12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BELAJAR DARI HALAMAN RUMAH IBU FATMAWATI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 22, 2023
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 22 Desember 2023.

Ibu Fatmawati adalah istri pendiri bangsa Bung Karno. Bu Fat (panggilan akrab beliau) di masa tuanya mendiami rumah asri di tengah kota Jakarta yang terletak di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saya dan anak saya, tanggal 15 Desember 2023, sehari sebelum Hari Suci Ilmu Pengetahuan (Hari Saraswati) — hari raya Hindu Bali — berkunjung ke rumah Bu Fat. Sebuah kehormatan diberikan membuka dan menata kembali halaman lontar Sang Hyang Sarasamuscaya — sebuah buku suci dari daun lontar yang berisi ajaran Jawa Kuno [Kawi] kitab pedoman para pandita dan para cendikiawan serta bangsawan penguasa yang kerajaan Majapahit. Teks suci ini dipercaya ada jauh sebelum kerajaan Majapahit.

Kitab itu mengetarkan dengan keindahan tulisannya yang bermutu tinggi. Tentu isinya yang tak kalah penting — maha penting di era Majapahit — sebagai koridor berpikir SILA atau ETIK dalam menata kerajaan dan kehidupan bernegara. Jejak pemikiran dan menanta tata laku hidup yang mendalam para suci dan cendikiawan abad XIII-XV.

Ketika saya memutar di halaman Rumah Ibu Fatmawati, saya terketuk terdiam. Tidak bisa berkata-kata. Di sudut taman dan pohon besar di halaman rumah asri tersebut ada sebuah Arca Suci teramat istimewa. Arca Suci Ganesha — Dewa Pengetahuan dan Pelindung Lahir Batin — yang dalam kepercayaan Hindu tidak lain dari salah satu “perwujudan batiniah” Yang Maha Suci Kecerdasan Yang Bekerja dan Memelihara Alam Semesta Raya. Bisa disebut batiniah, bisa disebut “simbolik”.

.

Ada banyak candi di Nusantara dan berbagai lokasi ditemukan Arca Ganesha di Nusantara. Namun tidak ada yang menyamai yang duduk di halaman rumah Bu Fat. Arca ini adalah arca Ganesha yang di kakinya dikitari 8 perwujudan Ganesha yang lain. Ini adalah arca turunan 8 Avatara dari Ganesha. Satu-satunya arca Ganesha dengan 8 awatara yang pernah saya temui di Nusantara, menggambarkan isi kitab suci ‘Ganesha Purana’ dan kitab ‘Mudgala Purana’. Dalam kitab Ganesha Purana dan Mudgala Purana, dua Upapurana tentang Ganesha dan kitab suci utama sekte Ganapati, masing-masing berbicara tentang empat dan delapan Avatara Ganesha.

Ganesha — Dewa Pengetahuan dan Pelindung Lahir Batin — turun ke alam batin dan pikir manusia dalam 8 perwujudan batin dan spirit.

Di halaman rumah Ibu Fatmawati ini saya berjumpa ajaran suci bagaimana diri manusia Nusantara yang bijak di masa lalu secara batin atau emosional mesti siaga dan paham gejolak batin sendiri. Diberikan ajaran perlindungan secara naratif-simbolik disebutkan 8 arah perlindungan batin kita: Vakratunda, Ekadanta, Mahodara, Gajanana, Lambodara, Vikata, Vighnaraja, dan Dhumravarna.

.

.

Di halaman Rumah Ibu Fatmawati itu kita bisa merenung tentang kemanusiaan kita yang rentan goyangan dari dalam diri kita masing-masing. Manusia jika melihat ke dalam dirinya seperti bangunan yang dibangun di atas pasir yang labil. Arca Suci Ganesha dengan 8 Avatara (Awatara) perwujudan batin sucinya menuntun kita masuk ke dalam, masing-masing bisa dipahami Keraksasaan dalam diri kita secara ringkas sebagai berikut:

1. Vakratunda — Avatara Dewa Ganesha menghancurkan Matsarasura [Sang Kuasa/Raksasa Kegelapan yang membangkitkan Kecemburuan dalam jiwa semua manusia — Iblis Kecemburuan].

Kecemburuan adalah pemicu kemelaratan dan sakit hati yang paling dasar dalam diri manusia. Jika kita tidak paham akar kecemburuan diri adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan sikap kejam pada diri kita sendiri, maka kita senantiasa akan tidak bisa menerima diri kita apa adanya. Menerka diri sebagai diri sendiri apa adanya, tanpa membanding-bandingkan, adalah kunci memasuki ketenangan diri dan kedamaian mendalam diri kita.

2. Ekadanta: Avatara Dewa Ganesha musnahkan Madasura [Sang Kuasa/Raksasa Kegelapan yang membangkitkan rasa Mabuk dan Kebanggaan pada diri manusia — Iblis Kebanggaan dan Kemabukan Diri].

“Eka” berarti “Maya” yang menjelma dan “Danta” berarti “Kebenaran”. Jadi Ekadanta melambangkan “Kebenaran tertinggi” yang dimiliki Maya.

Ganesha dalam avatara Ekadanta menunjukkan kepada kita bahwa kemabukan diri dapat membuat seseorang merasa sombong dan tidak dapat dikendalikan.

.

.

.

Avatara Ganesha mengajarkan pada manusia untuk tetap rendah hati dan membumi. Ajaran suci memberikan petunjuk untuk memahami perbedaan antara harga diri dan kebanggaan serta pengaruhnya terhadap interaksi kita dengan ekosistem.

3. Mahodara: Avatara Dewa Ganesha penunduk Mohasura [Sang Kuasa/Raksasa Delusi dan Kebingungan — Iblis Delusi/Kebingungan].

Seringkali dalam hidup kita berada di persimpangan jalan dan bingung harus memilih jalan mana. Pada saat seperti itu, Avatara Ganesha menasihati kita untuk menarik diri, mengevaluasi pro dan kontra dari setiap pilihan secara objektif, dan kemudian memutuskan. Keputusan apa pun yang diambil secara tergesa-gesa sebagai akibat dari keadaan pikiran yang kacau bukanlah keputusan yang tepat.

4. Gajanana: Avatara Ganesh penghancur Lobhasura  [Sang Kuasa/Raksasa Pembangkit Keserakahan — Iblis Keserakahan].

Potensi Keserakahan dalam diri manusia tidak terbatas. Dewa Ganesha menasihati kita untuk menghentikan kebiasaan merusak diri sendiri dalam segala bentuk usaha pemuasan Keserakahan karena ini tidak ada batasnya. Manusia diajak belajar untuk merasa puas, bersahaja dan bersyukur dengan apa yang kita miliki dalam hidup.

5. Lambodara: Avatara Dewa Ganesh ini menghancurkan Krodhasura [Sang Kuasa/Raksasa Pembangkit Kemarahan]

Dewa Ganesha tahu bahwa Kemarahan adalah akar penyebab putusnya diri manusia dengan potensi kebajikan. Kemarahan memutus banyak hubungan dengan lingkar kebaikan, dan kata-kata yang diucapkan dalam kemarahan memiliki dampak yang dalam dan bertahan lama. Dalam inkarnasi ini, Beliau meminta kita untuk mengendalikan amarah kita agar tidak merusak kedamaian dan keharmonisan yang pantas kita dapatkan dalam hidup dan hubungan kita.

6. Vikata: Dewa Ganesha menjelma menjadi avatar Vikata untuk membantu manusia dalam menghadapi dan menghancurkan Kamasura [Sang Kuasa/Raksasa Pembangkit Keinginan — Iblis Nafsu].

Pada kadar tertentu keinginan dan nafsu masih berguna bagi manusia. Avatara Vikata menunjukkan kepada dunia bahwa keinginan tidak ada habisnya. Kepuasan dan kebahagiaan bukanlah hasil dari pencapaian apa pun, melainkan keadaan yang muncul dari dalam diri yang harus dipahami dan didamaikan dengan pikiran jernih dan ketenangan diri.

7. Vighnaraja: Dewa Ganesha menjelma menjadi Awatara Vighnaraja untuk membantu manusia dałam menghancurkan Mamasura [Iblis/Raksasa Kemelekatan].

Manusia tidak bisa terlepas dari berbagai bentuk kebiasaan yang paling sulit untuk dihilangkan. Kita manusia terikat dan melekat pada banyak hal – harta benda kita, anak-anak kita, teman-teman, dan kesuksesan.

Semua keterikatan ini memiliki kekuatan untuk memengaruhi suasana hati, gaya hidup, dan pada akhirnya berdampak pada mengoyang kesehatan mental kita.

Awatara Vighnaraja menasihati kita bahwa semua keterikatan duniawi memberi kita kegembiraan dan kesenangan yang bersifat sementara. Tujuan dari manusia terlahir di dunia adalah untuk mencari kebenaran dan keilahian dalam menuju kebahagiaan sejati. Banyak dari kita terus mencari kesenangan-kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat sementara, dan terjerat dalam lingkaran ilusi ini.

Awatara Vighnaraja membantu mamusia untuk bisa membedakan kesenangan sementara dan jalan menuju kebahagiaan sejati yang hakiki.

8. Dhumravarna: Avatar Dewa Ganesha ini menghancurkan Ahamakasura (Iblis/Raksasa Ego).

Seringkali kita cenderung berpegang pada hal-hal dan kejadian yang terjadi di masa lalu dan menolak untuk move on. Ego kita menghentikan kita untuk melepaskan insiden masa lalu, tidak bisa memaafkan orang lain atau tidak bersedia memaafkan pada diri kita sendiri. Kita terus menyimpan dendam dan salah paham terhadap orang-orang yang bersentuhan atau bahkan tidak berhubungan secara langsung dengan hidup kita.

Ego dan negativitas yang kita simpan di dalam ini merusak kita disebut sebagai Ahamakasura. Jika kita terjebak kuasa Ahamakasura, maka  kita harus memahami dan menyadari bahwa ada energi gelap yang ditiupkan Ahamakasura di dalam diri kita. Kita harus membuka diri, menyadari dan menerima energi positif dan cahaya kebajikan dari luar diri kita.

Di halaman rumah Ibu Fatmawati saya mendapat renungan bahwa di dalam diri manusia ada 8 raksasa yang inheren yang senantiasa berdiam di sama. Kita diajak memahami halaman diri kita masing-masing. Di halaman pikir dan hati kita bermukim 8 Raksasa:

— Matsarasura [Raksasa Kecemburuan], 

— Madasura [Raksasa Kebanggaan dan Mabu Diri],

— Mohasura [Raksasa Delusi/Kebingungang],

— Lobhasura  [Raksasa Keserakahan],

— Krodhasura [Raksasa Kemarahan],

— Kamasura [Raksasa Nafsu],

— Mamasura [Raksasa Kemelekatan],

— Ahamakasura [Raksasa Ego].

  • BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
Prof Raghu Vira Sahabat Bung Karno, Pakar Lontar Nusantara
Jangan Belajar ke India Sebelum ke Gedong Kirtya Buleleng
Aksara Bali 350 Tahun Lampau & Koleksi Lontar Kuno Rsi Bhujangga
LONTAR WAWATEKAN: LONTAR TAHUN PENULISAN LONTAR
Tags: Fatmawatilontarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu dan Meme Tentang Ibu di Hari Ibu : Kehebatan Emak-Emak yang Diabadikan

Next Post

Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co