2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelombang Budaya Korea Menerjang Indonesia

Kilau Riksaning Ayu by Kilau Riksaning Ayu
January 27, 2024
in Esai
Gelombang Budaya Korea Menerjang Indonesia

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

BEBERAPA dekade terakhir, Indonesia mengalami fenomena yang menarik, yaitu gelombang budaya Korea atau yang sering disebut sebagai “Hallyu Wave”. Gelombang ini tidak hanya melanda industri hiburan, seperti musik dan film, tetapi juga mempengaruhi gaya hidup, fashion, bahkan makanan. Dari K-Pop hingga drama Korea, fenomena ini telah mengubah lanskap budaya populer di Indonesia.

Hallyu Wave pertama kali muncul di awal tahun 2000-an, dimulai dengan popularitas drama Korea seperti “Winter Sonata” dan “Full House” yang tayang di televisi Indonesia. Keunikan cerita, kualitas produksi, dan daya tarik para aktor dan aktris Korea berhasil memikat hati penonton Indonesia.

Seiring waktu, K-Pop atau musik pop Korea menjelma menjadi bagian penting dari Hallyu yang digemari mulai dari grup seperti Super Junior, Big Bang, hingga grup yang kini digandrungi oleh Generasi Z, yaitu BlackPink, NCT, dan NewJeans.

Lebih dari sekadar hiburan, gelombang budaya Korea telah membentuk tren baru dalam fashion dan gaya hidup. Pakaian bergaya Korea dengan ciri khasnya yang minimalis dan elegan menjadi tren di kalangan anak muda. Tak ketinggalan, K-Beauty atau tren kosmetik Korea dengan inovasi skincare-nya yang diklaim membuat kulit glowing menjadi “primadona” baru dalam dunia kecantikan.

Tidak berhenti sampai di situ, fenomena penyebaran budaya Korea di Indonesia tidak hanya terbatas pada musik, serial televisi, dan dunia kecantikan, tetapi juga telah merambah ke dunia kuliner. Istilah populernya adalah K-Food, yaitu tren makanan Korea yang kini menjadi bagian dari gelombang budaya yang mewarnai kuliner di Indonesia. Menu-menu seperti bibimbap, ramyeon, odeng, tteokbokki, dan kimchi, tidak hanya menarik bagi penggemar kuliner, tetapi juga mereka yang terpikat oleh budaya Korea secara keseluruhan.

Menariknya, tren K-Food dan K-Beauty sering kali berkembang beriringan dengan popularitas drama Korea atau Drakor. Tak jarang, penggemar Drakor mencari pengalaman kuliner, dan mencari tahu produk kecantikan yang digunakan dari serial drama favorit mereka. Hal ini menciptakan sinergi unik antara berbagai cabang bisnis seperti industri kecantikan, kuliner, dan hiburan yang memperkaya pengalaman konsumsi budaya Korea di Indonesia.

Kacamata Teori Komunikasi

Gelombang budaya Korea, telah menjadi fenomena global yang tidak hanya menarik perhatian publik secara luas tetapi juga menjadi subjek penting dalam studi komunikasi. Melalui lensa teori komunikasi, dapat dijelaskan bagaimana Hallyu menyebar dan mempengaruhi berbagai budaya di seluruh dunia.

Dalam konteks teori komunikasi budaya populer, Hallyu dapat dilihat sebagai manifestasi dari “soft power” Korea Selatan. Soft power adalah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi negara lain melalui daya tarik budaya dan ideologi, bukan melalui kekuatan militer atau ekonomi.

Hallyu menyebar melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial, platform streaming, dan komunitas penggemar, yang memungkinkan interaksi budaya lintas batas dan memperkuat identitas budaya populer Korea di mata dunia.

Data terkini menunjukkan bahwa peminat budaya populer Korea di Indonesia terus bertumbuh. Sebuah survei oleh Katadata Insight Center dan Zigi.id menemukan bahwa mayoritas penggemar di Indonesia mengakses konten Korea Selatan, seperti musik dan drama, hingga 3 jam per hari. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan ekspor budaya Korea, tetapi juga mengindikasikan perubahan dalam pola konsumsi media dan hiburan di Indonesia.

Melalui kacamata teori komunikasi seperti teori budaya populer dapat dilihat bahwa Hallyu lebih dari sekadar ekspor budaya ini adalah fenomena kompleks yang melibatkan interaksi dinamis antara media, budaya, dan identitas sosial. Lebih spesifik, di era digital, komunitas maya seperti forum online dan media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan Hallyu.

Fenomena ini dalam studi ilmu komunikasi dapat dijelaskan melalui teori identitas sosial yang menggambarkan bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu (dalam hal ini, penggemar Hallyu) dan bagaimana identitas ini dibentuk dan diperkuat melalui interaksi.

Masifnya gelombang Korea mendatangkan fanbase atau fandom yang terbentuk karena rasa suka akan grup K-Pop atau selebriti tertentu. Penggemar yang terasosiasi dalam kelompok pun mengadopsi identitas tertentu, yang sering kali ditandai dengan nama fandom khusus, warna, dan simbol. Ini menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan dalam kelompok, memperkuat ikatan antara penggemar dan meningkatkan rasa loyalitas mereka.

Media sosial telah memainkan peran penting dalam memperkuat identitas sosial dalam fanbase Korea. Platform seperti Twitter, Instagram, dan Youtube tidak hanya memungkinkan penggemar untuk mengikuti idola mereka tetapi juga berinteraksi dengan penggemar lain. Ini menciptakan ruang virtual di mana penggemar dapat berbagi pengalaman, merayakan pencapaian, dan bahkan mengorganisir kampanye atau proyek fanbase.

Dampak Kohesivitas

Kohesivitas yang terbentuk di antara fanbase Korea, khususnya dalam fenomena K-Pop, telah menunjukkan dampak yang signifikan tidak hanya dalam ranah hiburan tetapi juga dalam konteks sosial dan politik, termasuk pemilu. Fenomena ini dapat dilihat dari bagaimana fanbase K-Pop, telah mengembangkan jaringan komunitas yang kuat dan terorganisir, yang mampu memobilisasi dukungan dan aksi sosial dalam berbagai isu.

Jaringan komunikasi para penggemar Korea seperti K-Popers sangat terorganisir dan difasilitasi oleh platform khusus seperti Weverse. Platform ini memungkinkan fanbase untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan lebih efektif.

Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi digital telah memperkuat jaringan komunitas dan memungkinkan penggemar berpartisipasi secara lebih aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam konteks pemilu.

Baru-baru ini, ramai diperbincangkan di berbagai mediatentang munculnya dukungan dari Kpopers untuk salah satu paslon. Dukungan terhimpun dalam fandom Anies Bubble yang digagas oleh penggemar Kpop lintas fandom untuk pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

Fenomena dukungan politik dari Kpopers mencerminkan bagaimana keterlibatan aktif dari para penggemar Korea dalam berbagai isu sosial dan politik, termasuk pemilu. Fanbase K-Pop menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekadar penggemar, tetapi juga merupakan kelompok sosial yang aktif dan berpengaruh.[T]

Dan “Korean Waves” pun Menggulung Kita
Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
Wahai Kaum Rebahan, Yukk Nonton Drakor! Dijamin Tambah Mager
Tags: boy band koreadrama koreaKoreaKorea SelatanKorea WavesSastra Korea
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tangan Made Gelgel, Garam Disulap Menjadi Berbagai Bentuk dan Varian Rasa

Next Post

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Kilau Riksaning Ayu

Kilau Riksaning Ayu

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co