23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelombang Budaya Korea Menerjang Indonesia

Kilau Riksaning Ayu by Kilau Riksaning Ayu
January 27, 2024
in Esai
Gelombang Budaya Korea Menerjang Indonesia

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

BEBERAPA dekade terakhir, Indonesia mengalami fenomena yang menarik, yaitu gelombang budaya Korea atau yang sering disebut sebagai “Hallyu Wave”. Gelombang ini tidak hanya melanda industri hiburan, seperti musik dan film, tetapi juga mempengaruhi gaya hidup, fashion, bahkan makanan. Dari K-Pop hingga drama Korea, fenomena ini telah mengubah lanskap budaya populer di Indonesia.

Hallyu Wave pertama kali muncul di awal tahun 2000-an, dimulai dengan popularitas drama Korea seperti “Winter Sonata” dan “Full House” yang tayang di televisi Indonesia. Keunikan cerita, kualitas produksi, dan daya tarik para aktor dan aktris Korea berhasil memikat hati penonton Indonesia.

Seiring waktu, K-Pop atau musik pop Korea menjelma menjadi bagian penting dari Hallyu yang digemari mulai dari grup seperti Super Junior, Big Bang, hingga grup yang kini digandrungi oleh Generasi Z, yaitu BlackPink, NCT, dan NewJeans.

Lebih dari sekadar hiburan, gelombang budaya Korea telah membentuk tren baru dalam fashion dan gaya hidup. Pakaian bergaya Korea dengan ciri khasnya yang minimalis dan elegan menjadi tren di kalangan anak muda. Tak ketinggalan, K-Beauty atau tren kosmetik Korea dengan inovasi skincare-nya yang diklaim membuat kulit glowing menjadi “primadona” baru dalam dunia kecantikan.

Tidak berhenti sampai di situ, fenomena penyebaran budaya Korea di Indonesia tidak hanya terbatas pada musik, serial televisi, dan dunia kecantikan, tetapi juga telah merambah ke dunia kuliner. Istilah populernya adalah K-Food, yaitu tren makanan Korea yang kini menjadi bagian dari gelombang budaya yang mewarnai kuliner di Indonesia. Menu-menu seperti bibimbap, ramyeon, odeng, tteokbokki, dan kimchi, tidak hanya menarik bagi penggemar kuliner, tetapi juga mereka yang terpikat oleh budaya Korea secara keseluruhan.

Menariknya, tren K-Food dan K-Beauty sering kali berkembang beriringan dengan popularitas drama Korea atau Drakor. Tak jarang, penggemar Drakor mencari pengalaman kuliner, dan mencari tahu produk kecantikan yang digunakan dari serial drama favorit mereka. Hal ini menciptakan sinergi unik antara berbagai cabang bisnis seperti industri kecantikan, kuliner, dan hiburan yang memperkaya pengalaman konsumsi budaya Korea di Indonesia.

Kacamata Teori Komunikasi

Gelombang budaya Korea, telah menjadi fenomena global yang tidak hanya menarik perhatian publik secara luas tetapi juga menjadi subjek penting dalam studi komunikasi. Melalui lensa teori komunikasi, dapat dijelaskan bagaimana Hallyu menyebar dan mempengaruhi berbagai budaya di seluruh dunia.

Dalam konteks teori komunikasi budaya populer, Hallyu dapat dilihat sebagai manifestasi dari “soft power” Korea Selatan. Soft power adalah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi negara lain melalui daya tarik budaya dan ideologi, bukan melalui kekuatan militer atau ekonomi.

Hallyu menyebar melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial, platform streaming, dan komunitas penggemar, yang memungkinkan interaksi budaya lintas batas dan memperkuat identitas budaya populer Korea di mata dunia.

Data terkini menunjukkan bahwa peminat budaya populer Korea di Indonesia terus bertumbuh. Sebuah survei oleh Katadata Insight Center dan Zigi.id menemukan bahwa mayoritas penggemar di Indonesia mengakses konten Korea Selatan, seperti musik dan drama, hingga 3 jam per hari. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan ekspor budaya Korea, tetapi juga mengindikasikan perubahan dalam pola konsumsi media dan hiburan di Indonesia.

Melalui kacamata teori komunikasi seperti teori budaya populer dapat dilihat bahwa Hallyu lebih dari sekadar ekspor budaya ini adalah fenomena kompleks yang melibatkan interaksi dinamis antara media, budaya, dan identitas sosial. Lebih spesifik, di era digital, komunitas maya seperti forum online dan media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan Hallyu.

Fenomena ini dalam studi ilmu komunikasi dapat dijelaskan melalui teori identitas sosial yang menggambarkan bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu (dalam hal ini, penggemar Hallyu) dan bagaimana identitas ini dibentuk dan diperkuat melalui interaksi.

Masifnya gelombang Korea mendatangkan fanbase atau fandom yang terbentuk karena rasa suka akan grup K-Pop atau selebriti tertentu. Penggemar yang terasosiasi dalam kelompok pun mengadopsi identitas tertentu, yang sering kali ditandai dengan nama fandom khusus, warna, dan simbol. Ini menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan dalam kelompok, memperkuat ikatan antara penggemar dan meningkatkan rasa loyalitas mereka.

Media sosial telah memainkan peran penting dalam memperkuat identitas sosial dalam fanbase Korea. Platform seperti Twitter, Instagram, dan Youtube tidak hanya memungkinkan penggemar untuk mengikuti idola mereka tetapi juga berinteraksi dengan penggemar lain. Ini menciptakan ruang virtual di mana penggemar dapat berbagi pengalaman, merayakan pencapaian, dan bahkan mengorganisir kampanye atau proyek fanbase.

Dampak Kohesivitas

Kohesivitas yang terbentuk di antara fanbase Korea, khususnya dalam fenomena K-Pop, telah menunjukkan dampak yang signifikan tidak hanya dalam ranah hiburan tetapi juga dalam konteks sosial dan politik, termasuk pemilu. Fenomena ini dapat dilihat dari bagaimana fanbase K-Pop, telah mengembangkan jaringan komunitas yang kuat dan terorganisir, yang mampu memobilisasi dukungan dan aksi sosial dalam berbagai isu.

Jaringan komunikasi para penggemar Korea seperti K-Popers sangat terorganisir dan difasilitasi oleh platform khusus seperti Weverse. Platform ini memungkinkan fanbase untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan lebih efektif.

Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi digital telah memperkuat jaringan komunitas dan memungkinkan penggemar berpartisipasi secara lebih aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam konteks pemilu.

Baru-baru ini, ramai diperbincangkan di berbagai mediatentang munculnya dukungan dari Kpopers untuk salah satu paslon. Dukungan terhimpun dalam fandom Anies Bubble yang digagas oleh penggemar Kpop lintas fandom untuk pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

Fenomena dukungan politik dari Kpopers mencerminkan bagaimana keterlibatan aktif dari para penggemar Korea dalam berbagai isu sosial dan politik, termasuk pemilu. Fanbase K-Pop menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekadar penggemar, tetapi juga merupakan kelompok sosial yang aktif dan berpengaruh.[T]

Dan “Korean Waves” pun Menggulung Kita
Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
Wahai Kaum Rebahan, Yukk Nonton Drakor! Dijamin Tambah Mager
Tags: boy band koreadrama koreaKoreaKorea SelatanKorea WavesSastra Korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tangan Made Gelgel, Garam Disulap Menjadi Berbagai Bentuk dan Varian Rasa

Next Post

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Kilau Riksaning Ayu

Kilau Riksaning Ayu

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co