2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Kebudayaan Melayu-Bugis di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 11, 2023
in Esai
Merawat Kebudayaan Melayu-Bugis di Bali

Suasana di Loloan | Sumber foto: Diskominfo Jembrana

TAK banyak masyarakat Indonesia tahu, bahwa di Provinsi Bali terdapat komunitas Muslim yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Mereka pendatang luar pulau, oleh sebab situasi politik era kolonial bermigrasi ke Bali dan membangun peradaban baru di pulau yang dijuluki sebagai Pulau Dewata.

Sebut saja Loloan. Desa yang kini menjadi dua kelurahan yakni Loloan Barat dan Loloan Timur yang terletak di Negara, ibu kota kabupaten Jembrana-Bali ini seakan tidak pernah habis untuk dibahas baik melalui tulisan maupun kajian ilmiah. Sudah banyak para akademisi baik dari Bali maupun luar Bali menjadikan Loloan sebagai subyek penelitian, baik dari segi bahasa, arsitektur, filsafat maupun budaya.


Para tetua dan leluhur warga Loloan berasal dari Sulawesi. Mereka para pelaut yang ulet dan pemberani. Kala itu Bali masih berada dalam sistem kerajaan, sering terjadi peperangan baik oleh kerajaan di Bali maupun Jawa termasuk juga dengan kolonial Belanda.

Orang-orang Loloan diangkat menjadi pasukan kerajaan Jembrana, karena dikenal gagah-berani. Oleh I Gusti Arya Pancoran, raja Jembrana kala itu, mereka diberikan daerah otonom yakni di wilayah selatan kota Negara yang dinamakan “Loloan”. Sungai yang luas dan besar di sana mengingatkan mereka akan tempat asal mereka. Di Loloan, mereka membangun rumah panggung yang hingga saat ini masih terjaga kelestariannya.

Termasuk juga kebudayaan Melayu-Bugis yang pada 20-21 Oktober 2023 lalu dikenang dalam sebuah festival bertajuk “Loloan Zaman Lame”. Jalan-jalan di Loloan begitu semarak oleh hiasan. Penonton yang datang dari berbagai penjuru kota memadati kampung kuno tersebut. Tampak juga tamu dari luar kabupaten bahkan provinsi. Mereka menikmati berbagai suguhan, terutama kuliner khas Loloan yang jarang mereka temui di tempat asal mereka.

Festival itu mengambil tema “Ayo Medayoan ke Loloan”. Medayoan, dalam bahasa Loloan berarti bertamu. Para pemuda Loloan sebagai pemrakarsa festival dengan santun dan ramah menjamu para tamu. Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna bersama jajaran pemerintah kabupaten Jembrana dan beberapa tokoh Puri Jembrana turut hadir sebagai pengayom masyarakat yang dikenal multikultur sejak lama.

Eka Sabara, penulis sejarah dan budayawan Loloan menyebut, “Medayoan ke Loloan” merupakan bahasa Melayu Loloan. Berasal dari kata dayo atau tamu, sehingga medayoan berarti datang bertamu. “Medayoan ke Loloan” berarti datang bertamu ke Loloan.

“Festival Loloan Jaman Lame yang tahun 2023 adalah kali kelima digelar, ditunggu-tunggu banyak orang karena kerinduan akan nuansa eksotik dari tradisi dan budaya Loloan yang unik. Para pengunjung dari berbagai kalangan menyatu hadir bersama dalam festival yang dilaksanakan selama dua hari tersebut. Festival ini mengambil kata “medayoan”yang merupakan kata atau ucapan yang sudah sangat jarang didengar di kalangan generasi saat ini, karena medayoan merupakan bahasa Loloan jaman lame (lama),” jelas Eka sebagaimana dikutip dari balisharing.com, 26 Oktober 2023.

Eka menambahkan, apabila kita memasuki pintu gapura kampung Loloan Zaman Lame, kita seolah-olah masuk ke lorong waktu masa lampau, mulai dari banyaknya stand-stand yang telah disiapkan panitia, meliputi stand seni, tradisi dan budaya Loloan jaman lame, seperti stan kuliner jajanan kuno.

Ada berbagai ragam jajanan kuno seperti jaje pasung, amplog, kopyor, cenil, lanun, gorog-gorog, apon, kole, jande merias, kupe-kupe, dan lain-lain, yang saat ini sudah sangat jarang dijumpai di warung modern.

“Hal unik juga terlihat para pengunjung diwajibkan memakai pakaian jaman lame, serba tradisional/Kuno, pementasan drama satu babak dari Sanggar Pilot dengan pemain kunci Ita Amini, seorang pegiat seni di tahun 1990-an. Tampak antusiasme para penonton menyaksikan drama tersebut,” kata Eka Sabara.

Ragam stand yang ditampilkan, antara lain stand pameran foto kuno, pameran benda-benda kuno, seni ngotok, tradisi nelayan ayom-ayom, permainan jaman lame, jedur-jeduran, cikar-cikaran serba bambu, stand nganten kuno, dapur kuno, tradisi ngaji, di’ba’, kain/sarung tenun Loloan.

Sejak pelaksanaan Festival Loloan Jaman Lame yang pertama di tahun 2017 silam, imbuh Eka Sabara, semakin banyak peningkatan yang ditampilkan sehingga menarik para pengunjung, baik dari Jembrana maupun luar Jembrana untuk hadir dan datang ke lokasi Festival Loloan Zaman Lame tersebut. Ini berkat kreativitas para pemuda Loloan yang terus secara intensif menggali dan berdiskusi terkait event ataupun persiapan dari penyelenggaraan festival tersebut.

Wakil Bupati Jembrana IGN Patriana Krisna mengatakan pelaksanaan festival budaya Loloan yang dilaksanakan dengan semangat Sumpah Pemuda ini menyiratkan bahwa semangat berinovasi, berkreatifitas dan sinergitas para remaja Loloan dengan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

 “Ini merupakan kegiatan yang sejalan dengan konsep pengembangan pariwisata kerakyatan, yang diharapkan mampu untuk mempromosikan potensi seni, budaya, tradisi masyarakat dan menghidupkan berbagai sub-sektor ekonomi kreatif sebagai daya tarik wisata,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu (21/10/2023).

Menurutnya, festival budaya Loloan ini bukanlah sekedar sebuah peristiwa kolektif yang berlalu begitu saja tetapi Festival Loloan  Zaman Lame sebagai aktualisasi dan  akumulasi pesan yang tiba dengan lembut dari masa lalu, sekaligus menghantarkan selaksa makna yang sudah seharusnya direaktualisasi pada zaman kini dan di masa depan.

“Budaya khas Loloan ini agar terus dijaga dan dilestarikan terutama bagi pemuda pemudi disini agar tidak tergerus jaman. Untuk itu, saya menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya Festival ini, dengan harapan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan dikembangkan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kreatifitas sebagai sebuah event yang mampu menarik minat wisatawan dengan tetap mengedepankan aspek kearifan lokal,” harap Patriana Krisna.

Ahmad Azmi, Ketua Panitia Festival Loloan Zaman Lame menjelaskan, acara dimulai dengan  menampilkan kebudayaan khas Loloan. Tak hanya itu, dalam festival tersebut ditampilkan juga akulturasi budaya sebagai bentuk  persaudaraan umat Hindu dengan umat Muslim. “Banyak budaya loloan yang ditampilkan disini, diantaranya tradisi nginang, tradisi ngotok, tradisi rebana, dan tradisi lainnya. Ada juga tari kolaborasi  yakni tari Janger dari desa Mertasari tari Rudat Loloan Timur,” jelasnya.

Azmi dan para warga kampung Loloan berharap festival ini bisa terus terselenggara, agar ke depan masyarakat bisa tetap menjaga tradisi yang ada di Loloan. Apa yang dilakukan muda-mudi Loloan ini adalah upaya merawat kebudayaan Melayu-Bugis yang menjadi penanda budaya Loloan. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Kalung Badong Pelengkap Ritual Sunat yang Langka di Loloan
Tradisi Kain Tenun Khas Loloan yang Tetap Bertahan dari Zaman ke Zaman
Mesair-Mekayat, Seni Burdah Loloan yang Hampir Punah
Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan
Ngotek – Inilah Pementasan Tiada Henti Sepanjang Hari di Kampung Loloan
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali
Tags: balibugisjembranaKampung Loloan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Antari, Gerip Maurip, dan Makin Kencanglah Angin Sastra dari Bangli

Next Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Seseorang Dalam Puisi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Seseorang Dalam Puisi

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Seseorang Dalam Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co