13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelombang Budaya Korea Menerjang Indonesia

Kilau Riksaning Ayu by Kilau Riksaning Ayu
January 27, 2024
in Esai
Gelombang Budaya Korea Menerjang Indonesia

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

BEBERAPA dekade terakhir, Indonesia mengalami fenomena yang menarik, yaitu gelombang budaya Korea atau yang sering disebut sebagai “Hallyu Wave”. Gelombang ini tidak hanya melanda industri hiburan, seperti musik dan film, tetapi juga mempengaruhi gaya hidup, fashion, bahkan makanan. Dari K-Pop hingga drama Korea, fenomena ini telah mengubah lanskap budaya populer di Indonesia.

Hallyu Wave pertama kali muncul di awal tahun 2000-an, dimulai dengan popularitas drama Korea seperti “Winter Sonata” dan “Full House” yang tayang di televisi Indonesia. Keunikan cerita, kualitas produksi, dan daya tarik para aktor dan aktris Korea berhasil memikat hati penonton Indonesia.

Seiring waktu, K-Pop atau musik pop Korea menjelma menjadi bagian penting dari Hallyu yang digemari mulai dari grup seperti Super Junior, Big Bang, hingga grup yang kini digandrungi oleh Generasi Z, yaitu BlackPink, NCT, dan NewJeans.

Lebih dari sekadar hiburan, gelombang budaya Korea telah membentuk tren baru dalam fashion dan gaya hidup. Pakaian bergaya Korea dengan ciri khasnya yang minimalis dan elegan menjadi tren di kalangan anak muda. Tak ketinggalan, K-Beauty atau tren kosmetik Korea dengan inovasi skincare-nya yang diklaim membuat kulit glowing menjadi “primadona” baru dalam dunia kecantikan.

Tidak berhenti sampai di situ, fenomena penyebaran budaya Korea di Indonesia tidak hanya terbatas pada musik, serial televisi, dan dunia kecantikan, tetapi juga telah merambah ke dunia kuliner. Istilah populernya adalah K-Food, yaitu tren makanan Korea yang kini menjadi bagian dari gelombang budaya yang mewarnai kuliner di Indonesia. Menu-menu seperti bibimbap, ramyeon, odeng, tteokbokki, dan kimchi, tidak hanya menarik bagi penggemar kuliner, tetapi juga mereka yang terpikat oleh budaya Korea secara keseluruhan.

Menariknya, tren K-Food dan K-Beauty sering kali berkembang beriringan dengan popularitas drama Korea atau Drakor. Tak jarang, penggemar Drakor mencari pengalaman kuliner, dan mencari tahu produk kecantikan yang digunakan dari serial drama favorit mereka. Hal ini menciptakan sinergi unik antara berbagai cabang bisnis seperti industri kecantikan, kuliner, dan hiburan yang memperkaya pengalaman konsumsi budaya Korea di Indonesia.

Kacamata Teori Komunikasi

Gelombang budaya Korea, telah menjadi fenomena global yang tidak hanya menarik perhatian publik secara luas tetapi juga menjadi subjek penting dalam studi komunikasi. Melalui lensa teori komunikasi, dapat dijelaskan bagaimana Hallyu menyebar dan mempengaruhi berbagai budaya di seluruh dunia.

Dalam konteks teori komunikasi budaya populer, Hallyu dapat dilihat sebagai manifestasi dari “soft power” Korea Selatan. Soft power adalah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi negara lain melalui daya tarik budaya dan ideologi, bukan melalui kekuatan militer atau ekonomi.

Hallyu menyebar melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial, platform streaming, dan komunitas penggemar, yang memungkinkan interaksi budaya lintas batas dan memperkuat identitas budaya populer Korea di mata dunia.

Data terkini menunjukkan bahwa peminat budaya populer Korea di Indonesia terus bertumbuh. Sebuah survei oleh Katadata Insight Center dan Zigi.id menemukan bahwa mayoritas penggemar di Indonesia mengakses konten Korea Selatan, seperti musik dan drama, hingga 3 jam per hari. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan ekspor budaya Korea, tetapi juga mengindikasikan perubahan dalam pola konsumsi media dan hiburan di Indonesia.

Melalui kacamata teori komunikasi seperti teori budaya populer dapat dilihat bahwa Hallyu lebih dari sekadar ekspor budaya ini adalah fenomena kompleks yang melibatkan interaksi dinamis antara media, budaya, dan identitas sosial. Lebih spesifik, di era digital, komunitas maya seperti forum online dan media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan Hallyu.

Fenomena ini dalam studi ilmu komunikasi dapat dijelaskan melalui teori identitas sosial yang menggambarkan bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu (dalam hal ini, penggemar Hallyu) dan bagaimana identitas ini dibentuk dan diperkuat melalui interaksi.

Masifnya gelombang Korea mendatangkan fanbase atau fandom yang terbentuk karena rasa suka akan grup K-Pop atau selebriti tertentu. Penggemar yang terasosiasi dalam kelompok pun mengadopsi identitas tertentu, yang sering kali ditandai dengan nama fandom khusus, warna, dan simbol. Ini menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan dalam kelompok, memperkuat ikatan antara penggemar dan meningkatkan rasa loyalitas mereka.

Media sosial telah memainkan peran penting dalam memperkuat identitas sosial dalam fanbase Korea. Platform seperti Twitter, Instagram, dan Youtube tidak hanya memungkinkan penggemar untuk mengikuti idola mereka tetapi juga berinteraksi dengan penggemar lain. Ini menciptakan ruang virtual di mana penggemar dapat berbagi pengalaman, merayakan pencapaian, dan bahkan mengorganisir kampanye atau proyek fanbase.

Dampak Kohesivitas

Kohesivitas yang terbentuk di antara fanbase Korea, khususnya dalam fenomena K-Pop, telah menunjukkan dampak yang signifikan tidak hanya dalam ranah hiburan tetapi juga dalam konteks sosial dan politik, termasuk pemilu. Fenomena ini dapat dilihat dari bagaimana fanbase K-Pop, telah mengembangkan jaringan komunitas yang kuat dan terorganisir, yang mampu memobilisasi dukungan dan aksi sosial dalam berbagai isu.

Jaringan komunikasi para penggemar Korea seperti K-Popers sangat terorganisir dan difasilitasi oleh platform khusus seperti Weverse. Platform ini memungkinkan fanbase untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan lebih efektif.

Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi digital telah memperkuat jaringan komunitas dan memungkinkan penggemar berpartisipasi secara lebih aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam konteks pemilu.

Baru-baru ini, ramai diperbincangkan di berbagai mediatentang munculnya dukungan dari Kpopers untuk salah satu paslon. Dukungan terhimpun dalam fandom Anies Bubble yang digagas oleh penggemar Kpop lintas fandom untuk pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

Fenomena dukungan politik dari Kpopers mencerminkan bagaimana keterlibatan aktif dari para penggemar Korea dalam berbagai isu sosial dan politik, termasuk pemilu. Fanbase K-Pop menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekadar penggemar, tetapi juga merupakan kelompok sosial yang aktif dan berpengaruh.[T]

Dan “Korean Waves” pun Menggulung Kita
Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
Wahai Kaum Rebahan, Yukk Nonton Drakor! Dijamin Tambah Mager
Tags: boy band koreadrama koreaKoreaKorea SelatanKorea WavesSastra Korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tangan Made Gelgel, Garam Disulap Menjadi Berbagai Bentuk dan Varian Rasa

Next Post

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Kilau Riksaning Ayu

Kilau Riksaning Ayu

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co