6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Melajah Kalah”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 25, 2024
in Esai
“Melajah Kalah”

Darma Permana (penulis)

SUDAH menjadi hakikat, bahwa semua orang di dunia adalah insan yang ingin menang. Entah menang dalam menjalin sebuah hubungan, menang dalam suatu pertandingan, atau menang dalam menghadapi derasnya tantangan kehidupan. Mendapatkan kemenangan, menjadi simbolisasi dari kegemilangan, buah dari kebahagiaan, serta sumber dari segala keriuhan. Sehingga tidak jarang, apapun bisa diperbuat oleh seseorang untuk memperoleh substansi yang disebut dengan menang.

Hal sebaliknya terjadi pada kalah. Substansi kebalikan dari menang ini, bisa terbilang hal yang sangat dihindari. Kalah biasanya menjadi sumber dari kesedihan, alasan dari kepiluan, serta puncak dari kenestapaan. Tidak jarang hampir semua insan membenci kekalahan. Kalah bahkan sering disalahkan sebagai penyebab hancurnya mimpi-mimpi untuk mencapai kecemerlangan.

Namun pernahkah seseorang berpikir untuk kalah? Yap pemandangan inilah yang diri ini lihat ketika mendapati gerombolan anak kecil tengah bermain sepeda di gang Pura Dalem. Tampak seorang anak kecil sebut saja Made, diejek oleh teman-temannya karena memiliki sepeda yang berpenampilan butut. Muka merah, kesal, dan sedih menyelimuti wajah Made pada saat itu sambil mengusap – usap debu di sepedanya.

Tiba-tiba, datanglah seorang anak kecil lainnya dengan perawakan lebih tinggi menghampiri Made. Sebut saja anak itu bernama Nyoman, kemudian mengajak Made untuk balapan sepeda menuju depan Pura Dalem. Pertama-tama Made menolak, namun dengan rayuan Nyoman, Made akhirnya menyanggupi perlombaan tersebut.

Tidak disangka-sangka, Made memenangkan perlombaan sepeda tersebut. Seketika wajah muram Made, berubah menjadi wajah ceria penuh kebanggan. Teman-temannya, juga seakan dibungkam dan akhirnya balik memuji kecepatan sepedanya Made.

Di tengah pemandangan tersebut, alis di mata kiri ini tiba-tiba naik dengan sendirinya. Hal yang mengherankan adalah, ketika Nyoman juga tampak tersenyum dari kejauhan. Tidak terlihat wajah sedih, muram, atau bahkan kesal pada diri Nyoman. Ia bahkan juga ikut memuji Made sambil tertawa dengan bahagia bersama teman-temannya yang lain. Padahal secara realitas, ia tidak bisa menepis baru saja kalah dari temannya yang katanya memiliki sepeda butut.

Asumsi liar dalam Citta ini pun muncul. Apakah memang Nyoman sengaja mengalah? Apakah memang Made memiliki kemampuan yang lebih dalam bersepeda? Atau memang sepeda Made yang katanya butut lebih cepat dari punyanya Nyoman? Namun apapun asumsi diri ini, tetap saja yang menang akan tetaplah menang, yang kalah tetaplah kalah.

Setelah berpikir panjang, bibir pada diri ini akhirnya tersenyum. Sambil kedua tangan menyeluk ke kantong celana, serta mata tambah berbinar melihat anak-anak yang bermain penuh riang gembira, sanubari ini akhirnya terketuk dan berkata: “Nyoman sudah mengusai ilmu agung yang bernama ‘Melajah Kalah’.”

Esensi Melajah Kalah

‘Melajah Kalah’ adalah kosakata dalam bahasa Bali yang berarti ‘Belajar Kalah’. Di tengah berlomba-lombanya insan belajar untuk menang, melajah kalah adalah salah satu ilmu agung yang bisa dikuasai. Dengan belajar untuk kalah, seseorang akan dapat memaknai apa sesungguhnya arti dari kemenangan yang sesungguhnya.

Untuk apa seseorang harus belajar kalah? Bukanlah lebih elok untuk belajar menang untuk memperoleh substansi yang disebut cemerlang?

Satu hal yang terkadang sulit diterima oleh manusia adalah menerima kekalahan. Manusia terkadang selalu siap untuk bertanding, senantiasa berusaha untuk berjuang, dan tak kenal menyerah untuk memperoleh kemenangan. Padahal dibalik mengincar kemenangan, kemungkinan kalah pasti akan selalu menyertai, kemungkinan gagal pasti akan senantiasa menemani, dan kemungkinan salah pasti akan bisa terjadi.

Jadi Apakah salah ketika manusia sulit menerima kekalahan dan selalu mengincar kemenangan? Tidak, tidak ada yang salah! Bahkan di era saat ini, sikap pantang menyerah memang wajib dimiliki oleh setiap insan untuk benar-benar mencapai suatu tujuan. Namun yang perlu diingat! Sejarah selalu mencatat, bahwa orang yang selalu terpaku pada meraih kemenangan, tanpa mau belajar dari kekalahan dan kekurangan pasti berakhir dengan mengenaskan.

Testimoni Melajah Kalah

Catatan Histori pernah merekam, bahwa orang yang tidak mau belajar kalah, justru menjadikannya sarana dendam untuk meraih kemenangan dengan cara yang tidak wajar. Duryodhana, Ibu Kaikeyi, Sangkuni, serta tokoh Pewayangan lainnya sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan ketika persaingan meraih kekuasaan. Ketika kekalahan dirubah jadi sarana dendam dan iri hati, kemenangan pun berusaha diperoleh dengan cara menyingkirkan. Menang memang didapat, namun yang didapat adalah kemenangan semu, sementara, serta justru dibumbui akhir yang begitu menyakitkan.

Hal yang sebaliknya justru terjadi dengan pihak yang mau melajah kalah. Sang Dharmawangsa (Yudistira), Sang Rama, serta beberapa tokoh agung lainnya bisa dijadikan suri tauladan bagaimana seni menerima kekalahan. Tidak bisa terbantahkan, bahwa Pihak Pandawa yang diwakili Sang Dharmawangsa memang kalah saat bermain dadu dengan pihak Kurawa yang diwakili Paman Sangkuni.

Begitu juga dengan Sang Rama yang kalah dari sisi intrik Politik dan janji dengan Ibunya Kaikeyi untuk meraih kekuasaan. Namun perbedaannya adalah, keduanya mau belajar dan tersenyum menerima kekalahan, merenungi kesalahan dan kekeliruan, dan pada akhirnya mampu meraih kemenangan melalui cara yang semestinya. Pengasingan hasil dari kekalahan pun tidak menjadi ajang mereka untuk mencela diri, menabur dendam, atau bahkan berputus asa. Namun justru sebaliknya, pengasingan menjadi masa yang agung bagi tokoh – tokoh tersebut untuk mengintrospeksi diri meraih asa.

Tidak hanya pewayangan, hal yang sama juga terjadi pada beberapa tokoh sejarah, tokoh fabel, bahkan tokoh cerita rakyat yang tidak mau belajar dari kekalahan. Tidak lekang dari ingatan bagaimana cerita rakyat Bali ‘Men Sugih’ yang karena merasa kalah dari Men Tiwas, pada akhirnya berusaha menang dengan cara menipu dan berbohong kepada Kidang Emas yang dipercaya mampu memberikan kekayaan.

Begitu juga Ni Kasuna, yang merasa kalah dari saudaranya Ni Bawang pada akhirnya mulai memfitnah dan menyakiti diri sendiri untuk merasa dikasihani oleh Sang Cerucuk Kuning. Pada akhirnya nasib keduanya tetap sama, kedukaan dan kematian datang sebagai hadiahnya.

Puncak Melajah Kalah

  Dengan demikian, melajah kalah bukanlah ilmu biasa yang bisa dilewatkan begitu saja. Melajah kalah justru adalah ilmu agung, sebagai sumber dari datangnya hal yang luar biasa.

Namun sama seperti sebuah proses pembelajaran, malajah kalah bisa dikuasai dengan tekun dan terus berjuang dalam meraih barisan kekalahan. Karena pada saatnya tiba, melajah kalah akan mampu merubah tumpukan kekalahan jadi senyuman, serta berakhir dengan kemenangan yang sesungguhnya. “Jadi sudah siapkah diri ini melajah kalah?” Ujar diri ini dalam hati. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: pewayanganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Next Post

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co