30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sabit, Cangkul dan Panggul: Potensi dan Kreativitas Kekebyaran Sekeha Gong Abdi Budaya, Banjar Anyar Perean Kangin

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
November 29, 2023
in Esai
Sabit, Cangkul dan Panggul: Potensi dan Kreativitas Kekebyaran Sekeha Gong Abdi Budaya, Banjar Anyar Perean Kangin

SAAT itu jam menunjukkan pukul 20.00 wita, setelah persembahyangan Rahinan Buda Cemeng Klawu. Malam memang sudah beranjak larut, namun penulis sudah memiliki janji untuk datang ke Banjar Anyar Desa Perean Kangin, Baturiti, Tabanan. Banjar Anyar memiliki sekehe gong kebyar yang bereputasi bernama Sekehe Gong Abdi Budaya.

Disana saat itu penulis melatih sekehe gong Putra Abdi Budaya (regenerasi dari Sekehe Gong Abdi Budaya) gending ciptaan lelambatan tabuh kutus yang penulis ciptakan merupakan program hibah pendanaan Dipa ISI Denpasar tahun 2023. Penulis melatih ciptaan gending tabuh kutus bersama rekan sesama dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yaitu Putu Tiodore Adi Bawa.

Foto 1. Sekehe Gong Putra Abdi Budaya

Perjalanan dari Ubud menuju Banjar Anyar, menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 15 menit mengingat penulis memang tidak terbiasa mengendarai sepeda motor dengan kecepatan diatas 40 km/jam. Perjalanan penulis ke Banjar Anyar melewati jalan alternatif dari Sangeh menuju Cau Blayu (Marga), tidak melewati rute jalan utama Denpasar-Singaraja. Rute yang penulis tempuh setelah sampai di Desa Sangeh adalah menuju ke arah Desa Babakan Cau Blayu, Desa Padang Aling, Desa Piun, datang dari timur Desa Leba dan menikung ke arah utara maka sampai di Banjar Anyar.

Perjalanan dalam suasana malam semakin larut melewati bengang (lingkungan tanpa penghuni), sawah, desa-desa tersebut diatas yang hampir tertidur karena memang waktu untuk beranjak tidur. Beberapa kali harus melewati tempat-tempak sakral yang mengharuskan penulis untuk memohon izin secara bathin. Begitu juga ketika pulang latihan menuju ke Ubud, kembali penulis melewati desa-desa ini yang benar-benar telah terlelap dalam tidur karena pukul sudah menjunjukkan angka kecil yaitu 00.00 wita.

Terhadap peristiwa perjalan ini, penulis jadi ingat dengan pangendikan (tutur) Ida Pedanda Gede Jungutan Manuaba dari Grya Peling Padangtegal: “Dulu ketika betara lepas (Ida Pedanda Gede Manuaba) akan dikukuhkan menjadi sulinggih, beliau oleh Guru Nabe diperintahkan untuk melewati 4 kuburan ditengah malam, hal ini bermaksud melatih dan menguji keteguhan”. Hal ini juga penulis maknai untuk melatih keteguhan penulis untuk melahirkan karya. Ini adalah yoga keteguhan dan kemantapan hati.

Hal yang patut dicatat, sebagai manusia normal yang memiliki rasa takut, penulis sering merasa bergidik jika melewati tempat-tempat sepi apalagi ditengah malam. Bergidik mengingat sebagai orang Bali percaya terhadap energi lain yang berdampingan dengan manusia. Hal lain yang membuat lebih bergidik adalah ancaman kriminal dan motor mogok di daerah sepi yang gelap (walau performa motor penulis sudah dipersiapkan dengan service yang memadai).

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prebawa Ida sebagai Ratu Gede di Banjar Anyar, Perean Kangin selalu memberikan penulis perlindungan niskala dan sekala. Penulis tidak malu mengakui, ketika akan memasuki bengang Desa Cau Blayu, mulut penulis penuh komat-kamit memohon kehadapan Ratu Gede agar penulis senantiasa dilindungi keselamatan dalam perjalanan, begitu juga saat pulang penulis selalu memanjatkan doa. Penulis yain beliau Ratu Gede sangat kasih, penulis merasa betul-betul dilindungi hingga sampai dengan selamat sampai tiba di rumah.

Tepat pukul 21.00 wita penulis tiba di Balai Banjar Anyar, Perean Kangin di bawah ringdangnya Pohon Wandira. Penabuh sudah berada pada masing-masing tungguhan gamelan, nampaknya posisi penabuh telah diatur sebelumnya. Sedangkan di pinggir gamelan, di tepi balai banjar dan di lumbung juga terdapat beberapa masyarakat yang tengah menanti latihan dimulai. Perhatian penulis justru tertuju pada masyarakat yang berada luar gamelan, mengapa? Karena dari tatapan matanya yang awas penulis curiga mereka bukan masyarakat awam mengenai gamelan. Memang penulis telah mengetahui Banjar Anyar memiliki sekehe gong kekebyaran yang tersohor. Dari sini penulis sudah harus memofuskan proses pelatihan gending sesuai dengan konsep yang telah disiapkan sebelumnya dalam bentuk notasi. Sampai tahapan ini penulis kembali yoga, yoga agar fokus tetap terjaga.

Sebelum memulai latihan, penulis dijelaskan mengenai barungan Gamelan Gong Kebyar yang sangat disakralkan bergelar Ratu Gede oleh Jro Bendesa dan para tokoh Sekehe Gong Abdi Budaya seperti I Wayan Tusti Adnyana serta Kelihan Sekehe yaitu I Wayan Kencana. Sebelumnya penulis telah mengetahui “bunyi” dari gamelan Gong Kebyar milik Banjar Anyar yang tersohor. Utamanya pada larasnya dengan karakter begah (demung). Sekarang dengan diberitahu informasi bahwa gamelan ini bukan sembarang gamelan, maka nyali penulis menjadi ciut. Tetapi atas dorongan dari masyarakat Banjar Anyar, Perean Kangin penulis menjadi bersyukur dapat menuangkan gagasan musikal pada Ratu Gede (gamelan gong kebyar).

Pertemuan Pertama

Penulis pertama kali mendengar Banjar Anyar, Perean Kangin dengan kekebyarannya pada tahun 2006. Saat itu adalah kepulangan guru saya I Wayan Sudirana (Bli Sudi) dari Canada untuk melakukan pementasan silang budaya antara composer Amerika dengan kami Sekehe Gong Cenik Wayah. Seperti biasa setiap kepulangan dari Kanada, Bli Sudi selalu membawa oleh-oleh yaitu berupa gending-gending gamelan dari gaya klasik sampai avangarde. Gending-gending itu kemudian dideskripsikan oleh bli Sudi secara gamblang bahkan sudah pada tataran tematik mengenai urusan gagasan, metode dan penemuan. Secara tidak langsung, penulis yang saat itu baru duduk di bangku SMA kelas 2 menjadi terbiasa dengan analisa terhadap bentuk formil musik.

Pada saat itu gending yang dibahas adalah kumpulan gending-gending gamelan karya composer-composer barat seperti Evan Zyporin, Michael Tenzer dan Wayne Vitale. Satu persatu Bli Sudi menjelaskan gending-gending ciptaan kawan-kawan barat itu, bagaimana idenya, bobot komposisinya, sampai ke metode penciptaannya. Penulis dan teman-teman Gamelan Cenik Wayah saat itu: Gusti Dika, Awan Galung dan Kadek Hendra mendengarkan dengan seksama. Sampai akhirnya kami tiba pada pemutaran gending kekebyaran dari gamelan Gong Kebyar berlaras demung.

Foto 2. Sekehe Gong Abdi Budaya

Bli Sudi membuka diskusi: “Tawang gending ape ne? Tawang nyen ne ngae? (Tahukah ini gending apa? Tahukah siapa penciptanya?) Disertai tawa yang memancing rasa penasaran kami’. Sambil gending berjalan kami belum juga dapat menebak ini gending apa dan oleh siapa. Setelah lama kami dalam rasa penasaran, bli Sudi kemudian memberi tahu kami bahwa ini adalah gending kekebyaran yang berjudul Khayalan Tiga karya Pak Wayne Vitale dan dibawakan oleh sekehe gong dari Banjar Anyar, Perean Kangin.

Seketika kami kaget, apakah benar ini sekehe gong dari Perean?. Pertanyaan kami saat itu sangat wajar terlontar, mengingat pengetahuan kami terhadap horizon gamelan Bali sangat terbatas. Paling kami tahu popularitas Sekehe Gong Gladag, Pinda, Sad Merta, Peliatan, dan Buleleng. Sekehe gong di Buleleng pun kami tidak tahu detailnya di desa mana dan sekehe apa?. Bli Sudi meyakinkan kami: “ya ini sekehe dari Perean, dan mendapat pengaruh dari Buleleng”. I Gusti Bagus Suarsana adalah orang yang berjasa sebagai pelatih gending kekebyaran di Banjar Anyar Perean Kangin.

I Gusti Bagus Suarsana berasal dari Banjar Jero Gusti, Desa Bungkulan, Singaraja yang sekarang menetap di Desa Panji, Singaraja banyak memberikan gending-gending kekebyaran seperti Sapta Bhuana, Abdi Budaya dan Merak Angelo. Menurut Bli Sudi, bahwa pak Wayne Vitale yang kebetulan berteman baik dengannya pernah mengatakan kalau pak Wayne betah di Perean. Dari sinilah pertama kali saya mengengal sekehe gong dari Banjar Anyar, Perean Kangin yang kemudian saya ketahui nama sekehenya Abdi Budaya.

Foto 3. Sekehe Gong Abdi Budaya Saat Pentas di PKB

Sorot Mata yang Mencurigakan

Saran saya pertama dan paling utama bagi siapapun yang mengunjungi Sekehe Gong Abdi Budaya, Banjar Anyar, Perean Kangin untuk kepentingan melatih atau menciptakan gending mohon tetaplah rendah diri jangan jumawa. Mengapa sebab? disamping sekehe yang duduk dibalik tungguhan gamelan terdapat masyarakat ditepian balai banjar, di jineng dan bahkan di bawah rindang pohon beringin yang senantiasa menyaksikan jalannya latian.

Memang mereka terlihat acuh, santai, bahkan sambil ngobrol mengenai sawah atau ladang. Namun jangan salah, kuping dan mata ngicir mereka selalu bekerja merekam dan mengamati proses serta pencapaian latian. Khotbah 3 sks bisa muncul kapan saja jika dipandang sangat perlu dan sesuai dengan desa, kala, patra. Bahkan dengan bahasa tajam, setajam silet (meniru gaya retorika pemandu acara gossip Feny Rose).

Penulis pada saat melatih gending tabuh kutus lelambatan garap baru bersama Tiodore, paham betul dengan situasi ini. Karena sebelumnya penulis sudah mendengar dan mempelajari siapa Sekehe Gong Abdi Budaya Banjar Anyar Perean, Kangin. Bahkan karya kekebyarannya pernah penulis mainkan. Oleh sebab itu penulis setiap sampai di Banjar Anyar, Perean Kangin hal pertama yang dilakukan adalah mengamati sekeliling sudut untuk memastikan berapa ada “cctv” hidup yang mengawasi jalannya latihan.

Seperti biasa sambutan ramah dan sangat kekeluargaan selalu diberikan oleh para “cctv” ini. Intinya penulis dalam hati tahu, para “cctv” ini adalah penabuh dari Sekehe Gong Abdi Budaya yang tersohor ini. Sangat tenang dalam keseharian, namun dapat mematikan jika menyajikan kotekan bolak-balik pada bagian gegenderan. Terutama jika Pekak Metra datang melihat jalannya latian.

Foto 4. I Gusti Bagus Suarsana dan Para Tokoh Sekehe Gong Abdi Budaya

Pekak Metra yang akrab dipanggil Kak Met pernah suatu ketika pada saat penulis menuangkan progresi melodi ke wilayah nada rendah, seketika dia bereaksi dengan ucapan berdinamika lirih namun sangat keras menusuk kuping penulis: “pih ke gede abe e alihan-alihane, nyak nyak nyak” (wah progresi melodinya dibawa ke register rendah, seusai!). Mengapa Kak Met berguman kalau dibawa ke wilayah register nada rendah dibilang sesuai, memang ini unggulnya pelarasan Gamelan Gong Kebyar di Banjar Anyar, Perean Kangin. Ketika dibawa ke register rendah justru melodi menjadi sangat lembut dan jernih kualitas suaranya. Jadi Kak Met selain ingin mendukung jalannya latian juga sekaligus menjadi reviewer atas gending yang diciptakan.

Selain Kak Met pernah juga seorang kakek berambut agak putih penulis amati matanya agak dipicingkan, alisnya menaik, dan kadang disertai gerutuan. Khususnya pada saat penabuh reyong gagal dalam memainkan pola kilitan dan ketika ubitan polos-sangsih gangsa bertabrakan. “Aduh, jeg……….meh san, peh cek!”, vokabuler non kalimat berupa ungkapan ini keluar. Penulis dalam hati sangat bangga dan haru melihat peristiwa ini. Kadang penulis tertegun, benarkan kita yang disematkan gelar akademis dapat berprilaku awas seperti mereka yang tidak dinobatkan sebagai seniman akademis (bahkan mereka memang tidak memilih posisi itu), tapi dengan jeli dapat menangkap bentuk musikal selayaknya para analis dan para filsuf musik/gamelan.

Pekak Metra dan kakek berambut putih itu hanya salah dua dari “cctv” musikal tersebut. Masih banyak lagi “cctv-cctv” yang bertebaran jika sudah Ratu Gede (gamelan Gong Kebyar) mesuara (bersuara).  Bagi penulis kecurigaan terhadap sorot mata mereka terbukti. Mata yang dipicingkan dengan alis dikernyitkan menghimpit dahi adalah cara mengapresiasi. Hal ini adalah sikap awas agar menemukan hal-hal kecil yang kadang luput dari amatan. Mengenai hal ini penulis jadi ingatan Mas Don (Sardono W Kusumo) maestro tari dari Surakarta dalam bukunya “Hanoman, Tarzan dan Homo Sapiens” yang mengatakan Pak Kakul adalah guru tari yang selalu detail dalam mengamati dengan mata yang dipicingkan. Hal ini dilakukan untuk dapat fokus dalam melihat hal-hal yang detail dan penting. Jadi apa yang dilakukan oleh para sekehe Gong Abdi Budaya Perean sejalan dengan prinsip maestro Pak Kakul dari Batuan.

Kecurigaan penulis akhirnya terkonfirmasi oleh penuturan salah satu penabuh muda dari Banjar Anyar, Perean Kangin yaitu Kadek Andi. Andi mengatakan: “Ketika tidak ada pak Ana (penulis) dan bli Tu Tiodore, para Sekehe Gong Abdi Budaya yang sudah senior selalu memberikan kritikan yang tajam terkait teknik dari penabuh muda”. Disinlah khotbah setara 3 sks terjadi. Sejatinya dalam diam, santai dan terkadang cueknya mereka betul-betul bagai “cctv” yang merekam dan saban waktu diminta konfirmasi data peristiwanya, mereka dengan lugas dan presisi menjelaskan hasil amatan mereka.

Bagi penulis mereka benar-benar bagai pepatah Bali: “payuk prungpung misi berem” (alat mengukus dari bambu yang sudah tua, namun menyimpan air berem) yang artinya boleh saja penampilan mereka biasa-biasa saja namun pemikiran dan pengalaman mereka sangat hebat dan luas.

Sekali lagi dalam konteks ini kita harus mengakui mereka sebagai seniman yang tidak pernah mengenyam pendidikan seni formal (bahkan tidak ingin) lebih mampu membicarakan hal an-sich tentang gamelan. Kadang yang terlahir dalam dunia pendidikan seni formal masih belum mampu menampilkan argumen dan gagasannya secara an-sich dan esensial terhadap gamelan, justru lebih banyak berbicara masalah esensi non gamelan yang bertendensi sensasional.

Sabit, Cangkul dan Panggul

I Wayan Tusti Adnyana (salah seorang tokoh gamelan di Banjar Anyar, Perean Kangin) dalam satu kali pertemuan mengatakan: “Yan (panggilan untuk penulis) gamelan bagi masyarakat Banjar Anyar adalah kekayaan yang tak ternilai yang mereka miliki selain tanah sawah dan tegalan tempat mereka menggantungkan hidupnya”. Dari pernyataan pak Wayan Tusti penulis kemudian menarik dua hal esensial dari masyarakat Banjar Anyar Perean yaitu gamelan dan petani. Kemudian dari dua hal tersebut penulis mulai menarik hipotesa bahwa antara gamelan dan petani adalah dua hal yang sangat mempengaruhi kebudayaan di Banjar Anyar, Perean Kangin.

Hipotesa penulis terbangun atas dua hal yaitu 1) Ciri khas gending kekebyaran Banjar Anyar, Perean Kangin yang menyajikan kotekan dengan artikulasi prima dan 2) Atas sajian artikulasi kotekan yang prima menyebabkan mereka menjadi memiliki ciri khas atau gaya. Pertanyaan penulis berikutnya adalah, apa yang menyebabkan sajian artikulasi kotekan dari Sekehe Gong Abdi Budaya tersaji dengan prima seperti pada gending Abdi Budaya, Sapta Bhuana dan Merak Angelo?. Hal apa yang mempengaruhi? Salah satu faktor adalah tempaan I Gusti Bagus Suarsana seorang guru yang sangat berjasa bagi sekehe Gong Abdi Budaya. Kedua, penulis berasumsi bahwa karena Sekehe Gong Abdi Budaya bermata pencaharian sebagai petani.

Dasar asumsi penulis mendudukan profesi petani berdasarkan filosofi dari Fung Yu Lan. Fung Yu Lan dalam buku Dasar Filsafat Cina mengatakan: “pelaut adalah orang bijaksana dan petani adalah orang yang baik”. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa para pelaut senantiasa bergerak kemana ikan bergerak dan berkumpul, artinya pelaut akan selalu berpindah-pindah guna mendapatkan ikan. Sedangkan petani dengan tanah sawah atau ladang yang mereka garap tidak dapat bergerak kemana-mana.

Oleh sebab itu mereka harus telaten mengerjakan dan merawat tanah sawah dan ladang mereka. Semisal terjadi bencana, apakah mereka akan pindah dengan serta merta membawa tanah sawah dan ladang mereka? Atau jika harus berpindah ke daerah lain apakah dengan mudah akan mendapatkan tanah sawah atau ladang kembali untuk digarap?. Oleh sebab itu mereka pasti akan bertahan dengan segala keuletan dan kegigihannya. Sebagi seorang petani, jika merujuk pada filosofis Fung Yu Lan maka Sekehe Gong Abdi Budaya adalah sekehe gong yang ulet dan gigih. Ulet dan gigih berakumulasi menjadi disiplin. Disiplin dalam berlatih gamelan tentunya akan melahirkan kemampuan teknis yang mumpuni.

Kotekan dengan artikulasi yang prima pasti terlahir dari keuletan, kegigihan dan disiplin dalam berlatih. Bahkan pada saat ditunjuk sebagai duta Gong Kebyar Kabupaten Tabanan, Sekehe Gong Abdi Budaya pernah melakukan latihan dua kali dalam sehari yaitu subuh sebelum pergi menggarap sawah serta tegalan dan petang setelah datang dari sawah serta tegalan. Hanya dengan etos ulet, gigih dan disiplin latihan subuh dapat diwujudkan. Inilah jiwa dan spirit petani.

Kemudian sebagai petani jangan abaikan faktor sabit dan cangkul. Sabit dan cangkul adalah aparatus utama peralatan bertani. Sabit dan Cangkul hanya dapat difungsikan dengan baik oleh tangan serta lengan yang terampil. Terampil mengolah sabit dan cangkul adalah skill utama petani. Karena atas skil mengolah sabit dan cangkul, tanah untuk menaman dapat disiangi dan digemburkan dengan baik. Keterampilan mengolah sabit dan cangkul menyebabkan kinetis pergelangan dan lengan menjadi luwes serta kokoh. Pergelangan tangan luwes dan kokoh adalah salah satu syarat memainkan panggul dalam menyuarakan gamelan dengan kualitas baik. Nah, pertanyaan penulis mengenai apa yang menyebabkan sajian kotekan dari Sekehe Gong Abdi Budaya terdengar berkualitas? Ternyata sangat berhubungan dengan kinetis pergelangan dan lengan mereka yang luwes dan kokoh akibat dari keterampilan mengolah sabit dan cangkul.

Korelasi sabit, cangkul dan panggul (tabuh) bagi Sekehe Gong Abdi Budaya dikuatkan oleh pernyataan Ida Bagus Made Widnyana (Gus De) salah seorang seniman, komposer dan pelatih gamelan mumpuni dari Desa Tulikup, Gianyar. Gus De dalam kesempatannya memberikan masukan kepada Sekehe Gong Cenik Wayah ketika berlatih memainkan gending Kebyar Abdi Budaya yang akan dipentaskan dalam acara mebarung di Desa Kedisan, Tegalalang, yaitu: “Sebenarnya yang menyebabkan kotekan ini (gending Abdi Budaya) menjadi berkualitas, bukan karena disajikan dengan tempo yang cepat, melainkan karena teknik gegebug dan tetekep yang apik dan tekes”. Tekes artinya presisi. Pernyataan Gus De juga disetujui oleh I Wayan Sudirana yang melatih gending Kebyar Abdi Budaya di Sekehe Gong Cenik Wayah, Ubud.

Teknik gegebug apik dan tekes hanya dapat dilakukan dengan keluwesan serta kekuatan pergelangan dan lengan. Karena kinetis pergelangan tangan sebagai pusat pergerakan yang menghasilkan pola serta artikulasi kotekan. Sedangkan lengan sebagai tumpuan tenaga untuk menyangga energi gerakan kitentis pergelangan ketika melalukan gerakan pola kotekan.

Tebasan sabit melatih kinetis pergelangan, ayunan cangkul melatih tumpuan lengan. Sipirit ulet, gigih dan disiplin baik petani menjadi kontrol eksistensi. Sehingga ketika memegang panggul untuk menyuarakan gamelan, otomatis kinetis pergelangan dan kekuatan lengan terbawa disertai kedisiplinan. Hasilnya kotekan menjadi jelas, kuat dan artikulasi tersaji dengan presisi. Kualitas gending Kebyar Abdi Budaya, Sapta Bhuana dan Merak Anggelo dengan menggunakan piranti panggul tidak dapat dilepaskan dari faktor petani yang lihai dan terampil dalam mengolah sabit dan cangkul. Jadi sabit, cangkul dan panggul merupakan nyawa serta kualitas dari Sekehe Gong Abdi Budaya Banjar Anyar Perean Kangin. [T]

Tags: Desa Perean Kangingong kebyarkesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Api Indonesia Pentaskan Dinasti Bulldog di Geoks Arts Space Bali

Next Post

Antara Kopi, Vespa dan Tugas Negara di Pontianak

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails
Next Post
Antara Kopi, Vespa dan Tugas Negara di Pontianak

Antara Kopi, Vespa dan Tugas Negara di Pontianak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co