa hanya membawa tangan hampa ke rumah.

Bapak Kayan banyak bercerita. Malam itu, saya matikan sekejap aplikasi saya sengaja untuk mengobrol lebih lama dengan dia. Bapak Kayan ini sangat sering mendapatkan orderan fiktif—begitu istilah kami saat mendapatkan orderan palsu yang pemesannya entah di mana. Sering sekali ia membawa pulang makanan yang tidak tahu siapa pemiliknya itu.

Ia juga bercerita bahwa sering mendapatkan hanya satu bintang padahal tak salah apa-apa. Penumpang yang paling menyebalkan seperti itu biasanya adalah bule-bule mabuk yang tindak-tanduk mereka tidak masuk akal. Sampai Bapak Kayan pernah kena muntah dan seluruh tubuhnya sampai basah oleh muntahan itu. Saya yang mendengarnya hanya bisa membelalakkan mata tak percaya.

“Saya tidak ingin pulang tanpa membawa apa-apa, Dik. Terpaksa saya ambil.” Begitu katanya.

Kadang menjadi tukang ojek online seperti ini, apalagi di daerah yang banyak beach club, seperti menghindari daerah yang sangat berbahaya. Namun kalau tidak diambil, mereka adalah sumber tips terbesar kami para ojek online.

Beberapa kali saya seperti tertampar oleh Pak Kayan. Ia ngojek dari pagi hingga pagi hari. Tak seperti saya yang hanya ngojek tepat pukul 6 sore dan berhenti ketika sudah mengantuk. Paling lama adalah jam 11 malam.

Saya menghidupkan aplikasi kembali. Malam juga saya lihat sudah sangat larut, tapi Pak Kayan seperti tak ingin menyelesaikan obrolannya. Ia saya pikir hanya butuh teman untuk diajak bercerita.

Sebatang rokok kretek dihidupkannya, saya ditawari, namun tak hayal, saya juga butuh rokok untuk menenangkan pikiran. Dibakarlah satu batang rokok kretek yang saya minta dari Pak Kayan. Kami lanjut mengobrol, sampai akhirnya ponsel Pak Kayan berbunyi.

“Saya ada penjemputan di Bandara. Besok kalua ketemu kita ngobrol lagi,” kata Pak Kayan sembari mematikan rokoknya.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum. Rokok saya masih banyak dan belum banyak cerita juga yang saya dengar.

“Hati-hati, Pak”, kata saya sembari berjabat tangan.

Setelah kepergian Pak Kayan dari minimarket itu, saya kembali mengecek ponsel saya. Ternyata tak ada orderan sama sekali. Waktu juga sudah menunjukkan jam 11 lewat. Saya akhirnya mematikan ponsel dan rokok yang diberi Pak Kayan tadi.

Sembari menghidupkan mesin motor dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, saya terbesit sesuatu. Saya berpikir agak lama tentang itu, jalanan juga sangat sepi namun pikiran saya terlalu riuh untuk itu.

Ternyata Prota, Promes dan Modul Ajar saya belum selesai dibuat.

Saya langsung tancap gas dan bergegas membuat sesuatu yang menyusahkan itu. Ini lebih susah dari menanggapi orderan makanan yang sudah dingin. Sial! [T]

Catatan Kecil Pelaksanaan Kemitraan antara Dosen dan Guru di  Sekolah
Bukan Guru Abal-Abal
Serdik: Senjata Sakti dan Tajam bagi Guru dalam Peperangan
Tags: guruojek online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rasa Tahun Ketiga, Konsistensi Memperkaya Jiwa dan Pengetahuan Komunitas

Next Post

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

𝗖𝗘𝗖𝗘𝗞 𝗝𝗔𝗝𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗨𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗧𝗘𝗡 𝗦𝗔𝗥𝗔𝗦𝗪𝗔𝗧𝗜

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co