23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aksara Bali 350 Tahun Lampau & Koleksi Lontar Kuno Rsi Bhujangga

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 14, 2023
in Esai
Aksara Bali 350 Tahun Lampau & Koleksi Lontar Kuno Rsi Bhujangga

— Catatan Harian Sugi Lanus, 13 Agustus 2023

SEJARAH perkembangan bentuk aksara Bali — berdasarkan pengalaman saya semasa saya belajar secara formal di Jurusan Bahasa Bali, Universitas Udayana — hanya dijelaskan secara umum belaka.

Prof Semadi Astra adalah tokoh yang saya kagumi ketekunannya mengulik duduk perkara perkembangan aksara Bali yag dipakai dalam piagam raja-raja Bali kuno dari era tahun 1000an sampai tahun 1200san masehi atau abad 11 sampai abad 12. Namun setelah itu seakan terputus; bagaimana perkembangan aksara dari Bali kuno ke Bali setelah Majapahit menguasai Bali?

Muncul beberapa pertanyaan:

— Apa yang terjadi dengan perkembangan aksara setelah masuknya kekuasaan Majapahit? Bagaimana perkembangan atau perubahan rupa aksara Bali era itu?

— Apakah aksara Bali dalam piagam-piagam raja Bali kuno yang ditulis di atas lembar tembaga tetap dipakai di atas lontar era Majapahit? Ataukah aksara dan lontar-lontar Majapahit yang dipakai atau menjadi tren penulisan lontar selanjutnya?

— Apakah rupa aksara Bali kuno dalam prasasti sama dengan rupa aksara untuk penulisan lontar era itu? Apakah yang di piagam atau prasasti tegak lurus dan ketika itu lontar kursif atau bulat seperti lontar-lontar era Gelgel?

Karena pertanyaan ini mengemuka di dalam kepala saya, maka kemanapun saya diundang merawat atau memeriksa lontar-lontar selalu semangat dengan minat untuk melihat dan berjumpa dengan rupa aksara dalam lontar-lontar era kerajaan Gelgel — atau lontar-lontar dari abad 15 sampai abad 17.

.

.

Salah satu yang cukup menarik adalah lontar yang ditulis 315 tahun lalu ini. Jelas dituliskan dalam lontar ini bahwa lontar ditulis tahun Śaka 1630 atau 1708 Masehi. 

Lontar bertahun ini Śaka 1630 adalah lontar Ślokantara. Koleksi Griya Batan Cempaka, Liligundi, Buleleng, milik Ida Pedanda Gede Ngenjung yang berpulang tahun 1955, kini disimpan oleh pewarisnya. Ida Pedanda Gede Ngenjung tercatat juga lontar-lontarnya disimpan di Gedong Kirtya. Mungkin disumbangkan atau diibahkan.

Dari lontar ini saya bisa membayangkan rupa aksara Bali tiga setengah abad (350 tahun).

Sebelum 350 tahun lampau bagaimana rupa aksara?

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saya harus terus rajin “membongkar-bongkar” koleksi tua di rumah-rumah penduduk di Bali.

Sebenarnya ada beberapa koleksi lain yang bertahun seputaran tahun lontar ini, seperti lontar-lontar Puja yang dikoleksi Rsi Bhujangga Pagan, Denpasar, yang kini dipegang oleh keluarga besar Guru Putu Suasta. Ada beberapa yang berusia 300 tahunan.

.

.

Koleksi keluarga lain adalah koleksi keluarga Rsi Bhujangga Banyuatis, Buleleng, yang konon leluhurnya bersama-sama dengan Mpu Wiraga Sandhi, putra dari Danghyang Nirartha, kesah/hijrah dari Gelgel.

Saya berhipotesis dari beberapa lontar di sana kemungkinan bisa menjadi contoh rupa aksara yang dipakai era akhir kerajaan Gelgel sebelum dipindahkan ke sekitar pusat kota Smarapura sekarang.

Koleksi lontar keluarga yang sangat luar biasa menarik adalah koleksi Rsi Bhujangga Banyuning (Bejuning), Buleleng, yang saya perkirakan sejaman dengan berdirinya kerajaan Buleleng, yaitu tahun 1660 Masehi. Koleksi keluarga Rsi Bhujangga Temukus, Buleleng, tidak kalah tuanya. Keluarga Rsi Bhujangga di Tabanan juga demikian.

Menjadi pertanyaan khusus: Ada apa dengan keluarga Rsi Bhujangga yang semuanya mengaku “kesah” (terpental secara politik dan hijrah) keluar dari pusat kerajaan Gelgel?

Ada informasi salah satu lontar menyebutkan bahwa keluarga Rsi Bhujangga terlibat dengan “pemberontakan” pada pusat kekuasaan. Selanjutnya mereka dieleminasi dari pusat kekuasaan dan dibuatkan “kisah penjatuhan” bahwa keluarga ini tidak lagi brahmana lingkar kerajaan (?).

Untuk pencarian bentuk asara era kerajaan Gelgel, informasi tentang keluarga Rsi Bhujangga terus saya telusuri karena semuanya memiliki sejarah lisan yang sama bahwa leluhur mereka dulunya berada di pusat pemerintahan dan disingkirkan.

.

.

Lontar-lontar tua sekitar era akhir Gelgel yang diwarisi keluarga ini mengkonfirmasi bahwa mereka memang dahulunya adalah para pandita di pusat kerajaan. Puja Bwat Sora dan Arga Patra, dan puja lainnya, yang dikoleksi keluarga Rsi Bhujangga ini tidak main-main, menunjukkan bahwa puja dan pengetahuannya adalah kelas purohita (pandita penasehat kerajaan).

Perjalanan saya menjawab dan membuat kronologi perkembangan aksara Bali belum selesai di sini. Sekalipun data lapangan dan foto-foto lontar-lontar tua yang saya miliki telah bisa dikatakan lebih dari mencukupi, catatan pendek ini bisa dikatakan hanyalah langkah permulaan, pemanasan belaka. [T]

  • BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya
Makian Tertinggi Bahasa Bali: Pirata Tendas Teli/Keleng
BERKABUNG DI BALI
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL
Tags: aksara baliHindu BaliRsi BujanggaSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Salam “MERDEKA”, Kita Memaknai Kemerdekaan

Next Post

Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali

Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co