11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 “Bima Suci” di Taman Bung Karno Buleleng dan “Paksi Ireng” karya Marmar Herayukti — Ini Pesan Moral Konservasi Alam

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
June 13, 2024
in Ulas Pentas
 “Bima Suci” di Taman Bung Karno Buleleng dan “Paksi Ireng” karya Marmar Herayukti — Ini Pesan Moral Konservasi Alam

Putu Marmar Herayukti di Tam,an Bung Karno Buleleng

SUARA gemuruh menggelegar, nampak patung Singa Ambara Raja kokoh nan megah berdiri menyapa, kerlap-kerlip cahaya panggung mewarnai setiap sudut pagelaran. Kain putih itu tampak membentang menutup seluruh area masuk panggung pementasan. Iringan gamelan menjadi pelengkap yang sangat pas untuk menemani sebuah kisah Bima Suci. Ini cerita menarik.

 “Tekadku sudah sangat bulat untuk pergi ke Alas Candramuka (sebuah hutan yang dihuni raksasa),” ucap Sang Bima, putra Dewi Kunti, berkah dari Bhatara Bayu.

Sepenggal dialog itu bergema dengan tegas di panggung Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno, Sukasada, Buleleng Bali, Kamis malam, 6 Juni 2024.

Kisah ini adalah bagian dari pagelaran seni budaya dan olaharaga dengan tajuk “Tri Hita Karana” karya Sukmawati Soekarnoputri.

Pementasan ini menampilkan sebuah cerita tentang bagaimana kesetiaan seorang murid kepada gurunya, namun sebenarnya hal tersebut yang justru akan menjerumuskan muridnya sendiri.

Werkurdara begitu nama lain Bima, hanya berniat untuk berguru, mendengarkan dan menjalankan segala perintah yang telah diberikan oleh gurunya sendiri yaitu Resi Drona kepadanya, untuk pergi mencari air Tirta Amertha (air kesempurnaan hidup) ke alas candramuka.

Seperti yang dituturkan Merdah dan Tualen (tokoh punakawan dalam pewayangan Bali), dikisahkan Ibu Kunti begitupun pula Panca Pandawa tidak kuasa menghentikan perjalanan Bima menuju alas (hutan) itu. Perintah Resi Drona akan menjadi sebuah petaka bagi Bima sendiri, namun hal itu tidak menyurutkan langkah Bima menuju belantara alas candramuka. Kegigihan dan ketekunan Bima seakan-akan memberikan jalan bagi dirinya.

Penonton dengan seksama menyaksikan wayang kulit “Bima Suci” | Foto: Pande

Di tengah hutan itu terdapat dua sosok raksasa penjaga alas itu. Sang Rukmuka dan Sang Rukmakala begitu namanya. Namun dalam cerita kali ini diceritakan hanya satu raksasa yang menjaga alam itu yaitu Sang Rukmakala.

Dikisahkan manusia hidup di jaman sekarang ini, semakin rakus akan eksploitasi hutan serta lingkungan di sekitarnya. Semakin canggih bahkan semakin “sakti” semenjak teknologi sudah menjadi temannya. Mesin pemotong itu (mesin gergaji rantai) bagaikan menjadi musuh utama bagi seluruh penghuni hutan.

Hutan dibabat habis tak tersisa namun selalu menjadi wacana permasalahan tanpa adanya sistem reboisasi, sama saja akan merusak alam itu sendiri.

“Itu (hutan/alas) di depannya saja hijau, di tengahnya sudah habis tak tersisa,” tegas Delem kepada Sangut (kedua tokoh punakawan pewayangan Bali) saat menemani Sang Rukmakala.

Sang Rukmakala berpergian menuju ke tengah alas candramuka untuk mengawasi segala bentuk tindak kejahatan yang berani mencoba merongrong habis keberadaan hutan itu. Tanpa disengaja ia melihat Bima berjalan di tengah hutan, hingga pertempuran antara Bima dan Rukmakala pun sudah tidak dapat lagi terelakkan.

Riuh angin berhembus tak beraturan, seisi hutan dibuatnya bergemuruh dengan berbagai hewan yang keluar berhamburan saling bersahutan menandakan ketakutan akan situasi yang begitu mencekam. Bima dan Rukmakala sama-sama menunjukkan kesaktiannya dalam pertempuran itu, namun hebatnya pertempuran itu dapat dimenangkan oleh sang Bimasena.

Dari sela penonton tampak pementasan wayang | Foto: Pande

Bhatara Bayu datang di hadapan Bima dengan memberikan sebuah anugerah kepadanya berupa Aji Jalasegara (ilmu bertahan hidup di tengah air), kini ia diminta agar segera kembali pulang dari alas itu.

Sudah berkali-kali Bima diberitahu namun tidak satupun ada yang bisa menghentikan langkahnya namun pesan dari Bhatara Bayu-lah yang hanya bisa meluluhkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan itu.

Singkat cerita setelah kejadian pertempuran itu, secara diam-diam kembali atas perintah dan petunjuk Guru Resi Drona, sang Bimasena diberitahukan untuk menuju ke tengah Samudra untuk mencari Tirta Amertha. Tidak ada habis-habisnya hanya untuk memperdaya dan mencelakai Bima. Namun kembali lagi, jika sudah suatu perintah, apalagi dari seorang guru, itu adalah suatu hal yang paling mulia baginya.

Sepanjang lautan yang tak bertepi, Bima menikmati perjalanan pengembaraannya menuju samudera dengan hati dan niat yang tulus suci. Berkat anugerah Bhatara Bayu, Bima dapat dengan leluasa bertahan di tengah air hingga bertemulah ia dengan seekor naga besar penghuni dasar samudera, penuh dengan bisa mematikan, berwajah seram dengan taring tajam yang bercahaya.

Pertemuan itu menjadi petaka bagi Bima, diceritakan Bima terlibat pertempuran dengan naga yang ganas itu, dalam posisi terlilit Bima menancapkan kuku Pancanaka-nya ke badan naga itu yang kemudian membuat naga tersebut mati, Bima tergeletak lemas akibat bisa mematikan yang disemburkan oleh naga itu. Di depan matanya terlihat sinar cahaya menyala begitu terangnya, hingga di samudera yang sama Bima bertemu dengan seorang Dewa Kerdil.

“Siapakah dirimu wahai dewata, baru pertama kali aku melihat dirimu sepanjang hidupku? Penuh sinar gemerlap terpancar dalam dirimu, sudi kiranya paduka menjelaskan siapa dirimu?” tanya Bima dengan begitu herannya.

Dewa Ruci begitu nama dari dewa kerdil itu, dengan penuh lembut dewa itu berkata kepada Bima.

“Aku sebenarnya adalah dirimu, aku ada karena kamu ada, aku selalu ada di sepanjang hidupmu wahai Bima, masuklah dalam telingaku putra Kunti, kamu akan paham bagaimana hakikat hidup dan akan tahu sujatinya dirimu, kemana arah langkahmu, itu tidak akan terlepas dari nyama papatmu (suadara dalam kandungan menurut masyarakat Bali) getih (darah), lamas (selaput halus), yeh nyom (air ketuban) dan ari-ari (plasenta) itu adalah empat saudara yang menyertaimu sepanjang hidup, jika kamu paham itu, maka kamu akan mengetahui akan dirimu, kamu akan tau pulangmu ke mana, itu adalah ilmu sangkaning paraning dumadi yang tidak lain adalah ilmu manunggalin kaula gusti”.

Cerita itu ditutup dengan gemuruh tepuk tangan penonton yang menyaksikannya. Bagiku pengajaran dari cerita tersebut memang berdasar pada ajaran Tri Hita Karana bagaimana diri kita menjaga alam, menjaga diri sendiri dan berbakti kepada Tuhan guna mendapat jalan yang terbaik atas apa yang akan kita capai.

Di tengah kerumunan penonton itu ada seorang maestro ogoh-ogoh ternama yang terkenal akan karya fenomenalnya. Ia adalah Putu Marmar Herayukti, kerap akrab disapa dengan nama Marmar. Ia seorang penggelut seni ogoh-ogoh dari banjar Gemeh, Denpasar.

Ia terkenal akan beberapa karya ogoh-ogohnya yang penuh dengan pesan-pesan moral kehidupan. Salah satu karyanya adalah “Paksi Ireng”, tentu hal ini akan menjadi menarik apabila mengaitkan kedua cerita ini.

Ternyata Marmar pun dengan senang hati memberikan pendapat kecilnya akan hal itu.

Paksi Ireng apabila diceritakan secara singkat seperti ini: Sekelompok pemuda pergi menyusuri hutan untuk mencari lahan baru untuk mengembangkan pertanian mereka. Meskipun telah menempuh perjalanan puluhan mil, mereka belum menemukan lahan yang cocok.

Marmar (tengah) menghadiri pagelaran seni budaya dan olahraga Tri Hita Karana di RTH Bung Karno | Foto: Pande

Amarah mulai menggeluti beberapa pemuda kala itu, mereka mulai menyalahkan dan memaki tanah yang dianggap tidak bersahabat, meskipun ada satu orang di antara mereka yang mengingatkan bahwa tanah memiliki sifat alamiahnya sendiri.

Ketika matahari mulai terbenam, terdengar suara menggelegar bertanya akan keberadaan mereka, muncul sesosok makhluk raksasa bersayap hitam dengan mata menyala yang bernama Paksi Ireng.

Ia adalah penguasa ruang alam dan waktu dengan tegas mempertanyakan atas dasar apa mereka berani mengutuk dan memaki dirinya sendiri.

Mendengar pernyataan itu, salah satu pemuda akhirnya sadar akan kesalahannya, namun yang lain tetap membiarkan amarah menguasai mereka. Sikap sombong dan merasa paling benar dari para pemuda itu membuat sang Paksi murka dan mengutuk serta mengubah mereka menjadi sekawanan burung gagak, kecuali satu orang yang selamat karena sikap tulus serta rendah hati yang pemuda itu miliki.

Bagi Marmar, dalam kedua cerita sangat relevan. Apalagi menilik dari beberapa masalah yang terjadi di negeri ini. Kedua cerita tersebut sama mengandung arti nilai konservasi terhadap alam sebagaimana masyarakat Bali memiliki pegangan tulus dan ikhlas secara sukarela dalam setiap prosesi beryadnya yang dipersembahkan kepada alam.

“Menghaturkan bebantenan seperti air bersih sebagai Tirta, bunga yang wangi, buah yang segar dan sehat, semua hal tersebut ternyata memiliki nilai konservasi,” tutur Marmar.

Ogoh-ogoh Paksi Ireng karya Marmar Herayukti | Foto: Instagram @marmarherrz

Sebenarnya dalam diri kita sudah menanamkan nilai-nilai dari arti konservasi alam itu sendiri, dari cerita Bima Suci diatas, lebih banyak menekankan konsep Tri Hita Karana bagaimana cara kita menjaga alam dan ketulusan seorang murid kepada Gurunya.

Marmar memandang Bima sebagai murid yang datang dari alam murid dari kehidupan, menceritakan bagaimana manusia melakukan pengurusakan hutan terjadi tanpa orang orang sadari padahal mereka selalu membicarakan serta selalu memperdebatkan bagaimana konservasi itu sendiri tapi lupa akan tindakan apa yang sudah semestinya dilakukan untuk menjaga alam itu.

Dalam konsep yang Marmar angkat, Paksi Ireng menjadi simbol alam yang akan berlaku adil kepada kita apabila segala sesuatu yang kita persembahkan itu berdasar atas ketulusan hati dan kesungguhan raga dalam diri kita sendiri.

Apabila kita beryadnya dengan hati tulus maka sudah dipastikan mencapai suatu keberhasilan yang tentu akan kembali memberikan keuntungan bagi diri kita sendiri.

“Pola pikiran kita harus dibalik, kita yang memerlukan alam, bukan alam yang memerlukan kita,” tambah Marmar ketika ditemui di atas panggung dengan background patung Singa Ambara Raja.

Alam sebenarnya hanya memiliki tugas memberikan segalanya dan tugas nyata dari kita adalah menggunakan serta menjaganya. Alam tidak akan pernah rugi akan hal yang telah diperbuat oleh manusia itu sendiri, apabila kita sudah tidak bisa menjaganya maka sudah dipastikan apa yang telah kita gunakan telah habis sepenuhnya.

Dalam cerita Bima Suci, peranan ketulusan dan bhakti Bima terhadap perintah gurunya serta ketulusan Bima menjaga alam semesta, sekalipun perintah itu berniat busuk dan akan menjerumuskan Bima, namun berkat anugerah semesta yang menghantarkan Bima menuju arti ilmu sangkaning paraning dumadi yang sesungguhnya.

Ogoh-ogoh Paksi Ireng sedang di arak | Foto: Instagram @st.gemehindah

Dalam cerita Paksi Ireng ada pesan, jika kita bertindak ceroboh tanpa didasari atas dasar ketulusan kita berbakti menjaga alam maka yang rugi bukan alam itu sendiri melainkan alam itu akan hidup kembali seperti sediakalanya dan yang paling besar menanggung rugi itu malah manusianya.

Kembali lagi apapun yang terjadi di Bhuana Agung (alam semesta) akan terjadi pula di Bhuana Alit (tubuh manusia), berbagai bentuk nyata dari alam semesta terdapat juga dalam diri manusia itu sendiri. Merawat alam semesta akan sama merawat tubuh kita sendiri. Jangan hanya menjadi wacana yang sering diperdebatkan, mendukung aksi dengan sering peduli lingkungan sekitar namun kadang sering abai dan lupa dengan apa yang sebenarnya telah kita perdebatkan. [T]

Reporter: Pande Putu Jana Wijnyana
Penulis: Pande Putu Jana Wijnyana
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Sembroli Mabuk di “Buleleng Festival” – Bentuk Baru Teater Wayang
Membaca Ekosistem Pertunjukan Wayang Kulit di Buleleng
Benang Merah Wayang dan Realita | Antara Pesan dan Lelucon yang Dikehendaki
Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara
Pesan Dewa Ruci dalam Pagelaran Seni Tri Hita Karana di Taman Bung Karno

Tags: ogoh-ogohPutu Marmar Herayuktiwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Lima Kampus Hindu di Indonesia: Usaha Meningkatkan Literasi Keagamaan Hindu Generasi Z

Next Post

Pembelajaran Bahasa Bali Berbasis Lingkungan

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Pembelajaran Bahasa Bali Berbasis Lingkungan

Pembelajaran Bahasa Bali Berbasis Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co