6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 18, 2023
in Esai
Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka

Ilustrasi diolah dari Canva

PADA TAHUN Pelajaran 2023/2024, Kurikulum Merdeka (sebelumnya disebut Kurikulum Prototipe) memasuki tahun ketiga yang pilot projeknya dimulai dari Program Sekolah Penggerak (PSP) pada Tahun Pelajaran 2021/2022.

Hakikat Kurikulum Merdeka adalah memberikan kebebasan kepada peserta didik agar terjadi proses transformasi pembelajaran  yang keluar dari belenggu dan penindasan. Disiplin belajar  diharapkan mulai dari kesadaran diri dan kesepakatan kelas secara bersama untuk memberikan rasa aman dan nyaman (student wellbeing) untuk mengembangkan kecerdasan berdimensi jamak sesuai dengan keunikan dan kehebatan peserta didik masing-masing.

Peserta didik merdeka belajar sesuai dengan kapasitas dirinya secara utuh menyeluruh mematangkan  jasmani dan rohani. Ki Hadjar Dewantara menyebutkan, pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak.

Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Inilah oleh ahli pedagog Barat disebut kognitif, afektif, dan psikomotor dalam dunia pendidikan (persekolahan) yang diimani hingga kini.

Implementasi Kurikulum Merdeka sejauh ini sangat ramai dan seru beritanya di media sosial. Keseruan itu perlu dicermati secara kritis karena media sosial sering menampilkan semangat virtualitas, yang hiperrealitas. Jangan sampai implementasi Kurikulum Merdeka tersesat di jalan yang benar. Apalagi selama dua tahun pelaksanaannya, belum ada evaluasi yang komprehensif terhadap sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka.

Namun demikian, ada beberapa kabar baik  yang tampak menggembirakan. Pertama, Sekolah Pelaksana Kurikulum Merdeka telah melaksanakan Pameran Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P-5) dengan tema-tema terpilih sesuai potensi sekolah. Pameran  melibatkan berbagai pemangku kepentingan (orang tua siswa, komite, pengusaha, sekolah lain).

Siswa dan guru antarsekolah melaksanakan arisan kunjungan saat P-5 digelar. Saling mengunjungi antarsekolah dapat diformat dalam bentuk wisata edukasi. Siswa diberikan kemerdekaan berinteraksi dan berekspresi sambil berwirausaha dengan menginternalisasikan nilai-nilai sapta pesona dalam dunia pariwisata.

Guru dan siswa merdeka belajar bersama secara kolaboratif dari sekolah lain. Kesetaraan guru-murid antarsekolah dapat dimodifikasi untuk merancang pembelajaran yang  menyenangkan, inklusif, demokratis, dan toleransi.

Kedua, guru dibiasakan berefleksi seusai pembelajaran baik dengan siswa secara bersama-sama sebelum mengakhiri pelajaran maupun dengan sesama guru. Secara institusi, Kepala Sekolah dapat melaksanakan refleksi mingguan terjadwal antara guru dan tenaga kependidikan. Dimungkinkan juga guru berbagi praktik baik untuk berefleksi antarsekolah dalam kelompok MGMP Tingkat Kabupaten dan Provinsi—bahkan antar Provinsi secara daring. 

Dalam refleksi, para guru bisa menyampaikan permasalahan yang dihadapi untuk dicarikan solusi bersama. Guru dibiasakan berkolaborasi secara mutualistik saling memberi dan saling menerima kekuatan dan kelemahan masing-masing. Secara implisit, kebiasaan berefleksi dapat memperkuat profil pendidik Pancasila—karena hakikatnya guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Ketiga, dalam rapor siswa juga dicantumkan nilai kualitatif  P-5 pada akhir tahun pelajaran, yang belum pernah ada pada Kurikulum sebelumnya. Ada 7 projek yang dapat diselesaikan siswa selama 3 tahun di SMA (fase E dan F).

Fase belajar  mengikuti fase-fase perkembangan dalam teori  belajar  Jean Piaget. Inti dari teori belajar ini adalah kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kognitif peserta didik. Kematangan anak mengikuti irama perkembangan yang berbeda-beda dan bersifat unik. Semuanya hebat sesuai dengan keunikannya masing-masing.

Di balik respon positif pelaksanaan Kurikulum Merdeka itu, masih ada kontroversi di kalangan atas dan bawah. Di kalangan atas (ahli, pengamat) pendidikan, menilai Kurikulum Merdeka diberlakukan tanpa persiapan dan tergesa-gesa bin diam-diam sebagaimana diungkapkan Darmaningtyas.

Dalam konteks digitalisasi pendidikan untuk mendukung Kurikulum Mereka, Indonesia belum memiliki perencanaan. “Pemerintah belum memiliki konsep dan hanya fokus membuat aplikasi,”  sebagaimana diungkapkan Indra Charismiadji (Kompas, 9/6/2023). Jangan-jangan, ini strategi pemasaran sebagai mana penawaran marketplace  guru yang menuai kontroversial.

Di kalangan bawah,  terutama bagi pelaksana Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) mandiri di luar PSP menilai Kurikulum Merdeka membuat kasta baru sekolah di tengah wacana  demokratisasi dan kesetaraan pendidikan.

Tidak jauh berbeda dengan RSBI zaman SBY atau Sekolah Binaan Khusus (SBK) zaman Orde Baru. Yang berbeda adalah model rekrutmennya, antara penunjukan dari atas (top down) dan inisiatif dari bawah (bottom up).

Selain itu, muncul pula rasa was-was terkait keberlanjutan pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan aneka gerakan yang mengawali, seperti Program Sekolah Penggerak dan Program Guru Penggerak. Sejumlah guru mengkhawatirkan  program itu berhenti  bila rezim dan menteri berganti setelah Pemilu 2024.

Apakah kekhawatiran itu juga dirasakan oleh  Menteri Nadiem Makarim  sehingga PSP pun hanya dibuka sampai Angkatan ketiga pada 2023? Entahlah.  Selanjutnya, Kurikulum Merdeka diharapkan dilaksanakan secara mandiri mulai 2024 oleh semua sekolah.

Begitulah Kurikulum Merdeka diberlakukan di tengah masa pandemi Covid-19 dengan aneka tantangan. Tantangan terkait kebijakan Kemendikbud Ristek mengangkat 1 juta guru P3K yang belum kelar dan terus ditagih oleh sekolah akibat banyaknya guru pensiun sedangkan pembelajaran tidak boleh terputus.

Tantangan lainnya adalah berubahnya regulasi super cepat dan mendadak sehingga menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan guru dan dosen. Hal yang berkebalikan dengan tagihan  agar guru dan dosen ramah anak/mahasiswa dengan pembelajaran yang menyenangkan.

Regulasi yang berganti super cepat itu juga kontra-produktif dengan imbauan mengurangi beban administrasi guru/dosen. Nyatanya, beban administrasi sangat menyita waktu di tengah tuntutan cepat berubah dengan berlari kencang seakan dikejar macan yang menakutkan.

Inilah refleksi implementasi Kurikulum Merdeka memasuki tahun ketiga. Saatnya regulasi ramah guru agar sekolah ramah anak makin membuat siswa kasmaran belajar. Sadar bahwa hanya ada dua profesi di dunia ini, yaitu guru dan lain-lain.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 
Transformasi Perguruan Tinggi Melalui Kebijakan Kampus Merdeka Mandiri
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru
Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Green Growth Journalism Training: Perlu Kolaborasi Untuk Pengarusutamaan Isu Lingkungan

Next Post

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co